Secret High School Wedding

Secret High School Wedding
Chapter 18


__ADS_3

Wana, kini telah sampai di sekolah hari ini dia berangkat sendiri. Sebenarnya dafri tidak mengizinkanya. Karna wana meminta dia janji akan naik mobil dan tidak naik motor dafri baru mengizinkanya. Sementara dafri berangkat kesekolah menggunakan motornya.


Wana,kini telah sampai di sekolah, dia langsung turun dari mobil dan berjalan menjuh kelasnya. Saat sampai di keals wana di buat bingung oleh siswa perempuan yang duduk di bangkunya dan tengah sibuk bermain ponsel.


'Siapa dia?' Batin wana bertanya-tanya.


"Permisih" ucap wana saat sudah di depan mejanya.


Gadis itu mendonga menatap irwana "iyah?"


"Gue mau duduk" ucap wana lagi.


Terlihat, alis gadis itu terangkat, "mau duduk yah, yah duduk aja" ucapnya.


"Tapi Yang Lo Duduki tempat duduk gue" ucap wana.


"Tapi kemaring gue di suruh ibu guri duduk disini" sanggahanya.


"Why?"


Wana menghelang nafas panjang, pasti wanita yang menepati kursinya pasti anak baru. Dan keamarin selepas jam istirahat dia ngga masuk jadilah tempatnya di ambil ahli sekarang.


Wana berlalu keluar dari sana tanpa sepata kata lagi, gadis itu tersenyum miring menatap kepergian wana. 'Gue ngga akan kalah sama Lo'


Sembari menunggu bel tanda jam pelajaran berbunyi, wana memutuskan untuk ke kanting saja. Dia benar-benar sangat bosan karena tidak ada kedua sahabatnya. Alice sedang ke luar negri bersama keluarganya untuk acara pernikahan sepupunya sedangkan via sedang sakit di bogor.


"Vi...rasanya gue mau ke bogor jenguk lo deh"


Sebenarnya tadi wana bisa merebut dengan paksa tempat duduknya tadi. Namun pagi ini rasanya wana malas berdebat. Dia pun perlu asupan lagi saat ini sarapan roti bakar tadi tidak membuatnya kenyang.


Di koridor wana melihat dafri berjalan di ujung sana. Biasa dengan waja datar laki-laki itu. Dengan langka antusias, melangka lebih cepat dan sedikit berlari.


"Dafri?" Teriakanya, suara melengking wana memanggil nama dafri itu tentu menjadii pusat perhatian sisawa yang berada di sekitaran sana. Semenjak putusnya Airin dan dafri, desas desus berita berpacarnya mereka semakin ramai. Apalagi beberapa waktu belakangan ini dafri dan wana sering berangkat bersama kesekolah.


Sebenarnya wana tidak tahu siapa itu airin.


Dafri diam saja akan gadis yang berlari di depanya. Dia sangat tahu apa tujuan dari wanita itu.


Tanpa banyak tanya di depan dafri wana langsung memgulurkan tanganya kearah dafri.


Begitupun dafri langsung mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan dua lembar uang berwana merah mudah itu. "Buat seminggu!" Ucap dafri langsung meningglkana wana yang masih tercengang.


Tapi tak bertahan lama, "Bakso mang ujang I'm coming" girang wana dia pun langsung berlari kearah kantin sana.

__ADS_1


Tak apa jika, dafri tidak memberinnya uang lagi seminggu kedepan. Wana akan terus memaksa Laki-laki itu untuk memberinya uang. Karan mama Nadia tidak akan memberinya uang lain semua di serahkan tanggu jawab dirinya pada dafri.


Wana menikmati baksonya di meja biasa ia duduki.


Dritttt


Di tengah-tengah nikmatnya memakan bakso lavanya itu, ponsel wana yang berada dj atas meja bergetar, ternyata panggilan dari mominya.


"Yes mom?" Tanya wana sembari mendesah menahan pedas.


"Kamu kenapa wana?"


"Wana makan bakso kepedasan mom"jawab wana.


"Owh...kirain,wana jangan makan pedas lagi nanti kau sakit lagi sayang" ucap mom nandia yang sangat khawatir.mom nadia takut jika terjadi masalah pada lambung wana lagi.


"Tapi nanggung mom" ucap wana.


"Wana..?"


"Oky..oky..."


"Bagus, otu baru gadis momi, kamu baikan sama dafri disana?" Tanya mom nadia.


"Belum tahu sayang,mungkin beberapa bulang kedepan. Ini tergantung dari kerja papi " jelas nadia.


"Baiklah, mom. Mami sama papi baek-baek disana yah. Wana sayang kalian" ucap wana yang mulai memasang wajah sedih.


"Iyah sayang, kamu juga jaga diri disana. Nurut sama suami dan ngga boleh ngebantah"


"Baiklah mom"


Wana memutusakan panggilan telponnya dan kembali meletakan ponsrnya di meja. Dia melirik jam tanganmya dan masih ada 5 menit sebelum bel berbunyi.


Dengan segera wana mengahabisakan bakso nya,walau dia hampir menangis karna menahan pedasnya. Tetapi wana sanagat menikmatinya.


Setelah makanan dan minumanya habis, dia segera memabyarnya pada mang ujang. Tepat setelah itu bel masuk pun berbunyi . Dengan langka cepat wana langsung menujuh ke kelasnya. Sebenarnya wana sangat tidak mood masuk karean tidaka ada teman-temanya. Dan satu hal juga yang ingin di lakukan wana adalah merebut kursinya kembali.


Pas wana beruntung, kalia ini dia bepapasan dengan ibu intan yang akan mengajar di kelasnya.


"Kenapa kamu masih disini, bel sudah berbunyi sedari tadi" ucap ibu inta yang mengekor di belakanya.


"Saya sudah sedari tadi masuk keals ibu, cuman kursi saya di tempati oleh siswa baru dan dia tidak mau menyerahakan kursi saya. Jadi saya lagi numggu mama.

__ADS_1


"Meamang ngga ada kursi lain yang kosong?" Tanya bu intan.


Wana menggeleng "udah kaga ada ibu" jawab wana.


"Baikalah" wana pun berjalan mengikuti ibu intan.


Saat masuk kelas, semua murid meantapnya bingung wana, berada di belakangan ibu intan. Dengan senyum manis-manis yang di bauat-buat, wana melambai-lambai dengan anggukan tingkat 1.


"Kenalkan nama saya teh wana" ucap wana memperagakan jika siswa baru masuk kelas, seketika semua orang yang ada di keals tertawa dengan perintah konyol wana.


Ibu intan melotot akan tingkat anak murid di sampingnya, "dimaba kelasmu nak" tanya ibu intan.


Bapak guru itu terlihat  berpikir sebenatar. Ibu intan pun menelpon seseorang  entah apa yang guru kiler itu bicarakan. Namun tak sampai 5 menit kemudian meja dan kursi datang.


"Letakan saja di samping situ" ucap ibu intan pada murid yang membantu mengakat meja dan kursi


"Silahkan Irwana Duduk di kursimu" ucap ibu intan.


Wanapun berjalan menujuh kursinya yang semula duduk di samping vivin. "permisi gue disuruh duduk di sini" ucap wana pada gadi yang terlihat lugu.


"Bukan Lo duduk di kursi itu?" tujuknya pada kursi yang di depan sana.


"tadi Lo ngga dengar?tadi gue di suruh duduk di kursi gue sendiri" teriak wana yang mulai kesal.


"Irwana Kenpa kau masih berdiri di situ"


"iya ibu? Kan ibu tadi yang nyuruh saya sendiri, yah disinilah pak kursi saya" jelas wana.


ibu inta berjalan mendekat "nama kamu siapa?" tanyanya pada murid baru berkacama itu.


"Airin pak" sahutnya dengan senyum simpul.


Di samping, sebelah sudut bibir nara Terangkat, Munafik.


"kamu silahkan duduk kedepanbsaja yah" pinta ibu intan.


Airin pun memasang wajah memalasnya, "saya disini saja pak, saya suka pusing kalau di depan pak. Dekat sekali dengan papa tulis"kilahnya.


ibu inta menghelang nafasnya."wana, kamu duduk di depan sana saja" putus ibu inta akhirnya.


"Tapi bu...."


"wana, biar pelajaran segerah di mulai"

__ADS_1


__ADS_2