Sejuta Rasa Di Hati

Sejuta Rasa Di Hati
Pergi Ke Surabaya


__ADS_3

Malam ini Maryam dan Edgar pergi ke sebuah restoran klasik dengan menggunakan jasa taksi silver bird untuk makan malam bersama. Sebuah mobil Mercedes Benz C Class warna hitam berhenti di depan pintu utama sebuah bangunan dua lantai yang berdiri di pusat kota Surabaya. Edgar membuka pintu taksi bagian penumpang belakang, lalu menurunkan dua kaki jenjangnya dari dalam taksi.


Keluar dari dalam taksi. Menggeser tubuhnya supaya Maryam bisa keluar dari dalam taksi. Maryam keluar dari dalam taksi. Tak lama kemudian mereka melangkahkan kakinya secara beriringan. Maryam terpana melihat bangunan restoran yang bergaya retro klasik. Mereka berjalan menuju pintu restoran melewati sebuah taman yang asri.


Dua orang pegawai restoran menyambut mereka dengan sopan dan ramah ketika mereka berada di ambang pintu masuk restoran. Masuk ke dalam restoran yang bernuansa kolonial sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan untuk mencari meja yang kosong.


"Selamat malam Tuan dan Nyonya, ada yang bisa saya bantu," ucap salah satu pelayan restoran itu yang ramah.


"Tolong carikan meja untuk kami berdua, Mbak," ucap Edgar ramah.


"Baik Tuan, silakan ikut saya," ucap pelayan itu dengan sopan.


Tak lama kemudian mereka berjalan menyusuri ruangan restoran yang memiliki konsep fine dining resto. Memperhatikan interior ruangan yang bernuansa klasik. Melihat langit - langit restoran yang mempunyai tinggi enam meter, panel kayu dan kaca pada pintu. Seperti bangunan jaman kolonial Belanda. Mereka berhenti di depan meja yang masih kosong.


"Di sini mejanya Tuan, silakan duduk Tuan dan Nyonya," ucap pelayan itu sopan dan ramah.


"Terima kasih ya Mbak," ucap Maryam ramah, lalu dia duduk di salah satu kursi, sedangkan Edgar duduk di kursi yang berada di hadapan Maryam.


"Sama - sama Nyonya," ucap pelayan itu ramah. "Ini daftar menunya Tuan dan Nyonya," ucap pelayan itu sambil memberikan daftar menu ke Edgar dan Maryam.


Edgar dan Maryam menerima daftar menu itu. Mereka membuka daftar menu itu. Maryam bingung mau pesan apa karena tidak ada keterangan halal di daftar menu itu. Edgar menoleh ke Maryam yang hanya membuka daftar menu. Edgar menutup daftar menu itu. Maryam juga menutup daftar menu itu.


"Mau pesan apa Tuan dan Nyonya?" tanya pelayan itu sopan.


"French fried 1 dan Green tea Jasmine 1," ucap Maryam sopan sambil menoleh ke pelayan itu.


"Roasted chicken tagliata with mushrooms creamy sauce, mashed potatoes and roasted vegetables 1. Aqua Panna 250 ml," ucap Edgar sopan sambil menoleh ke pelayan itu yang sedang mencatat pesanan mereka.


"Saya ulangi ya Tuan dan Nyonya. French fried 1 dan Green tea Jasmine 1. Roasted chicken tagliata with mushrooms creamy sauce, mashed potatoes and roasted vegetables 1. Aqua Panna 250 ml. Apakah sesuai dengan pesanan?" ucap pelayan itu sopan sambil melihat catatannya.

__ADS_1


"Iya," ucap Edgar sopan.


"Baik Tuan dan Nyonya, saya permisi dulu," ucap pelayan itu sopan.


"Iya Mbak," ucap Edgar sopan.


Tak lama kemudian pelayan itu pergi. Tatapan mata mereka bertemu. Mereka saling menatap intens. Tak disangka gerak - gerik mereka mulai dari masuk ke dalam restoran yang telah dibangun pada tahun seribu sembilan ratus sepuluh hingga sekarang dibidik oleh sebuah kamera smartphone milik Bella.


"Sepertinya cukup foto-foto ini," gumam Bella yang sedang duduk di salah satu meja di restoran yang dibangun oleh Arichtec Algemeen Ingenieurs en Architecten Bureau, sebuah biro arsitek terkenal yang banyak membangun landmark selama masa penjajahan Belanda.


Tak lama kemudian Bella menyentuh beberapa ikon untuk mengirim foto-foto Maryam yang sedang berduaan dengan Edgar ke Ibrahim. Bella tidak menyangka, setelah memutuskan sambungan telepon ke Ibrahim. Bella pergi keluar untuk mencari makanan dengan menggunakan jasa gojek. Lalu dia menemukan taksi yang ditumpangi oleh Maryam dan Edgar di perempatan jalan.


Setelah menemukan taksi itu, dia membuntutinya. Bella berada tak jauh dari Edgar dan Maryam. Bella menaruh smartphone miliknya di atas meja. Memperhatikan Edgar dan Maryam dengan seksama. Dia melihat Edgar dan Maryam sedang berbicara dan tertawa. Dia tersenyum sinis melihat keakraban mereka. Apa yang dia lihat selama berada di Surabaya diluar perkiraannya.


"Kasihan sekali Ibrahim, semoga setelah mengetahui kebenaran ini, Ibrahim membatalkan pernikahan dia dengan Maryam dan dia bisa menikahi diriku," gumam Bella bermonolog.


Dddrrrttt ... dddrrrttt ... dddrrrttt ...


"Hallo, assalam'ualaikum Ibra," sapa Maryam lembut.


"Tolong kamu samperin Maryam, kasihkan handphone kamu ke dia sekarang!" titah Ibrahim dengan nada suara yang marah.


"Ibra, kamu tenang dulu. Kamu jangan gegabah Ibra. Kamu bisa membicarakan hal ini ke Maryam, setelah dia pulang ke Jakarta. Tidak bagus untuk dibicarakan sekarang," ucap Bella lembut.


"Ya udah kalau gitu!" ucap Ibrahim kesal.


Ibrahim menjauhkan sebuah benda persegi panjang dari telinga kirinya. Menggeser ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Menyentuh beberapa ikon untuk melakukan panggilan telepon ke Imam, lalu menggeser ikon hijau Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Assalamu'alaikum Mam, udah dapat tiketnya?"

__ADS_1


"Ada Pak, berangkatnya jam sepuluh malam, naik maskapai Buraqu."


"Ok, tolong kirimin tiketnya ke email aku dan tolong belikan aku pakaian santai dan setelan baju kerja sekarang! Setelah beli itu semua, tolong antarkan semua itu ke bandara!" perintah Ibrahim.


"Baik Pak."


Tak lama kemudian, Ibrahim menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Menggeser ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Beranjak berdiri dari kursi kebesarannya. Merapikan jas kerjanya. Mengambil remote AC, lalu mematikan AC. Menaruh remote AC di tempat semula. Mengambil tas kerjanya dari atas meja.


Pintu ruang kerjanya Ibrahim terbuka. Ibrahim melihat sosok maminya. Maminya berjalan menghampiri Ibrahim. Menghentikan langkah kakinya di hadapan Ibrahim. Ibrahim menyalim tangan kanannya maminya dengan takzim. Maminya Ibrahim melihat Ibrahim menggenggam pegangan sebuah tas kerja.


"Kamu mau pulang?" tanya Helena, maminya Ibrahim.


"Enggak, aku mau ke Surabaya, Mami mau ke mana?"


"Mami mau ke rumah sakit. Tadinya mau ajak kamu ke rumah sakit, tapi kamunya nggak bisa. Kamu mau ngapain ke Surabaya?"


"Ada urusan penting. Oh ya, Mami pernah curiga nggak sama papa?"


"Curiga apa?" tanya Helena bingung.


"Mami percaya seratus persen sama Papa?"


"Percaya dong, kalau pasangan itu harus saling percaya Sayang. Kamu kenapa sich?"


"Aku takut Maryam selingkuh sama Pak Edgar Mi."


"Ya ampun my son, kamu itu sebenarnya bukan takut, tapi cemburu. Mami tahu, tadi sore Maryam dan Pak Edgar pergi ke Surabaya untuk memantau perkembangan proyek kalian. Selain itu Pak Edgar itu tampan dan mapan, tapi dia nggak sebanding denganmu. Mami yakin Maryam tidak selingkuh dengan Edgar. Percayalah sama Maryam my son," ucap Helena meneduhkan.


"Tapi aku dapat kiriman foto-foto Maryam sedang berduaan dengan Edgar di sebuah restoran Mam."

__ADS_1


"Mungkin mereka membicarakan tentang proyek yang sedang kalian kerjakan. Percayalah sama Mami, Sayang. Maryam tidak akan selingkuh."


"Tapi malam ini juga aku harus pergi ke Surabaya."


__ADS_2