
Arakan gumpalan awan berbentuk kapas membentang luas di langit biru. Cahaya sang fajar pagi hari bersinar cerah menyinari kota Jakarta. Angin berhembus cukup kencang menyelimuti setiap orang yang melakukan aktivitas, termasuk Zarkasih, Edgar, Dasima dan anak-anaknya Zarkasih yang sedang melakukan perjalanan.
Waktu terus berputar mengiringi perjalanan tugas yang dilakukan mereka dari kawasan Condet ke Menteng dengan menggunakan mobil milik Zakarsih. Mobil Alphard berwarna hitam itu menembus jalanan kota Jakarta yang dihiasi dengan beberapa gedung pencakar langit, jembatan, mall dan sebagainya. Mereka pergi ke daerah Menteng untuk bersilaturahmi dengan keluarganya Rafael.
Dahulu kala Menteng merupakan perumahan villa pertama di kota Batavia, yang dikembangkan antara tahun seribu sembilan ratus sepuluh dan seribu sembilan ratus delapan belas. Perancangnya adalah tim arsitek yang dipimpin oleh P.A.J. Mooijen, seorang arsitek Belanda yang merupakan anggota tim pengembang yang dibentuk pemerintah kota Batavia.
Rancangan awalnya memiliki kemiripan dengan model kota taman dari Ebenezer Howard, seorang arsitektur pembaharu asal Inggris. Bedanya, Menteng tidak dimaksudkan berdiri sendiri namun terintegrasi dengan suburban lainnya. Thomas Karsten, seorang pakar tata lingkungan semasanya, memberi komentar bahwa Menteng memenuhi semua kebutuhan perumahan untuk kehidupan yang layak.
Proyek Menteng dinamakan Nieuw Gondangdia dan menempati lahan seluas 73 ha. Pada tahun 1890 kawasan ini dimiliki oleh 3.562 pemilik tanah. Batas selatannya adalah Banjir Kanal Barat yang selesai dibangun 1919. Rancangan Mooijen dimodifikasi oleh F.J. Kubatz dengan mengubah tata jalan dan penambahan taman-taman hingga mencapai bentuk yang tetap antara 1920-an dan 1930-an.
Sebagai kota taman, di kawasan ini banyak dijumpai taman-taman terbuka. Yang terbesar adalah Taman Suropati, yang terletak di antara Jalan Imam Bonjol dan Jalan Diponegoro. Kemudian terdapat Taman Lawang yang terletak di Jalan Sumenep, Situ Lembang di Jalan Lembang, serta Taman Cut Meutia di Jalan Cut Meutia. Di kawasan ini dulu pernah berdiri Stadion Menteng, yang kini telah beralih fungsi menjadi Taman Menteng.
Setelah memakan waktu empat puluh lima menit di perjalanan, akhirnya mobil itu berhenti di lahan parkiran sebuah rumah yang mempunyai arsitektur sederhana namun klasik bernuansa Eropa. Edgar membuka sabuk pengaman. Membuka pintu mobil bagian depan. Keluar dari dalam mobil, lalu menutup pintu mobil. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Banyak pohon tumbuh subur di halaman rumah itu.
"Ayo kita masuk!" ajak Zarkasih setelah mengunci semua pintu mobil.
Tak lama kemudian mereka berjalan menyusuri halaman rumah yang luas. Mereka menghentikan langkah kakinya mereka ketika berada di depan pintu utama rumah itu. Sedetik kemudian pintu rumah itu terbuka yang menampilkan sosok Maryam. Seketika Edgar terpana lagi melihat Maryam. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya dan merasakan lagi desiran lembut di relung hatinya.
"Assalamu'alaikum," sapa Zakarsih ramah.
"Wa'alaikumsalam, silakan masuk Kak Zakarsih," ucap Maryam sopan.
Tak lama kemudian, Maryam menyalim tangan kanannya Dasima dengan takzim. Dan menempelkan dua telapak tangannya di depan dada sambil tersenyum manis ketika berhadapan dengan Zarkasih, Arfan, Zaky dan Edgar. Shifa menyalim tangan kanannya Maryam dengan takzim. Mereka kecuali Edgar dan Maryam melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam rumah. Maryam menutup pintu utama rumah itu.
"Assalamu'alaikum Maryam, kita bertemu lagi," ucap Edgar lembut ketika Maryam membalikkan badannya.
Maryam menoleh ke Edgar sambil mengerutkan keningnya seperti sedang berfikir, lalu berujar dengan ramah, "Oh, kamu Edgar ya?"
"Iya, kamu tinggal di sini?"
"Iya, kamu siapanya Kak Zarkasih?"
"Saya sahabatnya Zarkasih."
"Kamu pasti pernah satu tempat kerja sama Kak Zarkasih di Dubai?"
"Iya."
"Eh Tong! Main pepet aja elu yak," ledek Zarkasih yang membuat mereka terkejut.
"Silakan duduk, aku panggilkan Abang dulu," ujar Maryam sopan.
Tak lama kemudian Maryam berjalan menuju keberadaan Rafael. Zarkasih, Arfan, Shifa, Dasima, Zaky menduduki tubuhnya mereka di atas sofa. Edgar mengedarkan pandangan ke sekitar ruang tamu rumah itu. Ruang tamu rumah itu di desain dengan gaya klasik yang sangat mewah. Warna gold yang mendominasi ruangan itu. Ada dua kaligrafi yang dipajang di tembok dan beberapa tumbuhan bunga peace Lily.
"Elu jatuh cinta ya sama Maryam?" ledek Zarkasih yang mengalihkan pandangannya.
Sontak Edgar menoleh ke Zakarsih, lalu berkata, "Iya, selain itu aku juga ingin dia jadi istriku."
"Elu tenang aja, nanti gw comblangin elu sama die dan gw promosiin elu ke El."
"Terima kasih ya."
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," salam Rafael ramah sambil berjalan menghampiri mereka.
"Wa'alaikumsalam," ucap Zakarsih dan Dasima serempak.
Rafael menghentikan langkah kakinya di depan Dasima, lalu menyalim tangan kanannya Dasima dengan takzim. Zarkasih, Edgar dan semua anaknya Zarkasih berdiri. Merangkul Zarkasih dengan erat. Memberikan tos pada Zaky, dan Arfan. Menempelkan kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum sopan ke Shifa. Shifa juga melakukan hal sama dengan Rafael. Rafael mengerutkan keningnya ketika menatap Edgar yang sedang berdiri menghadapnya.
"Selamat pagi," ucap Rafael ramah sambil mengulurkan tangan kanannya ke Edgar.
"Selamat pagi juga Pak Rafael," ujar Edgar sopan sambil membalas uluran tangan kanannya Rafael, lalu mereka berjabat tangan.
"Silakan duduk lagi," ucap Rafael ramah sambil menduduki tubuhnya di sofa single. "Nyak, silakan ke kamarnya Maryam. Maryam sedang tunggu Nyak di sana," ujar Rafael sopan.
"Yak," ucap Dasima, lalu dia beranjak berdiri.
"Nyak, masih ingat kan letak kamarnya Maryam?" tanya Zakarsih khawatir.
Dasima menoleh ke Zakarsih, lalu berucap, "Masihlah, gw pan nggak pikun, kayak elu."
Zarkasih hanya cengengesan menanggapi ucapan Dasima. Dasima mengarahkan tubuhnya ke kamarnya Maryam, lalu melangkahkan kakinya. Sedangkan Rafael memperhatikan lekuk wajahnya Edgar dengan seksama. Edgar tersenyum sopan ketika Rafael menatap tajam ke dirinya. Zarkasih melihat tatapan tajam Rafael ke Edgar.
"Bujug buneng, nich orang natap orang galak amat," ledek Zarkasih.
"Dia siapa kamu Njar?" tanya Rafael tegas sambil menoleh ke Zakarsih.
"Dia Edgar, sahabat gw waktu gw kerja di Dubai. Emangnya kenapa El?"
"Seingat gw dia yang mengganggu Maryam waktu di airport."
"Ya elah El, waktu itu, dia hanya ngobrol dengan Maryam. Dia terpesona dengan kecantikan Maryam sampai dia jatuh cinta kepada Maryam pada pandangan pertama. Dia sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri, makanya gw izinin dia tinggal di rumah gw. Sebenarnya dia ikut ke sini karena dia ingin minta izin ke elu untuk mendekati Maryam. Kalau dia cocok dan nyaman sama Maryam, dia ingin menikahi Maryam dan jadi adik ipar elu," cerocos Zarkasih.
Yah, aku tidak bisa memiliki Maryam.
Batin Edgar sedih.
"Memangnya mereka sudah ketemu langsung dan sudah merasa nyaman dan cocok."
"Sudah," ucap Rafael tegas.
"Ibrahim anaknya Hafiz?"
"Iya."
"Yah Tong, nasib elu apes banget, incaran elu udah diembat sama Ibrahim," ucap Zakarsih sambil menoleh ke Edgar yang kelihatan sedih.
"Namanya juga nasib. Mungkin ini yang terbaik dari Allah," ucap Edgar pasrah sambil menoleh ke Zakarsih.
"Kamu muslim?" tanya Rafael serius.
"Iya Pak," ucap Edgar sopan.
"Aku nggak mengira bahwa kamu seorang muslim," ucap Rafael.
__ADS_1
"Dia mualaf juga El, waktu dia masih kerja di Dubai, dia membaca dua kalimat syahadat," samber Zarkasih sambil menoleh ke Rafael. "Kapan acara lamaran Maryam?" lanjut Zarkasih.
"Sabtu Minggu depan. Njar, elu sama keluarga elu datang ya ke acara lamaran itu," ujar Rafael ramah.
"InsyaAllah El."
"Tong!!!" teriak Dasima sambil berlari menghampiri mereka.
"Kenapa Nyak?" tanya Zakarsih kaget sambil beranjak berdiri.
"Si Maryam, terkunci di dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya," ucap Dasima khawatir.
Sedetik kemudian Edgar beranjak berdiri, lalu melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya Maryam. Sejak Dasima berjalan ke kamarnya Maryam, Edgar memperhatikan arah perginya Dasima sehingga dia tahu posisi kamarnya Maryam. Rafael menyusul Edgar yang sedang berjalan cepat ke kamarnya Maryam.
"Tunggu Edgar!!" teriak Rafael sambil berlari menyusul Edgar.
Edgar menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh dan berucap, "Iya Pak."
Rafael menghentikan langkah kakinya ketika berada di depan Edgar, lalu berucap, "Kamu ngapain ke kamarnya Maryam?"
"Aku ingin menolong Maryam."
"Terima kasih atas niatmu yang ingin menolong Maryam. Tapi, sebaiknya kamu duduk aja di ruang tamu, biar aku aja yang menolong Maryam," ucap Rafael tegas.
Sedetik kemudian Rafael masuk ke dalam kamarnya Maryam. Berjalan melewati pintu kamar yang terbuka. Mendekati nakas sebelah kanan tempat tidur. Membuka laci nakas itu. Mengambil sebuah kunci, lalu berjalan menuju pintu kamar mandi yang terkunci. Memasuki kunci itu ke dalam lubang handle pintu.
"Abang?" teriak Maryam panik.
"Iya sayang, kamu tenang aja, Abang lagi berusaha membuka kunci pintu ini," ucap Rafael yang bisa menenangkan Maryam.
Rafael mengutak-atik kunci sehingga berbunyi klek. Rafael memutar ke kiri handle pintu kamar itu, lalu mendorong pintu sehingga pintu kamar mandi terbuka. Rafael melihat wajah pucat ketakutan Maryam. Maryam langsung memeluk pinggangnya Rafael. Rafael membalas pelukan Maryam dengan penuh kasih sayang sebagai kakak adik.
"Terima kasih ya Kak."
Kringgg ...
Kringgg ...
Kringgg ...
Bunyi dering dari smartphone milik Maryam. Maryam melepaskan pelukannya sehingga Rafael melepaskan pelukannya juga. Berjalan keluar dari kamar mandi melewati Rafael dan pintu kamar mandi. Menghentikan langkah kakinya ketika berada di depan nakas sebelah kanan tempat tidur. Mengambil smartphone miliknya dari atas nakas itu. Maryam tersenyum ketika melihat nama Ibrahim di layar smartphone miliknya. Maryam menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan video call itu, lalu mendekatkan smartphone miliknya ke wajahnya.
"Assalamu'alaikum," salam Ibrahim lembut.
"Wa'alaikumsalam," balas Maryam.
"Kenapa wajah kamu pucat?" tanya Ibrahim khawatir.
"Masuk angin."
"Udah minum obat?"
__ADS_1
"Udah. Ini juga aku mau dikerokin sama mau diurut."
"Ya udah, dikerok aja dulu, Bye calon istriku."