
Nala :
Santa!
Ting..
^^^Santa : ^^^
^^^Apa? ^^^
Nala :
Aku bingung banget ini, gimana dong? :(
Ting..
^^^Santa : ^^^
^^^Aku juga.^^^
Nala :
Kamu bingung kenapa?
Ting..
^^^Santa : ^^^
^^^Tiba-tiba kamu kirim pesan ke aku sepagi ini dan bilang kamu bingung. Makanya aku bingung.^^^
Nala :
Ih, Santa!
Ting..
^^^Santa : ^^^
^^^Kenapa kamu bingung sepagi ini? Oh, apa jangan jangan kamu belum mengerjakan PR dari Bu Rio? ^^^
Nala :
Bukan itu!
Ting..
^^^Santa : ^^^
^^^Lalu apa? ^^^
Nala menggigit bibirnya, membaca pesan Santa lagi lalu jemarinya bergerak membalas pesan Santa.
Nala :
Raskal ajak aku berangkat ke sekolah bersama, dan sarapan juga. Aku bingung, Santa.
Ting..
^^^Santa : ^^^
^^^Bingung apalagi!? Ayoin! ^^^
Nala :
Tapi, nanti anak-anak bakal ngomongin apa ya pas aku tiba di sekolah sama Raskal? Apa mereka bakal ngejelekin? Aku takut jadi bahan omongan satu sekolah.
Nala melihat Santa sedang mengetik sesuatu di sana.
Ting..
^^^Santa : ^^^
^^^Bukannya mau merusak suasana, tapi, Raskal memang suka berbagi bangku motornya untuk orang-orang. Nggak hanya kamu; Jian, Lea, dan beberapa teman lainnya pernah duduk di belakang bangku motor Raskal. Dan nggak ada yang ngomongin aneh aneh tuh. Jadi pas kamu datang bersama Raskal nanti, harusnya kamu nggak bakal diomongin. Paling anak-anak cuma mikir Raskal hanya memberikanmu tebengan. Nggak ada maksud apapun selain itu. Jadi, kamu nggak usah khawatir. Dan bukankah kamu bisa menggunakan kesempatan ini untukĀ semakin dekat dengannya? ^^^
Nala menghela napas. Terlepas dari peetanyaan Santa terakhir, ujarannya memang benar adanya. Raskal selalu memberikan bangku belakang motornya untuk ditumpangi siapapun yang meminta bantuannya. Kenyataan itu membuat Nala dipaksa pada realita.
Ajakan romantis Raskal dibayangan Nala berubah sekejap.
Sebelum Nala bertanya pada Santa, Nala kembali dikejutkan dengan beberapa pesan Raskal semalam. Nala pikir, ia semalam sedang bermimpi indah kalau Raskal mengajaknya berangkat dan sarapan bersama.
Rupanya itu memang sebuah kenyataan yang berhasil mengguncang Nala pagi ini. Pesan pesan tersebut tak buyar dari pandangannya. Pesan pesan tersebut benar dan nyata di penglihatannya. Tidak mengabur atau menghilang dengan sekali kedipan. Ajakan dan tawaran itu memang ada, dan terjadi, dari Raskal yang ditujukan padanya.
Tapi, lagi dan lagi, Nala terpental dengan fakta yang Santa sebutkan. Baru saja Nala membayangkan bagaimana romantisnya Nala dan Raskal menyusuri padatnya ruas jalan menuju sekolah. Kemudian mereka sarapan bersama dan saling melempar pandangan dengan gemericik nuansa roman yang membuat pipi Nala memerah malu.
__ADS_1
Santa sungguh berhasil merusak bayangan Nala pagi ini.
Nala :
Aku akan berangkat dengan Raskal. Sampai bertemu di sekolah.
Setelah Nala membalas pesan Santa, Nala buru-buru membalas pesan Raskal. Ia mengiyakan ajakan Raskal baru ia mulai bergegas mandi dan mengenakan seragam sekolahnya.
Sudah ada Kak Tama menghuni meja makan. Ibu tengah sibuk di dapur, menyiapkan sarapan. Mencium harum masakan Ibu, sepertinya Ibu sedang memanggang roti.
"Nala berangkat sama teman Nala ya, Kak."
Kak Tama memanggut, "Sama Santa?"
"Sama Raskal. Sebentar lagi Raskal ke sini."
Kak Tama menghentikan tegukan susunya. "Raskal? Kayak pernah dengar?"
Nala melotot. Setahunya Nala belum pernah menceritakan sosok Raskal pada Kak Tama. Kemarin pada saat Nala mencurahkan hatinya bahwa ia menyukai seseorang ke Kak Tama, Nala ingat ia tidak sekali pun menyebutkan nama Raskal.
"Kakak dengar di mana emang?"
Kak Tama bergumam, "Oh--Ibu. Kemarin katanya temanmu ada yang datang ke rumah. Ibu cerita tadi. Lupa aku."
Nala lupa kalau kemarin Raskal mampir ke rumah setelah mengantarnya pulang dan bertemu Ibu.
Kemarin Ibu dan Raskal banyak mengobrol selama Nala meninggalkan Raskal untuk berberes di kamar. Saat Nala selesai berberes, Raskal pamit pulang. Ibu ada bilang kalau Raskal harus segera pulang. Memang sih Nala cukup lama ninggalin Raskal sama Ibu sampai Nala lihat isi toples biskuit Ibu hampir kosong karena Raskal banyak memakannya.
"Jadi sekarang adikku sudah ada yang antar jemput nih?" Goda Kak Tama berbenturan dengan suara klakson dari luar rumah. Nala beranjak dan menyambut kedatangan Raskal.
Panjang umur, pemuda itu tiba tepat waktu.
Raskal mengikuti langkah Nala menuju meja makan, langsung menyapa Kak Tama dan Ibu yang menyambutnya hangat dengan seulas senyum.
"Eh, ada Raskal ke sini lagi. Yuk sarapan bareng sini. Belum sarapan 'kan? Ibu bikin banyak roti panggangnya nih. Jangan sungkan ya." Ajak Ibu sambil menunjuk sebuah kursi kosong di depan Ibu.
Niatnya Raskal akan mengajaak Nala sarapan diluar. Ia sempat berpikir untuk mengajak Nala makan bubur kacang ijo di warkop dekat sekolah. Tempat langganannya dengan Jian. Tapi, makan di rumah Nala akan jauh lebih baik. Raskal ragu bawa Nala ke warkop, takut Nala kurang nyaman makan di sana.
"Maaf ngerepotin Ibu." Lirih Raskal terdengar seisi rumah.
"Nggak ada yang ngerepotin Ibu. Ayo, nak, ambil duduknya di sana. Kita sarapan bersama."
Dengan santun Raskal mengambil tempat di samping Nala. Nala hanya tertunduk malu dan duduk di tempatnya. Kak Tama menyaksikan kecanggungan antara Nala dan Raskal. Terlihat sekali kalau adik kesayangannya sedang jatuh hati sama pemuda di sampingnya ini.
Di usia belia ini, Raskal terbilang tampan. Dan tinggi. Tinggal diasah lagi dengan berolahraga, Kak Tama yakin Raskal bisa sesempurna apa yang ia bayangkan sekarang.
Bekerja di dunia hiburan membuat Kak Tama cukup lihai memindai penampilan seseorang. Kalau saja Raskal berminat bekerja di dunia hiburan, Kak Tama yakin Raskal akan banyak ditawarkan agensi sebagai model atau artis.
Percakapan hanya terjadi sesekali. Ibu yang dominan membuka percakapan pada anak-anaknya, juga Raskal. Ibu ada sedikit membahas Raskal dan keluarga, Raskal hanya berbicara seperlunya saja. Membuat Kak Tama penasaran.
"Jadi kakaknya Raskal kerja atau kuliah?"
"Kuliah, Kak." Balas Raskal sambil mengunyah rotinya.
"Kuliah di mana?"
"Aussie."
"Oh iya? Di mananya? Temanku ada yang kuliah di Aussie juga. Siapa tahu temanku kenal sama kakaknya Raskal. Berarti Raskal tinggal sama papa dan mama aja ya di rumah? Sepi dong ya nggak ada kakaknya di rumah. Sekesal-keslanya aku sama Nala, kalau Nala nggak di rumah kakak suka kesepian. Pasti kamu juga 'kan?"
Kali ini Raskal tak menjawab. Raskal hanya menatap Kak Tama dan terdiam sejenak setelah menyelesaikan makannya.
Lalu Raskal menoleh pada Nala.
"Kita harus berangkat sekarang."
Nala lantas menoleh lalu melirik jam dinding di dekat dapur. Sudah setengah tujuh, Raskal dan Nala harus segera berangkat.
Nala mempercepat kunyahannya lalu berpamitan pada Ibu dan Kak Tama. Raskal mengikuti Nala di belakangnya lalu mereka pergi.
"Kak, nanti Ibu nebeng ke pasar depan ya?"
Kak Tama mengangguk, tapi pikirannya melalang buana terhadap sikap dingin Raskal padanya belum lama ini.
Sejenak ia menyadari akan adanya guratan tak suka yang terlintas yang tak sengaja Raskal tunjukan padanya.
Kak Tama bergumam dalam hati, apa Raskal tersinggung dengan pertanyaannya?
Kak Tama tak paham. Maka ia menenggelamkan pertanyaan itu di dalam kepalanya.
Kak Tama tak akan menuntut jawaban pemuda itu, tapi ia tidak janji akan melupakan kejadian pagi ini.
...-0- ...
__ADS_1
Seperti praduga Santa, teman sekelas tak ada yang menyudutkan Nala dan Raskal ketika mereka datang bersama ke sekolah.
Ketakutan Nala meleset. Sepertinya Nala harus menjernihkan pikirannya supaya ia tak termakan pikiran negatif. Tidak bagus juga berasumsi berlebihan.
Lebih tepatnya, Nala hanya tidak mau Raskal merasa tak nyaman dengan tudingan dibuat-buat hingga Raskal merasa menyesal dekat-dekat denganya. Nala tidak mau seperti itu. Namun dirinya dan Raskal baik-baik saja sampai sekarang.
Nala memang berlebihan.
"Apakah sebentar lagi sahabatku akan jadian dengan crushnya?" Santa berbisik di samping Nala. Kelas begitu sunyi karena Bu Reva mengajar di kelas mereka.
Terkenal galak dan tidak segan-segan memberikan hukuman jika ada murid yang berisik, Santa hanya berani berbisik walau hatinya bergejolak untuk bertanya-tanya pada sahabatnya.
"Sstt, diam! nanti Bu Reva lihat kita." Nala berbisik, memperingatkan Santa. Tatapan Bu Reva mengitari seisi kelas, seperti sinar laser yang siap membidik lawan. Menyeramkan.
Santa langsung bungkam dan menunduk ketika tatapan Bu Reva tertuju padanya.
Bu Reva memberikan tugas yang harus dikerjakan dikumpulkan hari ini. Semua harus mengerjakannya dan harus selesai tepat waktu. Kalau tidak, Bu Reva tak segan-segan memberikan nilai dibawah standar sekolah.
Tidak peduli mau murid terkenal berprestasi atau sebaliknya. Bu Reva bukanlah guru pilih kasih. Semua sama rata. Semua harus nurut padanya selama ia mengajar di kelas.
Hampir seluruh murid menunduk takut agar tidak ditatap Bu Reva, Raskal justru mendongak dan sesekali menengokkan kepalanya ke arah Nala.
Di sana Nala menunduk. Nala juga sama takutnya seperti teman-teman sekelas. Hal itu justru mempermudah Raskal leluasa menengok ke Nala.
Santa yang memberanikan diri mendongak tak sengaja melihat Raskal menengok ke belakang, menatap sahabatnya yang menunduk dan mencatat materi di bukunya.
Santa mengerjap ketika tatapannya tertangkap Raskal. Raskal langsung berbalik dan membungkuk.
Santa tercengang dengan pemikirannya sendiri.
Setelah bel berbunyi dan Bu Reva keluar kelas, semuanya sontak bernapas lega. Mereka terlepas dari bekapan ketakutan.
"Ya allah, leherku kayaknya mau putus karena nunduk mulu." Keluh Jian. "Sumpah tatapannya serem banget tuh guru. Pengen kucolok tapi nggak berani."
Raskal bergeming mendengar keluhan Jian. Ia sibuk mencatat materi yang Bu Reva terangkan sebelumnya lalu meletakkan buku catatannya ke loker.
Lokernya tersisi tumpukan buku dan beberapa carik surat. Seperti biasa, itu surat cinta yang entah dari siapa pengirimnya.
Terkadang Raskal bingung dengan orang-orang yang mengirimkannya surat cinta ini. Mereka seakan tak lelah walau ia tak pernah menanggapi. Mau Raskal tak baca atau buang ke tempat sampah pun, surat cinta itu akan mengisi loker Raskal lagi.
Raskal mulai jengah, tapi ia tak tahu bagaimana caranya menghentikan semua ini.
"Surat cinta lagi? Buang aja langsung ke tempat sampah." Ucap Jian tanpa beban. Jangankan Raskal, Jian saja bosan melihat loker sahabatnya penuh dengan surat tersebut. Semakin ke sini surat-surat itu seperti sampah. Semakin menggunung, mengganggu dan menyusahkan.
Raskal bisa saja melakukan saran Jian saat ini. Tapi Raskal masih memiliki rasa simpati. Ia akan membuangnya pada jam sekolah berakhir dan sekolah mulai sepi. Baru Raskal akan membuangnya, atau Raskal akan membuangnya di dekat rumah. Setidaknya tidak ada yang mengetahui dirinya membuang surat surat itu secara langsung.
Raskal akan menggunakan usul terakhir.
Setelah jam pelajaran berganti kembali, kelas mulai riuh. Sebagian ada yang asik mengobrol, bermain games, dan ada juga yang sibuk membahas tugas kelompok.
"Kal, aku minta rangkumanmu ya. Mau aku buat bahan presentasinya." Angger menghampiri Raskal di mejanya, meminta rangkuman materi tugas kesenian bagian Raskal.
"Siapa aja yang udah kumpulin materinya?"
"Baru Lisa dan Nala nih." Angger menunjukkan dua buku digenggamannya.
Raskal bergeming, ia mencerna ide yang tiba-tiba saja muncul dalam benaknya.
"Kumpulin di aku dulu aja ya, Ngger. Aku mau baca dulu rangkuman kita. Kalau hasilnya bagus semua, baru aku kasih lagi ke kamu."
"Oh--kamu nggak kerepotan, Kal? Kamu 'kan juga ngerangkum dan nyediain properti materi kita nanti. Nggak apa-apa kok yang ini biar aku aja yang baca rangkuman teman-teman. Nanti aku minta bantuan kamu kalau aku kesusahan."
"Nggak apa-apa, aku nggak kerepotan kok." Ujar Raskal santai.
Angger memanggut dan menyerahkan dua buku milik Lisa dan Nala pada Raskal. Tentu Angger senang Raskal berniat membantunya. Angger tak mau munafik, dengan senang hati Angger menyerahkan buku temannya pada Raskal.
Raskal langsung menyimpan buku tugas Lisa dan Nala. Ia akan memeriksanya pada saat jam pulang sekolah.
Pada saat kelas sepi, Raskal mempergunakan waktunya untuk membuka buku teman-temannya.
Buku Nala menjadi incaran pertama Raskal. Hanya saja Raskal tidak tertarik membaca rangkuman Nala saat ini. Tujuan utamanya memang bukan untuk membaca rangkuman Nala.
Ngomong-ngomong soal surat cinta di loker Raskal, sebenarnya ada satu surat yang sengaja Raskal simpan.
Raskal mengeluarkannya dari tasnya, ia baca sekilas lalu mencocokkan tulisannya ke arah rangkuman Nala.
Surat cinta yang Raskal simpan adalah surat cinta yang ia temukan bersamaan dengan bungkusan biskuit beberapa hari yang lalu.
Hasil yang tak terduga, Raskal hanya tercengang sesaat lalu menghela napas.
Tulisan surat cinta itu sama persis dengan tulisan Nala.
Raskal tidak tahu, untuk saat ini, apa ia harus marah atau senang?
__ADS_1