Sejuta Rasa Di Hati

Sejuta Rasa Di Hati
Kamu


__ADS_3

Kringgg ... kringgg ... kringgg ...


Bunyi dering dari sambungan telepon interkom di dalam ruang kerjanya Ibrahim telah membuyarkan fokusnya Ibrahim. Ibrahim menghentikan ketikannya. Dia mengangkat gagang pesawat telepon. Mendekatkan gagang pesawat telepon itu ke telinga kirinya.


"Iya Imam, ada apa?" tanya Ibrahim lugas.


"Tuan, ada Pak Edgar ingin bertemu dengan anda Tuan," ucap Imam, asistennya Ibrahim.


"Suruh masuk!" titah Ibrahim.


"Baik Tuan."


Ibrahim menjauhkan gagang pesawat telepon itu dari telinga kirinya. Menaruhnya di tempat semula. Mengutak - ngatik keyboard dan mouse untuk menyimpan dokumen yang sudah dia buat. Menutup layar laptopnya ketika Edgar membuka pintu ruang kerjanya. Edgar tersenyum sopan sambil menganggukkan kepalanya ke Ibrahim. Ibrahim juga tersenyum sopan sambil menganggukkan kepalanya.


"Silakan masuk Pak Edgar," ucap Ibrahim ramah.


"Baik Pak."


Sedetik kemudian Edgar masuk ke dalam beberapa langkah, lalu menutup pintu ruang kerjanya. Melanjutkan langkah kakinya menghampiri Ibrahim. Menghentikan langkah kakinya ketika berada di hadapan Ibrahim ketika Maryam membuka pintu kerjanya Ibrahim dengan wajah yang ceria. Ibrahim tersenyum senang melihat wanita idamannya datang ke kantornya, sedetik kemudian Ibrahim berdiri.


Melihat reaksinya Ibrahim, Edgar mengikuti arah pandang matanya Ibrahim. Matanya Edgar berbinar melihat sosok wanita yang dia rindukan. Detak jantung mereka tak beraturan melihat Maryam menutup pintu itu, lalu berjalan menghampiri mereka. Maryam menghentikan langkah kakinya, lalu tersenyum sopan sambil menganggukkan kepalanya ke mereka secara bergantian. Mereka pun membalasnya.


"Assalamu'alaikum Pak Ibrahim," salam Maryam lembut sambil mengatupkan telapak tangannya di depan dada.


"Wa'alaikumsalam Sayang," ucap Ibrahim lembut sambil mengatupkan telapak tangannya di depan dada.


"Bisa kita mulai bahas rancangan beach house dan resort di lulukamba?" tanya Maryam sopan sambil meminimalisir rasa cintanya ke Ibrahim.


"Bisa Sayang, Sayang dan Pak Edgar silakan duduk," ucap Ibrahim lembut.


Sedetik kemudian Maryam menduduki tubuhnya di salah satu kursi yang berada di hadapan Ibrahim. Ibrahim juga menduduki tubuhnya di singgasananya. Sedangkan Edgar duduk di kursi sebelah kanannya Maryam sambil menatap Maryam dengan intens. Ibrahim menoleh ke Maryam dengan wajah yang bersinar.


"Terima kasih atas kepercayaan Ibu terhadap hasil karya perusahaan ini dalam membangun sebuah resort dan villa lagi, semoga hasil rancangan yang kami buat sesuai dengan anda," ucap Ibrahim ramah.


"Bisa aku lihat beberapa rancangan proyek itu?"


"Bisa," ucap Ibrahim lembut. "Pak Edgar tolong berikan beberapa design proyek itu," ucap Ibrahim sopan yang mengalihkan dunianya Edgar.


"Baik Pak," ucap Edgar sopan sambil menoleh ke Ibrahim. "Ini Bu design eksterior dan interior proyek itu," lanjut Edgar sopan sambil memberikan satu map ke Maryam.


"Terima kasih," ujar Maryam sopan sambil menerima map itu.


"Oh ya Sayang, maaf, besok aku nggak jadi ikut kamu ke lokasi proyek di daerah Banyuwangi," ucap Ibrahim sambil menoleh ke Maryam yang sedang membuka map.


"Kenapa nggak jadi ikut A?" tanya Maryam lembut sambil menoleh ke Ibrahim.


"Aku harus gantiin Papa nemuin kliennya yang dari Belanda, Papa tadi pagi kena serangan jantung."


"Kok kamu nggak bilang dari tadi A!" ucap Maryam kesal.


"Maaf, aku nggak mau ganggu kamu."


"Ih kamu mah orangnya meni gitu!" gerutu Maryam. "Terus sekarang Papa kamu gimana? Di bawa ke rumah sakit?"

__ADS_1


"Papa kabarnya sudah lebih baik. Iya, dia sekarang dirawat di rumah sakit."


"Di rumah sakit mana?"


"Pondok Indah, ruang VVIP no.1."


"Aku mau jenguk Papa kamu," ucap Maryam sambil menutup map itu.


"Sekarang?" tanya Ibrahim kaget.


"Iya A."


"Kamu jadi pilih yang mana?"


"Kamu aja yang pilih," jawab Maryam sambil beranjak berdiri.


"Nanti yang gantiin aku Pak William, dia seorang tehnik sipil bertaraf internasional dan bisa menghandle jika ada suatu perubahan."


"Iya nggak apa-apa. Oh ya, yang ikut ke proyek itu siapa aja?" tanya Maryam sambil menoleh ke Ibrahim.


"Pak Edgar, dia seorang arsitek bertaraf internasional dan Pak William. Semoga mereka besok bisa membantu kamu untuk melihat perkembangan proyek hotel di Banyuwangi dan bisa membantu kamu untuk mendirikan sebuah resort dan beach house di Bulukamba serta bisa membantu kamu untuk menentukan tempat yang tepat untuk dijadikan resort dan beach house di Bulukamba."


"Baiklah."


"Boleh aku ikut?" tanya Ibrahim.


"Ehm ... boleh."


"Aa kayak anak kecil aja," ujar Maryam.


"Hehehe, habisnya aku senang banget bisa pergi sama kamu," ucap Ibrahim sambil beranjak berdiri.


"Maaf Pak, bagaimana ini? Hasil pembicaraan kita apa hari ini? Mau pilih yang mana?" tanya Edgar sambil menoleh ke Ibrahim.


"Aku serahkan ke Pak Edgar, pilih yang paling aesthetic, elegan, menarik dan yang memiliki nilai jual yang tinggi," ucap Ibrahim sambil menoleh ke Edgar.


"Baik Pak, terima kasih atas kepercayaan Pak Ibrahim dan Bu Maryam kepada saya," ucap Edgar sopan sambil menatap ke Ibrahim dan Maryam secara bergantian.


"Sama-sama Pak Edgar," ucap Maryam ramah.


Edgar beranjak berdiri, lalu berucap sopan, "Saya pamit kembali bekerja."


"Iya," ucap Ibrahim ramah.


"Permisi," ucap Edgar sopan.


"Ayo A, kita pergi sekarang!"


"Ayo!"


"Lady first," ucap Edgar lembut yang membuat Ibrahim kaget.


"Baik Pak Edgar."

__ADS_1


Tak lama kemudian Maryam berjalan menghampiri pintu ruang kerjanya Ibrahim. Edgar juga melangkahkan kakinya menuju pintu ruang kerjanya Ibrahim. Begitu juga dengan Ibrahim. Ibrahim membuntuti langkah kakinya Edgar. Tak disangka, hak sepatu kanannya Maryam patah sehingga membuat tumitnya keseleo dan Tubuhnya Maryam oleng.


Dengan sigap Edgar menahan tubuhnya Maryam supaya tidak terjatuh. Edgar memeluk pinggangnya Maryam dengan erat. Jarak wajah mereka sangat dekat. Mereka saling merasakan hembusan nafas yang menerpa wajah mereka. Desiran di relung hatinya Edgar bergejolak. Tatapan mata mereka saling memaku. Adegan itu telah membuat hatinya Ibrahim panas.


"Ekhm! deheman Ibrahim yang mengalihkan mereka.


Sontak Maryam menegakkan badannya. Edgar melepaskan pelukannya. Rona merah menyeruak di pipinya Maryam karena malu. Maryam menundukkan kepalanya. Secepat kilat Maryam menggendong Maryam ala bridal style. Sontak Maryam mengalungkan tangannya di leher kokohnya Ibrahim


"Kamu kenapa?" tanya Ibrahim khawatir sambil menatap ke Maryam dan berjalan.


"Hak sepatu kananku patah, tumitku keseleo," ucap Maryam lembut sambil menatap ke Ibrahim.


"Tumben kamu pakai sepatu yang ada haknya?"


"Aku pakai sepatu ini karena sepatu ini adalah peninggalan dari Ummi, aku ingin memakainya."


"Yasalam, pantesan haknya patah, wong sepatu jadul," ujar Ibrahim.


"Ih Aa mah gitu, ini kan salah satu barang yang sangat berharga bagiku!" ucap Maryam kesal.


"Maaf. Pak Edgar tolong dibuka pintunya," ucap Ibrahim datar.


"Baik Pak."


Tak lama kemudian mereka menghentikan langkah kaki mereka. Edgar menekan handle pintu ke bawah, lalu menariknya sehingga pintu itu kebuka. Ibrahim berjalan keluar dari ruang kerjanya sambil menggendong Maryam. Melewati meja sekretarisnya yang sedang melongo melihat Ibrahim sedang menggendong Maryam. Menyusuri lorong lantai dua puluh lima.


"A tolong turunkan aku," ucap Maryam tegas.


"Nggak, tumitmu lagi sakit, jangan dipaksakan untuk berjalan."


"Aku malu A, dilihatin orang," ujar Maryam malu-malu.


"Nggak usah malu."


"Aa, aku takut ada yang fitnah kita A," ucap Maryam serius.


"Selama kita tidak berbuat macam-macam, nggak perlu takut."


"Tapi aku nggak tenang A."


"Sayang, kamu ngerasa nggak kalau Pak Edgar menyukaimu?"


"Nggak, emangnya kenapa?"


"Tadi pas dia nolong kamu, aku perhatikan dia. Dari gestur tubuhnya memperlihatkan bahwa dia menyukaimu."


"Itu dugaan kamu aja A."


"Aku cowok Sayang, jadi aku tahu perasaan seorang cowok terhadap seorang wanita."


"Kamu cemburu ya?" ledek Maryam.


"Iyalah, aku cemburu melihat dia memeluk kamu."

__ADS_1


__ADS_2