
Tolong divote ceritanya dan kasih sarannya ya π.
Silahkan tinggalkan jejak dengan mengklik like di bawah cerita setiap babnya π.
Kasih bintang lima ya π.
Happy reading π€.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Sang dewi malam bersinar terang di cakrawala. Kawanan bintang membentang luas di angkasa raya sehingga membentuk keharmonisan alam yang indah dipandang. Keindahan alam itu mengiringi rutinitas para makhluk sosial yang berada di dalam rumah kediaman keluarga Rafael.
Malam hari ini rencananya kedua orang tuanya Ibrahim dan Ibrahim ingin bersilaturahmi dan ingin membicarakan rencana pernikahan Ibrahim dengan Maryam. Rafael benar-benar mempersiapkan semuanya untuk pertemuan pertama bagi keluarga inti Maryam dan Ibrahim setelah Maryam dan Ibrahim melakukan ta'aruf.
Malam ini Maryam sangat cantik dengan polesan make up natural dan tatanan jilbab syar'i yang elegan. Berpenampilan anggun dengan memakai gamis bermotif bunga - bunga warna merah darah dan maroon. Maryam berjalan menelusuri lorong lantai dua menuju lantai satu. Menuruni beberapa anak tangga. Membelokkan tubuh ke ruang keluarga. Melanjutkan langkah kakinya menghampiri Rafael dan Latifa beserta anak-anaknya. Maryam tersenyum hangat melihat kedekatan Latifa dengan anak-anaknya.
"Sudah sampai mana mereka?" tanya Rafael lembut sambil menoleh ke Maryam.
"Salemba Bang," ucap Maryam sambil menduduki tubuhnya di samping kanannya Rafael. "Di mana Reihan Bang?" lanjut Maryam sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru ruang keluarga.
"Lagi di kamarnya."
"Tumben sekarang dia jarang keluar dari kamarnya," samber Maryam sambil menoleh ke Rafael.
"Sejak dia mengetahui siapa ibu kandungnya, dia lebih pendiam."
"Abang sering ajak dia pergi bersama sejak dia mengetahui siapa ibu kandungnya?"
"Sudah, tapi dia nggak mau terus."
"Permisi Tuan, Tuan Hafiz dan keluarganya sudah datang," ucap salah satu maid sopan.
"Tolong siapkan semua minuman dan makanannya ya Bu," ucap Rafael ramah sambil beranjak berdiri.
"Iya Tuan," ucap maid itu sopan, lalu dia berbalik dan melangkahkan kakinya ke ruang makan.
"Ifa, ayo kita ke depan," ucap Rafael lembut sambil menoleh ke Latifa.
"Iya Abang," ucap Latifa lembut sambil mengangkat tubuh mungilnya anak mereka yang bernama Aulia, lalu menggendongnya dengan kain.
"Abang aku grogi," ujar Maryam malu-malu.
"Dibawa santai aja Dek supaya tidak grogi," ucap Rafael sambil mengusap puncak kepalanya Maryam penuh dengan kasih sayang.
Tak lama kemudian mereka melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Selama Maryam melangkahkan kakinya ke ruang tamu, hatinya berdebar dan keringat dingin keluar dari pori-pori kulit mulusnya. Maryam menatap ke Ibrahim dengan mata yang berbinar-binar. Begitu juga dengan Ibrahim. Ibrahim menatap Maryam dengan mata yang berbinar-binar. Ibrahim hanya didampingi oleh ayahnya dan seorang pria.
Maryam tersipu malu karena ditatap intens oleh Ibrahim sehingga Maryam menundukkan kepalanya. Mereka merasakan gelayar kebahagiaan yang menyelimuti rongga jiwa mereka karena bisa bertemu langsung dari sekian tahun mereka hanya melakukan video call dan chatting. Rona merah menyeruak di pipinya Maryam. Rafael, Maryam dan Latifa menghentikan langkah kakinya dihadapan para tamunya.
"Assalamu'alaikum," sapa Rafael ramah sambil mengulurkan tangan kanannya ke Hafiz.
"Wa'alaikumsalam," ucap Hafiz sambil membalas uluran tangan kanannya Rafael, lalu mereka berjabat tangan.
__ADS_1
"Tambah ganteng aja anakmu Fiz," ujar Rafael sambil melepaskan tangan kanannya dari genggaman Hafiz.
"Alhamdulillah, terima kasih El," ucap Hafiz sambil menurunkan tangan kanannya.
"Assalamualaikum Om El," ucap Ibrahim sopan sambil mengulurkan tangan kanannya ke Rafael.
"Wa'alaikumsalam Ibra," ucap Rafael sambil membalas uluran tangan kanannya Ibrahim, lalu mereka berjabat tangan.
"Mami kamu ke mana?" tanya Rafael sambil melepaskan telapak tangan kanannya dari genggaman Ibrahim.
"Maaf Om, Mami nggak bisa ikut karena lagi sakit," ucap Ibrahim sopan sambil menurunkan tangan kanannya.
"Assalamualmbaaikum Tuan Rafael, perkenalkan saya Irman, perwakilan dari WO," ucap Irman sopan sambil mengulurkan tangan kanannya ke Rafael.
"Wa'alaikumsalam," ucap Rafael sopan sambil membalas uluran tangan kanannya Irman, lalu mereka berjabat tangan.
"Silakan duduk," ucap Rafael ramah.
Sedetik kemudian mereka menduduki tubuhnya. Rafael duduk di antara Maryam dan Latifa. Sedangkan Ibrahim duduk di hadapan Maryam. Maryam masih menundukkan kepalanya karena malu dan grogi. Ibrahim menatap ke Maryam dengan intens. Rafael tersenyum senang melihat kelakuan dua sejoli yang sedang jatuh cinta. Rafael mengalihkan pandangannya ke Hafiz yang sedang tersenyum sopan.
"Perkenalkan ini istri saya," ucap Rafael ramah sambil menyentuh bahu kanannya Latifa.
"Assalam'ualaikum, saya Latifa, panggil aja Nyonya El," ucap Latifa ramah sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan tubuhnya Aulia.
"Wa'alaikumsalam, baru kali ini aku bisa lihat langsung istri kamu dari sekian tahun kita bekerja sama," ujar Hafiz.
"Dan yang ini, calon pengantin wanitanya," ucap Rafael ramah sambil menyentuh bahu kirinya Maryam.
"Wa'alaikumsalam Maryam, Aki kamu tak salah memilihkan jodoh untuk kamu Nak," ucap Hafiz ramah.
"Permisi," kata Bi Ijah, ketua maid di mansionnya Rafael.
Bu Ijah berjalan menghampiri mereka sambil membawa nampan yang berisi satu toples kue keju kering dan tiga gelas jus jeruk. Rafael menoleh ke Ibrahim yang masih menatap intens ke Maryam yang sedang menundukkan kepalanya. Bi Ijah menghentikan langkah kakinya, lalu menaruh satu toples kue dan tiga buah gelas di atas meja.
"Permisi," lanjut Bi Ijah sopan, lalu dia berjalan ke dapur.
"Ayo diminum dulu jusnya dan dimakan kuenya. Nanti kita lanjutkan lagi rapatnya. " ucap Latifa sambil mengambil salah satu gelas yang berada di atas meja, lalu meminumnya.
"Kami ingin acara khutbah dan pernikahannya Ibrahim dan Maryam diurusi oleh pihak WO. Kebetulan istri saya memiliki EO dan WO yang dipimpin oleh Pak Irman.
Tak lama kemudian, Irman mengeluarkan beberapa brosur gedung, catering, tenda, salon, dekorasi, photograper, kartu undangan, dan desainer baju pernikahan dan berkas - berkas perincian harga akad nikah dan resepsi pernikahan. Semua itu, Irman taruh di atas meja tamu. Setelah itu dia mengambil buku dan pulpen, lalu menulis. Rafael dan Latifa melihat beberapa brosur yang disodorkan oleh Irman.
"Tuan dan Nyonya silakan pilih," ucap Irman sopan sambil menatap Rafael dan Maryam secara bergantian.
"Dek, kamu mau yang mana?" tanya Rafael sambil mengambil salah satu brosur.
"Terserah Abang aja," jawab Maryam malu-malu sambil menoleh ke Rafael.
"Nak, kamu mau di mana acara khitbah dan pernikahan kamu?" ucap Hafiz sambil menoleh ke Ibrahim.
"Aku serahkan ke pihak Maryam aja," ucap Ibrahim sambil menoleh ke Hafiz.
__ADS_1
"Aku inginnya di balai gedung 2R Corporation. Apakah WO Nyonya Helena bekerja sama dengan pengurus gedung?" ucap Rafael sambil menoleh ke Irman.
"Iya Tuan Rafael," ucap Irman sambil mencatat.
"Baiklah saya maunya akad dan resepsi pernikahan mereka di sana," ucap Rafael sambil membuka salah satu brosur catering.
"Kalau acara Khitbahnya di mana?" tanya Hafiz sambil menoleh ke Rafael.
"Di rumah kita aja Sayang," ucap Latifa sopan sambil menoleh ke Rafael.
"Boleh juga usul kamu Sayang," ucap Rafael lembut sambil menoleh ke Latifa. "Ya udah, acara Khitbahnya di sini," ucap Rafael yakin sambil menoleh ke Hafiz dan Irman.
"Baiklah. Anak saya ingin secepatnya mengkhitbah Maryam. Rencananya hari Sabtu pekan depan. Apakah Maryam sudah siap?" tanya Hafiz sambil menatap ke Rafael dan Maryam secara bergantian.
"Bagaimana Dek? Kamu sudah siap Sayang?" tanya Rafael sambil menoleh ke Maryam.
"Aku sudah siap Abang," ucap Maryam yakin sambil menoleh ke Rafael.
"Ok hari Sabtu, bagaimana kalau mulai acara Khitbahnyanya jam sepuluh pagi?" ujar Rafael.
"Aku setuju," jawab Ibrahim yakin.
"Tuan Rafael mau konsep apa untuk acara khitbahnya? " tanya Irman yang langsung to the point.
"Saya mau yang nuansa Islami. Perempuan dan laki - laki dipisah ya Pak."
"Baik Tuan. Mau pakai iringan musik apa Bu?"
"Ehmmm... hadroh."
"Tuan maunya yang membaca ayat suci Al-Quran di acara akad nikah siapa? "
"Ustadz Baharuddin."
"Yang membaca sari tilawah siapa?"
"Latifa, istri saya," jawab Rafael yakin.
"Permisi, maaf saya mau ke belakang dulu," ucap Ibrahim sopan.
"Dek, tolong antarkan Ibrahim," ucap Rafael sambil menoleh ke Maryam.
"Baik Bang."
Tak lama kemudian Ibrahim dan Maryam beranjak berdiri. Melangkahkan kakinya menjauh dari ruang tamu dengan sikap yang sopan. Maryam berjalan mendahului Ibrahim dengan detak jantung buang tak beraturan. Sedangkan Ibrahim berjalan mengikuti langkah kakinya Maryam sambil merasakan hati yang berdebar-debar. Detak jantung mereka tak beraturan.
Tak sengaja Maryam menginjak mainan milik Mikail sehingga dia terjungkal ke depan. Dengan sigap Ibrahim menarik pinggang rampingnya sehingga Maryam tidak terjatuh. Tatapan mata mereka saling mengunci. Debaran di hati mereka saling bergejolak. Gelayar lembut menyusuri aliran darah mereka. Namun sebisa mungkin mereka menahan gejolak rasa saling suka yang menyelimuti jiwa mereka.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Ibrahim khawatir.
"Iya, aku baik-baik saja."
__ADS_1