Sebungkus

Sebungkus
18. Aku Tak Kuasa Melawan Rosa


__ADS_3

"Si Rosa-nya kenapa, Mas? Kok gak pelan-pelan menutup pintunya." tanya Fitria usai Rosa berlalu ke rumah kontrakannya.


Sebelum menjawab kekepoannya, bibirku tersenyum membayangkan Rosa sedang berlari ke rumah kontrakannya.


He ... He ... Ternyata aku bisa juga membuat Rosa cemburu. Tapi apakah benar dia cemburu melihatku berdua dengan fitria?


"Di tanya, kok malah senyum-senyum Mas Gio ini?" tanya Fitria lagi.


"Ah, gak ada apa-apa! Ayo kita lanjut diskusinya, Fit!" seruku.


"Rosa tadi itu loh, kenapa kok gak dijawab, sih mas ..?" Fitria masih penasaran.


"Biar saja dia begitu ... Gak usah dipikir. Cemburu sama kamu, mungkin!" jawabku.


Ups ... Aku keceplosan membuka rahasiaku ke Fitria.


"Loh, dia kan sudah lama pacaran sama Ilham ...!, hayo ... Rosa selingkuh sama Mas Gio, ya?" Fitria sangat tajam mengendusnya.


"Ah, mana ada aku pacaran sama Rosa. Gak mungkin lah, Fit!" kataku mengaburkan fokusnya.


"Siapa tahu ...?" tanya dia dengan tatapan mata menyelidik.


"Oalah, kayak gak tahu si Rosa saja kamu. Mana mau aku sama dia, Fit?"


"Tapi tadi itu ... gak sopan banget loh, Mas!"


"Ada masalah sama Ilham, mungkin?"


"Ya, kalau ada masalah dengan Ilhan jangan di lampiaskan ke sampean donk!" ujar Fitria membelaku. Ia masih berpanjang-panjang dengan sikap tak sopannya Rosa.


Fitria juga kenal Rosa, karena ia pernah satu organisasi ekstra dengan si Ilham dan Rosa.


"Kok kamu kelihatannya gak terima, begitu Fit?" tanyaku mulai menjajaki perasaannya.


"Ah ...ya nggaklah, lah Mas." Timpal Fitria dan selekasnya  ia mengendalikan malunya dengan mengalihkan diri membaca buku di tangannya.


"Kalau saat ini kamu yang jadi pacarku ... apa yang akan kamu lakukan pada Rosa, Fit?"


Aku coba menohok perasaannya, karena kabar yang ku dapat dari si Candra ia menyukaiku  Sekaligus ini sebagai test case-ku pada perasaannya.


"Ya, langsung aku samperin dia ke kontrakannya. Aku labrak... Maunya dia apa, gitu? Hahaha ... kok malah ngelantur omongannya Mas Gio,  ini." Kata Fitria sambil tertawa.


Ia mulai menyadari aku sedang menebak isi hatinya.


"Loh, kalau aku mau, apa kamu juga mau jadi pacarku?"


" Iya mau donk ..! Haha ...Mas Gio ini "ngemeng epe"... Alah..sudahlah Mas gak usah bahas kayak gitu-gituan. Ayo lanjut diskusinya, Mas!"


Kami pun tertawa bersama, lalu melanjutkan diskusi teori-teori yang akan dijadikan rujukan skripsinya Fitria.


Fitria merupakan sosok perempuan organisatoris. Sebelum jadi aktifis perempuan kampus, ia sering kali aku latih berfikir kritis dan berorasi di depan massa.


Penampilannya sedikit ada tomboynya, tapi kecantikannya tak kalah dengan Rosa.


Di sela itu ...


Ting ... Bunyi pesan masuk ke HP-ku.

__ADS_1


Kubaca pesan dari nama Yanto. Nama Rosa yang sengaja aku samarkan biar tak di ketahui teman-temanku.


"Kesini ...!!" Bunyi pesan-nya sangat pendek dan terasa penuh penekanan.


Aku tak membalasnya. Hatiku riang nembacanya. Bibirku tersenyum simpul.


Aku penasaran seperti apa dia kalau sedang cemburu, ya? Ingin selekasnya aku ke rumah kontrakannya.


"Kok senyum-senyum lagi, Mas. Lihat, Mas?" tanya Fitria kepo lagi saat aku baca pesannya Rosa.


"Ini loh, pesan dari Yanto petani Rambipuji itu," jawabku sambil menunjukkan pesan itu pada Fitria. "Eh, Fit ... sori ya, bukan ngusir, tapi aku masih ada urusan segera dengan Yanto. Sori, ya?


" Oke, Mas, kalau gitu aku balik dulu ke kosanku. Besok aku aku kesini lagi, ya?"


"Iya ... Tapi kirim pesan dulu ya  kalau kesini!"


"Iya Mas, Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


**************


Usai Fitria pergi, jiwaku seolah  merasa menang dari peperangan melawan Rosa. Andaikan cemburunya menyebabkan putus hubungan, tak masalah bagiku. Aku masih bisa melarikan diri ke Fitria.


Setelah selesai mandi, baju kebangganku yang dipilihkan Rosa di  Matahari aku pakai. Lalu dengan Vespa kesayanganku aku melaju ke kontrakannya Rosa yang dekat itu.


Sepedaku Vespaku aku parkir di tempat biasanya. Dengan perasaan kemenanganku, aku melangkah dengan gagahnya.


Pintu rumah kontrakannya Rosa terbuka lebar. Saat mendekati pintu suasana di dalam begitu lengang. Hanya ada Nisa duduk sendirian di ruang tamu. Wajahnya terlihat manyun melihat kedatanganku.


" ... Waalaikum salam ... "  jawabnya ogah-ogahan.


"Kamu kenapa ...? Kok manyun begitu, Nis?" tanyaku sambil tersenyum.


"Kamu itu loh, kok seperti sedang tak bersalah saja datang kesini!" kata Nisa dengan sikap jengkelnya.


"Loh, memangnya aku punya salah apa, Nisa?" tanyaku pura-pura tak mengerti.


"Tuh ... lihat Rosa di dalam kamar! Cepat ke sana minta maaf!" serunya kepadaku supaya aku lekas melihat keadaan Rosa di dalam kamarnya.


Selekasnya aku mendekat ke kamar Rosa. Pintu kamarnya ku buka perlahan. "Kriiek ... "


Ya ... ampun!


Rosa sedang khusuk sholat dengan kelopak mata yang dipenuhi air mata. Ia terlihat sangat sholehah dengan mukena yang di pakainya.


Di atas sajadahnya ada Alqur'an dan terpampang fotoku di layar HP-nya. Ia tak mempedulikan kehadiranku. Ia tetap  duduk khusuk, namun air matanya semakin deras berlinang.


Melihatnya demikian hatiku menjadi gamang. Tak tahu harus bersikap apa kepadanya.


Perasaanku juga bimbang, antara merasa bersalah padanya dan masih curiga, jangan-jangan  ini hanyalah sandiwaranya semata.


Jujur, kecurigaanku belum hilang, karena sandiwara cinta segitiganya tak membuatku mudah percaya.


Tetapi ... aku sangat tak tega melihatnya demikian. Ku pikir cemburunya Rosa sebatas marah biasa. Sekedar merasakan sakit hati yang biasa..


Entah ... aku merasa tak tega dan merasa sangat bersalah telah membuatnya menangis dan mengadukan kedukaannya pada Tuhan.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Ros, kok sampai menangis begitu?" kataku dengan nada pelan. Dan aku mendekat duduk disampingnya.


" ... " Rosa tak menjawab. Ia hanya mengusap air matanya dengan punggung tangannya.


"Maafkan aku ... Jika ada salah sama Rosa ..." ujarku pelan sembari menyentuh lengannya.


"Aku gak apa-apa, kok ...! Kamu gak salah, kok ..." Usai berkata lirih, tangisnya Rosa makin menjadi.


"Ya ... Terus kamu kenapa?"


"Ya, memang aku yang salah. Biarlah aku hanya bisa pandangi fotomu ini ..." nadanya pelan, lalu Ia mengambi HPnya yang ada gambarku tadi.


"Kamu tadi cemburu kah sama Fitria?"


"Nggak, ngapain aku cemburu. Apa hakku aku cemburu. Sana ... Kamu pergi ke dia ...!" kata Rosa dengan perasaan marah yang ditahan.


Sedetik kemudian tangisnya Rosa meledak dengan suara yang sangat keras.


"Ros ... ! Pelankan suaranya. Nanti banyak yang tahu!"


"Biar ...! Biar semua tahu ...!! Biar hancur aku sekalian ...!!!" teriak Rosa dengan tangis menderu.


Jeritan Rosa membuat Nisa seketika masuk ke kamar meredamkan tangisnya.


Saat tangis Rosa mulai mereda. Si Nisa pun keluar kembali meninggalkan kami.


Lama kami saling berdiam diri ...


"Fitria itu cuma teman biasa, kok. Ros!"


"Teman biasa apanya ...! Ngapain di tutup pintu kamarnya? Sengaja ya ...?  Biar aku mati bunuh diri, ya?" Seneng kamu, ya kalau aku mati?"


"Bener Ros, dia cuma teman biasa. Di dalam kita cuma diskusi. Soalnya suara di luar bising, Ros!"


"Hatiku sakit banget tauk ..!"  Air matanya tumpah lagi.


"Iya ... Iya ... Aku salah. Maaf ... Maaf ...' pintaku menghiba.


"Padahal aku sudah bilang sama ayahku, aku punya calon. Aku juga sudah cerita tentangmu. Lalu ayahku pun pingin ketemu kamu. Tapi ...kamu sudah menghancurkan harapanku."


Deg ...Mendegarnya hatiku tersentak.


Aku begitu senang sekali.mendengarnya. Sebuah kabar yang sangat kuharapkan. Terbayang akan menjadi menantunya orang terhormat dan aku akan menjadi suami resminya Rosa


Terbayang pula aku harus punya ijasah sarjana agar nanti aku bisa menjadi dewan dan bisa merubah kebijakan yang pro rakyat melalui legislatif.


"Iya aku minta maaf banget sama kamu, Ros!"


" ... " Rosa tak berkata sepatahpun.


"Lalu bagaimana aku menebus kesalahanku biar kamu bisa memaafkannya, Ros!"


Agak lama Rosa menjawabnya. Lalu kepalanya tegak dan menatapku bak tatapan mata burung elang.


"Ada syaratnya, biar sakitnya hatiku ini bisa sembuh! Tapi kamu mau gak melakukannya?" tanya dia dengan makna yang berisiko tinggi.


"Iya ... Aku mau. Asalkan aku di maafkan. Demi kamu, apapun aku mau melakukannya, Ros!"

__ADS_1


__ADS_2