
Raskal Sastrawijaya--dialah pemuda pertama yang mengisi hati Nala untuk pertama kalinya.
Nala tak pernah berpikir suatu saat ia akan menyukai seseorang di sekolah menengah akhir. Tak pernah Nala terpikirkan kalau hatinya akan jatuh pada pesona Raskal.
Pertama kali melihat Raskal, Nala tak menampik akan rupawan yang dimiliki Raskal. Nala sama halnya dengan teman-teman seusianya, akan terkagum melihat rupawan seseorang, tapi ia tak menyangka jika hatinya berakhir memilih pesona sosok tersebut.
Raskal bukan pemuda yang suka tebar pesona, tapi pesona yang ia miliki berhasil mengait banyaknya hati gadis seusianya tanpa harus Raskal bekerja keras.
Tak jarang nama Raskal akan selalu dibicarakan di sekolah. Selain pesonanya, Raskal juga pintar dalam akademik. Sangat disayangkan ketika Nala mendengar Raskal mengalami cidera bahu sehingga Raskal tak terlalu bersinar pada ekskul olahraga, salah satunya Basket yang digandrungi para pemuda.
Raskal juga terkenal akan sosok dingin dan cueknya. Layaknya tokoh utama di sebuah novel remaja, Raskal menjadi contoh nyata di dunia.
Namun sosoknya lebih banyak misterius, tidak ada yang tahu bagaimana sosok Raskal lebih jauh selain ketampanan dan kepiawaiannya dalam bidang akademik.
Tapi nama Raskal semakin sering dibicarakan setelah Raskal menjadi seoeang pahlawan ketika ada pembulian terjadi. Juga kedekatannya dengan sosok gadis cantik yang juga terkenal di sekolah.
Lea--gadis seangkatan Raskal banyak disukai para pemuda di sekolahnya. Selain cantik, Lea aktif dalam keanggotaan di sekolah. Pintar dan juga ramah. Siapapun yang dekat dengannya merasa beruntung bisa kenal dengan Lea. Dan siapapun orang akan merasa bangga karena satu sekolah dengan Lea.
Kedekatan Lea dan Raskal tampak berjalan mulus. Ada saja suatu kegiatan yang membuat mereka terlihat dekat sehingga banyak siswa dan siswi berspekulasi kalau mereka menjalin hubungan lebih dari sekedar teman.
Tapi baik Raskal dan Lea tak ada yang menyetujui atau menampik rumor tersebut. Mereka menjalani hari-hari mereka di sekolah sepeti biasanya tanpa merasa terganggu dengan rumor yang beredar.
Tapi sepertinya rumor tersebut semakin diperkuat setelah Raskal membantu Lea dari pembulian kakak kelasnya beberapa hari lalu.
Dan juga saat ini.
Nala baru saja tiba di sekolah, sehabis diantar Kak Tama lalu berjalan menuju kelas.
Depan kelasnya tampak ramai dikerumuni teman-temannya, Nala mengernyit bingung. Apa ada sesuatu yang membuat kelasnya mendadak ramai? Bahkan Nala tertegun ada beberapa kakak kelas menyaksikan sesuatu di dalam kelasnya.
Nala tentu penasaran, ia mendekati kerumunan lalu berjinjit. Berharap ia menemukan jawaban kenapa kelasnya mendadak ramai seperti pasar.
Netra hitamnya melebar, melihat ada kerumunan lain di dalam. Melihat ada bebrapa orang asing, Nala menduga itu kakak kelasnya, mereka mengerumuni dengan raut kekesalan. Terdengar juga bentakan yang mengarah pada sosok Lea di sana.
Hal itu membuat Nala termenung, apa yang terjadi? Lalu netranya menangkap sosok Raskal. Berdiri tepat di samping Lea. Pemuda itu tampak mengeratkan wajahnya, siap menyembur kemarahannya tapi ia tahan. Mungkin menunggu waktu yang tepat untuk meluapkan itu.
Kakak kelas itu kembali membentak, Nala mendengar kalau kakak kelas tersebut tidak terima karena cintanya pada Lea tak terbalaskan. Lalu kakak kelas itu menuduh Raskal yang menjadi alasan Lea menolak dirinya.
Itu bukanlah alasan yang logis. Apapun alasan Lea menolak kakak kelas itu, Lea berhak menolaknya. Jangankan Lea, siapapun termasuk Nala berhak menerima atau menolak seseorang di dalam hidupnya. Semua orang bisa melakukan itu.
Tapi tampaknya kakak kelas itu tidak terima. Entah bagaimana kronologinya sampai Lea berada di kelasnya, lalu ada Raskal dan Jian di sana, menghadap kakak kelas dengan berlagak penguasa di dalam kelasnya.
"Lea berhak menolak. Pergi. Jangan ganggu Lea lagi." Terdengar titah dingin Raskal pada kakak kelas itu. Padahal kata-kata itu bukan buat dirinya, tapi Nala merinding dibuatnya.
__ADS_1
"Aku masih nggak terima Lea menolakku karena kamu." Kakak kelas itu kembali berulah. Ia mendobrak meja membuat orang-orang di sekitar terkesiap. Tapi tidak dengan Raskal. Raskal senantiasa menatapnya dingin dan tajam. Bibirnya mengerucut, terlihat sekali Raskal ingin meluapkan emosinya.
"Sekarang kasih tahu aku, kalian berdua ini pacaran 'kan?" Kakak kelas itu menunjuk Raskal. Raskal mengerut dahi. Raskal harus meluruskan pertanyaan kakak kelas itu. Dan juga pada semua orang yang menatapnya. Rumor yang beredar membuat Raskal jengah. Rumor itu harus dihentikan.
Ketika Raskal ingin menggeleng kepala, tangannya disentuh tangan Lea. Raskal melirik, Lea menatapnya dengan tatapan memohon. Benak Lea berharap agar Raskal mau menolongnya supaya kakak kelas itu tak lagi mendekatinya.
Raskal mengerti tatapan itu. Tatapan itu justru membuat Raskal muak. Jujur, Raskal ingin sekali lepas dari rumor dirinya dan Lea. Rumor itu terdengar membosankan, semakin ke sini semakin menjengkelkan dan rumor itu justru membuat dirinya merasa tertekan.
"Aku nggak pacaran sama Lea," semua orang tercengang mendengar itu. Rumor itu akhirnya ditepis Raskal. Lea kini memelas. Merasa tatapan memohonnya tidak bekerja. Raskal tidak menolongnya.
"Tapi bukan berarti kakak bisa semena-mena sama Lea. Lea berhak nolak kakak. Siapapun berhak menolak kalalu kakak memaksa kehendak orang. Jadi berhenti dekati Lea dan pergi."
Ucapan Raskal membuat kakak kelas itu malu. Ia langsung pergi dan memyeruak kasar sambil menyumpah kata-kata kasar. Nala menjauhi kerumunan setelah ia melihat perhatian Raskal ke Lea. Satu tangannya mengusap lengan Lea, tampak lembut dan itu cukup membuat Lea terhibur dan Lea langsung tersenyum padanya.
Dan hal itu membuat Nala merasa bukan apa-apa di mata Raskal. Atau di mata semua orang. Nala merasa kecil dan bukan sesuatu yang berharga untuk dilindungi seperti yang dilakukan Raskal terhadap Lea.
Sejenak Nala merasa iri, jika seandainya Nala menjadi Lea, apakah Raskal juga akan memperlakukannya seperti ini?
Atau jika Nala tak jatuh hati dengan Raskal, apakah ia tak akan sesedih ini melihat kedekatan mereka berdua di dalam sana?
...-0- ...
Jam pelajaran pertama usai. Guru meninggalkan kelas dan kelas mulai berisik sebelum guru lain datang.
Nala baru saja mencatat materi di buku tulisnya. Pelajaran sejarh memang melelahkan, selain banyak materi untuk dihapalkan tangan Nala lelah mencatat materi yang telah dibahas lalu dirangkum memenuhi bukunya.
Jadi Nala memilih untuk mendengarkan musik menggunakan earphonenya lalu membaca buku kewarganegraan yang ia simpan di loker mejanya.
Ketika Nala mengeluarkan buku di loker, selembar kertas berwarna terjatuh di kaki Nala. Nala langsung memungutnya. Itu adalah sebuah surat.
Seingatnya di loker Nala hanya buku tersimpan. Kemarin Nala juga sempat mengeluarkan buku dari loker tapi tidak ada surat. Jadi kemungkinan besar surat itu baru ada tadi pagi sebelum Nala tiba.
Nala mengitari sekeliling, tidak ada yang memerhatikannya, termasuk Santa. Nala langsung mrmbuka surat itu sebelum guru memasuki kelas.
Hai..
Aku nggak tahu bagaimana cara menulis surar untukmu. Tapi aku ingin mengatakan, kalau aku merindukan suratmu..
Dahi Nala berkerut, merindukan suratku?
Ini sudah dua minggu kamu tidak kirim surat. Jujur, awalnya aku tak menggubris suratmu. Dan disaat aku mulai membaca surat demi surat yang kamu kirimkan ke lokerku, aku mulai menunggu..
Mata Nala membelalak. Tangannya gemetar.
__ADS_1
Aku selalu mempertanyakan kenapa kamu tak lagi menulis surat dan memenuhi lokerku. Aku pikir kamu sibuk. Aku mencoba memahami itu. Sampai aku baru sadar dengan rumor yang beredar..
Seketika napas Nala tersendat.
Aku dan Lea nggak ada hubungan apa-apa.
Debaran Nala mulai mengganggu konsentrasinya.
Kalau itu yang membuatmu tak lagi mengirimkan surat padaku, aku sudah mengatakannya.
Jadi, mungkin, kamu sudah bisa kirimkan surat lagi padaku..
Nala mulai kelimpungan sama pereasaannya sendiri.
Atau kamu sudah lelah membuat surat untukku lagi? Tak masalah. Memang menulis surat itu melelahkan juga.
Jadi, aku ingin mengajakmu mengobrol.
Nala mengigit lidahnya, menahan diri supaya tidak berteriak.
Kalau kamu mau, mau ke taman bersamaku pas jam istirahat nanti?
Nala kini menggigit bibirnya. Ia tak tahan.
Kalau mau, aku ingin melihatmu mengangguk. Kalau tidak, menggelenglah. Aku melihatmu.
Nala sontak mendongak, terkesiap dengan atensi Raskal tertuju padanya. Napas Nala berhenti sejenak, ia tak tahu apa yang harus ia lakukaan selain menatap Raskal, wajahnya memerah, dan kepalanya mengangguk malu-malu.
Tak mau lagi menatap Raskal, Nala segera menunduk menutupi wajah malunya. Debarannya begitu menggila hingga rasanya jantungnya mau meledak di dadanya.
Sama halnya dengan Nala, Raskal langsung menoleh ke depan dan menunduk. Wajahnya tak semerah Nala tapi Raskal tersenyum. Ia senang Nala membaca suratnya setelah Raskal menahan diri untuk tidak menulis surat dan pada akhirnya egonya kalah.
Ternyata benar, rumor itu yang membuat Nala tak lagi mengirimkannya surat. Raskal baru sadar akhir-akhir ini. Ditambah dengan insiden tadi pagi, Raskal ragu kalau Nala akan membaca suratnya dan mau diajak ke taman.
Tapi nyatanya dunia mendukung Raskal. Nala langsung membaca suratnya dan mengangguk malu. Memyetujui ajakannya. Benak Raskal ada gemercik kesenangan. Rasa yang baru Raskal rasakan pertama kali, dan rasa itu muncul karena Nala.
Tersisa satu jam lagi menuju jam istirahat, baik Raskal dan Nala sudah tak sabar sampai mereka sama-sama tidak fokus pada jam pelajaran berikutnya.
...-0- ...
Notes penulis:
Akhirnya adik adikku mulai pdkt, cihuyy.. 🥳🥳
__ADS_1
Oiya, utk narasi di bagian surat Raskal memang aku ubah sedikit dari prolog sebelumnya. Aku info biar kamu dan kamu nggak bingung bacanya.
Terima kasih.