
Dengan wajah datar menahan kesal, wana pun berjalan menuju meja depan sana, meletekan dengan kasar.
Tanpa mereka sadari airin tersenyum miiring saat ini. Ibu intan memabagikan soal ulangan, karena dari minggu lalu ibu intan sudah menginfokan akan mengadakan ulangan.
Wana mulai memperhatikan kertas yang berada di tanganya itu. Dia mualai memikirkan jawaban-jawab yang tepat di kertas tersebut. Sedetik kemudian dia tersenyum. Ini soal yang dia pelajari dengan dafri tempo hari.
Tanpa banyak berpikir ,wana langsung memgerjakan soal-soal itu dengan tenang. Baru kali ini rasanya wana mengerjaakan ulangan dengan serius biasanya dia akan menatap soal itu dan mengerjakanya dengan insting semata saja. Atau tidak dia akan meniru jawaban Alice dan Via. Wana memang pintar namun sdia hanya malas saja.
"Baik anak-anak waktu kalian tinggal beberapa menit lagi sebelum bel berbunyi"
Tepat setelah ibu intan mengucapkan itu. Wana mengangkat tanganya menandakan kalau dia sudah selesai.
"Kamu yankin Irwana?" Tanya ibu intan.
"Sangat yakinlah bu" sahutnya dengan lantang.
"Tidak mau di perikasa lagi? Masih ada waktu ini"
Wana menggeleng,"malas deh bu, gue laper nih"
"Baiklah berikan kertasnya"
Wanapun menyerahakan kertas itu dengan percaya diri hal itu mendapatkan cibiran tidak suka oleh loli.
"Palingan juga ngasal" gumamnya.
"Iri bilang Bos"
Beberapa menit kemudian, suara bel tanda usainya pembelajaran berbunyi nyaring di pejuru sekolah. Namun respon para murid berbeda. Tidak seantusias biasanya. Keabanyakan dari mereka frustasi karna belum menyelesaikan tugas ulanganya. Padahala ini bukanlah ujian semester.
Setelah ibu intan keluar dengan memvawah tumpukan kertas di tanganya.
☆☆☆
"Wana?" Panggil seseorang.
Wana mengedarkan pandanganya mencari seseorang yang memanggilnya. Bertapa terkejutnya dia melihat siapa yang baru saja keluar dari ruan guru..
"Via...."wana langsung berlari dan memeluk via.
"Vi...aku merindukamu" wana mempererat pelukanya, sampai air menetes sangking rinduhnya pada Via.
"Gue juga rindu banget" ucap via membalas pelukanya sahabatnya.
Suasana kantin siang ini penuh dengan ricuan keluh kesah tentang ulangan yang baru saja mereka hadapi.
Tak terkecuali dimeja dafri dan kawan-kawan saat ini.
__ADS_1
"Gila kepala gue hampir meledak tadi mikir rumus-rumus yang luar biasa ngga masuk akal itu, mana gue lagi ngga baca buku, ini juga guru langsung ngasih ulangan dadakan" seru Ferry sembari menikmatimie ayamnya itu.
"Bukanya Lo belajar tadi malam?" Tanya Niko.
"Belajar?" Fary hanya memasang wajah bingunya.
Mata niko menyepit, meanatap fery curiga "semalam gue ngajak Lo keluar dan lo ngejawab ngga bisa karena ingin belajar"
Fery menepuk jidatnya pelan, dia cengengesan sembari menatap malas niko, "gue Jemput Semalam Via"
"Dih..kenapa lo harus bohong bambang"
"Biar gue dikira rajin" jawab fery mengedikkan bahunya tidak peduli.
"Kapan lo jadian?" Tanya niko.
"Sebelum via berangkat ke jogja"
Dafri hanya menyimak saja pembicaraan kedua sahabatnya semabri menikmati nasi gorengnya, dai tidak cukup tertarik ikut bergabung.
"Eh..itu wana sama via, suruh gabung sini aja" ucap niko dengan semangat.
Belum sempat mendengar pendapat kedua sahabatnya, niko sudah lebih dulu berteriak memanggil wana dan via yang baru masuk ke kantin itu.
Hal itu tentu mengundang seisi kanti. Apalagi ada seorang Dafri Alaska Permana dan Fery Adrian Wijaya di meja itu. Tapi sebagian dari mereka tidak heran lagi. Dimana ada dafri disitu kemunkinan ajmda juga wana menurut pengamatan mereka walaupun tidak setiap saat.
Wana dan alice menatap bingung niko yang memanggil nama mereka dan melambai-lambai menyuruh mereka kasana.
"Gimana ni Wan?kesana aja?"Tanya via pada Wana yang ada di sampingnya.
Wana mengedarkan pandanga kesekitar kantin "yaudah lah, lagian ngga da bangku kosong lagi"
Via mengangguk, merekapun menuju ke tempat mang ujang untuk memesan bakso "mang ujang mau bakso yang ke tadi pagi yah"
"Siap atuh neng"
"Via mau yang itu yah mang" ucap Via.
"Yang mana itu neng via, bakso yang ini?" Tanya mang ujang.
Via mengangguk, "iyah mang via mau itu"
"Siap atuh neng"
Sembari menunggu bakso pesana mereka, tidak lupa mereka membeli jus buah untuk minumanya. Wana memesan jus mangga kesukaanya sedangkan via memesan jus alpukado.
Setelah selesai mereka segera menuju ke meja para lelakai tampan itu di pojok kantin. Dan bersamaan dengan bakso yang di antar mang ujang.
__ADS_1
"Makasi yah mang" ucap wana dan via.
"Siap neng gelis"
Melihat mangkok di hadapan wana. Diam-diam dafri menatap tajam gadis itu Apa tidak salah? Minggu lalu gadis itu baru saja sakit perit sampai masuk rumah sakit dan tidak masuk kelas. Dan sekarang malah makan bakso dengan cabe penuh seperti itu.
"Gila Lo wan...cabe banyak bingittt" ucap niko bergidi ngerih.
"Mau?" Tawar wana.
Niko menggeleng dengan cepat "kaga deh gue, bisa mati kepedasan"
Baru saja wana ingin membelah bakso nya tiba-tiba saja mangkok baksonya di tarik, siapa lagi pelakunya kalau bukan dafri.
"Apa sih Dafri?" Tanya wana tidak terima Dia sudah ngiler sejak tadi akan bako itu. Satu bakso berukuran besar tadi pagi tidak membuatnya puas.
"Jangan makan ini" tekan dafri.
Wana menganga akan seruan laki-laki yang ada di hadapanya itu. "Makasud Lo apa?"
"Mang" bukanya menjawab dafri malah memanggil mang ujang.
"Iya aden?" Tanya mang ujang.
"Pesan satu bakso lagi yang tidak pedas, baksonya seperti bakso milik via yah mang."
"Siap aden" mang ujang segera kembali untuk membuat pesana bakso milik dafri.
"Dafri balikin bakso gue dong" jerit wana, yang mencoba merebut mangkok baksonya yang di tarik oleh dafri.
"Apa Lo ngga mikir kesehatan Lo?" Tanya dafri dengan suara di tekan.
Wana terdiam, perlahan tarikanya akan baksonya melemah.
"Lo minggu lalu masuk rumah sakit, karna makan yang pedas dan sampai tidak masuk sekolah dan sekarang Lo mau makan Lautan Cabai ini?"
Mendengar itu wana langsung terdiam, yah..memang benar minggu lalu dia masuk rumah sakit gara-gara makan Nasi goreng super pedas. Dia sampai di rawat di rumah sakit selama beberapa hari.
Wana menghelang nafas panjang secara perlahan. Hal itu bertepan dengan mang ujang membawah bakso pesanan Dafri.
"Taro di depan wana, itu punya wana mang" ucap Dafri.
"Terus bakso Lava Itu siapa yang makan?" Tanya wana.
"Biar gue yang makan, dan Lo jangan Coba-Coba makan. Makanan yang pedas Lagi" tegas Dafri.
Hai teman-teamn ku yang baik, jangan lupa dukung karya author yah.tinggalkan jejak yah I LoVe You😘
__ADS_1