
Nala duduk dan diam-diam memerhatikan Raskal duduk di depannya dan membiarkan Barber menyalurkan keahliannya terhadap rambut Raskal. Sebelumnya Raskal meminta Barber untuk memangkas rambutnya rapi. Setelah itu Barber langsung memasangkan kain di pangkal leher Raskal dan mengambil beberapa alat di tangannya.
Di sana hanya ada Nala dan Raskal, belum ada pelanggan lain memenuhi ruangan Barber. Dan hanya suara radio memecahkan keheningan—juga mesin cukur yang menyala.
Seperti biasa, Nala diam-diam mengamati keterdiaman Raskal sambil memandangi rambutnya dipangkas Barber. Dengan telaten Barber memotong rambut Raskal yang baginya mengusik pemandangan. Sesekali ia menyemprotkan sesuatu di rambut Raskal lalu memangkasnya lagi.
Di depan Raskal ada cermin memanjang. Dari cermin tersebut, Raskal bisa melihat kinerja Barber terhadap rambutnya. Begitu dengan keasikan Nala memandanginya diam-diam.
Raskal sadar dirinya menjadi sebuah objek nyata yang bebas dipandang netra hitam Nala saat ini. Netra hitamnya berbinar seakan Raskal adalah sosok yang indah, dikagumi—tatapan itu tidak asing bagi Raskal karena ia selalu mengonsumsi tatapan kagum dari kebanyakan orang yang melihatnya.
Tapi ini—dia Nala, teman sekelasnya yang terkenal malu dan pendiam, sekarang sedang menatapnya dengan binaran penuh arti.
"Sudah selesai, Aa." Raskal kini menatap rambutnya yang sudah dipangkas rapi. Benaknya menilai hasil kerja Barber sambil mengeluarkan uang dari saku celananya.
Raskal menatap dirinya di depan cermin sambil menatap sisa rambut yang masih menjulang di kepalanya. Nala pun ikut memandangi Raskal di depan cermin.
Rambut memanjang atau pendek pun, Raskal selalu memesona.
Tanpa sadar Nala tersenyum.
"Udah ganteng kok Aa, Neng nya sampai senyum senyum liatin Aa nya." Sang Barber menggoda dua insan muda-mudi sampai Raskal menoleh dan pandangannya bertemu Nala.
Nala mengerjap di tempat lalu buru-buru menunduk—malu.
Ucapan Barber itu cukup mengusik Nala selama di perjalanan pulang. Nala benar benar tak tahu bagaimana ia menunjukkan wajahnya pada Raskal karena ketahuan senyum senyum sendiri pas memandangi Raskal. Tadi saja Nala tak berhenti menunduk sampai Nala hampir tak sengaja menabrak orang.
Beruntung Raskal memerhatikan jalan Nala dan sigap menarik Nala saat itu.
Mengingat itu Nala kembali berdebar. Memikirkan Raskal memang tidak bisa tidak berdebar barang sedetik saja. Ada saja efek sampingnya.
Motor Raskal berhenti tepat di depan rumah Nala. Nala segera turun dari motor Raskal.
"Raskal.. mampir dulu."
Seperti biasanya Nala akan berbasa-basi menawarkan mampir ke rumah jika ada teman mengunjungi rumah, tanpa terkecuali.
Tapi nyatanya basa-basi Nala diangguki Raskal. Nala terpaku.
"Boleh."
Masih tak percaya dengan semua ini, tapi Nala buru-buru mempersilakan Raskal masuk. Ibu yang tengah asik menonton televisi teralihkan dengan kehadiran Nala dan sosok tampan bak dewa di belakang Nala.
__ADS_1
"Ada temannya Nala."
Raskal mengucap salam dan menyalami tangan Ibu Nala.
"Siapa namamu?"
"Raskal, Bu." Balas Raskal. Ibu memanggut lalu ke dapur untuk menyiapkan minuman dan cemilan.
Raskal duduk di ruang tengah sementara Nala ke kamar untuk berganti pakaian. Tak lama Ibu datang dan membawakan nampan berisi minuman dingin dan kepingan biskuit di atas meja.
Raskal terdiam menatap kepingan biskuit itu, menarik perhatiannya.
"Cobain biskuitnya ya. Ibu sendiri yang buat." Ujar Ibu.
"Terima kasih."
Ibu pergi sementara Raskal masih menatap kepingan biskuit tersebut. Penasaran, akhirnya Raskal mengambil satu keping dan mencicipinya.
Pada saat Raskal menerima bungkusan berisi biskuit dengan taburan coklat di atasnya, Raskal memberanikan diri untuk mencicipinya. Rasanya enak, tapi terlalu manis karena kandungan susunya pada biskuit tersebut terlalu bayak.
Setiap ada yang ingin memberikannya makanan, Raskal akan selalu menolaknya. Jika ada yang nekat memberikannya tanpa persetujuan Raskal, biasanya Raskal akan memberikannya pada Jian. Dan tentu Jian menerimanya dengan senang hati.
Tapi biskuit anonim kemarin mengundang penasaran Raskal sampai Raskal akhirnya menghabiskan biskuit itu. Tapi tetap saja Raskal merasa gundah karena ia belum tahu siapa yang memberikan makanan tersebut.
Persis seperti rasa biskuit dari anonim kemarin.
...-0-...
Setelah Nala asik curhat pada Santa melalui telepon, Nala kembali sibuk dengan tumpukan tugasnya. Halaman demi halaman Nala baca dengan seksama, tidka membiarkan netranya melewatkan kalimat sedikit pun.
Sampai ponselnya bergetar. Nala menoleh dan mengecek ponselnya, napasnya tertahan melihat Raskal mengirimkannya pesan. Memberikan poin-pin dan halaman buku untuk Nala baca mengenai tugas kelompok mereka.
Jangan tidur terlalu malam, night.
Sederhana, tapi bibir Nala tertarik sepenuhnya. Berusaha menahan bibirnya tak berhisteris. Ini sudah malam, jangan sampai Kak Tama dan Ibu mendengar dan terbirit-birit memasuki kamar Nala.
Nala kembali meletakkan ponselnya dan membaca bukunya lagi. Kalimat demi kalimat Nala baca tak lagi tertangkap di kepalanya, kini Raskal menyeruak semena-mena di sana. Memorak porandakan pikiran dan hati Nala.
Nala jadi teringat dengan Raskal di rumahnya tadi sore. Tak banyak percakapan yang terjadi; hanya sedikit canggung dan diam-diam menatap Raskal menikmati biskuitnya dalam diam.
Melihat Raskal memakan biskuitnya, Nala teringat lagi dengan bungkusan biskuit yang pernah Nala bawakan untuknya. Apakah Raskal sudah mencicipi biskuitnya pada saat itu? Atau Raskal memberikannya pada Jian.
__ADS_1
Nala tahu, kalau Raskal terpaksa menerima makanan dari orang yang tidak ia kenal Raskal akan memberikannya pada Jian. Sejak Raskal terkenal pada saat mos berlangsung banyak yang memberikan surat, coklat, kue atau makanan lainnya untuknya. Tapi Raskal sering menolak. Sampai ada yang nekat meletakkan sesuatu di loker Raskal diam-diam dan Raskal pun akan memberikannya pada Jian diam-diam.
Namun hal itu telah didengar banyak orang sampai pengagum Raskal tak ada lagi yang memberikan sesuatu pada Raskal selain surat. Ada yang bilang Raskal tidak menghargai pemberian orang—tapi Raskal tidak peduli. Karena dari awal ia sudah mengatakan bahwa ia tidak akan mau menerima pemberian orang yang tidak Raskal kenal. Bahkan dengan teman sekelasnya sekali pun.
Namun ketegasan Raskal tidak menutup semangat beberapa pengagumnya untuk tetap nekat meletakkan sesuatu ke loker Raskal. Tak peduli pemberian mereka diberikan kembali ke Jian. Mereka justru tambah gencar mendekati Raskal.
Mungkin Nala bisa dikatakan sama—seperti mereka. Ia belum menyerah memasukkan surat demi surat ke loker Raskal. Hanya saja kemarin ia memang nekat menambah bungkusan biskuit ke lokernya. Sampai Jian dan Raskal menanyakan siapa yang meletakkan surat dan bungkusan biskuit ke lokernya karena Jian melihat Nala pagi-pagi di kelas.
Dan sampai saat ini, baik Jian dan Raskal tak ada lagi menanyakan hal itu padanya. Sejenak Nala menghela napas lega. Tetapi Nala jadi sedih mengingat biskuit yang ia bawakan pasti Raskal kasih ke Jian. Nala tahu pasti itu terjadi, tapi tetap saja Nala sedih.
Ponsel Nala bergetar lagi. Nala terkejut ketika ia mengintip nama Raskal berada di notifikasinya.
Nala..
Nala mengerjap bingung melihat pesan masuk dari Raskal. Saat ia hendak membalas pesan Raskal, ponselnya bergetar lagi.
Ting..
Udah tidur?
Ting..
Kalo udah, semoga kamu baca pesanku sebelum kamu berangkat sekolah.
Ting..
Besok aku jemput kamu.
Ting..
Kita berangkat sekolah bersama.
Ting..
Sama sarapan bersama, kalo kamu bisa.
Ting..
Maaf ganggu tidurmu. Semoga mimpi indah, see you.
Raskal salah, pesan-pesannya justru mengganggu Nala mengerjakan tugasnya. Pesan-pesannya justru membuat Nala sulit tidur semalaman.
__ADS_1
Dan karena pesan-pesannya Raskal, Nala jadi kelimpungan sama perasaannya sendiri.