Sebungkus

Sebungkus
14. PoV Rosa (Part 3)


__ADS_3

Gio tak dapat aku cegah untuk tidak pindah kos dan menjauh dariku. Aku bisa, apa ... ?


Padahal penasaranku padanya sudah di level-4.


Beserta rindu yang sedang  menggelora padanya, menjauhnya Gio dariku, hanyalah menjadikan aku bagai anak kecil yang terampas bonekanya saat asik bermain.


Ah ... Sungguh rinduku pada Gio ini terlalu kurang ajar, membuat dadaku sesak dengan ritme yang tak karuan.


Namun ...apalah dayaku yang sudah kadung terbawa arus permainan yang kuciptakan sendiri.  Maka … aku tak boleh berhenti sampai di sini.


Aku harus memiliki Gio, apapun caranya.


Dari sekian lelaki yang pernah ku ajak kencan dan pernah menjadi pacarku, sungguh aku belum pernah bertemu lelaki se-keren Gio.


Aku tak perlu memberitahukannya, bagaimana kerennya pikiran dan perilakunya Gio selama ini. Ia pernah coba disuap dengan mobil baru agar menghentikan perjuangannya, tetapi ia menolaknya demi rakyat desa yang dicintainya.


Dengan jarak tempat kos yang semakin jauh, rasanya sulit bagiku menembus benteng pertahanannya.


Namun ... aku yakin, seperti yang telah diajarkan film yang ku tonton, sekuat-kuatnya lelaki pastilah ia punya kelemahan. Dan selemah-lemahnya perempuan, pastilah ia memiliki kekuatan yang maha dahsyat. Begitu pula dengan Gio dan aku.


Tiba-tiba aku punya ide ...!


Aku tahu Gio suka banget bila aku beri surprise. Rata-rata orang cerdas seperti Gio itu, kan, suka dengan hal hal baru, suka dengan dunia baru  yang menantang.


“Nisa … jalan-jalan yuk, Nis!” ajakku kepada Nisa agar ikut ke toko Gramedia. Dan mau menemaniku bertemu Gio.


"Mau apa kesana, Ros?"


"Mau cari buku pesanannya Gio. Ayo lah, Nisa! Daripada kamu sendiri di si ni. Sekalian kita main-main ke kantornya Gio."  Aku membujuk Nisa demgan mengatasnamakan Gio supaya dia mau menemaniku.


Nisa pun mau. Akhirnya aku dan dia berangkat.


Semoga dengan ku belikan buku, bisa menjadi jalanku membuka jendela hatinya Gio.


Banyak teman-temannya bilang, jika Gio itu  bagai buku berjalan. Mudah-mudahan dengan kubelikan dua buku tentang **** dan spritual ini, Gio auto menjadi teks berjalan kepadaku.


Ternyata benar....!


Usai dia membaca dua buah buku yang aku belikan, tawaranku menikah siri diterimanya.


Iya aku menikah siri dengan Gio.


Sementara aku dengan Ilham, memang belum cerai.


Bila ayahku bisa memuaskan nafsu sahwatnya atas nama poligami, kenapa aku tidak boleh bersuami dua.


Hal Ini sudah.lebih baik daripada sebelumnya, dimana aku bergonta.ganti pasangan tanpa ikatan yang sakral. Hanya demi gaya hidup dan alasan tak jelas, aku bak khewan bergonta-ganti pasangan. Bila dulu aku kawin, kini aku menikah.


Kini... aku lebih manusiawi dengan mengikatkan diri pada pernikahan, kan?


Syah tidak syahnya, itu urusanku dengan Tuhan.


Jangan kau pandang keputusanku ini dari kaca mata hukum. Sebab dunia dan isinya ini memang dicipta oleh kaum laki-laki. Maka apa yang aku lakukan ini, tak akan ada benarnya dalam cara pandang laki-laki.


Selain itu, lantaran posisiku delimatis. Aku tak mungkin bercerai dulu dengan Ilham, baru.menikah siri dengan Gio. Bila aku putuskan Ilham, lalu ia kembali pada dunia narkobanya, apa aku tidak kejam kepadanya?


Biarlah akubegini. Aku menyayangi Ilham, tetapi pula mencintai Gio.


****************


Dan setelah kami menikah siri, aku pulang terlebih dahulu ke kampung halamanku.


"Mas, Gio sayang!" sapaku mesra. melalui sambungan HP..


Aku spontan saja, memanggilnya Mas Gio, karena aku merasa ia telah menjadi suamiku.


"Iya, Ros!"


"Panggil, aku sayang dong, Mas!" pintaku.merajut


"Iya ... sayang!"


"Jadi kita ketemuannya, Mas!"


"Iya, jadi."


"Di Villa itu, kan?"

__ADS_1


"Iya ..."


"Jangan lupa, kondomnya dibawa, loh!"


"Gak perlu lagi."


"Kok gak perlu, Mas?"


"Nanti aku jelaskan kalau kita sudah ketemu."


"Aku juga bawa mukenah dan sajadah, kan, mas!"


"Iya ...aku juga bawa sarung dan songkok."


"Aku naik bis saja ya? Biar gampang aku alasan ke ibuku. Nanti Mas Gio  jemput aku di terminal, loh!"


******************************


Aku tiba diterminal tawang alun Jember, saat matahari begitu angkuh menyengat kepala. Sementara hiruk pikuk penumpang dan teriakan para kenek semakin membisingkan kegalauan hidup orang-orang pinggiran yang terus terdesak oleh kebutuhan hidup.


"Mas, aku sudah sampai terminal" Pesanku pada Mas Gio.


Tak berselang lama Mas Gio pun datang menjemputku dengan Vespanya.


Di perjalanan, Mas Gio tidak langsung mengarahkan Vespanya ke arah tujuan desa Rembangan. Tetapi masih berkeliling melewati jalan-jalan pedesaan.


Disaat motor Vespa Mas Gio melaju, terlihat deretan persawahan semakin terdesak oleh pembangunan perumahan para pendatang. Terlihat pula rumah-rumah di pedesaan semakin padat tak beraturan.


Jalan-jalan utama penguhubung antar desa juga semakin padat dengan lalu-lalang kuda besi.


"Jalan desa ini ukurannya masih sama, seperti jaman  Belanda, Ros!" ujar Mas Gio dengan suara keras sembari menyetir Vespanya.


"Iya, Mas ...!" jawabku dengan suara kencang. Pelukananku pada punggungnya semakin erat. Sungguh ini sebuah perjalanan yang paling romantis dalam kenangan hidupku.


"Kita berhenti cari warung makan dulu, Mas!" pintaku.


"Iya ...!" balasnya.


Mas Gio menghentikan motor Vespanya pada sebuah warung makan sederhana.


Usai makan, kami pun melaju kembali melawati jalan ke arah desa Rembangan.


**********


Di suatu tempat di ketinggian lereng gunung Argopuro  yang tak jauh dari Villa yang kami tempati, aku dan Mas Gio memandangi dari kejauhan indahnya kelap kelip lampu kota Jember. Entah kenapa ia bagai ribuan kunang menari indah di retina mataku.


Hawa udaranya yang sangat sejuk membuai hatiku terbang mengikuti jalan cinta yang ceritanya selalu terjal dan berliku.


Asmaraku ke Mas Gio ini telah melambungkan anganku untuk bisa  mengecup puncak-puncak ketinggian cintanya.


"Ros ... aku minta maaf, ya?"


"Maaf untuk apa, Mas?"


"Dua tahun lalu, aku pernah mengatakan kamu perempuan bodoh ke teman-temanku."


"Aku juga minta maaf, Mas!" timpalku. Mas Gio menoleh ke arahku. Ia ingin tahu alasanku minta maaf kepadanya.


"Aku pernah punya niat membalas sakit hatiku pada Mas Gio ..." Setelah itu aku hendak memeluk Mas Gio dan melumat bibirnya.


"Jangan sekarang Ros ...!" pintanya. Mas Gio memintaku untuk tidak terbiru-buru.


"Kenapa, Mas ...? Kata ustad itu, kita sudah syah ... "


"Bukan soal itu."


"Apa, Mas?"


"Aku ingin mengajakmu melucuti nafsu khewani dan kepentingan duniawi sesaat."


"Maksudnya, Mas?"


"Aku tahu kita datang ke sini untuk urusan ****. Tetapi kalau itu tak dipisahkan dari nafsu dan kepentingan duniawi, maka, ia hanya sebatas pertemuan daging dengan daging. Lama-lama ia membusuk dan menjijikkan!"


"Mkasudnya... ?"


"Mula-mula sebatas perjumpaan antara daging dengan daging, tetapi  segala citra dan imajinasi dikerahkan kepadanya. Sehingga ada Mak Erot, obat-obatan penguat, memperbesar alat vital, ramu-ramuan mempersempit lubang dan sebagainya."

__ADS_1


"Kenapa bisa begitu, ya ... Mas?"


"Ya ... karena pabrik-pabrik lah yang  mengarahkan fantasinya para laki-laki dan perempuan tentang hubungan intim."


"Terus ..Mas?" tanyaku. Mas Gio ini memamg lelaki cerdas, gumamku dalam hati.


"Akibatnya, laki-laki hanya berfantasi soal ***** besar dan panjang. Dengan fantasi itu mereka mengira akan bisa memuaskan perempuan dengan penetrasi ***** besar, yang membuat semua bagian lorong ****** tersentuh, dalam durasi lama."


Ups ...


Aku hanya bisa melongo dengan kata-katanya yang vulgar, tapi sangat mengena.


Mas Gio menarik nafas dalam-dalam, dan melanjutkan, "Maka laki-laki memburu 2 hal, yaitu, ukuran dan durasi."


Tanpa kusadari suasana romantis itu pun oleh Mas Gio, diubahnya ke suasana akademis.


Kepalang basah akupun mengikuti alurnya.


" Dan ... dua hal.yang.di buru laki-laki itu hanya mitos, kan?" sergahku coba menyimpulkannya.


Aku sudah hafal banget dengan gelagat penjabarannya Mas Gio, karena ujung  kesimpulannya, biasanya mitos.


"Ya, mitos. Dan mitos itu sekarang akan aku runtuhkan." jawab Mas Gio dengan tersenyum kepadaku. Dan .... gairah asmaraku mulai mendesir kembali.


" Karena itu ... Pasangan dalam hubungan seksual harus menemukan pola yang unik untuk mereka sendiri, tidak perlu terikat pada aturan umum yang pada dasarnya hanyalah mitos." pungkasnya.


"Mas ...!" sapaku merajut. Mas Gio menoleh dengan senyum manisnya.


"Mari Mas, kita temukan pola yang unik ... untuk kita ...!" pintaku dengan nada manja.


"Ah ... kamu gak sabaran ...!" jawabnya dengan merengkuh pundakku. Aku pun merebahkan kepalaku ke dadanya.


"Kondomnya.bawa, Mas?" tanyaku takut dia lupa membawa.


"Aku sengaja gak membawanya. Oh, ya kita makan malam dulu, ya. Lalu mandi bareng, sembayang dan wiridan ... ya?"


"Jangan pakai mandi lah, Mas. Dingin banget airnya...!"


Walau airnya begitu dingin menusuk tulang akupun mandi demi.menuruti permintaan Mas Gio.


Kami pun bersembahyang bersama. Ia menjadi imam dan aku menjadi.makmumnya.


Lalu dilanjutkan wirid yang menyita waktu begitu lama. Padahal keinginan itu sampai di ubun-ubun, tapi kata Mas Gio, tahan .... dan tahan ...sampai keinginanku bisa aku kendalikan.


Bersama iringan lagu kidung wahyu kalimosobo ....https://m.youtube.com/watch?v\=E57IxS\-hRGE


Kata Mas Gio, saat kami memasuki  hubungan intim harus menjadi  peleburan rasa kerinduanku dan kerinduannya yang teramat dalam.


Menurutnya lagi, hubungan intim kami harus menjadi penyatuan spritual dari rasa keterasingan diri karena terlekati kepentingan duniawi.


Saat memasuki tahap peleburan diri itu, sungguh aku merasakan sudah tak mengenali kelas sosial, kelas ekonomi, relasi gender, agama, budaya,  dan ras.


Yang aku rasakan **** bukan lagi perjumpaan daging dengan daging, tapi ruh dengan ruh dalam tubuh pecinta sejati.


Hanya ada aku, Mas Gio dan Sang pemilik kehidupan.


Yah ... waktu itu aku dan Mas Gio benar-benar menyucikan hubungan intim kami dengan spritualitas.


Sehingga ...


Aku mengerti bahwa cinta itu benar benar suci, sesuci air mata yang jatuh membasahi bumi, maka, hanya pasrahlah kepada Sang Pencipta kesucian air mata yang sebenarnya.


***************


Dahsyat sekali dampaknya pada jiwaku pasca melakukan hubungan seksual berselimut spritualitas bersama Mas Gio di sebuah Vila desa Rembangan itu.


Jejak keindahannya begitu terasa  memenuhi ruang memori ingatanku. Sampai-sampai meluber  di alam bawah sadarku.


Perasaanku kepada Mas Gio menjadi  sangat ..., sangat sayang dan cinta melampaui batas. Seperti sayangnya seorang ibu merawat putrinya yang sedang jatuh sakit.


Hatiku menjadi tak ingin terpisah sedetik pun dengannya. Seperti kerinduannya anak dan ibunya yang terlebur karena telah terpisah selama puluhan tahun.


Apa yang kurasakan ini, mungkin tak akan ada yang percaya, tapi ini nyata aku alami.


**********


Entah kenapa kini Mas Gio cemburu.pada Ilham, padahal sejak itu aku memamg tak permah berhubungan intim dengan Ilham.

__ADS_1


Padahal aku berulang kali mengatakan pada Mas Gio, bahwa cintaku hanya kepadanya. Aku hanya kasihan pada Ilham bila aku segera meninggalkannya.


Lalu kenapa ia masih cemburu buta kepada Ilham?


__ADS_2