
Siapakah Rosa?
Rosa bukanlah gadis sembarangan. Ia putrijya orang berada. Bapaknya merupakan pimpinan DPRD di daerahnya. Dia terpilih dari partai yang dikenal partainya ummat.
Sejak mengenyam pendidikan, ia selalu bersekolah di sekolah agama, mulai dari madrasah, tsanawiayah, dan sampai ke aliyah. Di kampusnya dia berjilbab, cuma kalau di kosannya atau pas keluar. sebentar saja dia tak berjilbab.
Kecantikannya mirip artis Oki Setiana Dewi dalan film Cinta Bertasbih.
Kalau di lihat dari casing luarnya, tak ada yang menyangka dia ini gadis nakal dengan pergaulan bebasnya. Ia terlihat begitu anggun, lemah lembut, dan seperti gadis pemalu.
Jadi, aku tak habis pikir dengan sosok fenomenal Rosa ini. Kenapa dia bisa nakal begitu. Diteropong dari teori besar manapun aku takkan bisa menemukan jawabannya..
*******************
Sepulang dari Kecamatan Jenggawah, walaupun aku ogah-ogahan ketempat kontrakan rumah Rosa lagi, tapi, aku tetap mampir juga untuk mengambil hadiah darinya.
Saat aku sudah mendekati rumah kosnya, bunyi knalpot Vespaku rupanya sudah terdengar sampai kedalam kamarnya. Kulihat Rosa sudah berdiri didepan pintu kamarnya dengan senyuman indahnya.
Setelah motor Vespa ku parkir, aku berjalan ke arah Rosa yang berdiri menungguku di depan pintu.
"Mana Ros, hadiahnya?" tanyaku dengan suara lantang.
"Masuk dulu, dong! Ih dasar, kamu ini orangnya gak bisa sopan!" timpalnya dengan mimik wajah seoalh marah padaku.
”Emang kamu mau ngasih hadiah apaan?" tanyaku lagi.
Aku makin penasaran dengan hadiahnya, tapi sekaligus curiga kepadanya.
” Ada dech!” jawab Rosa dengan senyum yang menggoda.
__ADS_1
Lalu aku pun masuk ke ruang tamu rumah kosnya.
Rumah kosnya Rosa berada di perkampungan penduduk. Ia bersama kedua temannya mengontrak sebuah rumah yang berisi tiga kamar tidur, satu kamar mandi dan satu ruang tamu.
"Kok sepi, Ros? Kemana si Nisa dan Riri?"
'Lagi ada kuliah ..." jawabnya dengan tatapan yang menggodaku. Mirip tatapan mata Kak Ros pada Upi-Ipin kalau sedang menggoda kedua bocah itu.
"Cepetan, mana hadiahnya! Aku mau pulang, nih!" Kali ini aku takut terjebak kedua kalinya oleh sebungkus ****** laknat itu.
" ... " Rosa hanya senyum-senyum menanggapiku.
"Tunggu, ya, aku mau mandi dulu!" seru Rosa.
”Gak usah! Jika kamu masih mau mandi, aku pulang saja! ” kataku lantang sembari beranjak dari kursi sofanya untuk lekas pulang.
"Hey ...Hey! Iya ...Iya ...! Tapi kamu duduk, dulu!" sergahnya menahanku agar tidak ngambek pulang
Dengan rasa kesal, lalu aku pun menuruti saja kemauannya.
"Apa syaratnya?" tanyaku curiga
"Gio pejamkan mata, sebelum hadiahnya kuberikan. Kalau aku belum bilang buka mata, jangan buka dulu, ya?"
"Iya ... " timpalku sembari memejamkan mata rapat-rapat.
Hatiku deg-degan juga, ya, menunggu hadiah apa yang akan diberikan Rosa.
Tiba-tiba ...
"Mmuach ...!" Bibirnya Rosa mengecup keningku.
"Udah, gitu saja, Ros? Hadiahnya hanya kecup kening?" tanyaku merasa heran, dan merasa sedang di permainkan Rosa.
__ADS_1
"He eh ..." jawabnya dengan senyum kemenangannya.
"Huuuh!" sembari garuk-garuk kepala aku selekasnya pulang ke kosanku.
”Hati-hati dijalan, ya, Gio! Ingat sarapan dulu sebelum aktifitas, biar Gio gak sakit!” kata Rosa lantang dari depan pintu.
**********************
Diperjalanan sembari nyeter Vespa, hatiku mengumpat dan sekaligus bibirku senyum-senyum sendiri membayang hadiah kecupan kening dari Rosa tadi.
Anjiir ... ! Kena lagi deh, aku!
Gio, jadi bodoh lagi, deh!
He he..Rosa ada-ada saja. Ternyata cuma hadiah kecupan kening.
Namun, ternyata indah juga ya, keningku dikecup Rosa. Damai rasanya ke jiwa. Pikiran jadi tenang banget.
Ah ...
Asik juga hidupku diperhatiin Rosa supaya aku gak telat makan pagi. Dampak psikologisnya bagiku, serasa aku jadi anak kesayangannya Mama.
********************
Tetiba di kamar kosku, aku bergegas mencari buku psikologinya Sigmund Freud untuk mendapat penjelasan, kenapa usai di kecup keningku oleh Rosa, hatiku jadi damai dan pikiran jadi tenang.
Buku psikologi Sigmund Freud sudah aku buka. Aku memulai pencarian dari daftar isinya, tapi tak ada. Setengah jam-an aku baca cepat isinya, tapi tetap tak menemukan penjelasannya
Kalau soal dampak sensasi yang ditimbulkan akibat terjebak satu buah ****** di kamar Rosa, aku sih sudah paham. Namun untuk yang kecup kening ini aku berfikir keras untuk mencari penjelasannya.
Kenapa, ya?
Padahal kecupnya hanya sekali dan itu hanya di kening. Tapi dampaknya, mirip sekali dengan kegembiraannya rakyat yang terbebas dari perang di negaranya. Begitu damai dan tenang hidup yang dijalaninya.
__ADS_1
Selama 6 tahun bergelut dengan mata kuliah, berjibaku dengan buku, diskusi komunitas, demontrasi. advokasi rakyat, dan kegiatan seabrek lainnya, hampir aku tak pernah mengenal belaian sayanh dari gadis. Bila teman aktifisku lainnya mampu memadukan dunia pacaran dengan pergerakan, tetapi aku tak berniat sedikitpun mencobanya. Karena aku adalah Sang aktifis idealis.
Karena keasikan di dunia ekstra kampus itu, akhirnya aku pun kena DO oleh pihak rektorat.