
Tidak hanya mengakibatkan kemacetan otak kiriku, kecanduan black hole itu menyebabkan aku menjadi.pecemburu dan curigaan kepeda Rosa.
Aku tak pernah percaya walau Rosa telah membuktikan bahwa sebungkus ****** itu khusus menyediakan untukku. Tapi, siapa tahu, ia secara diam-diam telah membeli 2 bungkus ******. Sebungkusnya untukku, sebungkasnya lagi untuk ilham.
"Gio ... ! Lama-lama aku bosen sama kamu, bertengkar terus, dan nanyain ****** itu lagi, itu lagi." seru Rosa dengan suara lantang.
"Makanya aku gak mau pakai ******-kondoman. Lagian pakai ****** gak enak, Ros!" sahutku tak mau kalah. Aku juga sudah.mulai bosan selalu memakai ******. Seakan ada pembatas kepuasaan saat.berhubungan intim dengannya.
"Gak pakai ******, gundulmu! Kalau aku hamil ... apa kamu mau tanggung jawab?" timpal Rosa dengan suara yang keras. Untunglah di rumah kosannya lagi sepi, sehingga tak ada orang yang.mendengarnya.
"Iyalah ... aku akan tanggung jawab, Ros! Aku akan nikahi kamu secara resmi. Memang aku berniat jadi suamimu resmimu, kok! Gak kayak sekarang, ini ...."
"Aku hamil ...? Dibunuh duluan aku sama ayahku sebelum dinikahi kamu" balas Rosa dengan mata mendelik.
"Ya sudah kita kawin lari saja, Ros!" timpalku dengan nada suara yang.menurun.
"Kok enak kamu. Nanti aku di tinggal nikah lagi sama kamu? Mampus nasibku. Aku bisa lebih menderita dari ibuku!" kata Rosa dengan nada suara yang tetap meninggi.
Begitulah hari-hari hubunganku dengan Rosa sering diwarnai pertengkaran. Walaupun saat pertengkaran itu terjadi ketika sudah tak ada orang lain yang melihat atau mendengarnya. Tetapi jika ada orang lain, kami seperti api dalam sekam.
Dan ... setiap pertengkaran tersebut, selalu kami selesaikan dengan happy ending di atas ranjang.
**********
Siapapun tak akan betah berlama-lama menjadi korbannya cinta segitiga.
Siapapun tidak akan kuat mengikuti terjalnya jalan penderitaan cinta tanpa memiliki.
Siapapun orangnya pasti ingin diakui sebagai pacar resminya, atau suami resminya, sehingga bisa memilikinya tanpa terganggu-gugat.
Coba posisinya dibalik ...?
__ADS_1
Bagaimana kalau Rosa yang menjadi pacar atau isteri gelapku?
Apakah ia tak malu pada teman-temannya hanya dijadikan perempuan simpananku?
Apakah Rosa tak ingin menjadi perempuansatu-satunya bagiku, tanpa ada saingan dari perempuan lainnya?
Apakah dia tak merasa cemburu, seperti aku sekarang yang selalu di liputi rasa kecemburuan ini?
Yah ...
Aku pikir hubunganku dengan Rosa ini tak adil!
Rosa tak pernah mengalami betapa sakitnya hati yang sedang cemburu.
Betapa teriris-irisnya perasaan ini saat memandang kekasihnya sedang berduaan dengan yang lain.
Rosa harus merasakan seperti yang aku rasakan!
Biar Rosa sadar bahwa selama ini ia telah tak berlaku adil kepadaku.
"Gio nanti jam-10, aku kekosanmu, ya? Aku kangen, Gio!" tulisnya melalui pesan di HP.
"Iya ..." balasku singkat.
Hem, kalau ia yang kangen, kapan dan dimana saja pasti bisa menemuiku. Coba aku yang kangen kepadanya? Jelas tak sebebas dia kepadaku
Hari itu kebetulan ada seorang Mahasiswi bernama Fitria mau datang ke kosanku untuk keperluan konsultasu menyusun skripsi. Kesempatan ini tak ku sia-siakan untuk memberi pelajaran kepada Rosa bagaimana sakitnya hati yang sedang cemburu.
Fitria tak kalah cantiknya dengan Rosa. Gadis ini aktif berorganisasi. Dan belum memiliki pacar. Konon ia ada perhatian kepadaku. Andaikan aku mau, Fitria pasti juga mau menjadi.pacarku.
Tepat Jam 09-an, Fitria datang ke kosanku.
__ADS_1
"Assalamualaikum ...!" ucap salam Fitria kepadaku.
"Waalaikum salam," sahutku menyambutnya dengan ramah. "Mari Fit, masuk!"
"Iya, mas. Aku lepas dulu sepatuku." balas Fitria sambil melepas sepatunya di teras.
"Apa yang bisa aku bantu ke kamu dalam menyusun skripsi ini, Fit?" tanyaku setelah Fitria duduk di ruang tamu.
"Gini, mas. Aku kan milih metode penelitiannya kualitatif, nih. Nah, judil skripsi ini, kan pas dengan kasus-kasus tanah yang sampean bela." kata Fitri sambil menunjukkan lembar judul skripsinya yang telah di acc dosen pembimbingnya.
"Terus yang kamu inginkan dari aku, apa?" tanyaku.
"Aku mau konsultasi kasus-kasusnya, mas! Dan sekalian mau pinjam buku-buku teorinya." Jawab Fitria.
"Ooo, gitu. Itu buku-bukunya di dalam kamar. Ayo kita sekalian diskusi di kamar saja!" seruku sambil berharap Fitria mau mengikuti ajakanku diskusi di dalam kamar.
Ternyata Fitria tanpa keberatan mau masuk ke kamarku.
Lalu pintu kamar aku tutup. "Loh, kok di tutup mas?" tanya Fitria heran.
"Biar gak bising!" jawabku. Fitria percaya saja. Sebab aku dikenalnya tak suka berbuat senonoh kepadanya.
Pintu kamarku sudah tertutup, aku dan Fitria pun asik mendiskusikan teori-teori yang pas untuk skripsinya.
Di sela diskusi panjang lebar dengan Fitria, aku berharap si Rosa lekas datang ke kosanku.
Tba-tiba ... "Kriek ..."
Bunyi pintu kamar di dorong oleh tangannya Rosa. Kepalanya menjulur ke balik pintu.
Dan ... seketika matanya terbelalak kaget melihat aku dan Fitria sudah ada di dalam kamar.
__ADS_1
"Bruuaak!" bumyi pintu kamarku di tutup kembali dengan kerasnya.
Tanpa sepatah katapun, Rosa bergegas pulang dengan langkah kakinya yang terdengar sedang berlarii