
Belum pernah aku menangis karena perempuan, apalagi perempuan jalang seperti Rosa.
Selama itu, aku hanya bisa menangis ketika mendengar cerita sedih dari seorang petani yang tanahnya.di rampas pemodal.
Ku lihat, jarum jam begitu lambat. Ia masih menunjukkan pukul 02 dini hari. HPnya Rosa masih tetap tidak aktif. Aku benar-benar tak bisa melewati waktu dengan mengurung diri di kamar dan berharap lekas berganti siang.
Lalu, aku membawa kegundahanku dengan vespa kesayanganku menuju alun-alun kota Jember.
Di sana aku banyak merenungkan sosok Rosa yang telah ku benci namun sekaligus masih ku rindukan.
Aku masih berharap esok akan bertemu Rosa dan menagih janjinya untuk putus hubungan dengan Ilham.
Lantaran teramat lelah, tanpa sadar aku duduk tertidur bersandar ke vespaku. Sampai fajar menyingsing, barulah aku terbangun karena suara hiruk pikuk kendaraan yang mulai ramai melewati jalan raya alun-alun kota Jember.
Aku pun lekas beranjak pulang menuju ke kosanku.
Selesai mandi, aku lihat HPnya Rosa sudah aktif. Aku baca chat balasannya.
"Aku sendirian di Kontrakan. Kamu kesini saja sekarang."
Tanpa perlu menunggu lama, aku bergegas ke rumah kontrakannya Rosa.
Sesampai disana, aku.lihat Rosa duduk sendirian di ruang tamu menungguku.
Secepat kilat, aku memeluknya begitu erat. Tanpa bisa aku tahan lagi, air mataku pun tumpah. "Rosa ... Aku benar-benar jatuh cinta sama kamu, Ros! Tolong ... kamu cepat putus hubungan dengan Ilham. Aku ingin jadi pacar resmimu, Ros!" ucapku sambil memeluknya.
Rosa tak bereaksi sedikitpun. Ia hanya diam mematung dengan membiarkan tubuhnya ku peluk erat Pandangan matanya lurus ke depan.
Seperti seorang ibu bijak yang menghadapi anak kecilnya meronta-ronta minta mainan, Rosa menunggui tangisku sampai mereda.
Cukup lama ia terdiam. Lalu ia menepuk-nepuk punggungku. "Cukup, cukup! Cowok kok nangisan!" ucapnya sambil melepaskan pelukanku.
"Risih aku lihat kamu nangis begini. Akrifis kok nangisan!" katanya lagi.
"Laki-laki kan boleh nangis, Ros?" balasku.
"Iya, tapi aku gak simpatik lihat kamu nangis di depanku! Mirip ayahku banget, kamu ini!"
"Kenapa dengan ayahmu, Ros?"
"Nggak apa-apa, males aku bahas dia. Kamu kenapa tiba-tiba nangis?"
__ADS_1
"Semalaman aku gak bisa tidur, Ros! Mikirin kamu sama Ilham."
"Nah, iya kan. Pikiranmu negatif terus sama aku!"
"Kenapa mulai sore HPmu dimatikan Ros?"
"Aku males di hubungi ayahku. Makanya aku matikan mulai siang."
"Kenapa gak sms dulu sama aku, Ros?"
"Gak sempat. Terus aku keluar ke Situbondo sama Ilham. Pulangnya sampai magrib. Kecapekan, aku terus ketiduran di kontrakannya Ilham."
"Capek karena gituan sama Ilham, kan?"
"Nah kan, ngomongmu selalu gitu!Gak suka aku. Kamu gak pernah percaya sama aku!"
"Terus sebungkus ****** di mejamu itu untuk siapa, hayo ...?"
Mendengar pertanyaanku yang mengungkit soal sebungkus ****** di meja kamarnya, Rosa seketika berdiri, lalu ia berlalu ke kamarnya. Sejurus kemudian ia membawa sebungkus ****** yang menjadi kecurigaanku.
"Sebungkus ****** ini, kan?" tanya Rosa dengan perasaan kesal.
"Iya ..." jawabku mengangguk.
Lalu aku mengambilmya dan aku hitung isinya masih tetap sama.dengan yang kemarin. "Iya masih tetap jumlahnya." timpalku.
"Makanya, kamu jangan punya pikiran jelek terus sama aku, Gio! Asal kamu tahu, ya. Ilham itu gak tahu kalau aku nyimpan ****** ini!"
Aku pun menanggapinya dengan tersenyum malu.
Melihatku tersenyum, Rosa duduk disampingku lagi. Sejurus kemudian Rosa meremas tanganku. "Gio, aku kan udah bilang, kalau aku tuh sudah cinta sama kamu."
"Rosa kok gak manggil aku Mas Gio, sih?" timpalku protes di panggilnya Gio saja.
"Malas aku manggil kamu Mas. Sikapmu kayak anak kecil.! Nggak dewasa banget..."
"Aku kan pertama ini jatuh cinta sama perempuan, Ros. Itu pun ...."
" itu apa?" timpa Rosa memotong.
"Ya, kamu duakan aku!" balasku dengan nada kecewa.
"Terus maunya kamu gimana?"
__ADS_1
"Ya kamu sendiri yang bilang mau mutusin Ilham, kan?" tagihku pada Rosa.
"Iya, tapi kan gak bisa sekarang, Gio!"
"Kenapa ...?"
"Dia orangnya baik banget. Makin lama Ilham makin sayang sama aku! Aku juga gak tega ninggalin dia. Aku takut dia tanpa aku, dia balik lagi ke dunia hitamnya. ..."
Rosa menunduk dan melepaskan genggaman tanganku.
"Dia punya dunia hitam apa, Ros?" tanyaku penasaran
"Dulu Ilham sebelum jadi pacarku, pecandu narkoba. Setelah jadi pacarku dia sembuh. Aku gak bisa bayangkan kalau aku tinggalin Ilham, dia akan balik lagi jadi pemakai." jawabnya dengan nada sedih.
" Iya sih ... Tapi aku pingin kamu putus sama dia, Ros! Sakit banget menjadi pacar ke duamu!"
"Katanya kamu sayang aku, Gio?"
"Iya ..."
"Katanya cintamu tidak untuk mengekang hidupku?"
"Iya ..tapi.."
" Katanya pula sayangmu tidak untuk memaksakan keinginanmu? Dan ... Cintamu akan membebaskan aku menjadi apa adanya?"
"Iya, iya ...benar kamu, Ros! Tapi ..."
"Tapi apa?"
"Aku cemburu, Ros!"
"Kok bisa kamu cemburu?"
"Entahlah ..."
'Sejak kapan kamu cemburu?"
"Kemarin saat melihatmu di dalam kamar berdua dengan Ilham."
"Kenapa itu bisa membuatmu cemburu, Gio? Kamu kan cerdas. Kamu kan banyak bukunya, Gio. Carilah tahu, apa cemburu itu?"
"Ah ..malas aku Ros mencari tahu. Yang aku tahu, aku ingin memilikimu dengan kongkrit!" pungkasku.
__ADS_1
Tiba-tiba bibir Rosa mendarat begitu saja tanpa aku duga. Kebetulan hujan deras sedang turun meriuh di atas genting. Dan aku pun terbuai olehnya sambil menunggu hujan itu reda.