
Fajar menepati janjinya untuk mengantarkan Nala ke rumah dengan selamat. Setelah itu Fajar langsung pamit pulang dan meningglakan Nala yang masih menatap kepergian Fajar dengan sepeda motornya.
Hari sudah sore, tapi semburat senja dihalangi awan gelap. Hujan sebentar lagi turun. Namun Nala masih setia memandang awan gelap itu, seakan awan itu mencerminkan hati Nala yang mendung sedari tadi.
Melihat kepergian Raskal dan Lea pulang bersama hanya bisa memendam kekesalan Nala dalam benaknya. Ia iri, cemburu, seharusnya Raskal lah yang mengantarkannya pulang seperti yang dijanjika pemuda itu. Bukan Fajar.
Nala tidak berhak mengatur apapun. Jangankan berarti, Nala bukan apa-apa, dan bukan siapa-siapa di mata Raskal.
...-0-...
Raskal duduk dan menunggu Lea diperiksa oleh Dokter di ruangan. Matanya melirik cara kerja Dokter itu terhadap Lea. Lea berbaring dan membiarkan Dokter memeriksa perutnya. Lea didiagnosa lambung akut dan diperkenankan untuk banyak beristirahat.
Dibalik keterdiaman Raskal di dekat meja kerja Dokter, Raskal memikirkan Nala. Ia merasa tidak enak. Pikirannya terganggu dengan reaksi Nala tadi ketika Raskal membatalkan niatnya untuk pulang bersama dan meminta Fajar mengantarkan Nala pulang.
Nala tersenyum apda saat itu dan membiarkan Raskal pergi bersama Lea.
Dan itu membuat Raskal tak nyaman di sini. Hingga Raskal sampai tidak begitu mendengar bagaimana Dokter menjelaskan kondisi Lea padanya. Raskal hanya tahu Lea kena lambung akut dan diminta untuk beristirahat dan menjaga pola makannya.
"Raskal, kamu melamun." Lamunan Raskal buyar, kesadarannya baru saja menghinggap dan mendapati dirinya berada di loket administrasi. Lea baru saja menebus obatnya.
"Maaf ya Raskal, aku sudah meerepotkanmu." Ucap Lea menatap Raskal. "Setelah ini akan aku traktir makan. Sebut saja kamu mau makan apa, akan aku belikan."
Raskal menggeleng. "Tidak, terima kasih. Aku langsung antarkan kamu pulang."
Raskal menarik tasnya ke punggung dan mulai memapah Lea lagi. Namun Lea menolak, ia sudah bisa jalan sendiri setelah meminum obat sebelum makan.
"Apa yang kamu pikirkan? Ayahmu dan kakakmu berada di rumah?" sekilas Lea tau keadaan keluarga Raskal.
Bisa dikatakan, nasib Lea dan Raskal sama. Lea lahir dari keluarga berada tanpa seorang Ibu. Ibunya telah tiada sejak Lea kecil dan meninggalkan Ayah dan kakak laki-lakinya. Tapi Ayah Lea terlalu sibuk bekerja sampai Lea jarang merasakan kasih sayang Ayahnya. Kakaknya pun juga sama, bolak balik ke luar negri dan hanya bisa bertemu Lea sebulan sekali.
Bedanya Ayah dan kakak Lea masih berusaha meluangkan waktu dan menyayangi Lea. Sementara Raskal—ia saja tidak tahu Ayahnya tinggal di mana selama ini.
Raskal pun juga tidak berniat mencari tahu.
"Kalau begitu, mau mampir ke rumah ku saja? Kebetulan kemarin kakakku pulang dan membawa banyak oleh-oleh dari Singapur. Aku belum membawakannya untukmu, jadi nanti sekalian saja ya aku kasihnya."
Ujaran Lea tak digubris Raskal, lebih tepatnya Raskal tidak mendengarnya. Raskal terlalu memikirkan Nala. Ingin buru-buru antarkan Lea pulang supaya Raskal bisa menghubungi Nala secepat mungkin.
Raskal memarkirkan motornya ke pekarangan rumah Lea. Rumah Lea sangat besar, melebihi rumah tinggal Raskal. Pekarangannya juga luas dipenuhi tanaman bunga hias.
__ADS_1
Lea turun dari motor dengan hati-hati. Raskal mengulurkan tangan agar memudahkan Lea turun.
"Masuk yuk, Raskal. Aku mau kasih oleh-olehnya."
Raskal langsung menggeleng. Ia hanya ingin segera pulang. "Nggak usah. Aku nggak mau ngerepotin."
"Kamu nggak merepotkan aku," Lea menarik uluran tangan Raskal supaya Raskal mau masuk ke rumahnya. "Masuk saja sebentar. Perutku juga masih sakit, aku mohon."
Terpaksa Raskal turun dari motor dan membairkan lengannya dipeluk Lea sampai mereka menuju pintu. Banyak maid berhambur dari arah samping menuju pintu lalu begitu sigap membukakan pintu untuk tuan rumahnya.
"Ayo Raskal, masuk dulu aja. Maid ku kayaknya baru selesai masak makanan malam. Kita makan malam dulu aja ya."
Lagi-lagi Raskal menggeleng dan perlahan menarik lengannya dari pelukan Lea. "Terima kasih. Aku harus pulang."
"Tapi di rumah ada Ayah dan Kak Sandi 'kan?"
"Kata siapa?" dahi Raskal berkerut. Tidak nyaman dengan pembahasan Lea yang tiba-tiba menyebut mereka. "Aku pulang."
Lea langsung menarik lengan Raskal lagi. Merasa bersalah karena membahas Ayah dan Kak Sandi. Hal itu begitu sensitif dan Lea tahu Raskal jadi tidak nyaman.
"Maafkan aku. Aku kira kamu diam saja karena di rumah ada—baik, sudahlah. Jangan marah padaku, Raskal." Cicit Lea hanya diangguki singkat.
Motor langsung dinyalakan dan melesat jauh. Ia harus pulang dan menjalankan niatnya diawal.
...-0- ...
Malam ini makanan yang disantap Nala mendadak hambar. Padahal Ibu memasakan cumi asin dan cah kangkung kesukaan Nala.
Kak Tama yang tidak henti memerhatikan keanehan adiknya menghela napas dan menyelesaikan makannya.
"Kak Tama udah selesai makannya? Mau tambah nggak nak?" tawar Ibu lalu Kak Tama menggeleng.
"Kamu kenapa dek?" Kak Tama langsung bertanya tanpa aba-aba. Nala terkejut dari lamunannya lalu menggeleng.
"Hah.. nggak.." sahut Nala.
"Kok makanannya nggak dihabisin. Cumi sama kangkung 'kan kesukaanmu. Mana pernah kamu nggak habisin makananselain kamu lagi sakit."
"Hah.. nggak.." Nala menggeleng lagi lalu melanjutkan santapannya. "Ini Nala makan kok Kak. Kakak aja yang makannya cepat banget."
__ADS_1
Kini Kak Tama yang menggeleng. Tak habis pikir dengan keanehan adiknya.
Setelah Nala menyelesaikan makan malamnya, Nala bertugas mencuci piring malam ini lalu menuju kamar. Seingatnya ada tugas yang harus dikerjakan dan dikumpulkan besok. Namun Nala lupa halaman berapa tugasnya.
Nala mengambil ponselnya di meja nakas dan menghubungi Santa. Baru saja mencari kontak Santa, nama Raskal langsung muncul dan ponsel Nala berdering hingga Nala terlonjak. Hampir saja ponselnya tidak terjatuh.
Raskal menelepon Nala, ada apa ya? Nala bertanya-tanya. Apa ia juga sedang menanyakan tugas seperti dirinya? Atau membahas tugas kesenian mereka tadi siang?
Namun jauh dari itu, Nala dilanda kegugupan. Duh! Nala suka pusing sendiri sama dirinya sendiri kapan kegugupannya berakhir jika menyangkut Raskal? Kalau kayak gini terus, lama lama Raskal bisa risih. Nala tidak mau itu.
Sebelum merespon, Nala menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Sebisa mungkin Nala tidak tergagap atau apapun yang dapat mempermalukan dirinya di hadapan Raskal.
"Halo.." sapa Nala di sana.
"Nala.."
"I..iya.." Nala merutuk diri.
"Nala, lagi apa?"
"Hmm.. hmm.." Nala tergagap lagi. Nala menghela napas, lalu menghembuskannya perlahan. Ia lakukan sebanyak tiga kali. "Ada apa, Kal?"
Raskal tak menyahut.
"Raskal? Halo.."
"Raskal.. Raskal.. Haloo.. Haloo.. Raskal masih di sana?"
Sambungan putus sepihak. Nala menatap ponselnya heran sambil menggaruk kepala. Nala jadi bingung ada apa dengan Raskal. Mencoba telepon ulang tapi hanya nada sambung. Tak Raskal respon.
Akhirnya Nala menyerah dan menghubungi Santa soal tugas yang harus dikerjakan malam. Sekaligus Nala ingin mencurahkan kekesalan dan kebingungan karena satu oknum yang sama.
Sementara itu, Raskal sedang menarik napas dan menghembuskan napasnya. Sekarang Raskal yang hilang akal, gugup, bingung menjadi satu. Ia hanya ingin meminta maaf dan mengajak Nala berangkat bersama besok.
Namun nyalinya tiba-tiba saja disaat ia mendengar hembusan napas yang terdengar merdu dan santun. Deru Nala mengantarkan gejolak aneh seperti ledakan yang melatup-latup di dadanya hingga ke kepala. Raskal pusing dengan gejolak yang dirasakan. Menyenangkan.
Saking menyenangkan, Raskal tak sanggup mendengar suara lembut Nala di sembrang sana hingga Raskal terpaksa memutuskan telepon dan menghambur ke tempat tidur. Merasakan debaran di dada yang tak tenang. Bergemuruh. Seolah jantungnya ingin lepas dari singgah sananya.
Ini tidak baik. Maka Raskal segera tidur supaya debarannya normal dan Raskal bisa bangun lebih pagi lalu menjemput Nala ke rumah.
__ADS_1
Besok pagi tidak boleh gagal lagi.