Sejuta Rasa Di Hati

Sejuta Rasa Di Hati
Aku Yang Salah


__ADS_3

Dilike ya guys ๐Ÿ˜Š


Divote ya guys ๐Ÿ˜Š


Dikasih bintang lima ya guys ๐Ÿ˜


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Ujung lidah sang fajarย menjilati punggung cakrawala. Indahnya langit merupa pagi yang nirmala. Alunan ayat-ayat suci menggema telah menyadarkan Bella dari tidur lelapnya. Kelopak matanya mulai bergerak sayup - sayup. Bella mengerjap matanya secara perlahan. Dia menggeliatkan tubuhnya dengan mata yang masih belum terbuka sempurna.


Tangan kanannya meraba - raba untuk menggapai smartphone miliknya untuk melihat jam. Bella berhasil mendapatkan smartphone miliknya. Dengan menyipitkan matanya, dia bisa melihat jam. Dia menaruh smartphone miliknya di tempat semula setelah melihat angka 04.00 di layar smartphone miliknya. lalu memejamkan matanya lagi.


Tok... tok... tok...


"Bella! Tolong bukakan pintunya, ini aku, Ibrahim, Bella!" teriak Ibrahim yang berada di depan pintu kamar hotel yang sudah dibooking atas nama Bella. Purnama Sari.


Bella sangat terkejut mendengar teriakan Ibrahim. Dia bangun dari posisi terlentang ke posisi duduk menyandarkan punggungnya di headboard. mengucek kelopak matanya yang masih terkantuk - kantuk. Lalu tangannya mengusap - usap daun telinganya yang terasa berdenging karena bisingnya teriakan Ibrahim.


"Whoammm," Bella menguap sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


"Iya, tunggu sebentar!" teriak Bella sambil beranjak berdiri dari tempat tidur.


Kemudian Bella berjalan menghampiri kursi, lalu mengambil jilbab instannya yang berada di sandaran kursi. Memakai jilbab instannya, lalu melanjutkan langkah kakinya menuju ke pintu kamar. Menghentikan langkah kakinya ketika berada di belakang pintu kamar. Membuka kunci pintu, lalu menekan handle pintu ke bawah. Menarik handle pintu sehingga pintu terbuka.


Bella melihat sosoknya Ibrahim yang hanya menggunakan celana selutut dan kaos lengan pendek warna putih sehingga memperlihatkan otot-otot tangannya yang membuat terlihat gagah. Bella memicingkan matanya melihat wajahnya Ibrahim yang lusuh karena semalaman tidak bisa tidur. Ibrahim nyelonong masuk ke dalam kamar melewati Bella yang sedang melongo.


"Tutup pintunya!" perintah Ibrahim uang mengagetkan Bella.


Secepat mungkin Bella menutup pintu kamar itu, lalu menguncinya. Bella memutarkan tubuhnya. Melihat punggung kekarnya Ibrahim. Bella mengikuti langkah kakinya Ibrahim. Ibrahim menduduki tubuhnya di kursi. Sedangkan Bella menduduki tubuhnya di tepian tempat tidur sehingga mereka berhadapan.


"Kenapa kamu ke sini? Kamu pasti semalaman tidak tidur ya?" ucap Bella khawatir melihat kondisi Ibrahim yang lusuh.


"Bagaimana aku bisa tidur? Sedangkan calon istriku tidak bisa dihubungi, aku sangat khawatir dengan dirinya."


"Kenapa kamu nggak ke kamarnya?"


"Aku belum berani."


"Terus sekarang kamu maunya apa?"


"Tolong kamu ke kamarnya Maryam, bilang ke dia, nanti jam lima aku ingin menemuinya di lobby hotel."


"Ok. Kamu mau aku buatkan teh hangat?"

__ADS_1


"Nggak usah, aku mau mandi dulu, lalu sholat."


"Sebaiknya kamu jangan mandi karena semalaman kamu begadang. Kalau kamu mandi, nanti bisa sakit. Saranku sebaiknya kamu minum teh manis hangat, makan, dan sholat dulu. Setelah itu kamu menemui Maryam," ucap Bella.


"Benar juga ucapanmu, kamu memang sahabatku yang paling baik. Ya udah buatkan aku teh manis hangat," ucap Ibrahim, lalu dia beranjak berdiri.


"Kamu mau ke kamar kamu?"


Nggak, aku hanya mau tiduran di tempat tidur kamar ini sambil nungguin teh manis hangat buatan kamu, biasa ya, tehnya jangan terlalu banyak gula," ucap Ibrahim sambil merebahkan tubuhnya di samping kanannya Bella.


"Iya Ibra," ucap Bella lembut sambil menoleh ke Ibrahim yang sedang memejamkan matanya dan merasakan getaran halus di relung hatinya.


Tak lama kemudian Bella beranjak berdiri dari tepian tempat tidur. Berjalan menuju ke pintu meja pantry. Menghentikan langkah kakinya di depan meja pantry. Membuka kemasan tutup botol air minum kemasan. Membuka tutup teko listrik. Membuka tutup botol air kemasan, lalu menuangkan airnya ke dalam teko listrik. Menutup tutup teko listrik, lalu menyolok kabelnya ke sakelar.


Andai Ibrahim tahu perasaan hatiku kepadanya, pasti kami akan menikah.


Batin Bella.


"Bel, telepon calon istriku dong!" titah Ibrahim sambil memejamkan matanya.


"Iya," ucap Bella sambil menaruh satu teh celup ke dalam cangkir.


Bella membuka resleting tas jinjing yang berada di atas meja pantry. Mengambil smartphone miliknya, lalu menutup resleting tas jinjingnya. Menyentuh beberapa ikon untuk melakukan panggilan ke Maryam. Menggeser ikon hijau, lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Bagaimana?" tanya Ibrahim sambil membuka matanya.


"Nomor handphonenya tidak aktif. Sepertinya dia masih tidur, karena semalam dia pulangnya jam satu malam," ucap Bella sedikit mengada.


"Nggak mungkin, dia selalu bangun jam 4 dan nggak mungkin dia pulang larut malam."


"Terus kenapa nomor handphonenya tidak aktif?"


"Pasti ada sesuatu."


"Mungkin dia sedang berduaan dengan Edgar," ujar Bella.


Tok ... tok ... tok ...


"Kak Bella, tolong bukakan pintunya, ini aku Maryam. Aku ingin ketemu sama Ibrahim!" teriak Maryam yang sedang berada di depan pintu kamar.


"Maryam tahu kamu ada di sini?" tanya Bella kaget dan panik ketakutan.


"Nggak, biar aku yang nemuin dia," ucap Ibrahim datar sambil beranjak berdiri.

__ADS_1


Tak lama kemudian Ibrahim melangkahkan kakinya menuju ke pintu kamar. Membuka kunci pintu kamar. Menekan handle pintu ke bawah, lalu menariknya sehingga pintu kamar itu terbuka. Ibrahim melebarkan matanya ketika dia melihat Edgar berdiri di belakang Maryam. Rasa cemburunya memuncak sehingga dia mengeraskan rahang mukanya.


"Assalamu'alaikum A, kamu sedang ngapain di sini? Ini kan kamarnya Bella?" ucap Maryam sendu.


Ibrahim menoleh ke Maryam. Dia melihat kesedihan di raut wajahnya Maryam. Ibrahim tersenyum lembut menatap Maryam karena dia sangat mencintai Maryam. Mengatupkan wajahnya Maryam, lalu mengangkatnya secara spontan. Tak terasa air matanya Maryam berlinang di pelupuk matanya. Ibrahim menyeka air matanya Maryam dengan penuh kelembutan.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Ibrahim lembut, lalu Maryam menganggukkan kepalanya. "Ayo ikut aku!" ajak Ibrahim sambil melepaskan tangannya dari wajahnya Maryam.


Sontak Ibrahim memegang pergelangan tangan kanannya Maryam, namun Maryam tepis. Ibrahim menoleh ke Maryam dengan tatapan mata yang bingung. Maryam menggelengkan kepalanya berulang kali. Akhirnya mau nggak mau Ibrahim harus menerima penolakan Maryam. Ibrahim melangkahkan kakinya menuju pintu kamar yang dia booking semalam.


"Kamu mau ajak aku ke mana?" tanya Maryam bingung.


"Ke kamarku," jawab Ibrahim lembut sambil menoleh ke Maryam.


"Nggak boleh A!" ucap Maryam marah.


"Alah, semalam aja kamu berduaan dengan Edgar!" ucap Ibrahim marah sambil membalikkan badannya.


"Kami hanya makan malam, itu juga di tempat umum!" ucap Maryam marah.


"Kamu nggak usah munafik dech!" bentak Ibrahim.


"Kamu menuduh aku!?"


"Kamu merasa tertuduh nggak!?"


"Aa kok jadi begini? Aa kenapa sich!?" ucap Maryam sedih campur marah.


"Aku begini karena kamu selingkuh dengan Edgar!"


"Aku nggak selingkuh A!"


"Kamu punya bukti kalau kamu nggak selingkuh?! Udahlah kamu tidak usah membantahnya, dasar wanita tak terpuji! ucap Ibrahim yang menyakiti hatinya Maryam.


Bug


Sontak Edgar menonjok wajahnya Ibrahim hingga ujung bibir sebelah kanan Ibrahim berdarah. Ibrahim melayangkan tonjokan ke Edgar, tapi Edgar tangkis. Sedetik kemudian terjadilah baku hantam antara Edgar dan Ibrahim. Maryam dan Bella melebarkan matanya melihat perkelahian itu. Sehingga beberapa orang keluar dari dalam kamar. Maryam melihat ada beberapa orang keluar kamar untuk melihat perkelahian itu.


"Stop It!!" bentak Maryam marah sambil mengeluarkan air matanya.


Sontak perkelahian mereka berhenti. Edgar dan Ibrahim menoleh ke Maryam. Edgar dan Ibrahim melihat buliran cairan bening mengalir lembut di pipinya Maryam. Maryam langsung berjalan cepat menuju ke kamarnya. Berjalan melewati pintu yang terbuka. Masuk ke dalam kamar. Menjatuhkan tubuhnya dengan posisi tengkurap di atas tempat tidur.


Maryam menangis sejadi-jadinya. Dia menutupi wajahnya. Tanpa disadari Maryam, Ibrahim masuk ke dalam kamarnya. Menutup pintu, lalu menguncinya. Berjalan menghampiri Maryam. Duduk di tepian tempat tidur sambil melihat Maryam yang sedang menangis. Ibrahim tak tega melihat Maryam seperti ini.

__ADS_1


"Sayang, maafkan aku Sayang, aku yang salah," ucap Ibrahim lembut.


__ADS_2