
Sang Mentari mengintip di ufuk timur cakrawala memancarkan cahayanya yang berwarna kuning ke merah - merahan. Cahayanya menembus lembut celah - celah gorden dan ventilasi udara ke dalam kamar tamu di rumahnya Zarkasih sehingga pencahayaan di kamar itu tampak temaram.
Silaunya sinar matahari mengusik tidur lelapnya Edgar. Edgar membuka kedua matanya secara perlahan. Mengedipkan kedua netranya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya. Penglihatannya berputar - putar. Kepalanya terasa sakit sehingga dia menyipitkan kedua matanya untuk menahan rasa sakit di kepalanya.
Keringat dingin keluar dari setiap pori - pori kulitnya. Tubuhnya menggigil dan perutnya terasa mual. Dia ingin memuntahkan sesuatu. Dia segera bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan ke arah pintu kamar. Menekan handle pintu ke bawah gagang pintu kamar, lalu menariknya hingga pintu terbuka. Dia berjalan pelan ke kamar mandi setelah membuka pintu kamar.
"Om lagi sakit?" tanya salah satu anaknya Zarkasih yang bernama Shifa sambil melihat muka Edgar yang pucat pasi.
"Iya."
"Shifa bantu," ucap Shifa, lalu dia berjalan cepat menghampiri Edgar.
"Saya mau ke kamar mandi," ujar Edgar ketika Shifa berada di samping kanannya Edgar.
"Om mau ngapain ke kamar mandi?"
"Mau muntah."
Tak lama kemudian, Shifa berjalan pelan sambil memapah tubuhnya Edgar menuju kamar mandi. Memutar ke kanan handle pintu kamar mandi, lalu mendorongnya sehingga pintu kamar mandi terbuka. Mereka masuk ke dalam kamar mandi. Shifa memapah Edgar ke westafel. Membuka kran di westafel. Edgar langsung memuntahkan isi perutnya.
"Hoek, hoek, hoek."
"Siapa yang lagi muntah Fa?" tanya Nyai Dasima yang tiba - tiba muncul di ambang pintu kamar mandi.
"Om Edgar Nyai."
"Elo keroki gih tuch orang, biar anginnya keluar."
"Iya Nyai."
Nyai Dasima membalikkan badannya, lalu berjalan pergi meninggalkan Shifa dan Edgar. Edgar membersihkan tangan dan mulutnya, lalu menutup kran westafel. Mengambil tisu untuk mengeringkan mulut dan tangannya. Edgar mengarahkan tubuhnya ke pintu kamar mandi. Ketika Edgar melangkahkan kakinya dengan sigap Shifa memapah Edgar.
Mereka melangkahkan kakinya menuju kamar tamu. Berjalan masuk ke dalam kamar melewati pintu kamar yang terbuka. Shifa menduduki Edgar di tepian sebelah kiri ranjang. Shifa mengarahkan tubuhnya ke pintu kamar. Melangkahkan kakinya lagi menuju ke ruang keluarga, lalu melewati pintu kamar yang terbuka.
Shifa berjalan ke kotak obat yang berada di meja samping kanan sofa. Dia membuka kotak obat yang berisi betadine, minyak tawon, minyak angin, plester, kasa, kapas, wadah minyak, alkohol, koin dan minyak urut. Shifa mengambil koin, wadah minyak, minyak tawon, dan minyak angin, lalu menutup kotak obat itu.
Shifa melangkahkan kakinya menuju ke kamar tamu. Masuk ke dalam kamar. Duduk di pinggir tempat tidur. Menaruh wadah minyak di atas kasur. Menuangkan minyak tawon dan minyak urut di atas wadah minyak. Dia mengambil wadah minyak yang sudah berisi minyak tawon dan minyak urut. Edgar mengerutkan dahinya.
"Kamu mau ngapain?" tanya Edgar lemas.
"Mau ngeroki Om," ucap Shifa sambil mengambil koin.
"Untuk apa saya dikerok?"
"Supaya anginnya keluar dari tubuh Om. Nyai yang suruh Shifa ngeroki Om."
"Baiklah."
"Om buka dulu kaosnya dan Om menghadap ke sana," ujar Shifa yang sambil memberikan arahan.
Tak lama kemudian Edgar membuka kaosnya, lalu mengikuti arahan Shifa sehingga dia memunggungi Shifa. Shifa menelan salivanya berkali - kali melihat punggung milik Edgar yang berotot. Shifa menyentuhnya dengan lembut. Membelai punggung itu tanpa berkedip. Mengusap pelan punggung itu sambil merasakan getaran lembut di relung hatinya.
"Eh elo - elo pada ngapain? Berduaan di dalam kamar, segala buka baju," ucap Nkong yang membuat Shifa dan Edgar menoleh ke Nkong yang sedang berdiri di ambang pintu kamar tamu sambil berkacak pinggang.
"Aye lagi mau ngeroki Om Edgar Nkong, aye disuruh Nyai ngeroki Om Edgar," ucap Shifa.
"Alah, alasan elo aja kali."
"Ih si Nkong kaga percaya. Nkong tanya dach sama Nyai," ucap Shifa kesal.
"Ade ape sich ribut - ribut?" tanya Zarkasih ketika baru sampai di depan pintu kamar tamu.
__ADS_1
"Njar kawini dach anak elo sama kompeni itu, daripada mereka berbuat zina," ucap Enkong.
Semburat merah menyeruak di kedua pipinya Shifa. Edgar menggeleng - gelengkan kepalanya. Zarkasih melebarkan kedua matanya melihat Edgar duduk di samping Shifa tanpa mengenakan atasan, sedangkan Shifa tidak menggunakan jilbabnya.
"Ngapain kalian berdua?" tanya Zarkasih sambil berkacak pinggang.
"Jangan marah dulu Njar. Enkong salah paham. Shifa lagi ngeroki gw karena gw lagi sakit. Shifa disuruh Nyai untuk ngeroki gw. Pas Shifa lagi ngeroki gw, Enkong datang," penjelasan Edgar.
"Oh gitu ceritanya. Shifa kamu ke kamarmu, lalu pakai jilbab kamu. Biar Babe yang ngeroki Om Edgar," ucap Zarkasih sambil berjalan menuju tempat tidur.
"Iya Be."
Tak lama kemudian Shifa menaruh wadah minyak di tepian tempat tidur. Beranjak berdiri, lalu melangkahkan kakinya menuju pintu kamar yang terbuka. Keluar dari kamar tamu sambil menundukkan kepalanya. Melewati Enkong tanpa permisi. Enkong hanya menggeleng - gelengkan kepalanya melihat kelakuan cucunya.
"Babe mau dikerok juga?" ledek Zarkasih sambil menduduki tubuhnya di pinggiran tempat tidur.
"Ogah," ucap Enkong.
Sedetik kemudian Engkong membalikkan badannya, lalu pergi meninggalkan Zarkasih dan Edgar. Edgar memunggungi Zarkasih. Zarkasih mengambil wadah minyak, lalu membalurkan campuran minyak ke badannya Edgar. Setelah itu menaruh wadah minyak, lalu mengambil koin yang berada di dalam wadah. Mengerok punggungnya Edgar dengan searah.
"Auwww!" pekik Edgar.
"Alah baru dikerok begini aja udah kesakitan," ledek Zarkasih sambil mengerok Edgar.
"Auwww! Tadi dikerok sama Shifa nggak sakit, kok sama kamu sakit."
"Emangnya Shifa udah ngeroki elo?" tanya Zarkasih.
"Udah."
"Tapi kok kaga ada tandanya," ujar Zarkasih polos.
"What? Nanti ada tandanya?"
"Apa itu cupangan?"
"Kissmark. Kalau kerokan bahasa Inggrisnya Aligator Kissmark."
"What? Gw baru dengar itu."
"Hahaha, masa elo orang Inggris kaga tahu. Payah elo. Hahaha."
"Maksud elu apa?"
"Ya dach, gw jelasin sejelas - jelasnya. Bekas dikerok itu kan panjang dan tidak rata seperti buaya. Tandanya warna merah keunguan seperti tanda cupangan. Jadi bahasa Inggrisnya kerokan adalah Aligator Kissmark," ucap Zarkasih dengan nada suara yang ngelawak.
"Hahaha, kamu bisa aja bikin istilah sendiri."
"Tadi elo diapain sama anak gw? Atau elo ngapain anak gw?"
"Tadi Shifa ngeroki gw tapi kerokannya tidak sakit seperti ini. Punggung gw kayak disentuh doang."
"Hahaha, elo dikerjain anak gw."
"Maksudnya apa?"
"Dia kaga ngeroki elo, tapi megangi punggung elo doang. Dia mengambil kesempatan dalam kesempitan karena dia suka sama elo."
"Ya wajar sich, soalnya kan wajah gw ganteng."
"Masih gantengan gw."
__ADS_1
"Hahaha, iya dach, gw ngalah."
"Elo jangan tebar pesona sama anak gw kalau elo kaga cinta sama dia."
"Gw nggak pernah tebar pesona sama dia. Gw sudah menganggapnya sebagai keponakan gw sendiri."
"Baguslah kalau begitu. Et dach, ini cupangan buayanya bukan ungu lagi tapi hitam. Anginnya udah kedalon. Elo masuk anginnya udah lama. Nanti habis dikerok, gw baluri minyak angin."
"Babe, Om Rafael telepon," ucap Shifa sambil masuk ke dalam kamar tamu dan membawa smartphone milik Zakarsih.
"Terima kasih putri Babe yang cantik," ucap Zakarsih ketika Shifa menghentikan langkah kakinya, lalu memberikan benda pipih itu ke Zakarsih.
"Assalamu'alaikum El," salam Zakarsih sambil mendekatkan benda persegi panjang itu ke telinga kirinya.
"Wa'alaikumsalam. Njar, ada Nyai Dasi nggak?"
"Ada, siapa yang mau diurut?"
"Maryam, dia lagi masuk angin dan badannya pegal-pegal."
"Maryam sudah pulang ke Indonesia?" tanya Zakarsih yang membuat Edgar terkejut.
Maryam?
Ucap Edgar di dalam hati.
"Iya, baru kemarin sampainya. Main ke sini, ajak semua anak-anak elu ke sini."
"Ya udah, jam sembilan Nyai, gw ame anak-anak gw ke sana."
"Ok, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Tiba-tiba sambungan telepon itu terputus, lalu berucap, "Shifa, bilangin ke Nyai dan adik-adik elu, jam sembilan kita pergi ke rumahnya Om Rafael."
"Asyik!! Kita pergi ke rumahnya Om Rafael," ujar Shifa kegirangan ketika Zarkasih menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya.
"Inget, jangan keganjenan ame Reihan," ucap Zakarsih sambil menaruh smartphone miliknya di atas tempat tidur.
"Iya Be," ucap Shifa malu-malu.
"Gi dach bilangin sekarang."
"Okidoki."
Tak lama kemudian Shifa membalikkan badannya. Berlari kecil menuju pintu kamar, lalu keluar melewati pintu kamar yang masih terbuka. Sedangkan Zakarsih melanjutkan aktivitasnya. Mengerok punggung sebelah kanan Edgar. Edgar meringis menahan rasa sakit di area punggung sebelah kanan. Zarkasih menghentikan kegiatannya setelah kerokannya berwarna merah.
"Maryam siapa?" tanya Edgar yang penasaran dengan Maryam yang tadi disebut oleh Zakarsih.
"Dia itu orang Indonesia, tapi lahir dan dibesarkan di Inggris. Anaknya cantik, baik hati dan pintar. Pipinya tembem, hidungnya mancung dan matanya agak sipit," penjelasan Zarkasih sambil membalurkan campuran minyak di punggung sebelah kiri milik Edgar.
"Apakah dia memiliki tiga orang kakak, yang satu di London, satu di Berlin, dan yang satunya di Jakarta?" tanya Edgar yang masih penasaran sambil menoleh ke Zakarsih.
"Lah, elu kok tahu?" ucap Zarkasih terkejut.
"Tahu, kemarin kita kenalan di airport. Kakaknya seumuran elu kan?"
"Iya. Elu demen ya ame die?"
"Iya, sejak itu, gw mulai suka sama dia. Nanti gw ikut ya."
__ADS_1
"Bujug buneng, main mau ikut aja elu, elu kan lagi masuk angin," ledek Zarkasih.
"Biarin aje, yang penting gw bisa ketemu dia lagi, walaupun gw lagi masuk angin," ujar Edgar santai.