Sebungkus

Sebungkus
6. Aku Diajak Nikah Siri


__ADS_3


Sungguh aku terkejut dibuatnya. Belum pernah aku dipeluk erat, lalu ditangisi seorang gadis karena sedang jatuh cinta padaku.


Selama ini, aku hanya mengalami cinta terpendam saja. Jujur aku tak pernah berani mengungkap, "cinta kamu" pada gadis yang aku cintai.


Tapi kali ini si Rosa lah yang  menembak hatiku duluan, terus terang saja aku tergagap, bingung harus bersikap apa.


"Beneran nih, Gio! Aku benar-benar jatuh cinta sama kamu!" katanya merengek supaya aku percaya.


"Iya, iya, tapi lepaskan dulu pelukannya! Takut ketahuan ibu Kos, Ros! Dia kan tahu kamu masih pacarnya Ilham."


"Apa aku putuskan saja Ilham sekarang, supaya kamu percaya?" tegas Rosa sembari melepas pelukannya.


"Jangan ... jangan...! Iya aku percaya. Cuma aku tetap pindah kos." balasku.


Wah, bisa runyam urusannya, jika Roea  dengan Ilham putus gara-gara aku.


"Gio mau pindah kemana?" tanya Rosa sambil mengusap air mata dengan sapu tangannya..


"Pindah ke Mangli."


"Jangan dong, Gio! Please! Selain jauh, aku malu kesana sendirian!" pintanya.


"Ya terus ...? Lagian aku sudah pamit sama bu Kos. Sebagian barang-barangku juga sudah ada di Mangli.!"


"Tapi aku masih boleh telepon kamu, ya?"


"Iya ..."


"Jangan gak diangkat lagi, loh!"


" Iya ... iya!"


****************


Setelah pindah kos, di suatu hari seorang direktur perusahaan perkebunan menemuiku di kantor NGO ku.


"Tolong saya, Mas! Mas Gio bujuk supaya masyarakat di wilayah konflik itu tidak sampai aksi reklaiming! Karena bertepatan dengan proses  izin perpanjangan HGU perusahaan kami, Mas!"


"Wah, maaf pak Herman. Saya tak bisa membantu."


"Tolonglah Mas Gio! Nanti aku siapkan mobil baru buat panjenengan. Asal mau bantu saya"


"Maaf pak, idealisme saya tak bisa.bapak beli. Sekarang silahkan bapak Herman keluar dari ruangan saya."


****************


Rosa memang tak pernah datang ke tempat kosku sejak aku pindah. Ia rajin menghubungiku hanya lewat Hand phone. Biasanya mulai jam 9 malam ia mengontak aku untuk melepas kerinduannya.


"Gio aku kangen banget sama kamu!" kata Rosa melalui HP.


"iya ...!" jawabku singkat sekedar menanggapi.


"Kok, iya iya aja, sih!"


"Iya, aku harus jawab apa, Ros?"


"Jawab, kangen juga gitu, loh!"

__ADS_1


"Ooo..."


" Gio ...! Aku pingin banget main ke tempatmu. Tapi aku malu! Aku kan cewek?"


"Waktu di kosan lamaku, kok gak malu?"


"Ya ..., kan aku sudah kenal sama bu Kosmu. Dengan tetangga sana juga banyak kenal."


"Ooo ..."


"Jujur, aku ke Gio itu, sukanya mulai dari dulu, loh! Cuma aku takut berlama-lama di dekatmu."


"Masak sih, kenapa takut?" timpalku penasaran


"Iya ...Gio kalau di depan teman-teman, kan, omongannya serius terus. Tak ada hari tanpa diskusi. Mikirnya berat-berat terus. Aku sih suka lihat Gio begitu, tapi gitu deh, otakku gak nyampai. Aku sering takut kalau dekat kamu, nanti ditanyain macem--macem!"


"Ooo ..."


"O ... bunder!"


"He he ... Terus kenapa Rosa suka sama aku jika gak paham omonganku?"


"Hem ...Ya karena Gio mirip banget sama ayahku."


"Mirip bagaimana?"


"Ayahku itu orangnya pinter, berani ambil resiko bila berpolitik. Untung saja dia terpilih jadi dewan, kalau nggak? Udah habis  duit 1 M lebih, itu!"


"Terus miripnya dimana?"


"Ya, itu ... sama-sama pintar dan suka dengan dunia politik."


"Ooo ...terus kamu mulai gak perawan itu, apa sama Ilham?"


"Terus, apa sama si Ilham juga pakai ******?"


"Iya, lah! Kalau gak pakai bisa hamil aku. Bisa di bunuh aku sama ayahku!"


"Ooo ..."


"Waktu kamu pakai ****** itu, enak gak?" tanya Rosa genit.


"Gak tau, lupa!" jawabku mulai tak senang, si Rosa nadanya mulai nyerempet ke sebungkus ******.


"Gio ...Gio ..." nada suara Rosa mulai manja banget.


"apa?"


"...aku pingin ...!"


"...Tut!" seketika HPku langsung aku matikan.


******************


Keesokan harinya, Rosa nekat datang ke kantor NGO ku. Bersama Nisa, dia menungguku di kursi teras.


"Ayo masuk ke dalam Ros!" sambutku pada Rosa dan Nisa.


"Nggak usah, aku sebentar saja." jawab Rosa.

__ADS_1


"Tahu dari mana kalau kantorku di sini?" tanyaku. Aku heran kenapa Rosa bisa tahu alamat kantorku.


"Ya, nanya-nanya lah!" jawabnya.


"Ayo masuk, gak apa-apa." ajakku lagi merasa kasihan membiarkan Rosa dan Nisa di luar.


"Nggak usah. Aku cuma mau ngasih buku pesanannya sampean." timpalnya.


"Buku pesanan?" Perasaan aku memang tak pernah pesan buku. Oh, aku paham, ini pastilah alasan Rosa untuk bisa bertemu denganku.


"Aduh sampean pelupa orangnya. Ini ambil, aku pulang dulu, ya?" pamit Rosa. Ia selalu memanggilku dengan sampean bila di depan umum.


**************


Aku tak berani.membuka bungkusan yang di belikan Rosa itu di Kantor. Takut bukunya tak bermutu, tak sesuai dengan kapasitasku sebagai pimpinan di NGO dan yang terbiasa membaca buku-buka berbobot.


Saat aku sampai di kosan, ternyata 2 buah buku pemberian Rosa itu judulnya sangat menarik untuk dibaca. Satunya berjudul, "Membongkar Seni Bercinta Kamasutra"  dan satunya lagi berjudul, "Seksualitas dalam Spritualitas". Aku telah lupa nama pengarang kedua buku tersebut.


Lantaran kedua buku itu isinya sangat bagus, sehingga selama 2 hari aku rampungkan membacanya. Terutama buku seksualitas dalam spritualitas.


Malam itu seperti jam biasanya, Rosa meneleponku lagi.


" Gimana, Gio? Bagus ya bukunya? Mahal loh aku belinya." tanya Rosa melalui HPnya  Suara Rosa terdengar bergembira sekali.


"Iya bagus. Nanti aku ganti uangmu." jawabku, karena memang harga kedua buku itu mahal.


"Gak usah! Aku pas di Gramedia nyoba lihat-lihat-buku. Terus aku inget kamu. Gio kan doyan baca buku. Aku tertarik dengan 2 judul buku itu. Aku yakin Gio pasti juga tertarik membacanya."


"Iya memang bagus  terutama buku seksualitas dalam spritualias."


"Pintar aku ya, Gio?"


"Iya."


"Terangkan isi bukunya, dong?"


"Ya isi buku itu ... mengkritik kecenderungan hubungan seksualitas pasangan suami isteri yang sekedar menubuh. Tanpa ada spritualitas di dalamnya."


"Huuh ...bahasamu itu pasti sulit aku mengerti! Coba disederhanakan lagi, supaya aku paham, Gio!"


"Gini ... Hubungan seksual yang dilakukan suami isteri sekarang kebanyakan hanya sebatas kebutuhan biologis semata. Seperti orang sedang lapar, terus makan, lalu kenyang sudah, selesai! Malam melakukan hubungan seksual, esok paginya sudah lupa kenangannya, balik lagi pada rutinitas hidup dengan pernik persoalannya."


"Oh jadi kalau ada spritulitasnya, esok paginya masih terngiang keindahannya?."


"Iya. Tidak hanya esok pagi saja. Seminggu pun masih terasa indahnya terkenang!"


"Kok bisa gitu, ya Gio?"


" Itu rumit dijelaskan, Ros. Harus dibarengi dengan prakteknya!"


"Iya, ayo, aku diajarin langsung. Sisa kondomnya masih ada, kan?"


"Ogah... dosaku yang kemarin saja sudah 60 tahun gak diampuni, kok,  imi malah mau nambah dosa lagi!"


"Hemm, gimana kalau kita nikah siri dulu"


"Maksudmu?"


"Aku sama  Ilham, dulu kan juga nikah siri! Jadi hubungan kami sudah halal!"

__ADS_1


"Terus nikah sirinya dimana?"


"Aku ada seorang ustad yang biasa menikahkan siri anak-anak kampus! Gimana menurut, Gio?"


__ADS_2