
Raskal pulang ke rumahnya dalam keadaan rumah kosong. Baguslah! Kakaknya sudah pergi, begitupun Ayahnya. Raskal bisa merayakannya dengan makan tteok-bokki pedas dan main PS sepuasnya.
Raskal sudah terbiasa sendiri sejak Ayahnya tak lagi menganggapnya ada. Raskal hidup dari peninggalan Ibunya atau hadiah dari perlombaan, dan sebisa mungkin Raskal tidak meminta bantuan dua orang itu. Kalau pun Raskal merasa kekurangan, ia lebih suka menjual sesuatu yang ia miliki.
Entah baju bajunya, sepatu, atau peralatan olahraga yang ia punya ia jual di situs online atau ke kerabat dekat. Lalu uangnya Raskal kumpulkan dan ia simpan. Sebisa mungkin Raskal mengirit pengeluarannya.
Tapi pastinya simpanannya akan habis. Raskal akan memikirkan cara lain untuk mengumpulkan uang lebih banyak.
Raskal memasuki kamarnya. Sudah lima hari kamar Raskal kosong. Sedikit berdebu karena Raskal melarang Bi Yumi membuka kamarnya jika ia tak ada di rumah.
Sebelum Raskal merapikan kamarnya, ia melepaskan tas dan seragamnya. Mandi sejenak lalu mengenakan pakaian. Setelah itu Raskal mulai memegang gagang sapu dan menyapu lantai secara perlahan. Juga menyiapkan kain bersih untuk mengelap meja dan barang-barangnya yang berdebu.
Setelah selesai semua, Raskal baru mengeluarkan isi tasnya. Buku-buku besar ia keluarkan, lalu tumpukan surat yang sengaja Raskal bawa.
Tumpukan surat itu cukup memenuhi loker Raskal tadi, jadi Raskal membawanya saja ke rumah.
Tapi Raskal tak berniat membaca surat itu satu persatu. Raskal membuka dan meneliti tulisan familiar.
Lalu ia memilah surat itu satu persatu, jika tulisan di surat tersebut asing Raskal langsung memasukkannya ke tempat sampah.
Tersisa lima surat di atas meja. Itu adalah hasil ia memilah. Lima surat dari pengirim yang sama.
Raskal membaca dari surat pertama ia pegang. Itu tertera pada tulisan pengirim di awal isi surat. Surat-surat itu menunjukkan kekhawatirannya pada Raskal selama tidak masuk sekolah. Diam-diam Raskal terharu. Hingga di surat terakhir Raskal baca, Raskal mengeluarkan sesuatu di dalam tasnya lagi.
Anyaman bunga terbuat dari kertas berwarna merah digenggaman Raskal. Anyaman sederhana tapi membuat hati Raskal teduh. Sudut bibir Raskal terangkat. Membayangkan bagaimana Nala membuatnya susah payah, hanya untuknya.
Kanala Gianni—beberapa hari ini nama itu selalu menghiasi pikirannya. Ketika Raskal melamun, jenuh, muak, dan terpukul dengan segala yang dialaminya, nama Nala mulai sering hadir di pikirannya.
Sejak Raskal tahu Nala mengirimkan surat ini sebagai pengagum rahasia, Raskal masih tidak percaya dengan semua ini. Kanala Gianni—gadis pendiam itu menyukainya.
Entah apa alasan Nala menyukainya. Mungkin fisik yang dimiliki Raskal. Banyak orang-orang menyukainya karena itu. Raskal suka mendengarkan alasan itu dalam sekelebat saja. Tidak secara langsung. Banyak yang bilang di belakangnya kalau ia tampan, sempurna, seperti pangeran di negeri dongeng.
Sebenarnya Raskal muak mendengar alasan tersebut. Alasan klise pada setiap orang yang menyukainya.
Tapi kalau Nala, Raskal berpikir ulang. Rasanya Nala tidak menyukainya dari segi fisiknya saja. Tapi Raskal ragu juga.
Tapi jika tentang Nala--yeah! memikirkan Nala banyak tapinya. Raskal sampai pusing. Tapi pusingnya mendebarkan. Darahnya berdesir hingga Raskal menggigil.
Sejak Raskal memperhatikan gadis itu, Raskal baru sadar kalau Nala tidak seperti teman-teman di sekolah yang suka mencari perhatian padanya. Nala terlihat tenang di pandangan Raskal, namun terlihat lucu dengan kegagapan Nala di dekatnya.
Memikirkan semua itu membuatnya semakin penasaran pada sosok manisnya. Kanala Gianni—namanya mulai penuh di kepala Raskal. Ditatapnya anyaman bunga itu membuat degup jantungnya semakin berisik dan mengganggu sistem pernapasan.
Semoga kamu lekas membaik.
Kata-kata di surat itu seperti mengadnung magis, Raskal merasa lebih membaik setelah membaca surat dari Nala.
Raskal tidak sabar dengan hari esok. Pasti Nala akan menyelipkan suratnya ke loker, dan pas saat pulang sekolah nanti Raskal akan membawa suratnya lagi dan membacanya di rumah.
Untuk pertama kalinya, Raskal memiliki tujuan lain untuk menanti hari esok.
...-0-...
__ADS_1
Sebelum tiba di sekolah, Raskal bertemu Bi Yumi. Bi Yumi langsung menyapa dan mengatakan pada Raskal perihal kepergian Ayah dan Kakaknya. Bi Yumi berkata bahwa Kak Sandi sering mengajak ngobrol Bi Yumi, lalu mengatakan bahwa Kak Sandi mengawatirkannya.
Sebelum Kak Sandi kembali ke Aussie, Kak Sandi memberikan sebuah surat untuk dibaca Raskal sebab ponsel Raskal tidak aktif. Surat tersebut dititipkan ke Bi Yumi untuk diberikan ke Raskal. Bi Yumi juga mengatakan bahwa Kak Sandi ingin sekali Raskal pulang ke rumah, Kak Sandi merindukan Raskal. Selama di rumah, Kak Sandi suka melamun. Katanya rumahs angat sepi karena tidak ada Raskal menemaninya.
Namun Raskal tidak mau mendengar itu dan enggan menerima suratnya. Raskal justru langsung meminta Bi Yumi merobek dan membuangnya ke tempat sampah. Itu akan jauh lebih baik.
Raskal sudah tidak lagi membutuhkan Kak Sandi. Saat ia membutuhkannya pada saat di mana Ayah membuangnya, Kak Sandi tidak pernah ada untuknya. Raskal seperti anak buangan di keluarga Sastrawijaya. Jadi, mending Raskal juga tidak menganggapnya ada, bukan?
Setelah menjemput Jian, Raskal dan Jian menuju sekolah. Awalnya Raskal kedistrak dengan penuturan Bi Yumi tadi pagi. Tapi Raskal berusaha keras untuk menyingkirkan ucapan Bi Yumi di dalam kepalanya. Tak penting memikirkan Kak Sandi—baginya.
Langkahnya mantap memasuki kelas, Raskal jadi teringat dengan Nala dan surat yang akan ia dapatkan hari ini. Tatapan tajamnya mengarah pada Nala yang sedang mengobrol dengan beberapa temannya di belakang sana. Benaknya tak sabar untuk menemukan surat darinya di dalam loker.
Tanpa sadar, Raskal tersenyum dari di depan pintu kelas lalu menuju mejanya. Jian yang melihat keanehan itu tercengang di tempat. Mengingat-ngingat ini hari apa, apa yang telah terjadi--apa kepalanya kepentok sesuatu sehingga saraf di kepalanya mengalami benturan keras hingga sarafnya kejepit lalu mengakibatkan Raskal tersenyum tanp alasan jelas?
Baik, biarkan Jian memikirkan beragam pertanyaan di kepalanya hingga Raskal duduk tepat di sampingnya.
"Apa kepalamu habis kepentok?" Tanya Jian dan sontak Raskal menoleh.
"Tidak."
"Atau kamu mengalami saraf kejepit?"
Dahi Raskal langsung berkerut.
"Saraf apaan? Aku baik-baik saja kok." Raskal membalas pertanyaan aneh Jian. Lalu mengeluarkan buku Matematikanya ke atas meja. Jam pelajaran pertama adalah Matematika.
"Hari ini kamu tidak berulang tahun." Kata Jian lagi.
"Kamu ngomong apa sih?"
Raskal semakin mengerutkan dahinya.
"Kamu Raskal yang kukenal 'kan? Raskal Sastrawijaya?"
Sepertinya Jian yang kepalanya kepentok sesuatu sampai ia bertanya aneh aneh.
"Memangnya kamu kira aku ini siapa? Hantu?"
"Kamu datang datang tuh aneh, tau."
"Aneh gimana?"
"Datang datang kamu senyum nggak jelas."
Raskal mendengus geli.
"Apa kamu habis ketemu Lea?" Dahi Raskal mengerut lagi.
"Apa hubungannya aku tersenyum habis ketemu Lea?"
"Ya kalau lagi lihat Lea 'kan kayak lihat malaikat. Mu gkin karena habis ketemu Lea kamu senyum senyum." Jian mengucapkannya dengan wajah berbinar. Jian tidak munafik, ia ikut mengagumi bagaimana paras cantik Lea di matanya.
__ADS_1
"Lea memang cantik, tapi aku nggak ketemu Lea tadi." Raskal pun mengakui itu.
"Lalu kenapa kamu senyum senyum sendiri?"
Lidah Raskal tertahan. Kepalanya memikirkan Nala lagi membuat dadanya berdebar. Mengingat itu Raskal langsung membuka loker mejanya. Senyumnya terbit lagi melihat tumpukan surat sudah mengisi lokernya.
Jian kembali tercengang melihat Raskal tersenyum lagi sambil memasukkan surat dari pengagum rahasianya ke dalam tas.
Tidak mungkin. Hampir satu tahun Jian mendapatkan surat cinta dari orang tak dikenal kini sedang tersenyum sambil memasukkan surat surat itu ke dalam tasnya.
Keanehan ini membuat Jian pusing. Padahal pelajaran Matematika belum mulai tapi Jian sudah mual.
Jian ingin kabur ke UKS.
...-0- ...
Kantin ramai seperti biasa. Raskal dan Jian duduk di dekat kedai Nasi Ayam. Jian memesan Nasi Ayam sedangkan Raskal memilih mie instan.
Mata tajam Raskal mendapati sosok gadis manis yang terus mengganggu pikirannya. Nala bersama Santa membeli cemilan di warung. Tak jauh dari posisi Raskal dan Jian duduk.
Posisi Raskal sangat pas untuk memandangi punggung Nala. Hanya punggung saja, Raskal mengira-ngira tinggi Nala sedada Raskal. Sangat pas. Wajah Raskal langsung merah bersemu jika dirinya dan Nala bersisian.
Jian yang sibuk mengunyah Nasi Ayamnya menatap Raskal heran. Gelagat sahabatnya sejak pagi sungguh diluar kebiasaan dan diluar akal sehat. Sekarang sahabatnya ini sibuk menatap sesuatu di belakangnya.
Merasa penasaran kenapa Raskal terus mendongak dan menunduk malu kayak ulet uget-uget, arah pandangnya mengikuti arah pandang Raskal.
Arah pandanganya menangkap sosok wanita tua berkacamata tebal dengan rambut dicepol sederhana dan lipstik merah penuh nan membara--sosok yang terkrnal sebagai guru killer yang mrngajar kakak kelas Jian dan Raskal--tengah melahap ketopraknya lalu memesannya kembali setelah menghabiskan seporsi penuh.
Jian langsung memukul dadanya dan meneguk es teh cepat, Jian keselek.
"Makannya pelan-pelan. Keselek 'kan jadinya." Raskal menggeleng-geleng melihat kelakuan Jian. Tanpa Raskal tahu Jian sedang menatapnya tak percaya setengah mati karena Raskal mesem-mesem memandangi guru killer itu.
"Kamu yang aneh." Sembur Jian membuat Raskal mengerjap.
Padahal Raskal sedang mengamati Nala duduk dan mengobrol dengan Santa tepat di belakang guru killer tersebut.
...-0- ...
Raskal sampai di rumah dengan cepat. Buru-buru memasuki kamarnya dan mengeluarkan semua isi di dalam tasnya.
Buku-buku, peralatan tulis bertebaran di atas kasur. Juga beberapa surat cinta bercampur di sana dikumpulkan. Itulah tujuan Raskal segera pulang ke rumah.
Raskal mengamati bentuk tulisan pada isi surat tersebut. Dari satu surat ke surat lainnya. Tapi Raskal tak menemukan bentuk tulisan yang ia cari.
Perlahan Raskal mengamati bentuk tulisan dengan seksama. Total ada sepuluh surat yang Raskal bawa pulang, tapi tak ada satupun surat dari Nala.
Raskal mengingat kembali kalau ia sudah membawa pulang semua surat cinta itu. Tak ada yang ketinggalan. Raskal yakin karena Raskal sudah memasukkan surat cinta itu lebih dulu ke dalam tasnya pas tadi pagi. Raskal juga yakin kalau surat cintanya tak ada yang kececeran.
Tapi hari ini ia tidak mendapatkan surat dari Nala. Apa memang Nala tidak memberikan surat untuknya hari ini? Apakah Nala ada punya jadwal untuk membuatkannya surat? Setiap hari apa? Seminggu berapa kali? Raskal tidak tahu, karena sebelumnya afeksi Nala tidak berarti.
Sekarang surat surat itu langsung Raskal buang ke tempat sampah bersamaan dengan rasa sesalnya. Mungkin hari ini bukan jadwal Nala memberikannya surat.
__ADS_1
Besok Raskal akan mengecek loker mejanya lagi. Berharap besok akan ada surat cinta dan hadiah kecil dari Nala.
Raskal tak sabar menantikan hari esok.