
Suatu ketika di rumah kontrakannya Rosa ..
"Gio, udah cepetan masuk ke kamarnya Rosa!" perintah Nisa sambil melotot kepadaku.
"Situasinya sekarang, aman apa nggak, Nisa?" tanyaku balik.
"Amanlah! Udah cepetan sana, biar aku yang jaga disini!" timpal Nisa.
Aku pun masuk ke kamar Rosa. Tak lupa aku kunci pintunya. Ternyata Rosa sudah siap menyambutku, ku lirik ada sebungkus ****** di mejanya. Bukan sebungkus ****** milikku. Entah milik siapa.
*************
Sepulang dari rumah kontrakannya Rosa, aku masih berpikir tentang keberadaan ****** di atas mejanya itu. Tetapi di sisi lain, aku masih percaya sama Rosa, bahwa ketika sama Ilham ia tak permah melakukan hubungan seksual.
Apakah ia hanya menyediakan untukku?
Saat aku tanya pada Rosa, ia bilang sebungkus ****** itu khusus menyediakan untukku. Dan aku tak berani lagi mengoreknya lebih jauh.
Entahlah ...
Sudah berapa kali aku menggunakan sebungkus ****** untuk Rosa. Yang aku ingat, aku sudah beberapa kali membeli sebungkus ****** sendiri di mini market. Kadang aku gunakan di rumah kontrakannya, di kamar kosku dan di hotel.
Akibatnya ...
Aku pun berubah menjadi pecandu "lubang hitam kebudayaannya" Rosa. Jika tidak terperosok ke dalamnya, maka spritualitasku menjadi kering, hidupku menjadi.gelisah teramat sangat.
__ADS_1
Lubang hitam atau "black hole" nya Rosa itu tak akan menyisakan sedikitpun cahaya kesadaranku untuk menghindarinya. Ia telah membuatku benar-benar menjadi pecandu sejati. "Black hole" nya Rosa membuat aku hanya ingin lagi dan lagi.
Level candunya, mirip bila aku tak menghisap rokok sehari, maka otakku menjadi gelisah dan nge-hang. Namun, ketika menghisapnya, otakku menjadi rileks dan bisa berfikir.dengan tenang. Hal ini hanya di mengerti oleh perokok berat, bila bukan perokok sulit memahaminya.
Suatu ketika di rumah kontrakannya Rosa ...
"Nisa ...! Rosa dimana, dan sedang apa?" tanyaku pada Nisa yang sedang duduk sendiri di ruang tamu itu.
Sebelum memasuki rumah kontrakannya Rosa, aku sudah melihat ada motor Vespa Ilham di tempat parkiran.
"Huusst ...! jawab Nisa pelan sambil menempelkan jari telunjuk di bibirnya. " Dia ada di dalam kamarnya bersama Ilham!" timpanya dengan suara yang teramat pelan.
Dengan melangkahkan kaki pelan, aku selidik ke pintu kamarnya Rosa, hem, termyata memang sedang terkunci dari dalam. Rosa dan Ilham ada di dalam, entah sedang apa mereka.
Tanpa mengucap sepatah katapun pada Nisa, aku selekasnya pulang dengan membawakan hatinya lelaki yang lagi panas membara.
Di perjalanan aku berfikir, selama ini Rosa telah membohongiku. Ternyata sebungkus ****** yang ada di meja kamarnya, tidak hanya khusus buatku, tetapi buat si Ilham juga.
Sejak sore rindu hatiku sudah merindang kepada Rosa, tapi HPnya sedang tak aktif. Mungkin sengaja ia matikan, biar tak bisa aku hubungi.
Sekitar jam 7-an malam, aku mencari Rosa ke rumah kontrakannya, tetapi ia tidak ada. Lalu Ku lanjutkan mencarinya ke rumah kontrakan Ilham.
Agak jauh aku memarkir Vespaku, agar bunyi nyaring knalpotnya tak sampai terdengar ke rumah kontrakan Ilham. Lalu aku berjalan kaki menuju ke sana.
Saat sampai, terlihat sandal Rosa dan Ilham ada di bawah pintu depan, sedang Vespanya Ilham ada di garasi. Sementara pintu rumahnya terkunci dari dalam.
Ternyata Rosa yang aku rindu-rindangkan sedang berduaan dengan Ilham di dalam rumah itu.
__ADS_1
Aku pun pulang dengan membawa hatinya lelaki yang sedang dirundung sedih dan pedih.
Di dalam kamar kosku, aku menelungkupkan kepala di bawah bantal guling.
Jiwa patriarkiku memberontak!
Rasanya Ingin kembali lagi ke rumah kontrakannya Ilham untuk menggedor-gedor pintunya, dan meneriaki Rosa sebagai perempuan pembohong dan jalang.
Namun, aku tak punya kuasa apapun atas dirinya. Sedang aku tak punya status hubungan yang jelas dengannya. Dan apa jadinya jika terjadi insiden disana, lalu semua orang menjadi tahu kalau aku cuma lelaki pecundang.
Memikirkan itu semua, kepalaku terasa mau meledak.
Perasaan sedih dan marah saling membuncah, lalu menjadi kegelisahan jiwaku yang tak tertahankan.
Pikiran panasku tak bisa aku hentikan untuk membayang Rosa sedang ditindih si Ilham.
Ya, harus ku akui, aku sedang cemburu buta teramat parah!
Saat ini, jiwa patriarkiku menginginkan Rosa untuk menjadi milikku saja. Ia harus jadi pacar resmiku. Dan Rosa harus memutuskan hubungannya dengan Ilham.
Aku tak akan membebaskan Rosa lagi menjadi apa adanya, ia harus menjadi perempuan seperti yang aku inginkan.
Sementara itu, jam masih menunjukkan pukul 12 malam, sedang jiwaku dalam gelisah teramat sangat. Ku lihat, HPnya Rosa masih tidak aktif. Padahal aku ingin memanggilnya agar lekas pulang ke rumah kontrakannya.
Rasanya ingin ku lampiaskan amarah itu dengan membanting semua barang yang ada di dalam kamarku, tetapi itu kamar kos-kosan, jika aku lakukan hanya akan membuat kegaduhan yang mengundang ibu kos dan para tetangga mendatangiku.
Aku tak berdaya, akhirnya air mataku tak bisa aku tahan untuk membasahi pipiku.
__ADS_1
Sedih rasanya menjadi lelaki pecundang dalam nilai patriarkis yang masih sangat kuat melekat dalam diriku.
Ya ... kini aku sedang menangis karena Rosa, si perempuan jalang itu!