
Seminggu kemudian aku benar-benar menikah siri dengan Rosa di waktu menjelang liburan panjang mahasiswa.
Saat itu Rosa tanpa memberitahukan ayahnya ataupun pihak keluarganya. Entah apa alasanya.
Kami menikah pada seorang Ustad yang sudah menyediakan saksi dan ia sendiri yang menjadi wali hakimnya. Untuk pernikahan siri itu kami membayar biaya keseluruhannya.
Praktik Ustad menyediakan jasa pernikahan siri di daerah kami merupakan rahasia umum. Namun yang tak punya jaringan akan sulit mengetahuinya
Usai dari acara pernikahan siri itu, Rosa pulang ke kampung halamannya.
"Mas, Gio sayang!" sapa mesra Rosa melalui sambungan HPnya.
"Iya, Ros!" jawabku mulai gugup mendengar suara mesranya.
"Panggil, aku sayang dong, Mas!"
"Iya ... sayang!"
"Jadi kita ketemuannya, Mas!"
"Iya, jadi."
__ADS_1
"Di Villa, itu kan?"
"Iya ..."
"Jangan lupa, kondomnya dibawa, loh!"
******************************
Menuju Vila yang kami tuju di desa Rembangan dari kota membutuhkan waktu setengah jam-an. Letaknya berada di lereng gunung Raung. Hanya dari sana kota Jember akan terlihat begitu indah dan menakjubkan dengan hawa yang begitu sejuk.
Menjelang magrib aku dan Rosa sampai ke VIlla di desa Rembangan itu. Kami pun menjalankan bagaimana **** dibalut dengan spritualitas. Seperti petunjuk buku yang telah dibelikan Rosa itu. **** dalam spritualitas merupakan sebuah konsep yang rumit yang tak bisa aku jelaskan dengan kata kata pada Rosa.
Disana, aku dan Rosa terus menerus menyucikan seksualitas dengan nilai-nilai sakralitas.
Waktu itu, kami sebenarnya sudah tak tahan untuk lekas tenggelam dalam hawa nafsu, namun, kami terus bertekad menjinakkan nafsu liar itu dengan rasa cinta dan kasih sayang. Kami tak menghiraukan nafsu angkara terus merongrong jiwa. Dan ... kami terus bertekad menyucikan **** itu dengan spritualitas.
Sehingga sampai waktunya, aku dan Rosa meleburkan diri kedalamnya. Sampai akhirnya ...
Kami mengusap sepoy, menjamah rintik, dan di terangi temaramnya.
Membiarkan semua dalam diri melebur dalam jiwa.... Jangan di halangi lagi dengan sekat gender mu dan genderku
__ADS_1
Kami hanya ingin meleburkan ... Tidak karena aku lelaki, dia wanita. Meleburkan diri adalah menjadi satu debur ombak hingga hilangkan kelelakianku dan kewanitaannya.
Peleburan itu mirip sebuah puisi di bawah ini ...
Apabila CINTA memanggilmu, ikutlah dengannya,meski jalan yang kalian tempuh terjal dan berliku.
Dan apabila sayap-sayapnya merengkuhmu, pasrahlah dan menyerahlah, meskipun pedang yang bersembunyi dibalik sayap itu mengancam niat tulusmu.
Dan jika dia bicara kepadamu, percayalah, walau ucapannya membuyarkan mimpi indahmu bagai angin utara yangmemporak-porandakan petamanan.
Sebagaimana ia memahkotaimu, cinta juga akan memasungmu.
Sebagaimana ia menumbuhkan dedaunnanmu, maka ia memotongakar-akarmu.
Sebagaimana ia membumbung, mengecup puncak-puncak ketinggianmu,membelai mesra ranting terlembut yang bergetar dalam cahaya matahari pagi
.Cinta tak akan memberikan apa-apa pada kalian, kecuali keseluruhan dirinya, dan ia pun tidak mengambil apa-apa darikalian, kecuali dari dirinya sendiri.
Cinta tidak dimiliki dan memiliki, karena cinta telah cukup untuk cinta.
Dan janganlah kalian mengira bahwa kaliandapat menentukan arah cinta, karena cinta apabila telah menjatuhkan pilihanpada kalian, dialah yang akan menentukan perjalanan hidup kalian.
Cinta tidak punya hasrat selain mewujudkan maknanya sendiri.
__ADS_1
Namun jika kalian mencintai disertai dengan berbagai hasrat,maka wujudkanlah dia dengan: meluluhkan diri, mengalir bagaikan anak sungai yang menyanyikan lagu persembahan malam. (Khalil Gibran)