
"Raka, pagar nya tinggi sekali" Cahya
"Bagaimana ini" Raka
"Tidak ada jalan lain lagi, Seperti nya Aku tidak bisa keluar" Cahya
"Tenang, pasti ada jalan" Raka
"Naiklah ke punggung ku, aku akan menggendong mu" Raka
Cahya naik ke punggung Raka.
"Jangan ngintip" Cahya
"Ia tidak" Raka menutup matanya.
Cahya mengangkat kakinya hingga ia bisa naik ke tembok pagar.
"Buang tas mu ke bawah, setelah itu kau loncat lah" Raka
Cahya membuang tas nya. setelah itu ia akan meloncat
"Tunggu!" Raka
"Ada apa?" Cahya
Raka melepaskan jam tangan nya dan memberikan nya pada Cahya
"Bawa ini, Pastian jika kau tidak terlambat" Raka
Cahya mengambil nya.
"Terimakasih Raka" Cahya
Cahya melompat kebawah.
Cahya mengeluarkan pakaian hitam nya dan memakai cadar agar tidak ada mengenalinya.
"Raka aku jalan dulu" Cahya
"berhati-hatilah" Raka
Cahya melihat ojek yang berhenti dibelakang sekolah.
"Mungkin ini ojek yang di pesan oleh Raka" Cahya
__ADS_1
"Pak, ke bandara?" Cahya
"Neng Cahya?" Ojek
"Iya saya Cahya" Cahya
"Oh iya, ayok" ojek
ojek itu segara melajukan motornya melambung setiap motor dan mobil"
"Ayo pak lebih cepat lagi" Cahya
"Ia-ia" Ojek
tepat jam 08:40 Cahya sampai di bandara.
"Ini sesuai rencana" Cahya
Cahya mengantri untuk penerbangan ke Jakarta.
Cahya memperlihatkan tiket pesawat nya
"Bisa aku duduk di dekat jendela?" Cahya
Setelah di periksa Cahya mendapat kembali tiketnya.
Cahya menunggu beberapa menit diruang tunggu. Setelah itu, ia masuk ke dalam pesawat yang akan di tumpangi nya.
Cahya mencari nomor tempat duduknya.
Didalam pesawat, Cahya menyempatkan dirinya untuk berdoa pada Tuhan nya.
hingga 2 jam pesawat itu terbang. Akhirnya, Sudah akan mendarat di bandara Halim Perdanakusuma Jakarta.
Cahya hanya membawa Satu tas ransel wanita yang berisi sebuah buku harian nya.
Cahya menunggu orang yang sudah disiapkan oleh Rendi untuk menjemput nya di bandara.
"Yang mana ya orang nya" Cahya
Seorang pria berbaju hitam, tubuh besar dan wajah menakutkan mendekati Cahya.
"Cahya?" Ucap orang itu pada Cahya
Cahya hanya hanya menoleh sebentar kemudian berpura-pura tidak tau.
__ADS_1
"saya ditugaskan untuk menjemput anda" ucap orang itu lagi.
"Bohong, jangan main-main dengan ku. aku bisa mematahkan tulang mu" Ucap Cahya dengan suara gemetar.
"Saya orang suruhan Rendi"
"Paman Rendi?" Cahya
"Benar"
"Jika kau berbohong maka ku pastikan kau tidak akan melihat matahari lagi besok" Cahya
"Ya tentu"
Cahya mengikuti orang itu masuk ke dalam mobil.
Disepanjang perjalanan, Cahya melihat kearah jendela. mengeluarkan wajahnya dan menghirup udara kota.
Dan mobil itu berhenti didepan sebuah gedung yang menjulang tinggi.
Cahya dan pria itu masuk ke dalam. Dan menaiki lift untuk sampai ke atas.
Cahya dan pria itu masuk ke dalam sebuah ruangan. Dan disana ada Rendi. dan banyak anak-anak dan orang dewasa yang duduk berbaris dengan masing-masing gitar.
"Cahya hahaha, akhirnya kau datang juga" Rendi memeluk Cahya dan menepuk-nepuk punggung nya.
Setelah itu Rendi melepaskan pelukannya.
"Jadi, Kau ingin langsung mulai?" Rendi
"Aku punya syarat untukmu" Cahya
"Aku akan mewujudkan syarat mu asalkan kau bisa menampilkan pada kita semua permainan gitar mu yang luar biasa itu" Rendi
"Baik. sebelum itu aku ingin ke toilet dulu" Cahya
Cahya membuka cadar nya disana, dan menyisakan seragam sekolah nya yang masih lengkap dengan rambut yang di cacing.
Setelah itu Cahya keluar. Cahya duduk disebuah kursi di hadapan semua murid Rendi yang sedang latihan.
-
-
Happy reading all ❤️❤️
__ADS_1