
Malam Harinya Dafri duduk di balkon semabri memainkan gitar untuk menenangkan diri. Langin malam yang di penuhi bintang, hembusan angin sepoi-sepoi yang menerpa kulit, dan suara ombak pantai yang menabrak batu karang.
Rumah Dafri Terletak Di Area pantai jahu dari perkotaan yang ramai, sebenarnya dia juga memiliki rumah di kota namun karena suasana kota yang ramai orang tuanya memutuskan membangun rumah di sebuah kompleks perumahan dekat pantai yang terdiri dari rumah-ruamh elit.
Ting...(suara notofikasi ponsel)
"Rani?"
Dafri melihat nama rani dilayar ponselnya yang berbunyi pesan dari rani.
"Ngapain?" Tanya Dafri pada dirinya sendiri.
Tampa niat membalas Dafri membiarkan begitu saja tanpa membalas pesan dari rani.
☆☆☆
"Tembak-tembak!!" Wana asik bermain game dikamarnya, "ah astaga, ko tim gue Goblok banget sih!" Umpat Wana.
Clek...
"ASTAGAFILLAH...IRWANA KAMU BELUM TIDUR SEKARANG SUDAH JAM 11 BESOK KAMU TERLAMABAT LAGI KE SEKOLAHANYA" Teriak mami Nadia.
"Iya..mi, Wana tidur sekarang" dengan terpaksa gadis itu kelaur game. Yang paling wana takuti adalah kemarahan maminya,lebih baik menurut agar selamat.
Mami Nadia mematikan lampu kamar Wana dan penutup pintu lalu kembali memeriksa dapur.
Pagi hari ini Wana Tidak terlamabat kesekolah, karna tadi pagi mami Nadia membangunkan dirinya. Padahal dia masih sangat mengantuk.
Wana langsung mendudukan dirinya di bangku taman, dia seperti seseorang yang tidak berdaya.
"Eh..ini Wana?, Tumben Lo datang pagi banget" Tanya Alice langsung duduk di samping Wana.
"Terlambat salah kecepatan juga salah" jawab Wana malas.
Tringgg....Tringgg
Waktunya masuk kelas dan kebetulan pagi adalah pelajaran jasmani dan para gadis-gadis sedang berganti baju.
Waktu wana dan trio onar lewat depan kelas IPA 3 mereka melihat ada rani yang sedang membuang sampah kedelan kelas.
__ADS_1
"Eh...kalian sedang pelajaran jasmani yah?" Tanya rani lembut.
"Iye emang kenapa yah?" Jawab Alice.
"Engga ko semangat yah" wana dan yang lainya hanya tersenyum kecut. Namun dalam hati dia terus mengumpat rani.
'Tumben banget ni si mak lampir lembut banget' batin
Wana dan teman-temanya berjalan menuju kelapangan olaraga.
"Gila itu mak lampir kenya berubah drastis, lembut banget anjritt" ucap alice dan diangguka oleh wana.
"Alah...pasti itu hanya trik supaya bisa dekat dengan Dafri" ucap Via.
"Gila...mengapa mereka semua terpesona sama si beruang kutub menyebalkan itu" ucap wana.
"Kau jadi dafri tidak bakalan gue dekatin, penyihir bekedok putri salju" ucap wana.
"Hari ini kelas gabungan sama kelas sang ketua osis" ucap alice.
"Benarka?" Tanya via.
"Iyah tuh banyak orang kan" alice menujuk orang-orang sekeliling.
"Tankep nih" bukanya ke arah fery bola keluar dan ngenai kepala wana.
"Aduh!" Teriak wana.
"WANA LO GPP KAN?" Teriak Alice dan Via bersamaa.
Namun penglihatan wana mulai gelap dan detik beriknya.
Brukk
Wana jatuh dan tidak sadarkan diri.
Di UKS
"Egg...kepala gue sakit banget" dengan perlahan wana bangun sembari memegangin kepalanya yang terasa berdenyut.
__ADS_1
"Wan..lo udah sadar, gimana keadan lo sekarang?" Tanya Alice khawatir.
"Gue baik-baik aja ko teman-teman, cuman aga pusing doang" ucap wana yang masih memegangi kepalanya yang masih terasa pusing
"Oh iya gaess, yang bawah gue kesini?seingat gue tadi masih di lapangan" Tanya wana heran.
"Dafri yang bawah Lo kesini, dia tadi gendong Lo dari Lapangan samapai kesini" jawab via.
"Wan..Lo tadi sama dafri romantis banget ke di filem-filem korea gitu"ucap alice, sembari membayangakan bagaimana Dafri tadi memggendong Wana.
"Idii biasa aja kali, ngga usah lebay" wana menoyor kepala wana.
Pagi hari...
Jam menujukan pukul 7.20 wana sudah terlambat.
Plakk...
Sepatu wana terlepas dari kakinya dan terlempar dan sepatu itu mendarat dengan sempurna mengenai kepala sang papi.
"Pi, sepertinya dirumah kita ada hantu deh, tiba-tiba saja sepatu wana terlempar" ucap wana dengan cengengesan, padahal tubuh udah mulai panas dingin dan sang papa sudah meremas sepatu sang putri.
"Nadia, jatah uang jajan irwana buat kamu aja untuk beli stok beras"
"Eh..kenapa pi? Stok beras kita masih bayak"
"Bumbu dapur!"
"Banyak sayang"
'Aku mencintai mu mamiku sayang'
"Ikan,ayam daging!"
"Itu masih banyak sayang, kasi saja uang jajanya sama wana itukan miliknya"
Leon mengelang nafas berat dan melempar asalan sepatu anaknya.
Nadia mengalikan pandanganya kearah anakanya yang masih berdiri di tangga.
__ADS_1
"Sayang buruan berangkat sudah siang" ucap nadia lembut.
Dengan segerah wana mengambil sepatunya dan berpamitan dengan orang tuanya dan bergegas menuju sekolahnya.