
Tiara berlari ke arah jalan raya, dia harus mencari kendaraan umum. Hari ini dia kesiangan karena semalaman mengerjakan tugas akhirnya. Ternyata dia juga lupa mengisi kuota internetnya, alhasil dia gak bisa pesan ojek online.
"aduuh kenapa ada aja hari ini, sebentar jam 8, mana sudah janji sama pak Seno" kata Tiara sambil berlari kecil, Sampai di halte dia melihat halte kosong hanya ada seorang bapak duduk sambil menghisap rokoknya. Tiara berdiri agak jauh dari bapak itu. Tiara berdiri dengan gelisah, melihat kanan kiri bergantian, berharap ada yang berbaik hati mengantarkannya.
Lima menit dia menunggu, ah seperti dua jam bagi Tiara. Saat Tiara cemas karena waktu semakin mepet tiba-tiba ada mobil hitam berhenti tepat di depannya. Saat kaca mobil di buka, Tiara terkejut ternyata ada Rio di sana.
"kamu mau ke kantor?" kata Rio dari dalam mobil.
"iya Pak" jawab Tiara terbata. Dia merasa malu karena ketahuan kesiangan sama Rio.
"udah mau terlambat, masuk mobil"
"tapi Pak" kata Tiara cepat, tapi dia langsung diam saat melihat tatapan Rio. ah dia gak bisa membantah bos seperti ini, tanpa Rio bicara pun Tiara tau Rio gak bisa dibantah. tatapan matanya memang seorang bos sejati, membuat segan yang melihatnya.
Tiara membuka pintu belakang
"Depan" kata Rio singkat. Tiara tertegun, apa dia pantas duduk di sebelah Rio, pikirnya.
"saya..." saat Tiara akan menolak Rio kembali menatapnya dengan tajam membuat Tiara menurut dan duduk di kursi depan.
Rio mengendarai mobilnya membelah keramaian kota pagi ini. Di samping Rio, Tiara seolah gak bisa bernafas. Dia takut salah, dia duduk seperti patung.
Saat akan sampai kantor, Tiara minta dia turun di pinggir jalan saja.
"kenapa?" tanya Rio
"Saya gak enak Pak, takut nanti di omong macam-macam sama karyawan yang lain" kata Tiara menjelaskan perlahan.
__ADS_1
"gak usah takut" kata Rio, dia tetap membawa Tiara sampai ke parkiran. Parkir mobil Rio terpisah dengan parkir karyawan. mobilnya akan berada tepat di depan lobi utama, jadi saat Rio datang resepsionis akan tau.
Rio memarkir mobilnya lalu bersiap keluar, kaki Tiara seolah gak bisa digerakkan. ah dia sangat takut rekan kerjanya salah sangka.
"kamu mau duduk disitu terus?" kata Rio mengagetkan Tiara.
"keluar Pak, saya keluar" kata Tiara gugup. Dengan sedikit gemetar Tiara keluar dari mobil, dia melihat ke dalam lobby, ah siah ternyata ada beberapa karyawan yang baru masuk, dan mereka sedang melihat ke arahnya.
"ayo" kata Rio.
"Pak Rio duluan aja, nanti saya menyusul" kata Tiara.
'bisa gawat kalau masuk bareng Pak Rio' kata Tiara dalam hati. Rio melangkah masuk kantor. Tiara menarik nafas panjang.
Dengan berat langkah dia memasuki kantor. Benar saja, karyawan yang dari tadi melihatnya mulai berbisik-bisik.
"Habis maraton ya" kata mba Santi saat melihat Tiara datang dengan terengah-engah.
"akhirnya bisa bernafas" kata Tiara. Mba Santi mengernyitkan kening.
"Mulai aneh nih anak" katanya, Tiara hanya tersenyum canggung.
"Tiara kamu tadi datang naik mobil Pak Rio?" kata Dimas yang selama ini terkenal diam. Mba Santi yang sedang minum langsung tersedak mendengar kata-kata Dimas.
"apaa??" kata mba Santi setelah mengatur nafasnya.
"aduh, cuma kebetulan aja kok" kata Tiara.
__ADS_1
"kebetulan?" kata mba Santi lagi masih dengan nada tak percaya.
"gak mungkin kebetulan lah, selama ini kan Pak Rio terkenal anti banget mobilnya dinaikin orang lain. makanya gak ada yg pernah naik mobil dia, masa kebetulan? kata Dimas curiga.
"masa? mungkin kalian gak tau aja waktu Pak Rio dengan orang lain" kata Tiara semakin gugup.
"hayo ngaku kamu ada hubungan apa sama Pak Rio?" selidik mba Santi.
"beneran Mba, gak ada apa-apa. memang aku sahabatan sama keponakan Pak Rio, gitu aja." kata Tiara menjelaskan.
"terus kenapa tadi bisa datang satu mobil?" kata Dimas gak kalah penasaran dengan mba Santi.
"Tadi gak sengaja ketemu di jalan, waktu aku nunggu kendaraan umum, Pak Rio lewat terus kasih tumpangan." kata Tiara jujur.
"Gak mungkin" kata mba Santi dan Dimas serentak.
"itu bukan sifat Pak Rio, melihat karyawannya di pinggir jalan terus kasih tumpangan. kamu tau kan berapa banyak karyawati yang ingin banget dekat dengan Pak Rio, mereka mencoba numpang ke mobil pak Rio gak pernah berhasil, walaupun itu saat hujan lebat" kata Dimas panjang lebar.
"ya mungkin sekarang sudah berubah Pak Rio nya" kata Tiara. pasti susah menjelaskan kepada rekan-rekan nya kalau kejadian seperti ini.
sejak saat itu, Tiara merasa seperti di awasi oleh banyak orang di kantor. Sampai dia gak berani bertemu dengan Rio.
"eh tadi ada cewek cantik mencari Pak Rio, dia sih bilang tunangan Pak Rio, jadi Tiara dan Pak Rio?" kata salah satu staf yang sedang bergosip di toilet. Mereka merapikan riasan mereka sambil bergosip seperti biasa. Tiara yang saat itu sedang berada di dalam sedang buang air, tidak berani keluar karena namanya disebut.
"kan aku udah bilang, gak mungkinlah Pak Rio bisa suka sama anak magang, kalaupun mereka ada hubungan paling-paling buat mainan aja. seorang bos besar yang tampan dan mapan gak mungkin lah Pak Rio gak bisa dapetin model atau artis gitu" kata salah satu cewe menimpali.
"iya juga ya, mana bisa anak magang itu disandingkan dengan pak Rio" kemudian mereka tertawa. setelah mereka pergi Tiara batu berani keluar. Dia melihat ke arah cermin. melihat dirinya, dia sadar dia hanya gadis biasa, dan mungkin mereka benar dia gak pantas untuk dekat dengan orang sehebat Rio. Tiara tersadar dengan lamunannya.
__ADS_1
'lagipula aku kan kesini buat bekerja, bukan deketin pak Rio, ayo Tiara semangat" kata Tiara dalam hati.