
Rio menghela nafas panjang, untuk kesekian kalinya dia harus bertengkar dengan ayahnya. Mereka jarang bertemu karena Rio memutuskan untuk tinggal sendiri. Tetapi sekali bertemu mereka pasti bertengkar. Mama Rio sudah lama meninggal, dia lebih banyak di urus oleh kakaknya, papa Angel yang merawatnya dari kecil, karena jarak usia mereka yang cukup jauh.
"Papa udah tua Rio, papa hanya ingin melihat kamu menikah. Lagi pula usia kamu sudah cukup matang, usaha kamu juga maju, kamu tunggu apa lagi?" kata pak Han pada anaknya. Rio hanya diam sambil menatap kearah jendela. Sudah ratusan kali dia mendengar itu dari papanya.
"Kamu selalu begini, diam aja kalau diajak ngomong." kata papanya marah.
"Pa… bisa gak bahas masalah lain. Rio pasri menikah pa, tapi nanti kalau sudah ketemu orang yang tepat. Menikah bukan untuk sehari dua hari kan Pa?" kata Rio dengan kesal. Dia kadang berpikir, kenapa Papanya selalu meminta dia segera menikah? Apa hanya dengan menikah orang bisa bahagia?
"Bagaimana kamu bisa menikah kalau gak ada perempuan yang dekat sama kamu? Setiap ada yang mau dekat kamu mengusirnya." kata Pak Han sambil menghela nafas panjang.
"Untuk apa Pa, kalau mereka dekat karena hartaku aja? Apakah menjamin bahagia?" kata Rio sambil berdiri.
"Kalau begitu Papa kenalin kamu sama anak om Pras, kebetulan anaknya baru pulang dari luar negeri. Dia gak mungkin ngincar harta kamu karena dia anak orang kaya." kata Pak Han akhirnya melihat Rio akan keluar.
"Mulai lagi kan Pa, kan Papa tau ku gak mau dijodohkan. Percuma Pa" kata Rio gak habis pikir.
"Kalian coba bertemu dulu, anggap saja ini permintaan Papa yang terakhir sebelum Papa meninggal" kata Pak Han, kini anda suaranya sudah mulai menurun. Rio kembali menarik nafas panjang.
"Terserah Papa" kata Rio kemudian dia meninggalkan Papanya. Pak Han tersenyum kecil, setidaknya dia punya sedikit harapan kalau Rio mau bertemu dengan anak temannya.
Sampai dirumah Rio menjatuhkan diri di ranjangnya. Kemudian dia mengambil foto di meja samping tempat tidurnya. Dia memandangi orang yang ada dalam foto itu. Seorang perempuan yang menggendong anak kecil, dengan senyum lebar, cantik. Itu adalah foto Rio dengan mamanya saat masih hidup. Rio kecil yang terlihat sangat bahagia di pelukan mamanya. Hanya itu satu-satunya kenangan dari mamanya yang dia simpan.
"Ma… aku harus gimana?" kata Rio bicara dengan foto mamanya. Walaupun dia tidak dapat melihat mamanya tapi dia percaya mamanya selalu ada di sampingnya.
--
Siang ini Tiara datang ke kantor lebih cepat dari biasanya. Saat akan masuk lift ternyata ada Rio dan sudah lebih dulu masuk dalam lift . Melihat Rio di dalam lift, Tiara mengurungkan niatnya untuk masuk lift, saat pintu lift akan menutup tiba-tiba di tahan Rio.
"Masuk" kata Rio pada Tiara. Tiara terkejut, tapi dia gak berani menolak juga. Akhirnya dengan perlahan dia masuk ke dalam lift.
"Terimakasih" kata Tiara perlahan, hampir bergumam. Di dalam lift Tiara gak berani bergerak. Dia selalu menunduk. Rio tersenyum melihat tingkah Tiara.
'Ternyata ini anak bisa malu juga' kata Rio dalam hati.
Tiara merasakan hari ini di dalam lift sangat lama, lebih lama dari biasanya. Dia bahkan seperti tidak berani bernafas. Walaupun dalam lift di penuhi harum parfum, tapi sepertinya susah untuk bernafas bagi Tiara. Begitu pintu lift terbuka di lantai 3, Tiara buru-buru keluar.
"Terimakasih Pak" kata Tiara sebelum keluar lift. Setelah berbicara Tiara langsung berjalan cepat. Rio tertawa kecil.
__ADS_1
"Itu siapa Pak?" tanya valen, sekretaris Rio.
"Anak magang" kata Rio singkat.
"Anak magang?" kata Valen heran, karena selama ini Valen taunya Rio sangat jarang tersenyum, apalagi karena cewek kecuali saat bertemu klien.
Sampai di meja kerjanya, Tiara buru-buru membuka botol minumnya. Dia minum seakan habis lari maraton.
"Kamu minum pelan-pelan dong, kamu kenapa si, habis lari? Kan masih jam segini?" kata mbak Santi sambil lihat jam tangannya.
"Bukan lari mbak" kata Tiara sambil mengatur nafasnya.
"Lihat hantu?" tanya mbak Santi lagi.
"Lebih dari hantu mbak" kata Tiara.
"Lebih dari hantu? Apaan?" kata mbak Santi semakin bingung.
"Pak Rio" jawab Tiara singkat. Mendengar jawaban itu mbak Santi malah tertawa.
"Ya ampun ketemu bos masa sampai ketakutan begitu, biasanya sih kalau yang begitu karena punya salah atau karen mmmm… kamu suka pak Rio yaa" kata mbak Santi meledek.
---
Ternyata Pak Han, Papa Rio serius untuk menjodohkan Rio dengan anak temannya. Dia memberi pesan sama Rio untuk bertemu dengan gadis itu malam ini.
"Kamu jangan sampai gak datang malam ini, jangan sampai membuat malu" kata Pak Han saat menelepon Rio. Akhirnya Rio hanya bisa menyetujui.
Malam harinya Rio pulang ke rumah Papanya. Dari teras rumahnya dia bisa mendengar suara Papanya sedang mengobrol dengan suara keras sesekali tertawa. Dengan perlahan Rio membuka pintu.
"Nah ini anak saya sudah datang, sini Rio perkenalkan ini om Pras dan ini anaknya Teresa" kata Pak Han begitu melihat Rio masuk. Rio tersenyum kecil sambil mengangguk. Pandangannya tertuju pada tamu-tamu papanya. Seorang pria dengan pakaian rapi, sedikit botak dengan kacamata, dan seorang gadis dengan baju sedikit terbuka di bagian dadanya, dengan make up yang sedikit berlebihan menurut Rio.
"Jadi ini, anakmu Han yang punya perusahaan itu" kata Om Pras, Pak Han tertawa bangga.
"Om, saya boleh permisi ke kamar kecil" kata Teresa sambil melirik ke arah Rio.
"Oh boleh donk… Rio tolong antar Teresa" kata Pak Han.
__ADS_1
"Mari" jawab Rio berusaha sopan. Teresa tersenyum sambil berdiri, terlihat bajunya yang sangat minim, yang menurut Rio sangat menjijikan.
Rio menunjukan arah kamar kecil.
"Wah rumah papa kamu besar juga ya, aku dengar kamu juga punya rumah sendiri yaaa…" kata Teresa, Rio hanya mengangguk.
"Baguslah, karena yang menjadi suami aku harus sudah mapan, setidaknya bisa mencukupi kebutuhan aku, karena aku kan biasa hidup mewah ya dari kecil" kata Teresa.
"Mudah-mudahan kamu dapat suami impian kamu, itu kamar kecilnya" kata Rio. Teresa kemudian masuk ke dalam kamar kecil.
Saat Teresa keluar, Rio sedang duduk di sofa sedang sibuk dengan gadgetnya.
"Ternyata kamu masih menungguku disini" kata Teresa
"Aku hanya mencoba menjadi tuan rumah yang baik" kata Rio kemudian berjalan ke arah ruang tamu, menemui Papanya dan om Pras, diikuti Teresa. Mereka makan malam bersama. Saat mereka bersama, Om Pras selalu memuji-muji Teresa di depan Rio.
"Teresa ini model terkenal, dia juga sangat pintar, lulusan dari universitas ternama di luar negeri. Banyak yang menginginkan dia menjadi istri, tapi saya tolak. Karena sudah janji sama kamu Han" kata Om Pras, mendengar itu Rio hanya tersenyum kecil.
"Waahh hebat ya, beruntung kamu Rio kalau bisa menjadi suami Teresa" kata Pak Han
"Saya dengar Rio juga orang hebat Om, pasti banyak perempuan yang mau sama dia" kata Teresa sambil melihat ke arah Rio.
"Wah, sebenarnya memang banyak perempuan yang mau jadi istrinya, tapi Rio selalu bilang gak cocok" kata Pak Han sambil tertawa.
"Karena belum bertemu saya itu Om" kata Teresa dengan percaya diri. Rio mendengar obrolan itu merasa sangat kesal. Tiba-tiba dia berdiri.
"Maaf Pa, Om Pras, Teresa, saya harus pergi, masih banyk yang harus dikerjakan" kata Rio berpamitan.
"Rio, ini kan masih ada tamu…." kata Pak Han merasa kesal dengan tingkah Rio.
"Gak papa kok Om, mungkin memang Rio sibuk, saya bisa ngerti kok" kata Teresa.
"Maaf yah atas dikap anak saya,... Lihat Rio, Teresa sangat pengertian" kata Pak Han.
"Maaf, permisi.." kata Rio langsung keluar rumah. Dia sudah banyak melihat perempuan yang selama ini mencoba mendekatinya, dan gak beda jauh dengan Teresa. Merasa paling cantik, pura2 perhatian, pengertian, tapi semua bohong.
Saat dia mengingat perempuan-perempuan itu tiba-tiba dia mengingat Tiara, anak magang teman keponakannya yang awalnya sok kenal dan akhirnya terus menghindar jika bertemu, tanpa sadar Rio tertawa mengingat tingkah malu-malu Tiara.
__ADS_1
"Kenapa aku jadi ingat anak magang itu ya?" kata Rio bergumam sendiri.