
Hari ini suasana kantor terasa aneh bagi Tiara, entah kenapa dia merasa rekan-rekan kerjanya menatap aneh saat melihat Tiara. Seperti ada yang terjadi dengan Tiara.
saat Tiara akan ke toilet, tanpa di duga dia melihat mba Santi sedang adu mulut dengan Siska, dari bagian customer service.
"kamu jangan suka nuduh Tiara sembarangan ya!!" kata mba Santi, Tiara terkejut karena namanya disebut, ternyata mereka ribut gara-gara dia.
"gak usah sok belain deh... aku liat sendiri kok, Tiara keluar dari mobil pak Rio, terus dia sering di ruangan pak Rio kan, ngapain lagi kalo bukan buat ngerayu" kata Siska.
"kamu kalo punya mulut pakai baik-baik, jangan suka fitnah orang" kata mba Santi.
"fitnah kalo gak ada bukti, kamu tau gak pak Rio bawa Tiara ke acara pesta, sedangkan tunangan dia cuekin, kalo kamu jadi tunangannya gimana perasaan kamu?!" kata Siska dengan keras. Tiara semakin terkejut bagaimana Siska tau dia pergi ke acara pesta dengan Rio. tapi sebelum semua semakin memanas, Tiara mendekati mereka dan menarik tangan mba Santi untuk meninggalkan tempat itu.
"heh pelakor! masih berani ada disini kamu?!" kata Siska saat melihat Tiara. kata-kata Siska membuat mba Santi semakin marah.
"kamu?!"
"udah mba, biarin aja.." kata Tiara sambil menenangkan mba Santi. kemudian mengajaknya pergi.
setelah sampai di meja kerjanya, mba Santi masih terlihat kesal, Tiara mengambil air putih untuk mba Santi.
"minum dulu mba, biar dingin hatinya" kata Tiara
"kamu kok bisa diem aja sih di bilang pelakor. itu mulut Siska bahaya tau.. bisa-bisa nanti dia sebarin gosip yang gak benar" kata mba Santi antar marah dan kesal.
"tapi kalo dia di lawan juga percuma mba... malah rugiin kita, membuang waktu kita" kata Tiara terlihat tenang, dia seakan-akan gak peduli dengan kata-kata Siska.
__ADS_1
"kalo aku jadi kamu udah aku rujak tuh mulut Siska." kata mba Santi sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tiara hanya tersenyum, tetapi dalam hatinya ada takut juga, bagaimana kalo nama dia jadi jelek di perusahaan. tapi mengingat keluarganya di rumah dia kembali semangat. Dia percaya semua pasti bisa di lewati.
Ternyata benar kata mba Santi, hari-hari berikutnya bukanlah hari yang mudah untuk Tiara berada di perusahaan Rio. gosip yang menyebar lebih cepat dari pada yang Tiara dapat bayangkan, tatapan-tatapanbyang sinis dari rekan kerjanya membuat dia sedikit tidak nyaman.
"Tiara, tolong antar dokumen ini ke ruang pak Rio" kata Pak Seno sambil memberikan map biru berisi dokumen yang harus Tiara serahkan pada Rio.
"tapi Pak... " kata Tiara ingin menolak, dia mencoba sebisa mungkin menjaga jarak dengan Rio, untuk mengurangi gosip yang beredar
"kok tapi... semua sedang sibuk, jadi kamu aja yang ke ruangan pak Rio. ada masalah apa?" tanya Pak Seno, mungkin sebenarnya dia tau alasan keberatan Tiara.
"eee... gak ada pak, baik Pak saya serahkan sekarang" kata Tiara, dia berdiri mengambil dokumen di atas meja, dengan langkah ragu dia melangkah meninggalkan meja kerjanya.
melihat Tiara akan masuk ke ruangan Rio, rekan-rekannya mulai berbisik, Tiara melangkah dengan tatapan sinis dari rekannya. Di depan pintu ruangan kerja Rio, Tiara berhendti sejenak, dia menarik nafas panjang, kemudian mengetuk pintu dengan pelan.
"ini Pak, dokumen dari pak Seno" kata Tiara buru-buru dia meletakan dokumen itu di atas meja kerja Rio. setelah itu dia langsung pamit keluar.
"anak magang" panggil Rio. seketika langkah Tiara terhenti saat dia dipanggil.
"iya Pak?" kata Tiara sesudah berbalik badan.
"skripsi kamu sudah selesai?"
"sudah Pak" jawab Tiara cepat
"kalau gitu kamu bisa tolong...."
__ADS_1
"maaf pak akhir-akhir ini saya sangat sibuk pak, banyak kerjaan kantor yang harus saya selesaikan jadi mungkin saya gak bisa bantu bapak untuk hal lainnya" kata Tiara dengan cepat memotong pembicaraan Rio, mendengar itu Rio sedikit terkejut karena dia belum bicara apa yang harus Tiara lakukan tapi dia sudah menolaknya.
"tapi kan aku belum bilang minta tolong apa.."
"maaf pak, saya harus permisi sekarang karena sudah ditunggu pak Seno, permisi" kata Tiara buru-buru keluar ruangan. Rio sampai bengong gak tau harus bilang apa lagi.
"ini anak kenapa? seperti ketakutan" gumam Rio sambil geleng-geleng kepala.
Rio berjalan menuju lift diikuti sekretarisnya, saat dia melewati karyawannya yang sedang mengobrol tanpa sengaja dia mendengar namanya disebut. awalnya dia biasa saja tapi langkahnya terhenti saat dia mendengar nama Tiara disebut. Sepertinya karyawannya itu gak sadar kalo Rio sudah ada disitu mendengarkan pembicaraan mereka.
"Gila, berani banget kan Tiara mendekati Pak Rio" kata salah satu karyawannya.
"iya ya, gak nyangka cantik-cantik pelakor, Pak Rio kan udah ada tunangan" kata yang lainnya
"iya, keliatannya alim tuh Tiara, Tapi kelakuan kayak gitu juga, kamu tau gak kalo tunangan pak Rio sampai nangis-nangis loh, tapi Tiara gak peduli, wah bener-bener muka polos hati jahat" Rio sedikit terkejut dengan obrolan mereka.
"hei, kalian gak ada kerjaan?" kata Rio mengagetkan kedua karyawannya itu.
"ma..maaf Pak" kata kedua orang itu terbata-bata, mereka sangat terkejut dan takut.
"jam kerja kalian gunakan untuk bergosip, pecat mereka" kata Rio memerintahkan sekretarisnya untuk memecat mereka.
"baik Pak Rio" jawab sekretarisnya singkat.
"ampun Pak, kita janji gak akan ngilangin lagi, jangan pecat kita Pak" kata mereka sambil memohon, tapi Rio gak peduli dan langsung meninggalkan mereka yang terduduk lemas karena baru saja kehilangan pekerjaan.
__ADS_1