
Edgar merasakan angin semilir menyelimuti hawa di halaman rumahnya Zarkasih. Duduk di bale bambu sambil mengadahkan kepalanya. Menatap gumpalan awan berbentuk tipis transparan dengan tampilan filamen seperti sutra membentang di langit biru dan cahaya sang mentari pagi bersinar cerah menyinari kota Jakarta.
Menikmati suasana pagi hari yang menyegarkan setelah lari pagi bersama Shifa. Suatu kebiasaan Edgar yang suka lari pagi saat weekend. Sejak dia tinggal di rumahnya Zarkasih, setiap weekend dia selalu mengajak Shifa dan Zarkasih lari pagi. Edgar menoleh ke Shifa yang juga sedang menikmati suasana pagi hari yang cerah sambil memejamkan matanya.
"Shifa, tolong ambilkan air putih hangat buat Om ya," pinta Edgar sopan.
"Iya Om," ujar Shifa sambil membuka matanya.
Tak lama kemudian Shifa beranjak berdiri dari bale. Berlari kecil masuk ke dalam rumahnya. Zarkasih keluar rumah ketika Shifa sudah masuk ke dalam rumah. Zarkasih berjalan menghampiri Edgar yang sedang memandang pohon mangga. Zarkasih menghentikan langkah kakinya di depan Edgar.
"Elu mau mangga?"
"Eh, ada Abang Njar. Iya, kayaknya ada beberapa buah yang sudah matang."
"Udah petik aja."
"Assalamu'alaikum," teriak seorang wanita berusia empat puluh sembilan yang masih kelihatan muda sambil berjalan cepat menghampiri mereka.
"Walaikumsalam," balas Zarkasih sambil menoleh ke wanita itu. " Eh, ada Marimar," lanjut Zarkasih sambil merubah posisi tubuhnya.
"Ah si Abang Njar, panggil aku selalu aja Marimar, nama aku pan Mariana bukan Marimar," ucap Mariana manja sambil berjalan mendekati Edgar dan Zarkasih.
"Lah pan itu nama panggilan kesayangan gw ke elo," ucap Zarkasih, lalu dia mengedipkan mata kanannya ke Mariana.
"Alah Bang Njar, baru dua bulan ditinggal bini udah main ayang - ayangan sama aku," ucap Mariana sambil menghentikan langkah kakinya di hadapan Zarkasih.
"Lah pan sekarang gw udeh bebas, terserah gw mau main ayang - ayangan sama siapa aja."
"Dasar tukang tebar pesona. Ingat, umur udeh bau tanah, jangan kecentilan."
Zarkasih menyolek dagunya Mariana, lalu berkata, "Cemburu ye kalau gw main ayang - ayangan sama yang lain?"
"Idih, amit - amit dach aye cemburu sama cabe - cabean," ucap Mariana. "Oh ya, by the way ini siapa Abang?" lanjut Mariana sambil menoleh ke Edgar.
"Adek Abang."
"What? Ape elo kate?" ucap Mariana kaget sambil menoleh ke Zarkasih.
"Iye benaran, Ade gw."
"Hahaha, impossible. Mana ada saudara yang mukanya sangat jauh berbeda. Dia kayak dewa, elo kayak jongos."
"Sialan elo, ngatain gw jongos. Nanti kaga gw kasih duit lagi nich."
Kemudian Mariana tersenyum manja, lalu berkata dengan nada bicara yang menggoda, "Ahh, Abang Njar yang ganteng, jangan begitulah. I am just kidding."
__ADS_1
"Kidding kidding pala elo."
"Yah Abang jangan marah dong, nanti kalau marah, gantengnya hilang loh," ucap Mariana manja sambil mengusap lembut tangan kirinya Zarkasih.
"Tumben elu ada di sini?"
"Kemarin yang nyewa rumah gw yang ada di sini, kagak nerusin nyewanya. Jadi untuk sementara gw yang nempatin."
"Gimana kabarnya Michael?"
"Dia baik-baik aja Bang Njar yang gantengnya kebangetan," goda Mariana sambil merubah posisinya sehingga berada di samping kanannya Zarkasih.
"Romannya ada maunya nich?" tanya Zakarsih menyelidik.
"Iye Bang, tolong beliin skincare aku ya, skincare aku udah habis," ujar Mariana manja sambil gelayutan mesra di lengan kanannya Zarkasih.
"Berapa?"
"Hanya lima juta Abang Njar yang ganteng," bisik Mariana sensual.
"Ngapain ja lang itu datang kemari?!" ucap Shifa sambil membawa nampan yang berisi dua buah gelas air putih dan satu piring ubi rebus.
"Shifa kaga boleh begitu sama saudara!" bentak Zarkasih sambil melepaskan tangannya Mariana yang masih bergelayutan.
"Shifa!" bentak Zarkasih sambil berjalan menghampiri Shifa.
Tak lama kemudian, Shifa masuk ke dalam rumah sambil membawa nampan. Zarkasih menyusulnya masuk ke dalam rumah dengan langkah kaki yang tergesa - gesa. Mariana menatap intens yang genit ke Edgar yang sedang menoleh ke pintu masuk rumah. Tanpa disadari Edgar, Mariana berjalan pelan dan duduk di samping kirinya Edgar.
"Nama kamu siapa?" tanya Mariana menggoda sambil mengelus paha kirinya Edgar.
Edgar menepis tangannya Mariana, lalu berucap, "Bisakah Anda bersikap sopan terhadap tamu?"
"Sorry, soalnya aku kaga kuat lihat wajah orang yang sangat ganteng bagaikan dewa. Oh ya perkenalkan, nama saya Mariana," ucap Mariana, lalu dia mengulurkan tangan kanannya ke Edgar.
Alfonso mengatupkan tangannya di depan dada, lalu berkata, "Edgar."
Lah ada bule macam gini, masa salaman kaga bersentuhan. Seorang bule yang unik, harus gw dapetin walaupun semalam.
Batin Mariana.
Kemudian Mariana menurunkan tangannya. Dia menyilangkan kaki kanannya sehingga memperlihatkan paha mulusnya. Edgar menoleh ke Mariana yang sedang menatap lapar ke dirinya. Edgar menggelengkan kepalanya berulang kali melihat reaksinya Mariana yang agresif.
"Saya saudaranya Zarkasih. Jadi Anda jangan sungkan untuk menyentuh saya."
"Maaf, saya tidak mau."
__ADS_1
"Alah, sombong banget kamu. Nanti, suatu saat, kamu pasti menyentuh saya," ucap Mariana penuh percaya diri.
"Mariana, maaf, sebaiknya kamu pulang aja," ucap Zarkasih sambil berlari kecil menghampiri Mariana dan Edgar.
"What? Why?" tanya Mariana kaget.
"Shifa ngambek lihat elu ada di sini. Elu kan tahu sendiri tuch anak belum bisa melupakan peristiwa itu," ucap Zarkasih sambil menghentikan langkah kakinya di hadapan mereka.
"Huh!" gerutu Mariana sambil beranjak berdiri.
"Nanti malam Abang ke rumah kamu, mau kasih uang buat beli skincare kamu," ucap Zakarsih lembut.
"Oke, aku tunggu ya Abang Zakarsih yang guatenggg banget," ujar Mariana sensual.
Tak lama kemudian Mariana berjalan sambil melenggak - lenggokan pinggulnya bagai jalanya seorang peragawati di atas panggung catwalk. Menelusuri jalanan hingga menembus kebun di depan rumahnya Zarkasih. Zarkasih menduduki tubuhnya di samping kirinya Edgar sambil mendengus kesal. Edgar menoleh ke Zarkasih yang sedang kelihatan murung.
"Ada apa Abang Njar?"
"Gw bingung bagaimana caranya ngejelasin lagi tentang kesalahpahaman antara Maimunah, gw dan Mariana ke Shifa. Berbagai cara udah gw jelasin ke dua, tapi dia masih anggap Mariana adalah pembunuh ibunya. Padahal ibunya meninggal karena kena serangan jantung," ucap Zarkasih sambil menoleh ke Edgar.
"Memangnya kesalahpahaman di antara kalian itu seperti apa?"
"Waktu itu gw datang ke apartemennya Mariana karena Mariana membutuhkan bantuan gw. Dia ingin membangun sebuah villa dan dia ingin gw yang desain villanya itu. Setelah mendiskusi tentang rancangan itu, Mariana jatuh di dalam kamar mandi sehingga pinggangnya keseleo. Gw gendong Mariana, lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tak sengaja gw kepleset karena telapak kaki gw basah dan berakhir bibir kami bersentuhan. Tiba-tiba bini gw dan Shifa ada di dalam kamar itu dan sekilas mereka melihat kami. Mereka beranggapan kami telah melakukan perbuatan yang tak senonoh. Sontak aku menjelaskan semuanya, tapi tiba-tiba bini gw kena serangan jantung. Gw langsung bawa dia ke rumah sakit, tapi sebelum sampai di rumah sakit, bini gw udah meninggal," ucap Zarkasih sendu.
"Memangnya Abang Zarkasih masih saudara sama Mariana?"
"Iya, Babe gw sepupunya Nyak Rogaya, Nyak Rogaya itu, ibunya Mariana. Bini ama anak-anak gw tahu kok kalau kita masih bersaudara."
"Elu mencintai Mariana?"
"Iya, sejak kami remaja, aku jatuh cinta kepadanya, dia cinta pertamanya gw, tapi rada cinta gw bertepuk sebelah kanan. Dia tidak mencintai gw. Dia menikah dengan Ricky, sedangkan gw menikah dengan Maimunah karena perjodohan. Lambat laun gw menyayangi Maimunah, tapi gw nggak mencintainya padahal gw udah berusaha untuk jatuh cinta kepadanya. Makanya itu gw ambil pekerjaan di Dubai untuk melupakan Mariana dan menghindari rasa bersalah gw terhadap Maimunah. Dulu, setiap hari kalo gw ada di sini bersama bini gw, gw merasa bersalah karena gw nggak bisa mencintai dirinya. Gw kira selama gw kerja di Dubai, gw bisa melupakan Mariana, tapi ternyata tidak. Gw berusaha untuk tidak menghubungi Mariana supaya bisa melupakannya. Tapi tiba-tiba dia hubungi gw. Awalnya gw tidak merespon dia, tapi lama kelamaan, akhirnya tembok pertahanan gw runtuh juga karena dia sedang sedih. Dia ditinggal oleh suaminya karena suaminya selingkuh dengan wanita lain. Dari situ kami saling berkomunikasi sehingga gw ngajak dia nikah siri, tapi dia nggak mau karena masih trauma dengan hubungan pernikahan, dia pengennya hubungan kami hanya sebagai teman. Setiap gw pulang ke Indonesia, sebisa mungkin kami bertemu."
"Apakah setelah bini elu meninggal, elu ngajak nikah dia lagi?"
"Iya, sebelum elu datang kemari, gw lamar dia secara pribadi di apartemennya. Dia menolaknya karena baru sebulan Maimunah meninggal dunia."
"Kenapa elu mau menikahi dia?"
"Karena gw mencintainya, dan supaya bisa mengubah dia menjadi seorang wanita yang sholeha. Gw yakin, gw bisa melakukan itu. Elu bisa nggak ngomong sama Shifa? Ngomong soal hubungan gw dengan Mariana."
"InsyaAllah bisa."
"By the way, elu udah ketemu lagi sama Maryam?"
"Belum, sudah sebulan gw kerja, gw belum ketemu dia lagi."
__ADS_1