Sejuta Rasa Di Hati

Sejuta Rasa Di Hati
Harapkan


__ADS_3

Gumpalan awan berbentuk tipis transparan dengan tampilan filamen seperti sutra membentang di langit biru. Cahaya sang mentari pagi bersinar cerah menyinari kota Jakarta. Angin berhembus cukup kencang menyelimuti setiap orang yang melakukan aktivitas, termasuk seorang pria bule berkebangsaan Inggris. Pria itu bernama Edgar Valentino Middleton yang sudah berusia tiga puluh lima tahun. Dia merupakan alumni dari Universitas Oxford fakultas arsitektur.


Edgar yang sedang melakukan perjalanan menuju daerah Condet. Waktu terus berputar mengiringi perjalanan Edgar Valentino Middleton dari bandara internasional Soekarno - Hatta menuju ke rumah sahabatnya yang berada di kawasan Condet dengan menggunakan taksi exclusive. Mobil mercedes-benz berwarna hitam yang ditumpangi oleh Edgar menembus keramaian kota Jakarta.


"Tuan sudah sudah berapa kali datang ke Jakarta?" tanya pak supir taxi yang memulai percakapan untuk menghilangkan kesunyian sambil menyetir.


"Saya baru pertama kali datang ke sini. Bapak berasal dari kota Jakarta?" ucap Edgar ramah.


"Saya berasal dari Brebes. Tapi kenapa Tuan lancar menggunakan bahasa Indonesia?"


"Waktu saya bekerja di Dubai, saya berteman sama orang Indonesia, namanya Zarkasih. Dia orang Betawi asli yang tinggal di daerah Condet. Tiga bulan yang lalu kami berpisah, dia pulang ke negaranya sedangkan saya pulang ke Inggris. Saya datang ke sini karena ingin menemui sahabat saya dan ingin mengikuti tes tertulis di salah satu perusahaan kontraktor di Jakarta."


"Wah asyik banget bisa ketemuan sama sahabat. Pasti sahabat Tuan orangnya lucu ya?"


"Iya, orangnya lucu, kayak Pak Mandra sama Babe Sabeni."


"Tuan suka nonton Si Doel Anak Sekolahan?"


"Iya. Saya sama sahabat saya itu suka nonton Si Doel Anak Sekolahan di YouTube. Bapak suka nonton itu?"


"Iya Suka."


"Dia orangnya polos, jujur, baik dan suka ngelawak kayak Pak Mandra atau kayak Babe Sabeni. Pintar, berdedikasi, tepat waktu, disiplin sama rajin ibadahnya kayak si Doel."


"Sepertinya Anda senang mempunyai sahabat seperti itu," ujar sopir taksi sambil membelokkan mobilnya ke arah kiri jalanan.


"Iya. Makanya saya ingin kerja di sini karena dia."


"Apakah dia tahu bahwa Anda datang ke sini?"


"Belum. Saya ingin kasih kejutan ke dia."


"Tuan, kita sudah sampai di depan rumahnya," ucap sopir taksi sambil menoleh ke Edgar.


Edgar menoleh ke kiri. Dia melihat sebuah pekarangan rumah yang sangat luas. Sebuah rumah yang dikelilingi oleh beberapa pohon. Salah satu pintu gerbangnya terbuka. Edgar mengerutkan dahinya karena bingung. Setahu dia, rumahnya Zarkasih kecil dan tidak punya halaman rumah yang luas.


"Ini benar rumahnya?" tanya Edgar bingung.


"Iya. Ini rumah yang Anda kasih tahu ke saya, Tuan."


"Tapi kata dia, rumahnya kecil dan rumahnya tidak memiliki halaman yang luas.


"Mungkin dia ngomong seperti itu hanya bercanda."


"Mungkin," ucap Edgar, lalu dia melihat argo taksi.


Tak lama kemudian Edgar membuka tas selempangnya. Mengambil dompetnya yang berada di dalam tas selempangnya. Membuka dompet berwarna hitam, kemudian dia mengambil uangnya. Menutup dompetnya, lalu dia menaruh lagi dompetnya di tempat semula. Menutup resleting tas selempangnya.


"Ini Pak ongkosnya, kembaliannya untuk Bapak," ucap Edgar sambil mengulurkan dua lembar uang ratusan ribu rupiah.


"Terima kasih, Tuan," ucap supir taksi, lalu dia membuka kunci bagasi.


Tak berselang lama nereka berdua membuka pintu, lalu mereka keluar dari taksi. Edgar melangkahkan kakinya ke depan gerbang, sedangkan supir taksi itu berjalan ke arah bagasi mobil. Sopir itu mengangkat tuas pembuka pintu bagasi mobil. Mengambil dua koper besar milik Edgar sekaligus. Menaruhnya di atas jalanan. Menutup pintu bagasi taksi itu. Berjalan menghampiri Edgar sambil membawa dua buah koper besar itu. Menghentikan langkah kakinya di samping kanannya Edgar.


"Terima kasih ya Pak," ucap Edgar sambil menerima kedua kopernya dari uluran tangannya supir taksi itu.

__ADS_1


"Sama - sama Pak. Saya permisi dulu Tuan."


"Iya Pak, hati - hati di jalan pak."


"Iya Tuan. Semoga Anda betah tinggal di Jakarta."


Edgar hanya tersenyum manis menanggapi ucapan sopir taksi itu. Pak sopir itu membalas senyuman Edgar, lalu melangkahkan kakinya ke mobil taksi. Edgar menarik kedua tuas kopernya lalu berjalan masuk ke dalam pekarangan sebuah rumah sambil menyeret kedua kopernya. Sedangkan pak sopir taksi itu menjalankan mobilnya menembus jalanan.


Edgar berjalan ragu memasuki pekarangan rumah itu. Dia melewati beberapa pohon yang berada di depan rumah. Dia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru untuk menanyakan sesuatu ke seseorang. Namun hasilnya nihil karena tidak ada seorang pun berada di sekitarnya. Dia takut salah masuk rumah. Sedetik kemudian dia melanjutkan lagi langkah kakinya masuk ke lebih dalam lagi.


Di teras rumah itu, dia melihat seorang pria tua yang menggunakan kaos oblong putih dan celana wangsi warna hitam sedang tidur di atas bale bambu. Dia mengalihkan pandangannya ke sekeliling yang dipenuhi dengan beberapa pohon yang besar. Dia melihat salah satu daun pintu terbuka dan mendengar suara beberapa orang. Edgar berjalan pelan menuju ke bale sambil menyeret dua buah koper besar. Menghentikan langkah kakinya di depan bale sambil menaruh dua kopernya di atas tanah..


"Assalamu'alaikum!" salam Edgar dengan volume suara yang keras.


"Walaikumsalam," ucap pria tua itu, lalu dia duduk sambil mengerjapkan kedua matanya.


"Permisi Babe, saya ke sini mau cari Zarkasih," ucap Edgar ramah dan sopan, lalu Edgar menyalami tangan kanannya orang itu.


"Eh, ada orang kompeni. Elo siapanya Zarkasih?" tanya orang itu sambil melepaskan tangan kanannya dari genggaman Edgar.


"Saya sahabatnya Zarkasih Pak," ucap Edgar sopan sambil menurunkan tangan kanannya.


"Mana mungkin elo sahabatnya si Njar, para sahabatnya nggak ada tampang kayak elo."


"Benaran Nkong, saya sahabatnya Njar."


"Buju bunengggg, teka banget nich orang," ucap pria tua itu. "Tong!" lanjut pria tua itu sambil menoleh ke pohon mangga.


Tak lama kemudian, seorang bocah cowok turun dari atas pohon mangga dengan lincah. Edgar teringat waktu dia masih kecil yang suka manjat pohon. Bocah itu berlari menuju pria tua itu dan Edgar. Bocah itu menghentikan langkah kakinya ketika berada di hadapan Edgar dan pria tua itu. Bocah itu mengerutkan dahinya ketika menatap Edgar.


"Iya, kamu pasti Arfan ya?" ucap Edgar.


"Iya, kok Ncang tahu nama aye?"


"Yah tahulah, pan babenya Arfan yang kasih tahu," ujar Edgar, lalu Arfan menyalim tangan kanannya Edgar.


"Ooo, aye panggil babe dulu," ucap Arfan sambil melepaskan tangan kanannya dari genggaman Edgar.


"Eh tong, babe elo emangnya ada di mane?"


"Lagi di toko bangunan Nkong."


"Yah udah, sana dech lo, panggilin babe elo. Buruan yak."


"Okidoki Nkong."


"Ape itu okidoki?"


"Iya Nkong."


"Buruan sana!"


Tak berselang lama, Arfan berlari menuju toko bangunan. Pria tua mengerutkan dahinya lagi karena bingung melihat Edgar membawa dua buah koper besar dan memakai pakaian yang rapih. Sedangkan Edgar grogi ditatap serius oleh pria yang berusia sekitar delapan puluhan. Tatapan pria tua itu seperti tatapan yang mencekam. Edgar mengalihkan pandangannya ke sebuah pohon kecapi.


"Elo mau kabur ke mana?" tanya pria tua itu yang mengalihkan pandangan Edgar.

__ADS_1


"Saya mau kerja di Jakarta Nkong."


"Emangnya elo ude dapat kerjaan di sini?"


"Semoga dapat Nkong."


"Astagfirullah, gw lupa suruh tamu duduk, silakan duduk."


"Iya Nkong," ucap Edgar, lalu dia menduduki tubuhnya di samping kanannya Ngkong.


"Yang kerja di Arab, ada kompeni juga ya?" ucap Engkong sambil menoleh ke Edgar.


"Bukan di Arab Be, tapi di Dubai Be," ujar Edgar sambil menoleh ke Ngkong.


"Sama aje, pan di sana banyak orang Arab. Di sana ada tempat ajib - ajib?"


"Apa itu Nkong tempat ajib - ajib?" tanya Alfonso heran.


"Masa elo kaga tahu tempat ajib - ajib, pan biasanya para kompeni suka tempat ajib - ajib?"


"Maksud Nkong tempat untuk minum - minum sama tempat untuk joget - joget?"


"Iye."


"Ada Nkong."


"Astagfirullah," ucap Nkong dengan nada kaget. "Dunia memang mau kiamat nich," lanjut Nkong sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.


Dari kejauhan, Edgar melihat Njar berlarian menghampiri dirinya dan Enkong di kebun depan rumah. Zarkasih menghentikan langkah kakinya ketika berada di depan rumahnya dengan model rumah kebaya. Nafasnya Zarkasih terengah - engah sambil berdiri di depan rumah. Zarkasih berjalan pelan menghampiri pria tua itu dan Edgar.


"Njar ada kompeni yang ngaku sahabat elo. Babe sebenarnya kaga percaya, tapi nich orangnya teka banget ngaku sahabat elo," ucap pria tua itu ketika Zarkasih berhenti di kursi yang kosong.


"Nkong sebaiknya masuk ke dalam rumah dech, Nyak nyariin babe," ucap Zarkasih sambil menduduki tubuhnya.


"Elo kaga ngape - ngape kalau gw tinggal?"


"Nggak ape - ape."


"Ya udeh, gw masuk ke dalam rumah," ucap Enkong sambil beranjak berdiri, lalu Nkong masuk ke dalam rumah dengan langkah kaki yang pelan.


"Selamat datang di Condet, Contoh Daerah Elit. Buset dach, elo benaran datang kemari. Gw kaga mimpi kan? Gw kirain elo cuma basa - basi pengen datang kemari," cerocos Zarkasih sambil menduduki sebuah kursi di seberang bale.


"Gw serius mau datang ke sini."


"Dalam rangka apa elo ke sini? Liburan?"


"Nggak, gw dapat panggilan test tertulis dan wawancara secara offline di perusahaan kontraktor The IR."


"Wuihhhh, keren banget dach elo kalau dapat kerjaan di sono. Perusahaannya gede bener. Banyak juga tenaga asing kerja di sana. Yang punye, mertuanya Maysarah."


"Siapa Maysarah?"


"Sahabat gw ama almarhumah bini gw, sekarang dia tinggalnya di Jerman. Semoga elu dapet pekerjaan di sono."


"Aamiin. Itu yang gw harapkan."

__ADS_1


__ADS_2