
DI MOBIL DAFFA
Keheningan tercipta diantara keduanya, tak ada yang berani membuka pembicaraan. Daffa sibuk menyetir, dan Zara hanya Terdiam menunduk.
Setelah beberapa saat....
"daf...daffa"
Tak ada jawaban
"Daffa..." Nada ara sedikit Menurun
Ia takut daffa marah.
"Hmm, kenapa?" Daffa akhirnya menjawab
"Ara haus, Ara...pengen beli minum dulu"
"Bentar"
zara hanya terdiam mengikuti Perintah daffa. ia sangat takut pada seorang lelaki, Apalagi ini kali pertama Dirinya Bersama lelaki.
Mobil daffa berhenti disebuah cafe
"Yaudah, turun!"
"Ara, cuman pengen air putih kok"
"Tapi gue laper" ucap daffa sedikit membentak.
Mereka bedua memasuki cafe layaknya sepasang kekasih. Namun keduanya tak saling bicara.
* * *
Setelah makan, mereka melanjutkan kerumah bu mirna untuk mempersiapkan berkas berkas yang akan mereka bawa besok.
DEPAN RUMAH BU MIRNA
"Aww...."
Zara tersandung, hingga membuatnya jatuh dan sebuah luka di Lututnya.
Daffa tak memperdulikannya, ia lebih memilih terus berjalan. Namun zara berharap kalau dia akan menolongnya.
__ADS_1
"Aduh sakit...." Ucapnya sambil menangis
Sebuah tangan tiba tiba terjulur. Entah itu siapa, tapi ia menebak kalau itu daffa.
"Kamu nggak papa??"
"Iya, makasih yah kak Rega" ucapnya heran
"loh, kamu sendiri?? katanya sama daffa?"
"Daffa masuk duluan kak"
"Kakak kenapa bisa ada disini?"
"Yah....Rumahku disini"
"Maksud kakak??"
"Gue anaknya bu mirna"
"Owhh"
"Yuk masuk"
"Loh kok nggak nunggu zara! dia jatuh tadi"
Muka rega terlihat marah.
"Gue nggak peduli"
jawaban daffa menambah kemarahan rega, namun ia memilih untuk diam, sedangkan zara hanya tertunduk.
JAKARTA
Sampai disebuah Hotel, Daffa Memilih menyendiri Membaca wattpad di Rooftop
"Daffa, ngapain disitu?"
zara menghampiri.
"Lo ngapain ngikutin gue?"
"Ara cuman cari udara segar, Besok kan udah mulai lombanya"
__ADS_1
"Ara boleh duduk didekat daffa nggak?"
"Hmm, tapi jangan ganggu kesenangan gue! diam dan jangan banyak bicara paham?"
Zara hanya mengangguk. Ia takut kalau Daffa kembali marah. Ia lebih memilih memandangi Pantai yang terlihat sangat jelas diatas.
Zara terus menatap Daffa,
"Astagfirullah, kenapa aku ini?" ucapnya dalam hati.
sedangkan daffa sibuk membaca Wattpad di Androidnya.
"Kalau ara suka sama daffa boleh nggak"
Zara bertanya tanya pada dirinya sendiri, Ia tak berani mengatakannya pada daffa. Ia tau bahwa itu akan membuatnya marah.
"Daffa, ara mau tanya boleh?"
"kan gue udah bilang kalau....."
"Ara cuman nanya satu kok"
"Hmm yaudah, ngomong aja"
"Daffa pernah pacaran? atau punya pacar?"
Nadanya terdengar ketakutan.
"Kenapa, loh mau nembak gue??".
"Ee..ee...enggak, Ara cuman nanya"
"Nggak, gue nggak suka dan nggak bakal suka dengan yang namanya pacaran" Jawabnya datar.
"Kalau loh suka sama gue, lebih baik nggak usah deh, gue nggak bakal mau sama loh". Sambungnya.
"Enggak, ara nggak suka sama daffa"
"Bagus deh"
"Ara janji gak bakal suka lagi sama daffa, ara takut daffa menjauh dari ara, ara takut daffa nggak suka sama ara, ara coba lupain daffa yah" Ucapnya dalam hati
Ada rasa kecewa yang menghantamnya, tapi ia coba memberikan senyum yang mungkin bisa terlihat oleh daffa kalau itu senyuman Yang dipaksakan.
__ADS_1
"Aku hanya Memerlukan satu hari untuk mencintaimu, tapi akankah kulupakan cintaku hari itu juga?"