
Aku juga teramat rindu pada Rosa setelah 2 minggu tak bertemu dengannya. Bayangan hidup bersama seminggu di rumah kontrakannya selalu terngiang. Setiap harinya pikiranku seperti terpasung oleh keindahannya.
Diatas ranjangku kami saling melepas kerinduan purba. Aku menghadapinya, bagai sikapnya suami Sri Ratu Tribhuana Tungga Dewi atau sikapnya Julius Caesar kepada Ratu Mesir Cleopatra di atas ranjang. Aku sebatas menjadi penuntun dan peng-iya-nya Rosa untuk mencapai puncak tertinggi kenikmatannya.
Sebungkus ****** yang masih ada di dalam laci buku itu menjadi terpakai sebanyak dua buah. Sebab, Rosa tudak ingin hamil sebelum menikah resmi denganku nanti.
Setelah itu ...
"Mas Gio! Sejak ketemu Ilham, aku kok mulai jadi hambar ya, sama dia?"
"Hambar gimana?"
"Ya hambar gitu. Aku belum ngelakuin loh sama dia, sejak ketemu kemarin! Kecuali, sekarang ini dengan mas Gio!" ujar Rosa dengan suara pelan sembari menatapku.
"Kok bisa gitu, sayang?" tanyaku penasaran.
"Iya, aku pikir, aku lebih cinta ke mas Gio daripada ke Ilham! Tapi, pelan-pelan ya, mas! Butuh waktu yang tepat untuk putus dengan Ilham."
"Iya .." jawabku dengan senyum bahagia.
*************
Pembaca kisah ini alangkah baiknya membaca dua istilah yang saling berlawanan di bawah ini;
#Patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti. Dalam domain keluarga, sosok yang disebut ayah memiliki otoritas terhadap perempuan, anak-anak dan harta benda.
#Matriarki : Sistem sosial yang mengimplikasikan adanya negosiasi kekuasaan di antara perempuan dan laki-laki sebagai upaya menentang tradisi patriarki. Matriarki menentukan bentuk-bentuk kultural, khususnya dalam persoalan agama dan keluarga.
__ADS_1
Sumber:
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Matriarki
********************
Rupanya misi si Rosa berhasil dengan mempertemukan kami berdua dalam kebersamaan hobi, "motor Vespa".
Aku baru menemukan jawabannya, kenapa si Ilham berganti ke motor vespa dari mobil bagusnya, lalu ia berubah menjadi penghobi berat motor Vespa, ternyata, semua ini siasatnya Rosa. Tanpa disadarinya, aku dan Ilham telah bersatu dalam hobi yang sama, "motor tua Vespa".
Seringkali aku dan Ilham membincang bagaimana motor vespa kami supaya; tidak mudah ngadat, bunyi knalpotnya nyeruling, warna catnya bagus, dan lain-lain. Dimanapun ada dua vespa kami, di situlah ada Rosa.
"Gio, jalan-jalan ke pantai Papuma, yuk!" ajak Rosa dari atas motor Vespanya Ilham.
Sebenarnya aku tertarik dengan ajakannya, tapi aku merasa tak nyaman jalan-jalan bersama Rosa dengan Ilham di sampingnya.
"Ayo wis, Gio! Daripada kamu bengong sendirian di kosan. Hari ini kamu gak ada kegiatan, kan?" ajak Ilham setengah memaksaku supaya ikut.
Kami bertiga pun melaju beriringan, meluncur ke pantai Papuma-Ambulu, destinasi wisata pantai dengan pemandangan terindahnya di wilayah tapal kuda. Namun, kurang digarap serius oleh pemerintah kabupaten Jember. Mestinya wisata pantai Papuma melibatkan unsur seni tradisi dan sastra sehingga ada nilai kebudayaan di dalamnya.
Saat berangkat ke pantai Papuma, Rosa membonceng ke Vespanya Ilham, tapi saat pulang ia membonceng ke Vespaku. Entah kenapa Ilham tak keberatan sedikitpun. Bahkan, di pantai itu Rosa masih sempat-sempatnya menggenggam tanganku tanpa sepengetahuan Ilham.
Kami menjadi seperti tiga serangkai sahabat. Saat di depanku Ilham tak memperlakukan Rosa layaknya pacar, pun sebaliknya Rosa. Entah kenapa Ilham bisa demikian.
Setan cinta apa yang telah merasukinya, sehingga cintanya Ilham menjadi sama dengan cintaku, sebuah cinta yang membebaskan Rosa untuk menjadi apa adanya.
Entah pula, siasat cinta macam apa yang dibisikkan ke hatinya Ilham, sehingga Ilham tak pernah mencurigaiku yang tiba-tiba punya hubungan dekat dengan Rosa.
__ADS_1
Karenanya ...
Janjinya Rosa memutuskan hubungan secara pelan-pelan dengan Ilham pun menjadi terlupakan begitu saja. Aku benar-benar telah terbuai oleh alur cinta segitiga yang dimainkan Rosa. Dan semua itu tak ada yang tahu, kecuali si Nisa.
Nisa adalah sahabatnya Rosa. Ia satu rumah kontrakan dengan Rosa. Dan Rosa memiliki kartu truft perselingkuhannya. Jadi Rosa merasa aman membocorkan hubungan denganku kepada Nisa.
Aku ikut mengalur saja dengan cinta tanpa kepemilikan yang berbentuk segi tiga ini. Terpenting Rosa telah bahagia, dan tak penting bagiku untuk memilikinya sebagai pacar resmiku.
Alasannya?
Pertama, aku masih tak ingin semua teman-temanku tahu, setelah sekian lama menjomblo, ternyata kekasih yang kupilih hanyah si Rosa.
Kedua, aku masih nyaman dengan status kekasih gelapnya, atau lebih tepatnya, memposisikan Rosa sebagai pacar gelapku saja.
Kok, bukan isteri gelapku, atau suami gelapnya Rosa? Kan, sudah nikah siri?
Seperti yang telah ku jelaskan sebelumnya, aku terpengaruh banget dengan buku yang dibelikan Rosa. Mengenai aku mau di ajak nikah siri, jujur saja itu sebagai syarat dalam buku tersebut agar aku tak dibayangi rasa dosa privat kepada Tuhan. Biar spritualitasku tidak menjadi terganggu.
Lagian waktu itu, prinsip hidupku masih enggan menikah resmi, sebab bagiku, pernikahan itu bagaikan jebakan tikus. Enak dilihat dari luar, tetapi begitu masuk ke dalam, lalu terjebak dan tak bisa keluar lagi.
Mengenai kenapa Rosa mengajakku nikah siri, padahal sebelumnya ia sudah nikah siri dengan si Ilham, kan gak sah, ya? Tanyakan sendiri ke Rosa, jangan ke- aku.
**********
Aku benar-benar menikmati hubungan tanpa status itu dengan Rosa. Tak ada yang saling mengusik dengan dunia kami yang berbeda. Rosa dengan dunia hedonisnya, sedang aku dengan dunia idealismenya.
Bagai amfibi yang memiliki dua dunia darat dan air, Rosa pandai menempatkan dirinya kapan berada di permukaan bersama Ilham, dan kapan harus tenggelam ke air bersamaku.
Di permukaan, walau Rosa sudah menikah siri dengan Ilham, tapi mata umum mengetahui hubungan mereka sebatas pacar. Sedang dengan aku, sebatas teman biasa. Namun sejatinya, Rosa telah memiliki dua laki-laki atau dua suami tanpa status, dan sekarang apa yang dilakukan Rosa itu disebut poliandri.
Poliandri merupakan pelanggaran terberat dalam sejarah sistem sosial patriarki. Apapun alasannya, itu dosa besar bagi perempuan yang melakukan poliandri. Tapi, aku yakin waktu itu Rosa belum mengenal adanya istilah poliandri, jadi, ia tak bisa di hukumi berpoliandri.
__ADS_1
Demikianlah ...Setiap harinya di atas panggung, Rosa bersama pacarnya Ilham, namun di bawah panggung ia bersamaku dengan sebungkus ******.
Bersambung