
Entahlah ...
Apa karena duniaku yang keras dan terlalu asik dengan kepentingan orang lain, sehingga kebutuhan akan belaian dari kekasih itu menjadi terlupakan.
Yang jelas, bila dibanding saat memakai 1 buah ****** itu sensasinya sangat bertolak belakang. Khusus ntuk kecup kening dari Rosa ini, kurasakan begitu menghidupkan dan memanusiawikanku.
Selama 3 jam-an aku berfikir dan sekaligus terngiang-ngiang dengan hadiah kecupan kening dari Rosa, lalu tiba-tiba ia meneleponku.
"Udah masuk pulsanya?" tanya Rosa melalui hand phone
"Pulsanya, siapa?"
"Ya pulsamu. Barusan aku isikan!"
"Buat apa Ros, kamu belikan aku pulsa?"
"Biar ada alasanku meminta kamu menelpon aku!" pungkasnya menutup teleponnya.
Lalu kulihat di SMS HPku sudah terisi pulsa 100 ribu. Lagi-lagi aku bergumam, ternyata asik juga hidupku dikasih hadiah materi oleh seorang gadis cantik seperti Rosa.
*********
Selama 2 mingguan Rosa kerap datang ke kosanku. Kadang sendiri, kadang sama si Nisa.
__ADS_1
Ia sering membawakan oleh oleh burupa buah-buahan. Kadang nyelonong begitu saja ke kamar kosku.
"Aduh kamu kok banyak bukunya, Gio! Aku pinjam yang ini, ya?" seru Rosa sambil menunjukkan buku kesetaraan gender kepadaku.
"Iya, boleh!" timpalku
"Tapi, aku diajari memahaminya, ya?"
" ... "
Aku mengangguk senang tak keberatan sedikitpun, jika si Rosa mau membaca buku tersebut.
Aku orangnya teramat senang bila ada seorang mahasiswi yang greget untuk membaca dan berdiskusi.
Untunglah ada si Rosa yang datang merawatku. Ia membelikanku bubur ayam, membelikan obat, dan mengompreskan air hangat ke keningku.
"Kamu ke dokter, ya?" tanya Rosa.
" ... " Aku menggeleng lemah.
"Kenapa?"
"Aku takut disuntik!"
__ADS_1
Mendengar alasanku, Rosa malah tertawa ngakak.
Aku bahagia sekali. Ini pertama kalinya. Belum pernah aku mengalami saati sakit begitu, ada seorang gadis yang merawatku dan menunggui di sampingku. Kecuali, hanya dirawat oleh emakku di kampung.
Aku dan Rosa terpaut 3 tahun usianya Cuma, entah kenapa, si Rosa tak pernah memanggilku, Mas Gio.. Padahal dia gadis Jawa Timur yang mestinya paham itu.
Kenapa gadis itu begitu baik kepadaku, ya?
Apakah si Rosa telah jatuh cinta kepadaku?
Kedua pertanyaan itu membawa pikiranku mengeja setiap peristiwa bersama Rosa. Mulai dari ia membelikanku sebungkus ****** di Matahari, lalu ****** itu aku gunakan padanya, lalu dapat hadiah kecup kening darinya, sampai ia merawat tatkala aku sakit.
Peristiwa itu, aku rangkai dengan peristiwa 2 tahun lalu saat pertama kali mengenal sosok Rosa di sebuah diskusi komunitas mahasiswa. Aku lihat waktu itu ia bersanding dengan pacarnya. Hanya Rosa lah yang aku lihat dalam diskusi tersebut, paling pendiam, paling pemalu, dan paling bodoh diantara mahasiswi lainnya. Walaupun sesungguhnya ia paling cantik.
Waktu itu, banyak teman-temanku tahu, bahwa gadis yang paling tidak aku sukai keberadaannya di komunitas diskusi tersebut adalah si Rosa.
Ia ikut komunitas diskusi itu, karena pacarnya yang anak Surabaya itu aktif di dalamnya. Pacarnya itu kenal baik denganku. Dan setiap harinya Rosa dan pacarnya selalu runtang-runtung
Waktu itu aku berfikir, mau maju gimana negara ini jika ideologi pemuda- pemudinya tak jauh dari ideologi ************.
Mengingat-ingat sosok Rosa yang aku kenal waktu itu, tiba-tiba mazhab kritisku mulai menggugat kehadiran Rosa yang sudah mendapat simpati hatiku.
__ADS_1
Kecurigaanku pada perilakunya selama ini menyeruak:
"Apakah ada agenda terselubungnya Rosa untuk membalaskan dendam lamanya padaku?"