Secret Admirer

Secret Admirer
024


__ADS_3

Jangan ditanya bagaimana keadaan Nala sekarang ini.


Santa hanya bisa mengerjap dan diam memperhatikan bagaimana sahabatnya satu ini sedang senyum senyum sendirian sejak jam istirahat berakhir.


Selama jam pelajaran berikutnya, Nala pandai menyembunyikan euphorianya dibalik buku tanpa ketahuan guru. Menuduk malu dan terkadang cengegesan sendiri. Membuat Santa bergidik melihat Nala di sampingnya.


Masih tersisa dua jam lagi menuju bel pulang berdering. Santa rasanya mau kabur saja dari pada melihat sahabatnya kerasukan tidak jelas.


Waktu begitu lambat berjalan, akhirnya bel pulang berdering mengisi seluruh gedung sekolah. Nala bergegas merapikan buku dan alat tulisnya ke dalam tas.


"Aku pulang duluan ya, Santa." Ucap Nala setelah menutup tasnya. Santa menoleh.


"Dijemput Kak Tama?" Tanya Santa dan pipi Nala bersemu merah.


Santa tahu jawabannya.


"Pulang.. bareng.. Raskal.." Nala menunduk malu dan cengengesan. Santa mengangguk.


Kemudian Raskal muncul dengan tas di bahunya, menjemput Nala. Raskal menyempatkan menyapa Santa dengan anggukkan singkat, lalu Santa hanya tersenyum.


Melihat pipi Raskal ikut merona seperti Nala, maka Santa tak berniat sedikitpun mengganggu kesempatan mereka.


Gelagat mereka di kantin secara tidak langsung menjawab akan kelanjutan hubungan mereka. Ditambah mendengar penjelasan Jian sebelumnya ketika mereka makan bersama di kantin mengenai perasaan Raskal terhadap Nala.


Ternyata Raskal cukup banyak bercerita pada Jian tentang perasaannya. Awalnya Raskal penasaran dengan Nala, lalu intensitas mereka membuat bibir rasa sukanya pada Nala kian tumbuh dan berniat untuk mrmbawa hubungan mereka lebih dari sekedar teman.


Dan melihat tatapan Raskal begitu lamat pada Nala, Santa semakin yakin bahwa Raskal memang serius mendekati sahabatnya.


Santa berbisik kata semangat pada Nala dan membiarkan sahabatnya pulang dengan sang pujaan hati. Santa terharu, perjuangan sahabatnya hampir setahun ini mengirimkan surat cinta diam-diam ke lokernya membuahkan hasil.


Santa tidak sabar menunggu cerita Nala setelah ini.


...-0- ...


Hari demi hari hampir sebagian hidup Nala terisi oleh Raskal.


Bagaimana tidak, Raskal selalu ada menyempatkan waktunya untuk menjemput Nala ke rumah agar mereka bisa berangkat sekolah bersama dan pulang bareng, diajak makan di kantin dan terkadang makan di kelas bersama jika kantin penuh, kalau ada tugas yang sulit dikerjakan Raskal akan setia membantu Nala disaat Nala butuh. 


Dan akhir-akhir ini Raskal suka melakukan hal random yang tak pernah Nala sangka-sangka sebelumnya. Entah menjahilinya, mengirimkan beberapa stiker lucu ke ponsel Nala, dan akhir-akhir ini juga Raskal suka memainkan jari Nala. 


Seperti yang dilakukannya saat ini, tugas kesenian akan dipresentasikan hari ini setelah Bu Indah menemukan hari yang tepat karena beliau sibuk ke luar kota. Saat ini giliran kelompok Jian maju untuk mempresentasikan prakarya mereka. 


Di meja kelompok Raskal, Raskal duduk di samping Nala. Sambil memperhatikan rekan Jian mempresentasikan materi sambil menunjukkan karyanya, tangan Raskal tak berhenti mencubit-cubit kulit jari Nala. Nala yang merasakan hal itu tentu terkejut, sampai Nala harus menepuk tangan Raskal karena cubitannya semakin pedas. 


Tapi hal itu tak membuat Raskal berhenti dan ia semakin leluasa melakukannya tanpa perlu khawatir teman sekleasnya melihat kegabutan yang dilakukan. 


Seandainya saja Raskal tahu kalau perbuatannya justru menimbulkan debaran yang mengganggu konsentrasi Nala. Juga rasa cemas berlebihan jika kelakukan Raskal ketahuan oleh teman-teman atau bahkan gurunya. 


Kemudian giliran kelompok Raskal yang maju mempresentasikan. Mereka bergilir menjelaskan materi dan karya dibuat untuk dilihat oleh seisi kelas. Nala yang kini mendapat gilirannya sibuk menjelaskan, tanpa terganggu dengan tatapan penuh arti Raskal selama Nala menerangkan. 


Namun hal tersebut menimbulkan bisikan-bisikan kecil dari para teman-temannya yang curiga dengan Raskal dan Nala. Rumor Raskal dengan Lea seakan tenggelam dengan beberapa kali Raskal dan Nala tampak bersama akhir-akhir ini, lalu dengan aksi tatapan Raskal yang terlalu mendalam saat ini membuat teman sekelasnya menyadari kalau Raskal dan Nala memiliki sesuatu. 


Tapi Raskal tidak peduli hal itu. Sejak awal hingga saat ini, apapun rumor yang ia miliki Raskal tidak pernah mengambil pusing. Ia hanya pusing dengan menatap kegemasan Nala di depan sana dan ia kembali ke kursinya setelah materinya selesai dibahas. 


"Kamu keren.." Puji Raskal untuk Nala dan Nala langsung menunduk malu. Tak disangka ia akan memujinya di depan teman-teman. 


"Nala doang yang keren ya, Kal?" celetuk Fajar dan teman sekelompoknya tertawa. Tapi tidak dengan Nala yang masih malu dan Raskal masih setia menatap Nala. 


Pelajaran kesenian akhirnya berakhir, hampir seisi kelas berbondong-bondong ke kantin untuk mengisi perut kosong. Sementara Nala kembali ke mejanya bersama Santa. Mengobrol sebentar tentang pelajaran kesenian tadi lalu Raskal menghampiri Nala. 


"Nala, mau ke kantin?" 

__ADS_1


"Oh.. nggak kayaknya. Mau makan bekal dari Ibu aja."


Nala tak lagi canggung seperti dulu, kini ia pun juga mulai terbiasa dengan eksistensi Raskal.


Cuma melihat senyuman Raskal saat ini, Nala masih berusaha keras untuk tidak gelagapan.


"Nala bawa bekal apa?"


"Roti bakar."


Raskal mengangguk, "Kalau gitu aku ke kantin dulu. Tunggu ya Nala."


Raskal menuju kantin sementara Nala sandaran dengan napas lega. Santa tertawa melihat Nala masih kaku saja menanggapi pemuda itu.


Tak lama kemudian, Raskal datang bersama Jian sambil menenteng makanan dan kotak susu. Kotak susunya ia berikan pada Nala.


"Buat Nala?" Tanya Nala melihat kotak susu diletakkan di depannya. Raskal hanya bergumam dan mengambil tempat untuk ia duduk di dekat Nala.


Jian ikut menimbrung dan membuka bubur ayamnya. Begitu pun Santa.


Mereka menikmati makanan mereka masing-masing sambil disela obrolan ringan. Hari ini tulisan Nala ditempel di mading sekolah. Nala membuat cuitan ringan tentang cara mengatasi rasa bosan membaca buku.


Untuk kesekian kalinya, Raskal memuji tulisan Nala di mading. Katanya tulisan Nala berhasil membuka wawasannya kalau buku memang tidak sepenuhnya bosan.


Jian dan Santa sependapat. Disela obrolan dan lelucon yang dilayangkan, mereka mnikmati jam istirahatnya.


"Nala," Raskal memanggil setelah merapikan sampah makanannya. "Pulang mau temani aku ke toko buku?"


Nala terdiam lalu mengangguk.


"Ngapain ke toko buku?" Jian menyambar dengan tatapan geli. Jian tahu Raskal jarang pergi ke toko buku kalau bukan hal yang mendesak.


"Biasanya kamu minta aku temani." Ujar Jian lagi.


"Nggak, mau sama Nala aja."


"Alah! Bilang aja mau ngedate. Lagaan mau ke toko buku."


"Memang."


Lagi dan lagi Nala hanya bisa menunduk menutupi rasa malunya. Santa dan Jian hanya tertawa melihat reaksi Raskal dan Nala.


...-0- ...


Ketika langkahnya tiba di toko buku, Nala disambut hangat oleh harumnya buku baru memanjakan indera penciumannya.


Nala tidak sering ke sana. Tapi Nala menyukai suasana toko tersebut; tenang, harum, dan rapi.


Raskal benar membawanya ke toko buku, tempat kencan yang terasa mendebarkan dada Nala.


Raskal dan Nala bersisian menuju rak buku novel. Sesekali mereka menyentuh dan membaca sinopsi yang tertera di sana. Banyak bertebaran penggalan romansa di sana. Meski sinopsisnya membuat Nala penasaran untuk membaca isinya, tapi Nala urung dan mengembalikannya lagi ke tempat semula.


"Beli saja." Raskal mendekati Nala setelah melihat rak buku psikologi.


"Tidak. Aku tak pandai simpan buku di kamar. Nanti ujung-ujungnya diloakin sama Kak Tama buat ditukar piring cantik." Ujar Nala sambil mengingat bagaimana Kak Tama merapikan kamarnya dulu yang dipenuhi tumpukan buku novel lalu Kak Tama loakin ke tukang dan tukarkan dengan piring cantik.


Mendengar itu Raskal tertawa. Ia tak memaksa Nala dan mereka beralih melihat jejeran alat tulis.


Nala tertarik membeli pulpen berwarna-warni. Sementara Raskal menenteng buku catatan.


"Biar aku yang bayar." Raskal mengambil pulpen warna-warni di tangan Nala dan langsung bergegas ke kasir. Nala awalnya menolak tapi Raskal tetap bersikeras membayar pulpennya.

__ADS_1


Nala tentu agak kesal dan tidak enak hati karena Raskal membayar pulpennya. Jadi Nala membayarnya dengan membelikan minuman dingin untuk Raskal.


Nala mengambil kesempatan membeli minumaan dingin ketika Raskal singgah ke toilet.


"Aku merepotkanmu." Ucap Raskal sambil menerima minuman dingin dari Nala.


"Tidak. Aku justru senang kamu membawaku ke sini," Nala menyeruput minuman dinginnya. "Raskal, terima kasih sudah mengajakku ke sini."


Raskal tersenyum dan otomatis Nala menunduk malu.


Di saat mereka hendak keluar, hujan mengguyur bumi. Raskal dan Nala menepi dan meneduh. Hujannya begitu berisik menggelamkan degupan di dada Raskal.


Nala tampak semakin manis diantara kerumunan, awan gelap dan rintikan hujan turun.


Tak terasa kedekatan mereka sudah lama terjalin sejak Raskal memberanikan diri mengatakan keinginannya di kantin pada saat itu. Raskal sudah berusaha sejauh ini, dan Raskal ingin memetik dari hasil yang telah ia lakukan.


"Nala.."


Nala menoleh, "Iya, Raskal.."


Beruntung hujan turun deras, jadi pastinya Nala tak akan mampu mendengar debaran yang menggila di rongga dada Raskal saat ini.


"Tadi aku baca sebuah buku psikologi, singkatnya buku itu tertulis kalau pengalaman akan cinta itu nggak semuanya berakhir baik. Ada kecewanya juga. Tidak mudah dinikmati oleh siapa saja, terlepas dari tingkat kedewasaan yang telah dicapainya. Bahkan dari banyaknya usaha dalam segala aspek, hal itu belum bisa menjadi suatu kepuasan seseorang mengerti akan cinta yang berakhir indah. 


Di sini, di umur kita mungkin kata cinta itu terlalu dewasa. Maka aku ingin mengajakmu bersama-sama merajut sedikit demi sedikit, dari seutas menjadi jalinan tanpa berkapasitas. Yakin, berani, dan saling percaya. 


Aku yang tak mengerti apa pun, ingin menggalinya bersamamu. Begitu pun kamu, aku bersedia menemanimu. Akhir yang tak terlihat kita cari bersama-sama. 


Dari lubuk hatiku, Nala, aku menyukaimu. Mungkin rasa sukaku belum sebesar rasa suka yang kamu miliki untukku. Terkadang aku masih merasa kalau usahaku belum semaksimal dirimu. Jadi jika kamu mau, temani aku merajut hatiku agar sedemikian rupa terisi olehmu. 


Dan jangan sungkan panggil aku di setiap kamu mengingatku. Aku suka direpotkan.


Dan kalau bisa, jangan lagi menunduk wajahmu, aku tidak leluasa menatapmu sepuasku. 


Aku juga bukan jin lucu di film Aladin yang dapat mengabulkan semua keinginan, tapi mintalah apa pun padaku, selagi kubisa akan kupenuhi.


Aku suka kamu, Nala.."


Nala termangu, tercengang, apa pun yang membuatnya hanya terpaku sambil mencerna semua kalimat Raskal yang begitu panjang dan tiba-tiba penuh di kepala Nala. 


Baru saja Raskal mengutarakan isi hatinya. Untuk pertama kalinya Nala ditembak oleh seseorang yang lama ia sukai dengan rentetan kalimat yang tak Nala belum mengerti. Tapi.. Nala menangkap maksudnya. 


Raskal ingin sekali membuang wajahnya, menutupi kegugupannya. Tapi ia baru saja mengutarakan isi hatinya, dan ia ingin melihat reaksi Nala dengan matanya sendiri. 


Semburat merah tak dapat dihindari. Dinginnya hujan tak dapat menggigilkan dua insan yang dimabuk asmara itu. Raskal ingin sekali menggenggam tangan Nala, tapi ia sudah keburu malu. Ditambah banyaknya orang-orang ikut meneduh di sekitar mereka membuat Raskal menjaga sikapnya di tempat umum. 


Nala yang masih terdiam bergumam. Tenggorokannya tiba-tiba kering. Lalu Nala memberanikan diri untuk mendongak dan menatap wajah merah Raskal tengah menatapnya.


Nala tersenyum, ibarat pelangi diantara derasnya hujan. Indah. Jantung Raskal rasanya mau lepas ketika kepala Nala mengangguk-angguk. 


Hujan mulai reda, menandakan akan awal hubungan Nala dan Raskal yang sebenarnya akan terjalin cukup lama. Raskal jaminkan itu pada hati dan pikirannya. 


Rintikan hujan berhenti membasahi bumi, mempersilakan dua insan meninggalkan toko buku dengan perasaan sukacita. 


...-0-...


Siapkan diri untuk chapter terakhir..


Kisi-kisi : 18+ 


Terima kasih..

__ADS_1


__ADS_2