Seindah Mentari Pagi

Seindah Mentari Pagi
perhatian


__ADS_3

Sudah satu minggu ayah Tiara dirawat di rumah sakit. Keadaannya sudah semakin membaik. Selama itu juga Tiara seringkali tidur di rumah sakit untuk menjaga ayahnya bergantian dengan Tedi. Malam ini giliran dia untuk menjaga.


"Kamu malam ini ke rumah sakit lagi?" tanya Angel saat ketemu di kampus.


"Iya, pulang kantor nanti pulang dulu ke rumah buat mandi ganti baju, langsung ke rumah sakit" kata Tiara.


"Emang gak cape ya? Aku yang lihat aja cape.. Kamu seharian kuliah sambil kerja malam harus jagain ayah kamu" kata Angel sambil mengunyah makanannya. Tiara melihat ke arah Angel sambil tersenyum.


"Kalau dibilang cape ya pasti cape lah… tapi mau gimana lagi, bersyukur aja" kata Tiara.


"Salut bener sama kamu" kata Angel sambil menepuk pundak Tiara.


"Biasa aja kali.." kata Tiara sambil tertawa.


"Salut lah, kamu memang hebat, cocok jadi tante aku" kata Angel.


"Enak aja tante kamu, emang aku setua apa?" kata Tiara.


"Loh om aku juga masih muda kan?" jawab Angel santai.


"Om kamu? Oh iya… kamu udah berhasil tanya belum sama Om kamu itu, masalah biaya ayah aku" kata Tiara saat mengingat Rio.


"Udah… tap om gak jawab, tapi menurutku itu om deh, soalnya dia ketahuan kalau bohong" kata Angel pasti.


"Memang kalau dia bohong gimana?" tanya Tiara penasaran.


"Kalau dia bohong pasti saat ngomong dia memainkan jarinya" kata Angel.


"Masa bisa begitu" kata Tiara tertawa.


"Iya bener" kata Angel serius.


---


Sore harinya Tiara pulang kantor sedikit terlambat. Kantor sudah mulai sepi. Selesai beres-beres dia berjalan kearah lift. Saat pintu lift terbuka ternyata ada Rio di dalam lift. Mereka saling melihat. Tiara gak berani untuk melangkah masuk. Sampai pintu lift akan menutup, dan ditahan oleh Rio.


"Masuk" kata Rio. Tiara akhirnya melangkah perlahan. Saat pintu lift tertutup, Tiara merasa canggung karena hanya mereka berdua di dalam lift. Sebenarnya dia ingin berterimakasih sama Rio. Tapi rasanya mulutnya terkunci. Sampai di lantai satu pintu terbuka dan mereka berdua keluar. Rio berjalan mendahului Tiara.

__ADS_1


"Pak Rio!" entah dapat keberanian dari mana tiba-tiba Tiara memanggil Rio. Dan dia sendiri kaget karena begitu saja keluar dari mulutnya. Rio berhenti dan berbalik melihat ke arah Tiara.


"Ya" kata Rio.


"Terimakasih Pak" kata Tiara sambil tersenyum. Rio tampak bingung.


"Saya tau, Pak Rio yang membantu ayah saya" kata Tiara.


"Bantu apa?" kata Rio, Tiara kemudian melihat ke arah tangan Rio karena ingat kata-kata Angel. Dan dia melihat Rio memainkan jarinya. Melihat itu Tiara tertawa kecil. 


"Kenapa tertawa?" kata Rio merasa kurang nyaman karena Tiara tertawa.


"Maaf Pak, gak papa, sekali lagi terima kasih Pak, saya janji kalau saya punya yang sata ganti" kata Tiara.


"Hei, kamu bilang apa?" kata Rio pura-pura bingung.


"Saya sudah tau Pak, permisi" kata Tiara kemudian pergi keluar kantor. Rio hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil. 


Tiara sampai di Rumah sakit jam delapan.


"Kak aku langsung pulang ya, soalnya besok masih ada tugas belum aku kerjain. Lupa bawa tadi" kata Tedi saat melihat Tiara datang.


Tidak lama setelah Tedi keluar, pintu kamar terbuka ternyata Angel datang dan dia gak sendiri tetapi bersama Rio. Tiara yang sedang duduk langsung berdiri melihat ada Rio di kamar rawat ayahnya.


"Gimana ayah kamu Tiara?" tanya Angel dengan suara pelan karena ayah Tiara tengah tertidur.


"Ah.. Ayah sudah mendingan, semoga bisa segera pulang." kata Tiara tersadar dari rasa terkejutnya.


"Eh aku mau ke kamar kecil bentar ya, kata Angel tiba-tiba kemudian dia pergi ke kamar kecil. Meninggalkan Tiara dan Rio yang sama-sama membisu.


"Terima kasih Pak sudah datang kesini" kata Tiara memecah keheningan.


"Iya… kamu malam ini tidur disini?" kata Rio melihat sekeliling, dia melihat tidak ada tempat tidur lain, hanya sofa kecil.


"Iya Pak soalnya kalau malam ayah suka bangun, kasihan kalau sendiri" kata Tiara.


"Lebih baik ayah kamu dipindahkan ke ruangan lebih besar." kata Rio lagi.

__ADS_1


"Disini sudah cukup Pak, yang penting ayah bisa sembuh" kata Tiara sambil tersenyum.


"Besok kamu libur aja" kta Rio, Tiara terkejut.


"Kenapa Pak? Saya punya salah? Saya gak di pecat kan?" kata Tiara sedikit panik. Tiba-tiba Rio menutup mulut Tiara karena dia bicara terlalu keras. Sampai Tiara kaget begitu juga dengan Rio. Dia cepat-cepat menarik tangannya.


"Berisik" kata Rio.


"Maaf saya kaget… pak Rio mau pecat saya?" kata Tiara. 


"Bukan, kamu pasti lelah menjaga ayah kamu, aku gak mau kerjaan jadi berantakan jadi lebih baik kamu libur dulu" kata Rio.


"Oohh.. Saya janji Pak, saya akan kerja dengan baik." kata Tiara. Saat itu Angel datang dan Rio kembali diam.


---


Esok harinya saat Tiara bekerja dia merasa sangat lelah, tapi dia berusaha menahannya. Bahkan dia nyaris tertidur.


"Kamu semalam gak tidur lagi ya?" tanya mbak Santi.


"Iya mbak, semalam ayah tengah malam bangun dan gak tidur ampe pagi, sekarang aku yang K.O" kata Tiara.


"Tiara, kamu dipanggil ke ruangan Pak Rio" tiba-tiba Pak Seno datang dan memberi kabar yang membuat Tiara tersadar dari ngantuknya.


"Ada apa Pak?" kata Tiara penasaran campur terkejut.


"Datang saja" kata Pak Seno, kemudian dia pergi.


"Ada apa ya mbak, kok aku dipanggil Pak Rio, waduuuh jangan-jangan aku ketahuan tadi tidur…" kata Tiara ketakutan.


"Waduh aiu juga gak tau tuh, ya udah buruan gih temui Pak Rio" kata mbak Santi. Akhirnya Tiara pergi ke ruangan Rio di lantai 6. Sampai di depan ruangan Direktur, dia ragu untuk mengetuk pintu. Takut dengan apa yang nanti Rio katakan. Akhirnya setelah mengumpulkan semua keberanian yang ada Tiara mengetuk pintu.


"Masuk" kata Rio dari dalam. Perlahan Tiara membuka pintu dan masuk. Terlihat Rio duduk menghadap meja kerjanya. Ruangannya sangat luas, ada sofa di sudut ruangan, dan ada pintu untuk masuk ke ruangan lain. Hiasan dinding yang menambah kesan elegan, jendela kaca yang cukup besar di belakang Rio membuat ruangan semakin terlihat luas. Tiara dengan hati-hati melangkah mendekati Rio.


"Pak Rio memanggil saya?" kata Tiara. Rio mengangguk.


"Kamu tunggu dulu di sana" kata Rio menunjuk sofa panjang di sudut ruangan. Tiara berjalan ke arah sofa dan duduk disana. Sangat nyaman. Tiara memperhatikan Rio yang sibuk dengan laptopnya sesekali dia membuka berkas atau menelepon. Sangat sibuk.

__ADS_1


'Ganteng banget Pak Rio kalau lagi kerja.' kata Tiara dalam hati sambil memperhatikan Rio. Dan tanpa sadar dia tertidur. Suasana ruangan yang sepi, dan tenang membuat Tiara gak bisa menahan kantuknya. Saat Rio melihat Tiara tertidur dia tersenyum kecil.


"Dasar keras kepala, disuruh jangan masuk tetap aja paksain. Akhirnya gak bisa tahan sendiri" kata Rio. Ternyata Rio sengaja memanggil Tiara agar dia bisa beristirahat. 


__ADS_2