Secret Admirer

Secret Admirer
016


__ADS_3

Hari demi hari, Raskal membawa tumpukan surat cinta dari loker dan ia baca satu persatu di rumah. Tapi surat dari Nala sama sekali tak ia dapatkan lagi. Dan Raskal semakin bertanya-tanya di mana Nala sering menunduk ketika Raskal menatapnya.


Saat tugas kelompok kesenian pun Nala tak banyak bertanya padanya, justru Nala lebih sering bertanya dengan Angger, atau teman-teman sekelompoknya. Seolah, Nala sengaja menghindari Raskal.


Ada apa? Apa Raskal tak sengaja melakukan kesalahan sampai Nala sengaja menjauhinya? Rascal sampai menggali ingatannya, mungkin memang Raskal telah melakukan kesalahan. Tapi Raskal merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Interaksi antara mereka jarang terjadi, jarang bersinggungan selain tentang sekolah, tapi Raskal tetap merasa janggal.


"Menurutmu aku ada salah apa?"


Pertanyaan itu ditujuan pada Jian—sahabat Raskal yang tengah asik meneguk sodanya lalu menatap Raskal heran.


"Iya, kamu ada salah sama aku."


"Benarkah?" Raskal tertegun. "Apa salahku?"


"Semalam kamu merebut bakwan terakhirku." Gerutu Jian sambil mengingat bagaimana Raskal dengan mudah menyomot bakwan terakhir di atas meja makan rumahnya. Bakwan itu sengaja Jian tinggalkan terakhir setelah ia menyantap habis makan malamnya lalu beranjak ke dapur untuk mengambil saos.


Dengan enteng tanpa berdosa, Raskal melahap bakwan tersebut di depan mata Jian sendiri.


"Kamu tau aku suka sekali bakwan buatan Ibu, tapi kamu langsung memakannya tanpa seijinku." Jian mengatakannya dengan mata berkaca-kaca. Sungguh Jian sedih sekali Raskal memakan bakwan terakhirnya.


"Aku tidak tau malahan." Raskal menyangkal. Raskal tidak tahu kalau bakwan semalam adalah bakwan Jian. "Ibu 'kan yang nyuruh aku habisin bakwannya. Tapi kamu 'kan udah banyak makan bakwannya semalam."


"Nggak! Kata siapa?"


"Aku lihat ya, kamu udah makan lima bakwan sendiri." Raskal memutar matanya.


"Tapi tetap saja kamu memakan bakwan terakhirku tanpa ijin." Jian menarik hidungnya. "Nggak cuma itu, kamu juga tumpahin es teh manis yang nggak anget pas Bang Toyib baru aja diantar. padahal aku lagi haus hausnya."


"Es teh aja. Nggak usah pake nggak anget, Jian."


Raskal menghela napas. Merasa pertanyaannya sia-sia dijawab Jian. Malah bahas bakwan dan es teh manis yang nggak anget.


Ingin menjelaskan tentang keresahannya, tapi Raskal urung. Menurutnya Jian jangan tahu dulu tentang Nala dan surat cinta di lokernya. Perasaannya pun belum pasti. Jian pun juga lagi mode ngambek. Raskal malas memperkeruh suasana.

__ADS_1


Mungkin Raskal harus menunggu lebih lama lama lagi. Mungkin saja besok pagi loker Raskal ada surat Nala lagi. Mengingat tugas dan PR yang menumpuk, mungkin Nala jadi sibuks ampai ia tak sempat memberinya surat.


Baiklah kalau begitu, Raskal tidak sabar menunggu besoknya lagi.


...-0-...


Nala termenung memandang hamparan luas lapangan basket. Lapangan tersebut kosong. Tidak dipakai anak ekskul untuk bermain olahraga di sana. Jam sekolah juga sudah berakhir setengah jam yang lalu, jadi Nala bisa sepuasnya memandang kosong ke arah lapangan tanpa ada satu orang pun yang mengganggunya.


Hari ini cuacanya terik, tapi Nala tampak tak terganggu dengan sengatan panasnya. Minuman soda menjadi teman Nala di siang ini. Cukup membantu ketika tengorokan Nala kering.


Lalu seseorang datang, duduk tak jauh dari posisi Nala. Nala menoleh karena kehadirannya memancing perhatiannya. Nala terkejut dengan sosok yang dikenali hampir semua siswa-siswi di sekolah ini.


Lea—gadis itu sibuk dengan barang bawaannya saat ini. Nala diam-diam memperhatikan Lea tengah membawa kanvas dan peralatan lukisnya di pangkuan Lea.


Sepertinya Lea mau melukis sesuatu. Terlihat kini Lea sibuk membuat pola di kanvasnya. Saking sibuknya, eksistensi Nala tak disadari Lea.


Ya.. lagipula Nala siapa yang harus dilirik Lea? Toh Lea sama sekali tidak kenal dengannya. Nala bukanlah sosok terkenal seperti selebriti—atau seperti Lea yang dikenal banyak orang. Hampir semua orang di sekolah ini tidak ada yang tidak kenal siapa Lea.


Lea sedang berbicara melalui telepon, suaranya tidak besar hingga memekakkan telinga Nala, hanya saja sosok yang menjadi lawan bicara lea membuat Nala tersirap kesadaran.


"Raskal mau ke sini temui aku? Boleh aja. Kebetulan aku ada di lapangan. Hmm.. iya.. aku sendirian kok di sini. Hmm.. hmm.. hmm.. ya sudah kita bicarakan di sini aja.. hmm.. iya.. hmm.. baiklah, aku tunggu ya."


Sambungan telepon Lea terputus, tapi tidak dengan tatapan Nala menghunus padanya.


Nala menyimpulkan, Lea dan Raskal akan bertemu di sini. Di lapangan. Entah apa yang akan mereka bicarakan, dan Lea bilang dia sendirian di lapangan. Nala hanya bisa menggeleng dan menghela napas.


Karena mereka mau bicarakan sesuatu di lapangan, Nala tentu tidak ingin mengganggu mereka. Lebih tepatnya Nala tidak ingin menjadi pengganggu diantara mereka dan mendengar sesuatu hak yang semestinya ia tak perlu tahu.


Ucapan Lea yang mengatakan ia seorang diri di lapangan cukup membuat Nala dongkol. Benar-benar dianggap hantu atau angin lalu yang tak penting. Jadi lebih baik ia cepat pergi sebelum Raskal tiba lebih dulu dan melihat keberadaannya.


Tapi ternyata Raskal tiba lebih cepat dan melihat Nala menyampir tas dan hendak bangkit meninggalkan lapangan.


"Raskal!" seru Lea sambil melambaikan tangannya semangat. Senyuman manis Lea terbit teruntuk Raskal Sastrawijaya.

__ADS_1


Tapi tatapan Raskal justru tertuju pada Nala di belakang Lea. Nala tertegun dan langsung pura-pura tidak melihat. Nala harus segera pergi.


"Oh, ada orang rupanya." Lea terkejut dan mengerjap melihat Nala baru saja melewatinya. Nala tak mau memusingkannya. Ia harus kaabur sebelum Raskal dan Lea mendengar debaran dan kegugupannya. Nala terpaksa menunduk supaya Raskal dan Lea tak menyadarinya.


Nala melesat melewati Lea dan Raskal. Melangkah lebar dengan tergesa-gesa. Nala malu sekaligus murung memikirkan dua insan itu. Rumor kedekatan mereka kembali menghantui Nala. Memang sebaiknya Nala pergi dan mencari cara untuk meluapkan keresahan hatinya.


Raskal termangu dengan kepergian Nala. Dan kepergian Nala tadi menyita pikiran Raskal hingga ia tidak fokus disaat Lea sibuk membahas konsep gambar yang akan mereka kerjakan pada acara kelulusan sekolah.


Benak Raskal gelisah.


...-0-...


Esoknya Nala datang ke kelas tanpa berniat mengirimkan surat untuk Raskal. Padahal semalam Nala menulis surat dan sudah siap di tasnya.


Tapi Nala tak ada kesanggupan lagi untuk meletakkannya diam-diam ke loker Raskal. Kelas yang sepi mulai ramai dipenuhi murid. Nala menikmati sisa waktu sebelum jam pelajaran dimulai dengan mencoret-coret bukunya.


Diam-diam Raskal mengecek loker mejanya. Berbekal ingatan tajam pada bentuk tulisan Nala yang rapi di matanya, namun lagi dan lagi tidak ada satupun surat dengan tulisan rapi yang dimiliki Nala.


Hari ini Nala tak lagi mengirimkannya surat. Pagi yang cerah ini mendadak terasa menyebalkan. Surat-surat itu Raskal lempar ke lokernya. Rautnya tak secerah matahari padahal jam pelajaran belum dimulai. Jian yang sedang membungkuk tiduran di atas meja mendongak dan melihat sahabatnya sedang kesal sendirian.


Bel berbunyi. Pada siswa dan siswi segera bersiap di mejanya masing-masing. Raskal yang masih kesal menoleh ke belakang, melihat sosok gadis manis sibuk merapikan bukunya di atas meja. Ia bingung kenapa sampai pagi ini Nala tidak mengirimkannya surat. Sejak kemarin Raskal sudah menunggunya, mengira-ngira kalau siapa tahu Nala sibuk dan tidak sempat membuat surat.


Raskal ingin tahu apa alasan sosok gadis manis itu tidak meletakkan suratnya. Apa memang Nala sibuk sampai ia tidak sempat menulis surat? Atau ada alasan lain yang tidak diketahui Raskal sampai Raskal merasa kelimpungan?


Tatapannya tak beralih ke manapun selain pada Kanala Gianni. Melihat gadis itu sudah siap menghadapi jam pelajaran pertama, sosok gadis manis itu tampak terkejut dengan mata yang melebar menatap Raskal.


Nala yang baru saja siap merapikan bukunya sontak menahan napas dan mngerjap kaku melihat Raskal sedang menatapnya tajam. Hunus dan lurus. Tatapan itu seakan menyudutkan Nala hingga Nala begitu canggung di tempat.


Disaat guru sudah memasuki kelas dan memberikan salam, barulah Raskal berbalik menatap ke depan. Seketika napas Nala berjalan dengan lancar.


Merasa ada yang aneh dengan Raskal; kenapa Raskal menatapnya seperti itu di saat mereka tidak ada bersinggungan secara langsung. Menerka-nerka tanpa tahu alasan yang jelas. Terlalu sibuk berpikir sampai Nala ketinggalan untuk membuka buku dan membaca bab baru yang diterangkan guru.


Nala mengenyahkan pikirannya tentang Raskal, lagipula tidak mungkin 'kan Raskal membuang waktunya hanya untuk menatapnya saja?

__ADS_1


__ADS_2