Sejuta Rasa Di Hati

Sejuta Rasa Di Hati
Acara Lamaran Itu


__ADS_3

Minggu ini adalah hari membeli cincin dan membeli semua barang yang dijadikan untuk seserahan di acara lamaran. Saat ini Rafael, Maryam, Ibrahim, Helena dan Hafiz sedang menyusuri lobby salah satu mall milik perusahaan 2R Property. Mereka menghentikan langkah kaki mereka di depan sebuah toko perhiasan milik almarhum Michelle, tantenya Rafael dan Maryam.


"Ini toko perhiasan berlian milik Tante saya," ujar Rafael.


"Yang namanya Michelle ya?" tanya Hafiz.


"Iya, ayo kita masuk!" ucap Rafael.


Tak lama kemudian mereka masuk ke dalam toko itu. Mereka menyusuri toko itu, sambil melihat - lihat. Mereka menghentikan langkah kakinya mereka ketika berada di depan sebuah etalase. Sudah lama sekali dia tidak mengunjungi sebuah toko perhiasan berlian seperti ini. Waktu dulu, dia sebulan sekali, membeli perhiasan berlian untuk dirinya sendiri. Walaupun dulu ia pernah membeli perhiasan berlian, dia masih terpukau melihat jejeran perhiasan berlian yang di pajang di dalam etalase.


"Selamat siang Tuan Rafael," sapa salah satu pramuniaga toko itu ketika berhenti di samping kanannya Rafael.


Rafael menoleh, lalu berujar, "Tolong Carikan sepasang cincin lamaran untuk adik saya."


"Mari ikut saya! " ajak karyawan toko itu ke sebelah kiri etalase yang sedang dilihat oleh mereka, lalu mereka menggeserkan badannya ke sebelah kiri. Silakan dipilih Tuan dan Nona."


"Kamu pilih yang mana?" tanya Ibrahim lembut sambil menoleh ke Maryam.


"Aku mau yang ini," jawab Maryam sambil menunjuk sepasang cincin yang berukiran elegan dan berlian di tengah cincin itu untuk desain cincin wanitanya, sedangkan desain cincin prianya berukiran minimalis.


"Wah pilihan Mba sangat bagus, pasangan cincin ini merupakan produk terbaik dari toko ini." kata pegawai itu semangat sambil mengambil sepasang cincin. "Ini Nona cincinnya, silakan dicoba. " lanjut pegawai itu sambil menyodorkan sepasang cincin itu kepada Maryam dan Ibrahim.


"Mba kalau cincin prianya terbuat dari apa ya?" tanya Ibrahim sambil mengambil sebuah cincin dari kotaknya.


"Kalau koleksi etalase ini, semua cincin prianya terbuat dari platinum, sedangkan perempuannya ada yang terbuat dari platinum dan juga emas putih."


"Bagus cincinnya," komentar Maryam sambil melihat sebuah cincin berlian yang disematkan di jari manis tangan kirinya.


"Iya, yang itu bagus," ucap Ibrahim sambil melihat sebuah cincin yang disematkan di jari manis tangan kirinya.


"Cincinnya pas di jari manisku, kalau kamu pas nggak cincinnya?"' ucap Maryam.


"Pas. Kita beli yang ini aja ya Mar," ucap Ibrahim sambil melepaskan cincin. "Harganya berapa ya Mba?" lanjut Ibrahim.


"Tiga puluh lima juta lima ratus ribu, Tuan," jawab pegawai itu.


"A, cari yang lain aja cincinnya, soalnya mahal banget," kata Maryam setelah memberikan cincin itu ke pegawai toko.

__ADS_1


"Ga usah pikirin harganya, yang penting kamu suka. Mba, saya mau yang ini, tolong dibungkus sama kotaknya ya," ujar Ibrahim.


"Bayar di kasir ya Tuan."


Lalu pegawai itu mengambil sebuah paper bag dari bawah etalase. Menutup kedua kota itu. Menaruh dua kotak cincin itu ke dalam paper bag. Karyawan itu berjalan ke arah kasir. Ibrahim mengikuti langkah kakinya karyawan itu. Karyawan itu berhenti di belakang petugas kasir, lalu berbisik di petugas kasir itu. Sedangkan Ibrahim menghentikan langkah kakinya di depan meja kasir yang sedang menerima paper bag.


"Selamat siang Tuan, ini barang yang ingin anda beli?" ucap kasir itu dengan sopan sambil memperlihatkan sebuah paper bag yang baru dia terima dari temannya.


"Iya."


Tak lama kemudian kasir itu mengeluarkan isi paper bag. Membuka kedua kotak perhiasan itu, lalu menscanning kedua kotak itu. Memencet beberapa tombol di keyboard komputer. Keluar struk pembelian atas kedua kotak perhiasan itu. Menaruh kedua kotak perhiasan itu di dalam paper bag. Menyatukan struk pembelanjaan dengan ujung paper bag itu dengan strapless. Memberikan paper bag itu ke Ibrahim.


"Jadinya berapa Mbak?" tanya Ibrahim bingung.


"Sudah dibayar sama Tuan Rafael," ucap petugas kasir itu yang membuat Ibrahim kecewa.


"Terima kasih," ucap Ibrahim datar sambil menerima paper bag itu.


Kringgg ...


Kringgg ...


Kringgg ...


"Hallo assalam'ualaikum, ada apa Bel?" ucap Ibrahim to the point.


"Wa'alaikumsalam, lagi di mana Ibra?"


"Lagi di toko perhiasan, ada apa?"


"Nanti sore temani aku ya ke mall," ucap Bella lembut.


"Sorry, aku nggak bisa. Aku sudah punya janji ngajak Maryam jalan-jalan. Udah dulu ya, assalam'ualaikum."


Tiba-tiba sambungan telepon itu terputus. Dengan kesal Bella menjauhkan smartphone miliknya dari telinga kanannya. Membuang asal smartphone miliknya ke atas tempat tidur. Dia mendengus kesal, lalu mengusap wajahnya dengan kasar berulang kali. Wanita cantik yang memiliki hidung mancung itu menduduki tubuhnya di atas tempat tidur dengan kasar. Tanpa Bella sadari, ada seorang wanita paruh baya sedang berjalan melewati pintu kamarnya menghampiri dirinya.


"Karena Maryam, sekarang Ibrahim sudah tidak mempedulikan diriku lagi dan Ibrahim sudah berubah," ucap Bella kesal.

__ADS_1


"Kamu kenapa Neng?" tanya seorang wanita paruh baya sambil berjalan menghampiri Bella.


"Ibu, Ibrahim sudah tidak mempedulikan diriku lagi sejak ada wanita itu."


"Maksud kamu Nona Maryam?" ucap wanita paruh baya itu sambil menduduki tubuhnya di samping kirinya Bella.


"Iya Bu," ucap Bella sedih sambil menyadarkan kepalanya di bahu kanan wanita paruh baya itu.


"Neng, Den Ibrahim itu sudah dijodohkan sejak dia masih bayi dengan Nona Maryam oleh keluarganya dan Den Ibrahim sangat menyukai wanita itu. Ibu harap kamu mengikhlaskan Den Ibrahim. Buang perasaan cinta sebelah pihak itu dari hatimu Nak, biar kamu tidak sedih menerima keadaan seperti ini."


"Tapi kenapa Ibrahim selalu menemaniku sebelum dia bertemu dengan Maryam Bu?" ucap Bella sendu.


"Kan kalian sudah bersahabat dari TK, jadi wajar kalian selalu bersama."


"Tapi kenapa dia sekarang menolak ajakanku? Bisa kan dia memprioritaskan aku, bukan Maryam."


"Neng, hapus rasa cemburumu Nak. Ibu nggak suka kamu seperti ini. Kamu harus sadar diri bahwa Den Ibrahim sudah ada yang punya dan sebentar lagi mereka akan menikah, wajarlah dia memprioritaskan Nona Maryam. Begini nich, terlena dengan sikap baiknya Den Ibrahim. Den Ibrahim itu orangnya sangat baik ke semua orang, kamu jangan salah paham. Lagi pula sejak awal dia hanya menganggap kamu sebagai sahabatnya, tidak lebih. Sadar Nak, kita nggak sebanding dengan keluarganya Den Ibrahim, kita di sini hanya menumpang, kamu jangan terlena dengan kebaikan Den Ibrahim. Sebaiknya kamu terima aja cintanya Pak Strio."


"Udahlah Bu, aku nggak mau bahas lagi masalah perasaanku," ucap Bella sambil menegakkan kepalanya.


"Kita makan siang yuk!" ajak wanita paruh baya itu sambil menoleh ke Bella.


"Ibu duluan aja, aku mau ke kamar mandi dulu," ucap Bella sambil beranjak berdiri.


"Baiklah," ucap wanita paruh baya itu sambil beranjak berdiri.


Tak lama kemudian mereka keluar dari kamarnya Bella. Wanita paruh baya itu kembali ke dapur, sedangkan Bella berjalan ke arah kamar mandi. Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan adiknya yang bernama Benny. Benny menghentikan langkah kakinya di hadapan Bella yang kelihatan murung. Tatapan Benny telah menghentikan langkah kakinya Bella.


"Ada apa Dek?"


"Kak Bella kenapa? Kok kelihatan murung?" ucap Benny khawatir.


"Kakak nggak kenapa-kenapa kok," jawab Bella, lalu tersenyum kikuk.


"Tapi kenapa wajah Kak Bella murung? Apa karena Aa Ibrahim?


"Bukan karena dia. Kakak hanya lagi capek aja."

__ADS_1


"Oh ya Kak, Kakak jadi ikut ke acara lamarannya Aa Ibrahim?"


"Kakak jadi ikut ke acara lamaran itu."


__ADS_2