Secret Admirer

Secret Admirer
009


__ADS_3

"Kak Tama?"


"Hmm.."


"Pernah suka sama seseorang?"


Kak Tama berhenti mengunyah setelah mendapat pertanyaan dari adiknya. Sejenak ia memandangi Nala yang juga memandanginya, menunggu jawaban Kak Tama.


"Kamu lagi suka seseorang?"


"Kenapa kakak malah tanya balik?" Nala mendengkus.


Lalu Kak Tama meletakkan alat makannya, menyeka bibirnya dengan serbet dan kembali menatap adiknya. "Kakak pernah suka sama seseorang."


"Terus orang itu tahu kakak suka sama dia?" Kak Tama bergumam sambil menyelami kenangannya. "Tahu, kakak memberitahunya."


Mata Nala melebar. "Lalu pas orang itu tahu, perasaan kakak dibalas nggak?"


Kak Tama menggeleng. "Tidak."


Nala seketika khawatir. "Kenapa?"


"Karena kakak telat ungkapin perasaan kakak. Dia harus pergi setelah kakak ungkapin."


"Kenapa? Dia nggak suka sama kakak juga?"


"Dia pindah."


Nala menunduk prihatin. "Pasti kakak sedih ya."


Kak Tama menyunggingkan senyum. Lalu ia membawa alat makannya ke pencuci piring dan ia mencuci piring sendiri. Nala menyusul membawa alat makannya juga lalu berdiri di samping Kak Tama, menunggu giliran mencuci.


Kak Tama dan Nala diajarkan mandiri sama Ibu. Salah satunya dengan mencuci alat makan sendiri setelah makan. Tapi terkadang Nala atau Kak Tama suka membantu mencucikan alat makannya, tapi kali ini Nala dan Kak Tama ingin mencuci peralatannya sendiri.


"Kakak nggak sedih. Kakak bersyukur. Setidaknya kakak berhasil ungkapin perasaan kakak walau akhirnya dia pergi. Kakak jadi lega setelah mengungkapkan perasaan kakak." Lanjutnya lagi setelah merenung beberapa saat.


Nala terdiam. Menyelami kenangan pada seseorang yang pernah dekat dengan kakaknya.


"Jangan bilang seseorang itu Kak Tiwi?"


Kak Tama dan Nala sama-sama terkejut tapi berbeda arti. Kak Tama tak menyangka kalau Nala masih ingat dengan Tiwi—seseorang yang pernah dekat dengan Kak Tama namun ia harus pergi karena orang tuanya pindah dinas ke luar kota.


"Kamu masih ingat Kak Tiwi ternyata?" tanya Kak Tama balik.


"Masih," Nala mengangguk. Kini giliran Nala mencuci piringnya sendiri. "Kak Tiwi suka 'kan ke rumah bawain rujak buah. Kak Tiwi tahu Ibu suka rujak. Rujak buah nggak pernah ketinggalan. Kadang-kadang Kak Tiwi suka bawain pisang goreng madu juga."


Kak Tama tersenyum dan kembali menyelami kenangannya. Tiwi adalah teman sekelasnya yang terkenal periang. Sekalinya Kak Tama mengajak Tiwi ke rumah, Tiwi bisa langsung dekat dengan Ibu. Kak Tama ingat sekali bagaimana Tiwi mendekatkan dirinya pada Ibu dengan membantu mengupas bawang merah, padahal Tiwi belum pernah sekalipun mengupas bawang.


Di rumahnya Tiwi tidak diajarkan membenah dapur sama Ibunya Tiwi karena Ibunya Tiwi menyewa jasa asisten rumah tangga di rumah. Jadi Tiwi hanya tahu bahan-bahan dapur saja, tapi tidak pernah sekalipun berkutat pada bahan-bahan tersebut.


Pada saat Kak Tama mengajak Tiwi ke rumah, Kak Tama serius dengan keinginannya untuk mengungkapkan perasaannya. Tapi terkendala pada saat Tiwi menceritakan padanya kalau Tiwi akan pindah bersama orang tuanya ke luar kota karena orang tuanya mutasi kerja di sana.


Sehingga Kak Tama mengurungkan niatnya sampai akhirnya Kak Tama mengungkapkan perasaannya sehari sebelum Tiwi pergi.

__ADS_1


Menyesakkan, tapi Kak Tama tak bisa melakukan apa-apa selain mengikhlaskannya pergi.


"Ngomong-ngomong kenapa kamu tanya ke kakak tentang perasaan kakak ke seseorang?" Nala dan Kak Tama beradu tatap. "Kamu suka seseorang?"


Nala menunduk gugup. Hampir satu tahun ia menyukai Raskal, tapi belum pernah Nala menceritakan sosoknya ke Kak Tama. Nala malu dan takut nantinya akan digoda Kak Tama. Lalu membayangkan jika Kak Tama bertemu Raskal di sekolah ia takut rahasianya menyukai Raskal terbongkar karena Kak Tama.


Terlanjur basah ketahuan Kak Tama, Nala hendak menceritakannya. Tapi Nala ragu. Sebelum ia benar-benar cerita sama Kak Tama, Nala memeriksa keadaan kalau Ibu tak akan mendengarkan obrolan mereka.


"Itu.." Nala mendongak dan menunduk lagi. "Iya.. Nala suka seseorang."


"Bagaimana dia?" Kak Tama langsung mencerca Nala.


"Dia dingin.. dan terkenal di sekolah."


"Anak baik-baik atau nakal?"


"Baik-baik kok Kak. Dia pintar di kelas. Disukai semua guru sekolah juga."


"Ya bagus lah. Takutnya dia anak bandel yang suka keluar-masuk ruang BP. Kakak nggak mau kamu dekat-dekat cowok kayak gitu."


Nala hanya mengangguk.


Kak Tama tak lagi menanyakan bagaimana Raskal—bahkan Kak Tama tidak penasaran dengan nama yang disukai Nala.


"Suka boleh, tapi tidak boleh sampai mengganggu sekolahmu. Karena katamu dia pintar, dekati dia dan enyam ilmu-ilmu baiknya dari dia." Nala mengangguk lagi.


"Kalau bisa, pacarannya nanti nanti saja." Kak Tama membuka kulkas, mengambil cemilan di dalam sana lalu melahapnya di depan Nala. "Setelah kamu lulus sekolah dulu, baru boleh pacaran."


Memikirkan Nala bisa pacaran sama Raskal saja itu sangat amat jauh. Sekali. Karena menurut Nala, bisa dekat dan sering mengobrol bersama Raskal aja merupakan progress yang cukup besar untuknya.


"Jadi, Nala harus jadi gadis yang baik dan berprestasi dulu. Itu bisa Nala jadikan sebagai ajang menunjukkan diri padanya bahwa nantinya ia tidak akan salah pilih memilih Nala sebagai kekasihnya. Dia pun juga harus berlaku sama—berjuang dan banyak belajar supaya merasa pantas untuk bersanding dengan Nala. You got it?"


Netra Nala bergetar haru mendengar nasehat Kak Tama, kemudian kepalanya mengangguk lagi.


Kemudian Kak Tama mengajak Nala menghabiskan cemilan di ruang tengah sambil menonton televisi kesukaan mereka.


Kakak beradik itu tampak kompak di sana, membuat Ibu yang menyaksikan mereka di anakan tangga tersenyum haru.


...-0-...


Pembicaraan Nala dengan Kak Tama semalam membuat Nala semangat sekolah hari ini. Benar apa yang dikatakan Kak Tama, perasaan Nala tidak boleh mengganggu sekolahnya. Nala akan membuktikan dirinya bahwa ia harus menjadi gadis yang baik dan banyak belajar supaya orang-orang bangga padanya.


Ibu, Kak Tama, Santa, teman-teman, juga Raskal—ia ingin membuktikan pada mereka bahwa Nala bisa meraih prestasi yang ia mumpuni.


Dengan sekotak bekal digenggaman Nala, Nala memasuki kelas. Sudah ada beberapa murid di dalam sana. Nala menyusuri ruang menuju mejanya. Meletakkan tasnya di atas meja dan juga kotak bekalnya.


Tak lama Raskal memasuki kelas. Kehadiran Raskal membuat banyak orang berlomba-lomba menyapa sosok tersebut. Kecuali Nala—ia hanya memandangi kedatangan Raskal menuju mejanya. Raskal hanya mengangguk menjawab sapaan teman-temannya. Lalu ia meletakkan tas gendongnya ke atas meja lalu duduk.


Tak ada yang menyapa Raskal lagi, Raskal sontak berbalik dan memandangi Nala di belakang sana mengeluarkan bukunya.


"Pagi Nala."


Nala mendongak dan terpaku. Terpaku pada Raskal yang baru saja menyapa tanpa senyuman. Tapi Nala tahu Raskal menyapanya begitu hangat—sehangat matahari pagi hari ini.

__ADS_1


Nala hanya mengangguk dan menunduk. Lalu kembali berkutat pada buku-bukunya di dalam tas demi mengurangi kegugupannya.


"Kamu bawa bekal lagi?" Nala kembali terkejut dengan pertanyaan Raskal barusan padanya. Ternyata sedari tadi Raskal belum berhenti memandangi Nala di depan sana. Nala hanya bisa mengangguk kaku.


"Nasi goreng lagi?"


Nala seperti ketimpa duren runtuh—Raskal mencerca pertanyaan hanya untuknya. Nala senang sekaligus malu karena beberapa teman sekelasnya menyerbu tatapan ke arah Nala dan Raskal saat Raskal memberikan pertanyaan demi pertanyaan untuk Nala jawab.


Lagi dan lagi Nala mengangguk walau isi kotak bekal itu bukanlah nasi goreng. Raskal tidak lagi bertanya tapi matanya masih menghunus menatap Nala. Tak lama kemudian Jian datang dan mengganggu kegiatan Raskal. Nala mengucap syukur dalam benaknya akan kedatangan Jian. Sekarang perhatian Raskal mengarah pada Jian.


Bel berbunyi nyaring selorong sekolah. Bu Indah selaku guru kesenian memasuki kelas Nala. Bu Indah menjelaskan sedikit materi baru lalu ia membagikan nama murid menjadi beberapa kelompok.


"Dan untuk kelompok terakhir; Raskal, Angger, Fajar, Atika, dan Lisa."


Merasa ada yang ganjil di beberapa kelompol, salah satu murid menginterupsi. "Bu, kayaknya kelompok dua dan tiga kebanyakan anggota."


Bu Indah baru menyadari kejanggalan kelompok. Ada yang beranggotakan enam sampai tujuh murid dalam satu kelompok.


"Oh baiklah—Mia, kamu di kelompok tiga ya, kelompoknya Bagus." Mia mengangguk dan langsung pindah ke kelompok yang ditunjuk Bu Indah, lalu Bu Indah mengecek ulang kelompok satu persatu. "Dan Nala—kamu masuk di kelompok Raskal aja ya."


Seketika Nala menoleh ke arah Santa yang berada di sudut kelas lalu menatap Raskal yang juga beradu tatap dengannya depan kelas. Ragu-ragu Nala pindah ke kelompok Raskal.


Setelah Nala pindah, Bu Indah kembali menjelaskan tugas kelompok yang harus dikerjakan. Setiap kelompok diminta membuat pameran kecil-kecilan perihal seni dan budaya yang dimiliki di Indonesia. Entah itu artikel atau rangkaian foto yang bisa dipajang.


Kelompok Raskal mengambil tema seni dan budaya di daerah Papua. Masing-masing sudah mendapat pembagian tugas. Nala mendapat materi tentang Bhukere—tradisi menangkap ikan tradisional di sana.


Nala langsung menggunakan ponselnya untuk mencari tahu lebih banyak tentang Bhukere. Terlalu sibuk mencari materi, Nala tidak sadar ada Raskal di sampingnya—sedang mencari materi tentang tarian khas Papua menggunakan ponsel milik Raskal.


"Kalau kamu bingung, jangan sungkan nanya sama aku." Nala tersentak dan langsung mengangguk kaku. Kaget dengan eksistensi Raskal yang terlalu dekat dengannya.


Hanya tersisa tiga jengkal saja, tangan mereka akan bersentuhan. Mendadak Nala tidak bisa berbuat apa-apa selain mengatur napas dan degup jantungnya senormal mungkin.


Tak terasa pelajaran kesenian berakhir, Nala bisa menghembus napas lega. Ia ingin segera kembali ke tempat duduknya semula.


Namun sebelum itu terjadi, Raskal memanggil Nala. Nala menoleh. Berpura-pura menanggapinya sebiasa mungkin padahal hatinya terus meledak-ledak.


"Pulang sekolah ada waktu nggak? Kalau ada, kita bisa lanjutin tugasnya bareng-bareng."


"Ah—iya.. bisa kok. Mau ngerjain tugasnya.. di mana?" tanya Nala kaku.


"Perpus mau nggak?"


"Yakin bisa di Perpus? Maksudnya.. itu.. kita 'kan datangnya rame-rame takutnya penjaga.."


"Nggak rame-rame kok." Nala kini menatapnya bingung.


"Tadi aku udah ajakin yang lain, tapi Fajar, Angger, Atika dan Lisa pada nggak bisa. Jadi nanti kita berdua aja ke Perpusnya. Bisa ya?"


Belum lama Nala merasa bersemangat untuk giat belajar supaya ia bisa meningkatkan prestasinya—demi Raskal tentunya. Dan nyatanya Tuhan semakin mendukung niatnya dengan sekelompok bersama Raskal dan juga mendapat ajakan pemuda itu padanya untuk mengerjakan tugas berdua saja di Perpustakaan.


"Iya.. bisa.."


Berdua saja..

__ADS_1


Semoga detak jantung Nala bisa berkompromi selama ia terjebak di Perpustakaan nanti. 


__ADS_2