
Nala terpaku, ketika tatapannya tertuju pada sosok yang berdiri di ambang pintu.
Pukul 06.15, matahari belum meninggi tapi Nala seakan mendapat silauan cahaya yang terpancar dari sosok pemuda yang sengaja datang ke rumahnya tanpa mengatakan apapun padanya sebelumnya.
Seingat Nala, semalam ia menerima telepon Raskal, kemudian pemuda itu hanya menanyakan Nala sedang apa kemudian telepon terputus.
Nala masih ingat dengan jelas percakapan mereka semalam.
Tapi Nala tak menduga jika sosoknya datang dan berdiri tak jauh darinya. Menyunggingkan senyuman setelah Ibu membukakan pintu dan terkejut melihat Raskal menjadi tamu pertama yang berkunjung sepagi ini.
"Saya.. mau jemput Nala ke sekolah, Tante.."
Jangankan Nala yang terkejut, Ibu juga Kak Tama sama terkejutnya melihat dan mendengar alasan pemuda itu datang ke rumah.
"Wah, Nala usdha punya tukang ojek rupanya." Sarkas Kak Tama langsung dihadiahi cubitan pedas di pinggangnya oleh sang Adik. Tentu Kak Tama berjingit sambil mengadu ampun. Mengelus pelan pinggangnya setelah Nala puas mengerjai Kakaknya.
Masih terkejut dengan kehadiran Raskal di rumahnya pagi ini, Ibu senantiasa menjamu tamunya dengan baik; mempersilakan Raskal masuk dan mengajak sarapan ebrsama. Kebetulan Ibu membuatkan Nasi Goreng Hongkong pagi ini, menu sarapan kesukaan Kak Tama.
"Jangan sungkan ya, Nak Raskal. Makan yang banyak. Sekalian Ibu buatkan bekal juga buat Nak Raskal. Ibu masak banyak pagi ini." Seperti biasa, Ibu akan sibuk di setiap paginya. Menyiapkan sarapan anak-anak dan kotak bekal penuh dengan gizi.
Walau Ibu menyuruhnya untuk tak sungkan, namun tetap saja Raskal merasa demikian. Raskal bahkan sempat menolak tawaran Ibu untuk dibawakan bekal seperti Nala dan kak Tama. Tapi Ibu bersikeras, tiga kotak bekal sebentar lagi akan disiapkan.
Kak Tama hanya diam memperhatikan Ibu memanjakan tamunya. Lalu melirik adiknya diam tersipu malu dengan kehadiran pujaan hati yang tiba-tiba saja datang.
"Nanti kalian berdua," Kak Tama menunjuka Raskal dan Nala, "Pergi sama aku saja naik mobil."
Kak Tama melihat Raskal menggunakan sepeda motor ke rumah. Motornya cukup tinggi dan Kak Tama khawatir jika Raskal membawa Nala menggunakan motor tersebut.
"Motornya titip di sini aja. Nanti pas kalian pulang, aku jemput lagi."
"Aku bisa bawa motor kok, Kak." Tukas Raskal datar, nadanya sedikit ketus. Merasa tersinggung karena Kak Tama menganggap bahwa Raskal tidak bisa menggunakan sepeda motor.
"Kalian masih sekolah, dan kamu," Kak Tama menunjuk Raskal, "Kamu pasti belum punya SIM. Jadi berangkatnya naik mobil aja."
"Aku tau jalan yang aman untuk dilalui." Tukas Raskal lagi. Nasi Gorengnya sudah Raskal habiskan.
"Tapi tetap aja kurang aman, polisi sewaktu-waktu Razia di jalanan."
"Tapi.."
"Kak Tama.." Nala memotong pembicaraan Kak Tama.
"Aku pergi sama Raskal aja naik motor Raskal. Nggak apa-apa kok Kak. Nanti pas pulangnya takut Raskal susah mau pulang, harus ke rumah dulu baru bisa diambil motornya. Lagian akses jalan hari ini harusnya nggak ada polisi. Jadi harusnya nggak masalah."
Penjelasan Nala membuat Kak Tama bungkan sejenak. Matanya tertuju pada adiknya dan Raskal bergantian. Dan pada akhirnya Kak Tama menghela napas, ia tak memiliki alasan lagi untuk melarang Raskal dan Nala pergi bersama.
Tujuan Kak Tama memisahkan mereka bukan karena alasan keselamatannya saja, hanya saja, Kak Tama masih kurang menyukai atensi pemuda itu terhadap adiknya.
Di mata Kak Tama, Raskal itu sangat kaku. Ditambah minimnya informasi mengenai sosok pemuda itu yang diketahui Kak Tama membuat Kak Tama merasa was-was.
__ADS_1
Sampai saat ini, informasi akan sosok di depannya saat ini seakan sulit diketahuinya dengan mudah. Ibarat film mafia yang sering Kak Tama tonton, dunia Raskal seakan sedang dilindungi sampai rakyat jelata seperti dirinya tak sedikitpun bisa mengetahui tentangnya selain ia bersekolah dan sekelas dengan Nala.
Apa Kak Tama harus menyewa detektif terkenal?
"Hati-hati ya Nak Raskal bawa motornya." Sahut Ibu mengingatkan. "Bekalnya jangan lupa dimakan."
Raskal hanya mengangguk dan mempersilakan Nala untuk naik ke jok belakang. Nala mengambil posisi dan berpamitan pada Ibu dan Kak Tama sambil menggunakan helm yang dibawakan Raskal.
Raskal melaju motornya. Tidak begitu cepat, tapi tidak juga lambat. Kecepatannya sedang, sehingga Nala bisa menikmati udara pagi yang menyejukkan di sekelilingnya.
Kicauan burung juga terdengar dibalik gemuruh angin menyapa. Nala seperti bukan tinggal di pinggiran kota, yang berisik oleh padatnya kendaraan.
Raskal pun demikian, ia menikmati laju motornya dengan baik seiiring dengan debaran jantung yang tak henti mengganggu Raskal sejak Raskal menginjakkan kaki di halaman rumah Nala.
Selama di perjalanan, baik Nala dan Raskal belum berniat memecahkan kebisingan dengan oborlan ringan di pagi hari. Membiarkan debaran di antara keduanya mengisi satu sama lain. Suasana seakan mendukung mereka untuk menikmati betapa pagi ini terasa indah dan mendebarkan. Tak ada yang tahu semburat semu menghiasi wajah satu sama lain.
Rasanya tidak ingin cepat-cepat tiba di sekolah. Alasannya hanya satu, sama-sama ingin bersama di banyak waktu yang mereka miliki. Tak memikirkan keterlambatan mereka di sekolah dan dihukum guru piket. Pokoknya mereka ingin terus seperti ini, walau tak ada sahutan atau obrolan ringan yang melanda.
Diam dan menikmati waktu dengan cerahnya mentari yang mendukung, Nala dan Raskal diam-diam tersenyum dibalik helm yang dikenakan.
...-0- ...
Kelas langsung saja ramai setelah bel jam pelajaran berakhir. Menunggu pelajaran berikutnya, Raskal menoleh ke belakang, melihat Nala sedang menulis sesuatu di bukunya.
Waktunya Raskal menghampiri Nala ke mejanya.
"Nala, nanti makan di kantin?"
Nala gelagapan sambil melirik Santa. "Kan ada bekal dari Ibu.."
"Iya.. maksudku.. kita makan bekal Ibu di mana?"
Nala meneguk ludahnya gugup. "Di.. kantin.."
"Baiklah.."
Raskal berbalik dan kembali ke mejanya. Nala mengerjap bingung menatap punggu Raskal dan juga Jian di depan sana. Barusan Nala mengajaknya makan di kantin. Bahaya! Seharusnya Nala bilangnya di kelas saja. Tapi sudah terlanjur dan Nala malu mengatakannya lagi.
Jian sempat melihat interaksi Raskal dan Nala di belakang sana. Lalu sedang berbisik sesuatu sambil melirik ke arah Nala.
Begitu pun Santa di sampingnya. Gadis itu berbisik pada Nala, meminta penjelasan secara terperinci dan tidak boleh ada satu pun yang terlewatkan.
"Tadi.. Raskal.. ke rumah.."
Santa tidak bisa menahan diri untuk tidak menganga. Jian juga tampak menggeleng kepalanya, tampak tidak percaya dengan apa yang dikatakan Raskal di depan sana.
"Terus?" tanya Santa menuntut.
"Raskal jemput aku, terus Ibu kasih bekal juga buat Raskal."
__ADS_1
Mulut Santa semakin menganga.
"Kemajuan pesat." Santa menepuk bahu Nala, seolah ia bangga karena Nala baru saja memenangkan olimpiade kejuaraan nasional.
Nala hanya diam sambil menikmati debaran di dada. Nala tersipu. Dan wajahnya semakin merah dan menunduk ketika tatapannya tertangkap Raskal. Tak sadar kalau Raskal terang-terangan menoleh ke arahnya sampai Jian ikut menoleh ke arahnya.
Nala bingung tak tahu harus apa selain menunduk dan menunggu Raskal dan Jian tak lagi memperhatikannya.
...-0- ...
Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa jam istirahat tiba. Nala langsung mengeluarkan kotak bekalnya. Dan ia kembali terkejut dengan kehadiran Raskal yang sudah berdiri di dekatnya sambil menenteng kotak bekal.
Nala dan Raskal bersama-sama ke kantin untuk menikmati bekal mereka. Jian dan Santa mengikuti mereka di kantin, mengambil posisi tak jauh dari dua insan itu.
Nala dan Raskal sama-sama membuka kotak bekal mereka, isinya sama; nasi goreng hongkong dengan potongan katsu. Meski dingin, penampilannya masih terlihat menggiurkan.
Menyuap beberapa sendok, Raskal memuji masakan Ibu Nala. Nasi Gorengnya masih sangat enak walau tidak sehangat tadi pagi.
"Enak sekali." Puji Raskal tanpa menoleh sedikit pun. Nala menoleh dan mengangguk. Ia berbisik mengucapkan terima kasih lalu menyantap nasi goreng miliknya.
"Senang kalau kamu suka.." bisiknya disela kunyahannya.
"Iya.. apalagi makan sama kamu.. tambah suka.."
Hampir saja Nala tersedak nasi gorengnya sendiri. Buru-buru Nala minum air dari botolnya.
Hiruk-pikuk kantin tak mengganggu kecanggungan Nala. justru ia semakin gelisah. Banyaknya pasang mata melihat dirinya sedang makan bersama Raskal. Berbeda dengan Raskal yang merasa tak terganggu dengan tatapan itu, ia justru sibuk melahap nasi gorengnya sampai tidak ada satu butir nasi pun tersisa di sana dan meneguk minumannya cepat.
Beruntung niatnya Raskal menjemput Nala terealisasikan. Bukan karena mendapat bekal makan siang saja, intensitas dirinya dengan Nala bisa dibilang berkembang dengan lancar. Ia mulai bisa dan berani dengan tindakan kecil yang ia lakukan saat ini, menjemput Nala ke rumah dan mengajaknya makan bekal bersama di kantin.
Rasanya sangat menyenangkan. Dan Raskal tidak menyangkan hal ini ia dapatkan dari sosok yang tak terduga sebelumnya.
Kanala Gianni—Raskal memantapkan niatnya lagi bersama gadis manis itu.
Raskal menoleh, melihat Nala masih sibuk menghabiskan nasi gorengnya. Makannya cukup pelan, menyendok nasi itu ke dalam mulut dan memastikan bahwa tidak ada tersisa satu bulir nasi di sana. Lalu Nala meneguk minumannya pelan-pelan.
Tatapan mereka bertemu. Seperdemikian detik mereka menikmati intensitas netra yang berpancar akan rasa haru biru di sana. Seakan mereka saling menerawang dan menjelajahi satu sama lain, mencari sesuatu yang dapat mereka temukan dan mereka rasakan bersama-sama.
"Nala.." bisik Raskal membuat Nala mengerjap pelan. Bulu mata Nala bergerak lembut seperti kepakan sayap burung merpati. Cantik. Raskal mengaguminya.
Keinginannya semakin bulat untuk direalisasikan.
"Kalau kamu nggak keberatan.."
Mendadak suasana semakin canggung. Kata demi kata yang Raskal lantunkan seakan menarik Nala ke dalam dasar kesadaran yang harus Nala saksikan. Debarannya kian menggila hingga kepala Nala pening. Tapi Nala harus bersikap biasa saja agar ia mendengar apa yang akan dikatakan Raskal.
Dan hanya dengan sebuah kalimat yang terdengar, Nala seakan terbang oleh gumpalan awan merah muda yang mengantarkannya pada sebuah tempat yang sangat tinggi dan indah.
"Aku mau ijin dekati kamu. Boleh?"
__ADS_1