Sebungkus

Sebungkus
5. Pikiran Kritisku Tentang Sebungkus Kondom


__ADS_3

Secara teori, sesuatu yang ada tidak begitu saja tiba-tiba 'ada', tetapi selalu berasal dari 'ada' sebelumnya. Karena itu, setiap yang 'ada' pasti ada alasanya mengapa ia 'ada'.



Begitu pula dengan sikap baiknya Rosa selama dua minggu ini. Bukan ada begitu saja, tanpa ada alasannya.


Pasti ada alasannya, lah. Kenapa tiba-tiba ia membelikan aku sebungkus ******, tapi tak boleh aku gunakan ke siapapun.


Lalu tiba-tiba ia memintaku menggunakan ****** itu kepadanya.


Jadi alasannya, ia membelikanku ****** untuk memenuhi hawa nafsunya, kah?


Jika alasannya itu, kenapa si Rosa tidak memintaku setiap hari menggunakan sebungkus ****** itu sampai habis, lalu, dibelikan lagi dan lagi.


Kok malah, beberapa hari kemudian, ia cuma mengecup keningku?


Lalu, hari-hari selanjutnya ia cuma berkunjung ke Kosku dengan membawa buah-buahan, belikan aku pulsa, belikan obat, suka merhatiin aku, saat sakit aku dirawatnya, bahkan ia sering pinjam buku-buku berbobot kepadaku.


So ...


Usai Rosa menikmati sebuah ****** bersamaku, ternyata perilaku Rosa pada hari hari berikutnya tak bertali-temali dengan sebungkus ****** itu lagi.


Jadi ... perilaku baiknya, perhatiannya, dan seringnya ia membaca buku-bukuku, telah menggugurkan kesimpulan sebungkus ****** untuk memenuhi hawa nafsu.


Bisa jadi, hikmahnya sebungkus ****** itu membuat Rosa ingin hijrah menjadi perempuan yang lebih berkualitas lagi.


Kalau itu yang terjadi, its, oke. Aku siap mengajari Rosa menjadi perempuan cerdas dan tangguh, biar ketika sarjana ia bisa mengikuti jejak ayahnya menjadi anggota dewan. Tapi dengan catatan tanpa ada pemakaian ****** itu lagi.


Bagaimana jika ternyata sebungkus ****** itu membuatnya jatuh hati padaku?


Oh, no ...!


Dia sudah punya pacar. Meski ia rela putus dengan pacarnya, aku tetap tak sudi jadi kekasihnya.


Pertama ...!


Pacarnya itu juga temanku. Dan semua sudah tahu Rosa bukan gadis perawan, sering menginap di rumah kontrakan pacarnya. Apa kata teman-temanku, jika Rosa kemudian jadi kekasihku? Pasti semua akan mencibir, "hey, ternyata Gio sang Idealis doyan mengais perempuan sisa temannya?"


Kedua ...!


Walau ia cantik seperti artis , tapi Rosa bukanlah tipe perempuan yang harus aku miliki. Perempuan jenis ini mudah menjadi penghianat suaminya.


Aku tahu betul, bagaimana si Rosa waktu itu bisanya hanya jalan-jalan, shoping, dan senang-senang saja. Disuruh mikir sedikit bagaimana seharusnya perempuan dalam relasi gender, ampun dah, ia cuma mesam-mesem sambil bergelayut ke bahu pacarnya.


Perempuan kok lemah begitu. Gak mau sedikitpu belajar mandiri, selalu hidupnya menggantung pada laki-laki. Apa jadinya nanti anakku di asuh oleh ibu semacam itu?


Selain itu, dimana-mana saat aku menjadi pemateri diskusi kesetaraan gender, sering kali aku jadikan Rosa sebagai contoh buruk bagi perempuan yang tidak memiliki emansipasi dan lemah banget dalam kesetaraan gender.

__ADS_1


Apakah karena semua itu, kemudian Rosa datang kepadaku dengan membelikan aku sebungkus ******?


Lalu, secara diam-diam ia menyusun agenda balas dendam kepadaku?



Hem ...


Jika dipikir-pikir bisa jadi ia sedang menyusun strategi yang sudah matang dipersiapkan, mulai dari membelikan aku sebungkus ******, menjepit sebuah kondomku di kamarnya, lalu di lanjut dengan kecup kening, beri perhatian, sampai merawatku saat sakit.


Kayaknya masuk akal sekali bila merangkai jebakan demi jebakannya padaku. Dan memang pernah berhasil membuatku menjadi super bodoh olehnya.


Namun ...


Mungkinkah ia sosok perempuan yang mumpuni untuk menyusun strategi balas dendamnya padaku?


Sepertinya, sangat tidak mungkin, sebab, ia hanya perempuan lemah dan bodoh. Ia hanya mengandalkan wajahnya yang cantik, tetapi tak mimiliki kemampuan apapun. Lha, wong skripsinya saja dibuatkan orang lain.


Sudahlah ...


Aku tak perlu melayaninya. Ia bukan levelku untuk saling bertarung dalam kuasa. Aku menang tidak untung, kalah malah buntung! Andai memang ia mau balas dendam padaku, sebaiknya aku menghindarinya saja. Itu lebih aman bagiku!


Berapa kali Rosa mencoba menghubungiku melalui HP, tapi tak.pernah aku gubris. Kata Ibu kosku ia sering datang mencariku. Sedangkan aku sendiri jarang pulang ke kosan, karena teramat sibuk mengorganisir para petani kasus tanah di Kabupaten Jember.


Proposal "NGO Fordesak" yang aku pimpin di setujui oleh donatur luar negeri. Nominalnya sebesar 100 juta. Dana dari donatur itu akan digunakan untuk mengorganisir ribuan petani kasus tanah dan puluhan para kyai pembela di Jember.



Waktu itu di kabupaten Jember, ribuan petani kasus tanah kecewa dengan sosok kyai. Pasalnya, dalam sengketa tanah rakyat, banyak Kyai berperan sebagai broker kepentingan penguasa dan pemodal. Kyai hanya menjadi alat untuk meredem pemberontakan petani kasus tanah.


Setelah aku mapping, ternyata tidak semua kyai menjadi broker. Masih banyak pula kyai yang berpihak kepada kepentingan petani kasus tanah.


Masalahnya, para Kyai ini terdiam karena tidak cukup memadai pengetahuannya dalam persoalan kasus tanah di Jember.


Aku dan teman-teman aktifis di Jember bekerja keras menumbuhkan kepercayaan para Petani kasus tanah kepada sosok Kyai Pembela.


Dan selama 2 bulanan sekuat tenaga dan pikiran menghubungkan keberpihakan Kyai Pembela dengan Patani kasus tanah.


Upaya yang kami lakukan kepada Kyai Pembela yakni, menyodorkan informasi-informasi persoalan yang dihadapi petani, lalu, kepada petani kami meyakinkan bahwa sosok kyai sangat dibutuhkan di dalam barisan perjuangannya.


Pengorganisasian yang memakan waktu 2 bulan tersebut, akhirnya menemukan momentumnya, puluhan kyai pembela bersama barisan umat madhluminnya berdemontrasi dalam “Istigosah Kembalikan Tanah Rakyat” di Alun-alun Jember.


“Saudara-saudara, saya hadir disini ditengah tengah bapak ibu sekalian, untuk menyatakan bahwa perjuangan ini insyaallah diridhoi Allah S.W.T. Sedang orang orang yang telah merampas tanah, mengusir kita, dan memenjarakan kita, adalah Fir`aun, yang Insyaallah akan ditenggelamkan kedasar lautan.” kataku berapi-api dengan iringan sound system yang menggelagar, yang disambut sorak tuntutan para petani marginal.


Selesai rapat akbar, aku beserta para perwakilan petani dan para Kyai Pembela melanjutkan berunding ke Kantor DPRD Jember untuk memecahkan masalah sengketa tanah di Jember.


*******************

__ADS_1


Selanjutnya, aktifitasku sehari-hari meneruskan riset sosial dan budaya yang sudah rutin aku lakukan di "NGO Fordesak".


Sekitar dua bulanan pula, aku tak berkomunikasi sama sekali.dengan Rosa. Aku pikir ia sudah kembali dengan dunianya. Dan aku menjadi tak terganggu karenanya. Baguslah kalau begitu.


Kebetulan aku sedang mau pindahan kos yang agak jauh dari tempat kosnya Rosa. Alasan kepindahanku agar lebih dekat dengan kantor Fordesak, dan tentu saja supaya aku tak mudah ditemui Rosa lagi.


Saat aku sedang mengemasi buku-buku di kamar, tiba tiba Rosa datang.


*Assalamualaikum, Gio!" ucap salam Rosa dengan suara lantang


"Waalaikum salam!". balasku dari dalam kamar.


Tanpa disuruh masuk, Rosa sudah nyelonong masuk ke kamar.


" Gio mau kemana?" tanya Rosa.


Sebelum menjawabnya aku mengajak Rosa keluar kamar untuk duduk di ruang tamu. Dan Rosa mengikuti lalu duduk di kursi itu.


"Gio ada kegiatan ke luar kota kah?


" Bukan!"


"Terus, Gio mau kemana?"


"Pindah kos."


"Pindah kemana?"


"Agak jauh dari sini."


"Iya dimana?"


"Pokoknya agak jauh, lah!"


Rosa mulai terdiam ...


"Gio kok tega sama aku, sih!"


" ... "


Kulihat kelopak mata Rosa mulai berkaca-kaca.


"Aku tega apa sama kamu, Ros?" tanyaku, merasa tak enak hati melihat wajah Rosa bersedih.


Rosa menunduk sedih, sedang aku masih tak paham kenapa ia bersedih.


Tiba-tiba ...

__ADS_1


Rosa secepat kilat menghampiriku lalu memelukku dengan erat. Sambil menaangis ia berbisik ke telingaku, "Gio, aku benar-benar jatuh cinta sama kamu!"


__ADS_2