Sebungkus

Sebungkus
19. Tamparannya Begitu Keras ke Pipiku


__ADS_3

Kini pun Ross telah berganti posisi menjadi penentu kunci harapanku.


Ia menghela nafas panjang setelah mendengar kesanggupanku memenuhi syaratnya.


"Kamu ... harus tampar wajahnya Fitria ...!" kata Rosa dengan mata mendelik. Sepertinya ia begitu marah dan sakit hati padanya.


"Loh kok menampar Fitria, ini kan gak ada hubungannya dengan kita, Ros?" timpalku.


"Biar dia juga menangis ... dan merasakan betapa sakitnya hatiku!" jelas Rosa dengan gestur yang bersungguh-sungguh atas ucapannya.


"Iya ..iya nanti aku tampar dia!" tanggapku beralibi.


Syarat yang diajukan Rosa, jelas sangat gila. Hanya perempuan berhati pendendam yang bisa punya ide se-gila itu.


Namun Rosa lekas menimpalinya. "Nanti ... katamu? Sekarang ... bawa dia ke sini! Aku ingin tahu bagaimana kamu menamparnya di hadapanku ...!" seru Rosa dengan suara meninggi.


"Syarat apa begitu, itu! Gak manusiawi banget. Bisa di penjara aku. Menampar perempuan tak bersalah, kena pasal KDRT, Ros ...!" sahutku dengan nada tak kalah tingginya.


"Katamu tadi mau melakukan apapun... ! Hayoo...! Tadi kamu bilang, apa ...?" ujarnya dengan berteriak, teriakannya yang melengking itu pastilah terdengar sampai ke rumah tetangganya.


"Ya tapi jangan syarat, begitu, donk! Sesuaikan dengan kadar kesalahanku, lah," pintaku menawar supaya isi syaratnya diubah.


Rosa kulihat terdiam dengan tatapan mata yang penuh amarah. Keningnya mengkerut. sepertinya ia sedang berfikir keras.


Menghadapinya, aku hanya bisa garuk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Dalam hatiku merutuki diri yang telah datang memunuhi panggilannya, dan terlebih lagi masih mau menyanggupi syarat maafnya.


Aku orangnya memang tak pernah tega melihat air mata perempuan siapapun yang tumpah ruah di hadapanku. Terlebih tangisnya karena aku. Walaupun aku benar, seringkali aku yang meminta maaf padanya. Apapagi yang menangis sekarang ini adalah Rosa, perempuan yang aku cintai.


Aduh ... kenapa aku dengan sengaja telah membuatnya cemburu pada Fitria, ya? Kalau tahu begini, tentulah aku tak berani melakukannya lagi.


"Ada ... syarat lainnya ... bila kamu tak berani menamparnya!" tegas Rosa dengan bibir bergetar dan pandangan matanya yang dingin.


"Nah, gitu donk! Apa syaratnya, Ros" tanyaku merasa senang karena Rosa telah mengubah isi syaratnya.


"Dua syarat ...!" ucapnya sembari mengacungkan dua jari.


"Iya, apa?"


"Karena kamu gak tega menampar Fitria, maka syarat pertamanya aku yang akan menamparmu_...! Syarat kedua, biar kamu tidak selingkuhan seperti Ayahku ... maka, ATM-mu_... aku yang pegang." jawab Rosa dengan senyum tersungging. Sebuah senyum mirip senyumnya Sang Jenderal Soeharto.


"Iya aku setuju, Ros. Berapa kali tamparannya, Ros?"


"Mana, berikan ATM-mu dulu!" sergah dia sebelun menjawab pertanyaanku.


Lalu aku memberikan 1 ATM kepadanya dengan berat hati.


"Itu yang satunya lagi, keluarkan!" Rosa menunjuk sebuah ATM BCA yang masih terselip di dompetku.


"Jangan kalau ATM yang ini, Ros. Ini ATM-nya lembagaku."


"Gak peduli. Mana, cepat ...! Kalau kamu mau ambil uangnya, biar bareng aku saja." pinta Rosa dengan songong.

__ADS_1


Aku pun memberikan ATM BCA itu dengan gelengan kepala.


Kedua syarat itu sungguh sangat berat. Harga diriku sebagai laki-laki yang ditampar perempuan bagaikan terjatuh dari pohon kelapa, kalau tidak patah tulang, bisa menyebabkan kematian harga dirinya laki-laki.


Namun apalah daya. Aku tak kuasa keluar dari jaring laba-labanya lagi.


"Barapa kali tamparannya, Ros?" tanyaku lagi.


"Dua kali. Pipi kanan dan kiri." jawabnya.


Sejenak aku menarik nafas dalam-dalam untuk menerima tamparan tangan lembutnya Rosa.


Kemudian aku masih teringat pada Nisa di ruang tamu. Lalu aku pamit pada Rosa untuk memastikan bahwa dia tak mengintipku ketika aku ditamparnya nanti.


Sip ... ternyata Nisa sedang keluar. Ia juga tidak ada di kamarnya.


Lalu aku balik ke kamar dan duduk bersila tepat di hadapannya Rosa.


Apalah beratnya telapak tangan Rosa. Sebuah tangan yang jemarinya tak pernah dibuat kerja kasar. Apalagi dia kekasihku, tentunya tamparan sayang darinya, tak akan tetasa sakit di pipiku.


Dengan duduk bersila bagai seorang pertapa, lalu, aku menarik nafas panjang bersiap menerima tamparannya.


Tiba-tiba ...


"Plaakk ..." Rosa menampar pipi kananku dengan kekuatan penuh dan dahsyat. Seluruh energi sakit hati ibunya, ia gabungkan dengan energi sakitnya hatinya padaku, lalu berubah menjadi energi quantum yang begitu dahsyat menerjang pipi kananku.


Sontak kepalaku terasa seperti kena benturan keras. Di dalam telingaku seperti ada bunyi sirine menguing. Kemudian ...aku terjengkang


"Aduh ... kamu kejam banget sama aku, Ros ... kamu kok tega menamparku sekeras, itu!" keluhku mengaduh.


Aku berusaha menstabilkan diri dengan berjongkok, kedua telapak tanganku menempel lekat pada kedua telingaku, agar rasa sakitnya menjadi berkurang.


Kenapa ia sekeji itu menamparku? Bukankah aku selama ini tak pernah tega kepadanya?


Bukankah aku tak pernah melakukan kekerasan fisik, walau se-sakit apapun hatiku padanya?


Kelelakianku membuncah. Ingin sekali membalas tamparannya. Tapi ia hanya perempuan lemah dan aku sendiri berjanji tadi telah sanggup di tamparnya. Aku harus berjiwa kesatria, tidak boleh menjadi lelaki pengecut.


Dalan waktu 5 menit-an, rasa sakit di kepalaku mulai menghilang. Tetapi, pikiranku masih terngiang-ngiang betapa sakitnya pipi kananku ditamparnya tadi.


Hufft ..


Berikutnya... masih ada satu tamparan lagi di pipi kiriku. Rasa traumatiknya masih lekat, sehingga membuatku enggan masuk ke kamarnya Rosa lagi.


"Sudah, belum?" teriak Rosa dari dalam kamarnya. Teriakannya memberi kode agar aku selekasnya masuk kamar untuk menerima tamparan episode keduanya.


Dengan jiwa lelaki yang sudah terkoyak harga dirinya, aku masuk kembali ke kamarnya, lalu duduk bersila menghadapnya.


" Rosa ...jangan keras-keras ya, namparnya ...!" rengekku dengan wajah memelas.


"Gak bisa! Yang kamu rasakan itu hanya fisikmu. Gak seberapa rasa sakitnya, dibanding rasa sakit hatiku!" ucapnya dengan nada membentak

__ADS_1


"Aku sudah gak kuat, Ros! Kita putus saja, ya?"


Aku sudah di titik nadir. Aku sudah putus asa dengan mengucap kata putus padanya. Tapi ... terbesit akan 2 ATM-ku masih di tangannya. Ada puluhan juta di dalamnya


"Putus ...?" tanya Rosa dengan menengadahkan wajahnya, dan matanya melotot kepadaku.


" ... " aku tak berucap hanya menganggukkan kepala dengan lemah


"Okey ... kalau kamu mau putus denganku. Tunggu aku di sini!" Timpalnya sambil beranjak pergi keluar kamar dengan langkah kaki tergesa-gesa. Dalam hitungan detik ia kembali dengan membawa sebilah pisau dari dapur.


"Ayo ... kamu katakan putus lagi...!" teriaknya tepat di hadapanku. Sementara pisau di tangannya siap di hujamkan ke jantungnya.


"Jangan ... jangan ... Ros! Iya, iya, ayo tampar aku lagi. Nggak ... Nggak, kita tak akan pernah putus, Ros!" seruku membujuknya, menghalanginya supaya ia tak nekat menancapkan pisau itu ke jantungnya.


Lalu aku merebut pisau itu dari tangannya dan menaruhnya kembali ke dapur.


Rosa duduk kembali dengan derai air mata yang mengalir di pipinya.


Aku juga duduk bersila seperti tadi di hadapannya. Lama kami terdiam. Kami sama-sama sedang merutuki nasib cinta yang hampir berakhir dengan tragis tadi.


"Iya, ayo Ros ... Kamu tampar lagi pipi kiriku. Jangan hanya se-kali, Ros. Puluhan kali pun ... bahkan kamu bunuh aku pun, aku takkan melawannya ... jika itu membuatmu menjadi bahagia ..." kataku dengan lirih.


Usai aku berucap begitu, Rosa menatapku dengan tatapan mata sendu.


"Iya, ayo ... mana pipi kirimu ...?" pintanya, supaya aku menyiapkan pipi kiriku untuk ditamparnya.


Aku pun menuruti kemauannya. Tanpa terasa mataku membulir air mata.


"Kamu bersiap-siap, biar kamu kuat aku tampar lagi ..aku pakai hitungan yang ke-tiga" ungkapnya dengan perasaan tanpa iba sedikitpun.


Rosa berencana menampar pipi kiriku setelah hitungan ke-tiga.


" ... "


Kepalaku mengangguk. Aku hanya bisa pasrah menanggung sakitnya, daripada ... ia yang mati bunuh diri.


Mataku aku pejamkan bersiap menerima tamparannya.


" Oke kamu, siap ya? Satu ... Dua ... Tiga ..."


Tanpa aku sangka ...setelah hitungan ketiga.


Tiba-tiba ...


Rosa memelukku dengan lekat. Lalu ia menciumi pipiku dengan suara tangis sesenggukan, lalu ia melumat bibirku, sangat terasa air matanya menitis ke hidungku


Kami pun menangis bersama dalam sebuah percumbuan. Antara duka lara dan bahagia melebur dalam lumatan bibirnya.


Sampai akhirnya tangis kami mereda, dan sampai duka lara itu menghilang entah kemana. Lalu berganti sebuah keinginan untuk memasuki lorong gelap black hole-nya.


"Gio.kamu jangan jahat lagi sama aku, ya?"

__ADS_1


Belun aku sempat menjawabnya, ia melumat bibirku lagi, sehingga tak ada jalan lain, kecuali melewati lorong gelap nan nikmat itu.


"Sayang ..! kondommu disitu...." ucapnya manja sembari menunjuk tempat sebungkus ****** yang tersimpan rapat di lemarinya.


__ADS_2