
Tiara masih ragu untuk mendatangi Rio dan menanyakan kejadian kemarin. Dia serba salah, mau bertanya apakah Rio yang membayar biaya perawatan ayahnya tapi dia juga takut itu bukan Rio. Seharian dia berperang dengan perasaannya.
'Tanya, nggak, tanya, nggak, tanya, aahhh jadi tanya apa nggak ya?' katanya dalam hati.
Setelah bergumul seharian akhirnya saat sore jam pulang kantor Tiara memutuskan menunggu Rio di tempat parkir. Dia tau Rio biasa pulang akhir. Saat melihat mobil Rio masih ada, Tiara berdiri tidak jauh dari mobil Rio. Tiga puluh menit sudah berlalu dia menunggu, tapi Rio belum juga turun, dia mondar mandir di tempat parkir untuk mengurangi lelah kakinya.
"Katanya bos, tapi pulang paling lambat, karyawan aja udah pulang dari tadi" gerutu Tiara.
"Memangnya kalau bos harus pulang cepat?" tiba-tiba Rio sudah ada di belakang Tiara. Tiara sampai terkejut.
"Eh Pak Rio…" kata Tiara salah tingkah. Rio langsung menuju mobilnya.
"Pak Rio…" Tiara mengejar Rio, dia baru ingat tujuannya ada di tempat parkir. Rio yang sudah di samping mobilnya berbalik melihat ke arah Tiara.
"Ya.." kata Rio singkat.
"Maaf Pak mau tanya, kemarin di Rumah sakit apakah bapak yang membantu ayah saya?" kata Tiara sedikit takut.
"Bantu apa?" kata Rio lagi. Ekspresi Rio yang datar dan sedikit angkuh membuat Tiara gugup.
"Pak Rio yang membayar biaya perawatan ayah saya?" kata Tiara, kali ini dia memandang wajah Rio dengan serius.
"Bukan" kata Rio kemudian masuk ke dalam mobil, tanpa memberi kesempatan Tiara untuk bicara lagi. Rio langsung pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.
"Aneh, kalau bukan Pak Rio siapa? Tapi aku yakin Pak Rio" kata Tiara sambil memandang mobil Rio yang menjauh.
Akhirnya Tiara menghubungi Angel untuk menanyakannya. Karena hari ini Angel bolos kuliah seperti biasa. Angel dan Tiara bertemu di cafe tempat mereka biasa nongkrong.
"Tumben kamu ngajakin nongkrong, hari ini gak lembur?" kata Angel saat datang.
"Lemburnya kan di rumah ngerjain tugas kuliah, kamu kenapa tadi bolos lagi?" kata Tiara.
"Kesiangan hahaha" kata Angel sambil tertawa. Untuk orang kaya seperti Angel mungkin gak perlu bersusah payah untuk mengejar cita-citanya. Mau lulus atau tidak tetap saja dia akan memegang sebuah perusahaan, akan menjadi seorang atasan. Lain halnya dengan Tiara atau orang-orang yang kurang beruntung lainnya, yang harus berjuang keras untuk mencapai cita-citanya. Itu yang dipikir Tiara selama ini. Yang membuatnya bekerja keras untuk menjadi orang sukses.
__ADS_1
"Kebiasaan kamu, pasti semalam dugem ya" kata Tiara.
"Nggak lah… aku temenin papa semalam, ada acara ulang tahun temannya, dan aku juga ketemu sama cewek yang dijodohin sama om Rio donk" kata Angel memelankan suaranya seakan takut terdengar orang lain.
"Oh ya? Gimana? Cantik ya?" kata Tiara penasaran ikut memelankan suaranya.
"Beeuuh… cantik. Tapi kayaknya palsu. Hahaha" kata Angel tertawa lepas.
"Kamu ini ketawa yang sopan dong" tegur Tiara karena dia melihat orang di sekeliling melihat ke arah mereka.
"Ups, kelepasan… namanya Teresa. Tapi aku gak suka babget deh sama sifatnya, apalagi kemarin dia terlalu cari perhatian sama om Rio" kata Angel, mendengar nama Rio lagi Tiara baru ingat hal yang mau dia tanyakan sama Angel.
"Oh iya, Pak Rio… Eh maksud aku om Rio kamu itu" kata Tiara.
"Kenapa dengan om Rio?" kata Angel bingung.
"Angel, boleh minta tolong gak? Tolong tanyain sama om Rio donk, dia atau bukan yang membayar perawatan ayahku" kata Tiara.
"Iya kemarin ayah pingsan terus harus di rawat ICU dan harus membayar 25 juta supaya ayah bisa dirawat" kata Tiara menjelaskan.
"Terus gimana sekarang? Kamu sudah bayar?" Angel tau keadaan Tiara, jadi dia tau Tiara gak akan punya uang sebanyak itu.
"Nah itu dia, kemarin kan aku diantar sama om kamu ke rumah sakit, nah waktu Tedi lagi jelasin yang bayar-bayar itu ada om kamu antar hp aku ketinggalan di mobil dia, terus dia pergi. Nah waktu aku mau minta keringanan di rumah sakit ternyata semua udah dibayar. Dan aku yakin itu om kamu yang bayarin" kata Tiara menjelaskan keadaan kemarin saat di rumah sakit.
"Tunggu…… kamu ke rumah sakit diantar om aku? Yakin?" kata Angel seakan gak percaya.
"Iya… emang kenapa? Itu juga gak sengaja." kata Tiara, sekarang dia heran dengab reaksi Angel.
"Luar biasa…." kata Angel sambil tepuk tangan. Tiara semakin bingung.
"Kenapa sih??"
"Tau gak om aku tuh gak pernah loh izinkan sembarang orang naik ke mobilnya, apalagi sampai mau antar begitu, karena dia gak suka ikut campur urusan orang lain, dia orang paling cuek yang aku kenal" kata Angel.
__ADS_1
"Kalau bukan om kamu siapa dong yang bayarin biaya rumah sakit?" kata Tiara berpikir.
"Tapi nih, kalau memang om izinkan kamu naik mobil dia bisa jadi om yang bayarin, walaupun menurut aku sih wow banget deh, aku curiga kalian ada sesuatu" kata Angel sambil menatap Tiara dengan tajam.
"Sesuatu apaan sih, gak ada lah… siapa aku bisa dekat sama om kamu. Perbedaan kita bagaikan bumi dan langit. Jauuuhh banget" kata Tiara, Angel kembali tertawa.
"Tapi nanti aku coba cari info deh masalah ini. Om kan paling sayang sama aku pasti dia kasih tau kalau emang dia yang bayarin" kata Angel.
--
Setelah pertemuan dengan Teresa, Rio merasa seperti di teror. Kemanapun dia pergi ataupun menghadiri acara seringkali dia bertemu dengan Teresa. Seperti kali ini, saat Rio akan bertemu dengan klien ternyata dia adalah Teresa.
"Sepertinya kita memang berjodoh, karena selalu bertemu." kata Teresa. Dia duduk di depan Rio, memakai pakaian ketat dengan menonjolkan belahan dada. Rio berusaha tidak menatap Teresa. Dia merasa kesal dengan tingkah Teresa.
"Aku datang untuk urusan bisnis, kalau membicarakan hal yang lain sebaiknya aku pergi" kata Rio.
"Sabar dong sayang, urusan bisnis itu gampang, yang penting kan waktu kita berdua" kata Teresa lagi.
"Maaf aku gak ada waktu" kata Rio.
"Aku gak percaya deh kamu gak ada waktu buat wanita cantik seperti aku" mendengar ucapan Teresa membuat Rio semakin kesal, dia langsung berdiri.
"Untuk urusan bisnis nanti biar sekretarisku yang akan mengurusi, permisi" kata Rio meninggalkan Teresa. Teresa terkejut ditinggal begitu saja oleh Rio.
"Lihat saja gak lama lagi kamu pasti jatuh cinta sama aku, tunggu tanggal mainnya sayang" kata Teresa sambil melihat Rio yang berjalan menjauh.
Sepanjang jalan Rio sangat kesal, pertemuannya dengan Teresa kali ini karena campur tangan papanya. Dia dipaksa datang dengan alasan partner bisnisnya hanya mau bertemu dengan Rio.
"Orang tua itu gak ada capeknya buat jodohin aku" kata Rio bicara sendiri. Mengingat cara Teresa berpakaian, cara berbicara, tingkah lakunya membuat Rio bertambah kesal.
"Dibandingkan dengan anak magang, dia kalah jauh" kata Rio lagi. Tiba-tiba dia terkejut sendiri kenapa dia bisa membandingkan Teresa dengan Tiara.
"Kenapa aku bisa mikirin anak magang itu?" katanya lagi
__ADS_1