Sebungkus

Sebungkus
2. Aku Kehilangan Perjaka


__ADS_3

"Ya masih ada, lah. Masih utuh, Ros. Seperti katamu, ****** itu tersimpan baik-baik dan terjamin rahasia persembunyiannya didalam laci. Emang kenapa, Ros?"


"Kalau begitu, tolong kamu ambil, dan bawakan kesini segera"


"Dengan senang hati akan ku kembalikan padamu lagi, Ros!. Ya sudah, kalau gitu aku ambilkan segera."


Aku lekas berlalu dari hadapannya. Terlintas pakaian yang dikenakan Rosa masih terkategorikan sangat sopan sekali, begitu serasi dengan kulit dan wajahnya nan cantik.


Apakah aku keliru menilai Rosa selama ini, ya?


Sesampai dikamarku aku langsung mangambil ****** yang telah aku anggurkan abadi didalam laci rak buku. Bersamaan itu, kulirik pesan dari WA yang baru masuk. Ku baca pesan itu dari Rosa.


"Kalau balik kekosku, gak usah pakai teriak-teriak lagi. Bising tauk!. Pintu kamarnya gak aku kunci!!."


Pesan darinya terkesan galak.


Tiba-tiba terbesit dipikiranku, jangan-jangan ini permainannya Rosa lagi.


Ngapain dia pagi-pagi banget bangunin aku, kayak emergency banget aja, padahal, ia hanya menanyakan kabar ****** yang diberikannya waktu lalu, dan kini memintanya kembali. Bukankah, hal begitu bisa dilakukan waktu siang saja?


Ah sudahlah, aku gak pingin berlama-lama memikirkan; ada konteks apakah dibalik teks yang disuguhkan Rosa.


Ah, masa bodoh sajalah!


Yups, yang lebih utama bagiku, memindahkan ****** jahannam ini segera ketangan Rosa daripada ****** ini berlama-lama didalam laciku.


Aku gak pingin dibuat perang batin terus menerus oleh keberadaannya.


Ah masa bodohlah. Dikerjain Rosa lagilah, dibodohin lagilah, terpenting ****** ini mesti lekas kembali ketangan empunya. Mumpung si empunya meminta kembali, aku akan segera mengembalikan cepat. Gak peduli kapanpun.


Dengan tergesa-gesa aku bergegas menuju kamar Rosa. Kamar kos Rosa berposisi paling depan menghadap beranda rumah kos.


Sedang Bu kos pemiliknya tinggal dirumah sebelahnya. Seperti pesannl di WA nya, begitu aku tiba, aku tidak lagi memanggil nama Rosa keras- keras dari ruang tamu. Aku langsung mendekat kebibir pintu kamarnya.


"Rosa!" Panggilanku sangat perlahan. Kulihat pintu kamar Rosa sedikit terbuka. Benar, sesuai dengan isi pesan WA nya,, kalau kamarnya memang tidak terkunci.


"Iya."


"Kriek...!!" bunyi pintu kamar, aku dorong sedikit lebih lebar lagi.


"Gio langsung masuk saja!"


"......."


Kepalaku terlebih dulu melongok kedalam kamar.


"Yaa..Ampuuun, Rosa??"


Aku terheran sangat, sekaligus bercampur gemuruh rasa tidak karuan, melihat penampilan Rosa yang terkini. Tidak seperti sebelumnya, kini ia hanya memakai...?


Pemandangan lekuk tubuh indah yang dibalut busana teramat tipis itu, kini tersaji dihadapanku.


Batapa cantiknya, Rosa!


Ah..rambutnya, kulitnya, parasnya, sungguh indah menancap kealam bawah sadarku.


Gemuruh magma Gunung bersiap-siap meledakkan kelelakianku.


Angin ****** beliung sekejap akan menyapu dan memporakporanda keperjakaan lelakiku yang merapuh.


Berjuta-juta tahun kesejarahan adam terlaknat memakan buah khuldi, sepertinya, sedang meruang dan menjadi waktu kekinian. Sepertinya, sedetik saja, kisah nista itu akan terulang kembali disini.


" Masuk. Dan tutup pintunya...!" Titah Rosa bagai Ratu Mesir Cleopatra kepada Julius Caesar.

__ADS_1


Ia menggeliat seksi, lalu berdiri dari pembaringannya.


Perlahan ia berjalan mendekatiku.


Bak bidadari Rosa berjalan diatas hamparan langit biru meniti disetiap tangga nilai tanpa batas kesadaranku.


Aku benar-benar berada diambang batas.


Dan ...


Rosa sudah teramat dekat dihadapanku.


Deru nafasnya begitu terasa hangat mengaliri sel-sel saraf kelelakianku.


Kedua tanganku lunglai.


Sebungkus ****** yang sedari tadi tergenggam ditangan, tanpa tersadari terjatuh ke lantai.


Tanpa memiliki kuasa apapun untuk menolak perintahnya menutup pintu kamar, akupun melaksanakan segala titahnya bagai seorang budak yang baru terbeli olehnya.


----------++++++---------


Stop!


Setelah pintu kamar tertutup kamu tebak sendiri, apa yang terjadi? Iya kamu, kamu yang baca ini. Kalau menurut author sih, setelah ditutup pintunya, si Gio terbangun dari tidurnya, ternyata itu hanya mimpinya belaka. :D :D :D :D


********************


Pasca peristiwa terpakainya ****** itu, aku terngiang-ngiang sekaligus menyesali diri.


Sensasinya begitu menancap teramat dalam di memori ingatan hidupku.


Aku merenung sedalam-dalamnya di dalam kamar kosku, sambil memandangi sebungkus ****** di atas meja yang sudah terpakai satu itu.


Peristiwa Itu pengalaman pertamaku sejak aku menjadi perjaka. Mestinya itu buat malam pertamaku di pernikahan nanti.


Bagaimana jika teman-temanku mengetahui dari Rosa, bahwa, aku bukanlah lelaki Idealis, cerdas, religus, dan seorang aktifis berintegritas?


Bagaimana jika para kyai pesantren yang sudah mempercayaiku sebagai aktifis relegius menjadi tahu, bahwa aku hanyalah pemuda pezina? Padahal seringkali aku keluar masuk pesantren mereka untuk membela rakyat mustad'afin.


Ternyata prett ...


Aku hanyalah Lelaki munafik yang berjubah sang Idealis.


Tetapi ...


Kalau aku mau jujur, lelaki normal manapun, kecuali bukan heteroseksual, bila dalam keadaan teramat lapar begini, lalu, diajak oleh perempuan anggun nan cantik menikmati sajian makanan lezatnya, pastilah, takkan jauh beda nasibnya sepertiku.


Lelaki manapun akan memakan lahap hidangan lezat yang telah di sajikan Rosa dengan anggun didepan mata.


Kecuali mereka ...


Adalah, seperti nabi Yusuf yang dengan gagah berani mengatakan tidak pada setiap tipu daya keindahan dan kenikmatan permaisuri super cantik Zulaikha.


Bila mau jujur lagi ...


Aku hanyalah Gio Agung Riawan yang hanya sok jaim merasa dirinya sebagai lelaki idealis yang tak bisa dibeli dan ditukar dengan apapun.


Sementara ...


Aku bukanlah sang sufi yang hatinya sudah penuh diliputi cinta Allah. Yang hatinya sudah tawar terhadap gemerlapnya dunia: ”Disodori uang 10 milyar, menolaknya karena Allah. Disuguhi kenikmatan tubuh permaisuri Siti Zulaikha, menolaknya karena Allah. Diberi kemewahan hidup, menolaknya karena Alah.”


Sedangkan ...

__ADS_1


Aku hanyalah Gio Agung Riawan lelaki bodoh bin tak berdaya menghadapi tipu daya wanita secantik Rosa.


Aku hanyalah pemuda sok-sokan dan angkuh, seolah aku adalah pemuda alim, idealis, cerdas, berkuasa atas kelemahan dunia wanita, padahal, itu hanya bentuk lain dari kemunafikan dunia laki-laki umumnya.


Tetapi aku kira, lelaki manapun belum bisa meyakini dirinya telah setia pada pasangannya, bila kesetiaannya belum diuji oleh sesuatu yang luar biasa dahsyat.


Kesetiaan seorang lelaki pada pasangannya karena ujian yang datang padanya masih bertaraf remeh temeh, bukan?


Sudahlah ...


Aku tak perlu menyesalinya. Segalanya sudah terjadi. Cap Gio sebagai lelaki bodoh itu dengan besar hati harus aku terima sekarang. Aku tidak boleh terlalu larut melamunkannya.


Karena, waktu sudah menunjuk pukul 09. 00 pagi, aku harus segera bersiap-siap berangkat menjadi pembicara di depan petani mustad'afin Kecamatan Jenggawah. Biar acara Halaqoh petani kasus tanah tersebut tidak molor.


Sebelum berangkat aku buka aplikasi WA, ternyata ada pesan dari Rosa.


Dimulai dari emotion ketawa.


:D :D :D


Dibawahnya tertulis:


”Aku gak yangka, loh! Ternyata Gio idealis bukan hanya hebat orasi di depan gedung pemerintah, tetapi, kemarin itu sungguh sangat luar biasa. Kamu juga sangat luar biasa loh, berorasi di atas perutku. Wkwkwk ...”


***** ...


Rosa mulai sangat kurang ajar padaku. Berani sekali dia mengolok-ngolokku.


Chatnya takku balas. Aku tak menggubrisnya. Segera ku nyalakan motor vespaku, secepatnya aku meluncur ke Kecamatan Jenggawah.


Ditempat acara kegiatan itu, saat sessi aku menjadi pembicara di forum petani, panggilan telepon Rosa berkali kali masuk ke HPku. Sehingga itu mengganggu dan membuyarkan fokusku memetakan persoalan petani kasus tanah.


Aku tutup panggilannya. Tak berselang lama, dia memanggil lagi.


Terpaksa aku percepat sessi tanya jawabnya dalam forum tersebut, lalu aku segera ijin pada moderator untuk kebelakang sebentar.


Tanpa aku yang meneleponya lebih dulu, panggilan darinya masuk lagi.


”Halloo..kenapa gak dibalas WAku?” tanya Rosa.


”Aduuh, apa sih? Kamu itu ganggu acaraku dengan petani saja.”


”Tapi sudah dibaca kan isi WAku?”


”Udah! Gak penting!!”


”Pulangnya dari Jenggawah mampir ke kontrakanku, ya?"


"Gak!"


"Please, mampir sebentar kenapa, sih?"


"Males, takut di jebak kamu lagi."


"Salahmu sendiri mau terjebak. Coba gak mau?"


"Iya aku salah, makanya aku gak mau ke situ."


"Aku punya hadiah untuk Gio, loh!"


"Ogah. Paling sebungkus ****** lagi."


"Bukan. Bukan begituan lagi. Pokoknya hadiah yang suprise buat Gio. Awas pokoknya kamu harus mampir ke sini!"

__ADS_1


”tuut ...”


Belum sempat aku menjawab, Rosa langsung menutup Hpnya.


__ADS_2