
Seperti biasa ibu membawakan bekal untuk makan siang Tiara. Walaupun masakan ibu sederhana tapi menurut Tiara itu adalah makanan yang paling enak. Karena di kampus Tiara belum sempat makan, akhirhya makan siangnya dia bawa ke kantor.
"Masih ada waktu setengah jam, lumayan bisa makan dulu" kata Tiara. Dia membuka bekal dari ibunya.
"Kamu bawa bekal apa Tiara?" kata mbak Santi saat melihat Tiara asyik makan bekalnya.
"Nasi sama balado mbak, ibu yang masak" kata Tiara.
"Wah kayaknya enak tuh" kata mbak Santi melihat isi kotak makan Tiara. Tiara tersenyum sambil mengangguk.
"Cobain mbak…" kata Tiara menyodorkan bekalnya.
"Ehem!"
Tiara dan mbak Santi terkejut, kemudian melihat ke asal suara. Lebih terkejut saat tau ada Pak Seno dan Rio berdiri disana. Tiara segera menutup kotak makannya, dan buru-buru menelan makanan yang ada di mulutnya.
"Siang Pak" kata mbak Santi. Pak Seno dan Rio mengangguk. Rio melihat ke arah jam tangannya kemudian melihat kotak makan di meja Tiara.
"Silahkan Pak" kata Pak Seno kemudian Rio mengangguk. Mereka berjalan menjauh. Tiara dan mbak Santi yang dari tadi menahan nafas akhirnya bisa bernafas lega.
"Aku kaget mbak" kata Tiara sambil duduk lagi.
"Sama" kata mbak Santi masih dengan muka terkejut.
"Aduh laperku langsung hilang, padahal tadi laper banget" kata Tiara melihat kotak makannya.
"Haha makan aja" kata mbak Santi. Tiara akhirnya memakan makanannya, dia ingat ibu susah payah memasak untuknya.
Tiara sedang asyik dengan pekerjaannya, saat teleponnya berbunyi. Ternyata adiknya yang menelepon.
"Ada apa Ted, kakak lagi di kantor ini" kata Tiara.
"Kak, ayah masuk Rumah Sakit. Tadi gak sadarkan diri" kata Teddy sambil terisak. Tiara terkejut.
"Terus sekarang gimana Ted?" kata Tiara panik.
"Sekarang masih di periksa dokter kak"
"Ya udah, kakak kesana sekarang kamu kirim alamat rumah sakitnya ya" kata Tiara kemudian menutup teleponnya.
"Kenapa Tiara?" tanya mbak Santi yang melihat Tiara panik.
"Ayahku masuk Rumah Sakit mbak, aku mau izin pulang" kata Tiara.
"Ya udah kamu ke rumah sakit aja dulu, nanti biar aku minta izin ke Pak Seno buat kamu" kata mbak Santi.
"Makasih mbak, aku balik dulu ya" kata Tiara, kemudian dia mengambil tasnya dan berlari keluar. Tiara jalan setengah berlari. Keluar dari lobby dia berlari ke arah jalan raya.
tiba-tiba ada mobil yang baru keluar dari tempat parkir. Beruntung mobil itu berhenti sebelum menabrak Tiara. Tiara yang terkejut juga merasa bersalah meminta maaf
"Maaf...maaf.." kata Tiara. Pintu mobil itu terbuka. Ternyata itu Rio yang ada di dalam mobil.
__ADS_1
"Kamu kenapa gak hati-hati?" kata Rio.
"Maaf Pak Rio, saya buru-buru." kata Tiara gak enak hati.
"Bukankah belum waktu pulang? Kamu kemana?" kata Rio sambil melihat jam tangannya.
"Saya izin Pak, ayah saya masuk rumah sakit" kata Tiara, matanya berkaca-kaca.
"Ayah kamu sakit?" kata Rio, Tiara mengangguk.
"Kamu ke rumah sakit naik apa?" kata Rio lagi.
"Mungkin naik ojek Pak biar cepat, permisi Pak" kata Tiara kemudian dia berbalik.
"Tiara" tiba-tiba ario memanggil. Tiara menghentikan langkahnya.
"Iya Pak?"
"Ikut saya aja, biar saya antar" kata Rio.
"Tapi Pak…"
"Masuk mobil.." kata Rio yang gak bisa dibantah lagi oleh Tiara. Akhirnya Tiara masuk mobil.
"Rumah Sakit mana?" tanya Rio.
"Saya turun di perempatan saja Pak" kata Tiara yang merasa gak enak.
"Rumah sakit mana??" kata Rio mengulangi pertanyaannya, tanpa menanggapi perkataan Tiara.
Selama perjalanan, Tiara dan Rio hanya diam. Rio menelepon seseorang dan mengatakan dia akan terlambat.
"Pak Rio sedang sibuk kan, disini saja Pak, biar saya nanti cari angkutan aja" kata Tiara.
"Gak perlu" kata Rio datar. Dia terus melajukan mobilnya.
Akhirnya sampai di Rumah Sakit.
"Terimakasih Pak" kata Tiara sambil melihat ke arah Rio. Rio mengangguk. Kemudian Tiara membuka pintu mobil dan keluar. Dia langsung berlari masuk Rumah Sakit. Saat Rio akan menjalankan mobilnya dia melihat handphone Tiara tertinggal di mobilnya. Akhirnya dia mencari tempat parkir dan terpaksa masuk ke rumah sakit.
'Sepertinya tadi tuh anak bilang ayahnya masih di UGD' kata Rio dalam hati sambil berjalan masuk Rumah Sakit.
Tidak berapa lama akhirnya Rio melihat Tiara sedang duduk di ruang tunggu dengan ibunya yang masih menangis.
"Kak, ayah harus masuk ICU, dan dipasang alat apalah tadi dokternya bilang, tapi harus bayar dulu Kak" kata Tedi sambil terisak.
"Berapa?" kata Tiara, sebenarnya dia takut dengan nominal yang akan dia dengar.
"Sekitar 25 juta, tapi kalau gak dipasang mungkin ayah gak akan bertahan. Mendengar itu Tiara menangis, dia bingung harus bagaimana. Dia memeluk ibunya.
"Maaf, Tiara ini handphone kamu" Tiba-tiba Rio sudah berdiri di dekatnya sambil menyodorkan handphonenya. Tiara segera bangun dan mengusap air matanya.
__ADS_1
"Terima kasih Pak, maaf merepotkan" kata Tiara. Rio mengangguk, kemudian dia pamit.
"Itu siapa neng?" tanya ibu.
"Bos aku bu, tadi dia antar aku kesini" kata Tiara.
"Kakak, pinjam aja dulu uang sama bos." kata Tedi tiba-tiba, entah dapat ide konyol darimana.
"Gak lah Ted, kakak kan masih magang" kata Tiara. Semua menarik nafas.
"Kakak coba deh bilang ke bagian administrasi, siapa tau dapat keringanan" kata Tiara. Tiara mengintip ke dalam ruangan ayahnya berbaring. Dia melihat ayahnya diam tidak bergerak. Hatinya sedih, tapi dia harus kuat demi ibunya.
"Doakan ayah ya nak" kata ibu, sambil memeluk Tiara dan Tedi.
"Aku ke bagian administrasi dulu ya bu" kata Tiara, ibu mengangguk.
Sepanjang langkahnya menuju ruang administrasi Tiara berdoa agar ada keajaiban, atau setidaknya ada keringanan untuk perawatan ayahnya.
"Ada yang bisa saya bantu bu?" kata pegawai Rumah Sakit.
"Maaf, saya mau minta tolong, ayah saya yang tadi siang masuk UGD, atas nama bapak Sutanto" kata Tiara.
"Ohh.. Bapak Sutanto, iya bu… jadi bapak Sutanto langsung bisa mendapatkan perawatan di ICU" kata orang itu.
"Tapi kan katanya harus bayar dulu mas" kata Tiara.
"Tapi baru saja ada yang membayar biaya perawatan untuk Pak Sutanto bu" kata bagian Administrasi itu. Tiara bingung, siapa yang membayarnya.
"Masih ingat mas siapa yang membayar?" kata Tiara penasaran.
"Orangnya ganteng, memakai setelan jas. Belum lama dia keluar. Oh iya ini bukti pelunasan pembayarannya" kata pegawai itu sambil menyerahkan kertas bukti pembayaran. Tiara menerima kertas itu, tapi dia berpikir siapa yang membayar perawatan ayahnya.
"Pak Rio, pasti dia" kata Tiara bicara sendiri. Kemudian dia berlari keluar rumah sakit mencari Rio. Dia berlari ke tempat parkir mencari mobil Rio, tapi gak ketemu. Akhirnya Tiara kembali menemu ibu dan adiknya.
"Kak, ayah sudah masuk ruang ICU, kakak sudah bayar?" kata Tedi saat melihat Tiara mendekat.
"Kamu bayar pakai uang siapa neng" kata ibunya khawatir Tiara mendapatkan uang dari mana.
"Bukan Tiara yang bayar bu, tapi ada yang sudah bayarin biaya perawatan bapak" kata Tiara.
"Siapa?" kata ibu dan Tedi bersamaan.
"Belum tau bu, Ted, tapi nanti aku cari tau sepertinya aku kenal" kata Tiara.
"Bos kakak ya?" kata Tedi menebak.
"Kamu berpikiran dia ya Ted, kakak juga, besok kakak tanya di kantor" kata Tiara.
---
Sepanjang perjalanan keluar dari Rumah Sakit Rio merasa heran pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Aku ngapain sih, pake repot-repot anterin hp tuh bocah, kenapa aku gak tega ya lihat dia nangis?" kata Rio mengingat apa yang baru saja dilakukannya. Selama ini dia gak pernah mau peduli dengan urusan orang lain, apalagi sampai ikut campur.
"Mudah-mudahan tuh bocah gak tau aku yang bayarin perawatan Papanya" kata Rio lagi