Sebungkus

Sebungkus
13. PoV Rosa (Part 2)


__ADS_3

Sensitif Jender (Gender Sensitivity) adalah sikap dan perilaku yang peka terhadap adanya pembedaan peran dan perlakuan terhadap laki-laki dan perempuan yang justru merugikan kaum perempuan.


***********


Sungguh salah besar jika Gio menganggapku perempuan lemah. Sebab ia menilaiku hanya dari sudut pandang buku filsafat yang dibacanya, tidak mendasarkan pada kenyataan sosialku..


Gio ... aku kasih tahu ke kamu, ya! Inilah kenyataan sosialku:


Aku anaknya orang kaya desa, ayahku pimpinan DPRD,  aku pernah jadi artis lokal, wajahku cantik, tubuhku seksi, lemah-lembut, manja, pemalu dan pintar memasak. Semuanya itu adalah kekuatanku loh, Gio bloon!


Menjadi kuat kok harus meniru caranya laki-laki, yang berotot kuat dan berotak pintar. Tentu saja sampai kapanpun aku tak akan bisa  menjadi perempuan kuat jika melewati "jalan umummya laki-laki".


Perempuan Indonesia macam aku ini kebanyakan mengedapankan perasaan, lah. Masa Gio gak tahu, bahwa, di balik laki-laki kuat dan sukses itu ada perempuan hebat di belakangnya.


Contohnya, ayahku, lah. Kalau gak ada ibuku di belakangnya, gak akan sesukses itu ayahku.


Jadi ... aku, ya, harus melewati jalan ku sendiri, dong!


Aku sudah memilikii " jalan tolnya perempuan" bagaimana menjadi kuat, dan aku gak perlu mengikuti cara-cara "sensitif gender" yang di ajarkan Gio ke teman-temannya.


Katanya Gio, untuk setara dengan laki-laki perempuan harus memiliki kesadaran sensitif gender.


Sedangkan katanya penulis kisahku ini seperti berikut "Mau setara dengan laki-laki kok masih ngemis kuota 30 persen untuk perempuan. Ya gak fair, lah ...!"


Kalau menurutku, sih. Bila mau setara dengan laki-laki semacam Gio ini, ya, harus di ditundukkan dulu lah, baru ngomong  kesetaraan. Ya di kuasai dulu, baru ngomong keadilan.


Jika ... Gio melihatku sebagai perempuan bodoh hanya dinilai dari aku yang gak suka baca dan diskusi, ya,  itu kesalahan fatal dia. Tetapi, perlu di ketahui, aku ini suka banget nonton film-film yang mengisahkan perempuan hebat. Dan aku telah  banyak belajar dari Ratu Cleopatra, Roro Mendut, Dewi Shinta, Roro Jonggrang, Ken Dedes dan lain-lain.


Karenanya ...


Aku sangat paham bagaimana menjadi perempuan pintar dan hebat, sebab aku belajar pada kenyataan yang ada,  bukan pada teori-teori buku seperti si Gio itu.


**************


Sayang seribu sayang ...


Kemarahan yang sudah membuncah pada Gio itu tak bisa aku lampiaskan dalam waktu cepat. Ia selalu berkumpul dengan teman-temannya setiap hari. Dan ia juga sedang disibukkan dengan penelitian kasus tanah rakyat di Jember. Jadi, gak ada waktu bagiku untuk pertemuan 2 mata dengannya.


Barulah ...

__ADS_1


2 tahun kemudian aku punya peluang mendekatinya. Tepatnya, saat aku mulai menginjak semester VII. Sejak Gio pindah kos yang jaraknya 50 meteran dengan rumah kontrakanku, lalu, aku sering bertemu dan berkomunikasi dengan dia.


Sebenarnya dalam rentang waktu 2 tahunan itu, kebencianku padanya sudah tak seperti dulu. Ada sih, rasa marahku, tapi aku mulai  penasaran pada sosok si Gio.


Penilaianku sejak sering bertemu dia, Gio itu memang pemuda idealis tapi sekaligus ia munafik. Dan masih  banyak sekali laki-laki macam Gio ini. Lain di mulut, lain di hatinya.


Boleh saja Gio dikenal oleh teman-temannya sebagai sosok sang Idealis, sebab idealismenya Gio.belum pernah teruji oleh kenikmatan seksualitasku.


Bagaimana nyatanya.ketika idealisme Gio aku uji dengan sebungkus ******?


Nyatanya ... Gio pun menjadi bodoh.berkali-kali.


Bila mengingat aku dan Gio awal kali pergi bareng ke Mall Matahari itu,   seringkali aku dibuatnya terpingkal sendiri.


Misalnya ... saat menyeberangi jalan, sengaja tanganku kulingkarkan ke lengannya, ku lirik kakinya yang mulai melangkah dengan gemetar.


Melihat sikap Gio yang seolah-olah tenang, tetapi ia tak menepis tanganku, hatiku cekikikan. Aku hanya bisa senyum-senyum sendiri melihat Gio yang sedang salah tingkah itu.


Apalagi saat aku belikan ia sebungkus ******.


“Ini...untukmu!” ucapku, lalu  membisikkan kata "******" ketelinganya.  Sementara tangan kananku sudah nyelonong memasukkan sebungkus ****** itu ke dalam tasnya.


“Kok untuk aku, Ros?” tanya Gio, khas banget ucapannya lelaki munafik.


Aku sangat yakin si Gio akan menyimpan rapat sebungkus ****** itu, walau tidak akan digunakannya. Pun tak mungkin ia  membuangnya.


Sinyal tanganku yang melingkar ke lengannya, aku yakin Gio pastinya mengharap lebih dariku dengan sebungkus ****** itu.


Dan ...benarlah!


2 minggu kemudian, pukul 05 pagi, saat aku suruh ia membawa kondomnya ke kamarku, ternyata sebungkus ****** itu masih utuh.


Lalu saat ku suruh ia menyarungkan ke kerisnya, ia menurut saja bagai seorang budak yang baru terbeli.


Ya ...ampun ...hari gini Gio masih perjaka? Dari mana aku tahu dia perjaka .., ada deh!


Ya, begitulah!


Makanya jangan sok alim, sok idealis kalau belum teruji. Lihatlah dulu siapa yang menguji dan siapa yang di uji. Kalau yang di uji si aktor Reza Rahardian dan si-pengujinya hanya aku, ya gak mempanlah! Atau ... si pengujinya Gio itu cuma perempuan buruh "maton", ya mana tergoda lah Gio-nya?

__ADS_1


***********


Usai peristiwa terpakainya sebungkus ****** itu, rupanya kesadaran kritisnya Gio masih berfungsi. Ke esokan harinya saat ku chatting, ia malah memilih berjarak denganku. Padahal bila pemuda lainnya langsung ketagihan, tapi Gio tidak.


Hem ... rasa penasaranku mulai naik ke level-2. Sepertinya sosok Gio ini level pengetahuan politiknya di atas ayahku.


Aku harus meningkatkan permainanku ke level berikutnya. Seperti ..., memberinya kasih sayang. perhatian, dan lain-lain khasnya perempuan yang dibutuhkan pria.


Selama 2 mingguan aku sepenuhnya  memberi perhatian dan kasih sayang padanya. Apalagi saat dia mengalami sakit demam, itulah kesempatanku mengambil.hatinya.


Tetapi ...Rupanya aku tak berhasil menjatuhkan hatinya dengan cara-cara seperti itu,  justru ia semakin menjauh dariku selama 2 bulanan.


Kok bisa sih, setiap aku telepon HP-nya tak pernah diangkat. Bila aku telepon berulang-ulang malah di matikan. Aku kirim pesan berkali-kali juga tak pernah dibalasnya. Kalau ketemu di jalan, selekasnya ia menghindariku. Seringkali ku datangi ke tempat kosnya, Gio-nya gak pernah ada.


" Bu Kos, Gio-nya ada, Bu?" tanyaku pada Bu Kosnya Gio untuk sekian kalinya.


"Gak ada, Nak Rosa! Dia jarang pulang. Katanya sibuk dengan kegiatan di desa." jawab Bu Kosnya Gio.


Alhasil ...


Rasa penasaranku mulai naik ke level-3 dan ... aku mulai kangen sama Gio ...!


Aku sering teringat bagaimana jantungnya berdetak kencang saat pertama kali ia memelukku. Teringat pula saat ku kecup keningnya, saat ku merawatnya, dan bermacam  tingkahnya padaku, semua itu, sungguh membuatku ingin lekas bertemu Gio.


Jujur ku akui, selama 2 bulanan rinduku tak pernah bisa padam pada Gio.


Lalu ... aku mencoba mencari tahu kegiatan apa yang sedang dilakukan Gio di desa ke beberapa teman terdekatnya. Ternyata...Gio sedang mengorganisir ribuan petani yang  terampas tanahnya.


Suatu ketika aku mendapat kesempatan langsung melihat rapat akbar "istighosah kembalikan tanah rakyat" di alun-alun Jember yang telah di persiapkan dengan matang oleh Gio.


Duh ... betapa gagahnya Gio-ku berorasi diatas panggung yang disaksikan oleh para Kyai dan ribuan petani itu.


“Saudara-saudara dan bapak ibu sekalian, insyaallah orang orang yang telah merampas tanah kita, mengusir kita, dan memenjarakan kita, adalah Fir'aun yang insyaallah akan ditenggelamkan kedasar  lautan.” pekik Gio berapi-api dengan iringan sound system yang menggelagar.


Selesai ia berorasi, ingin rasanya aku menghampiri Gio, dan bilang aku sangat rindu padanya. Tapi aku tak berani mendekat padanya, karena ia begitu berwibawa di tengah kerumunan massa itu.


Beberapa hari kemudian, aku mendatangi kosnya Gio lagi. Alhamdillah, ternyata orang yang ku rindukan sedang ada di kamarnya.


Termyata pula, Gio sedang bersiap pindah tempat kos ke kelurahan Mangli yang jaraknya jauh dari rumah kontrakanku.

__ADS_1


Mendengar ia hendak pindah, aku merasa bersedih. Saat aku.mulai kangen berat begini, kenapa ia mulai menjauh dariku? Aku mulai takut kehilangan Gio.


Dan ... bersama perasaan yang tak bisa ku jelaskan ...seketika aku memeluk erat, sambil menangis aku berbisik ke telinganya,  "aku benar-benar jatuh cinta sama, Gio!"


__ADS_2