
Di like ya guys 😁
Di vote ya guys 😁
Di komen ya guys 😁
Happy reading 🤗
💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐
Sang mentari sudah tenggelam di ufuk barat beberapa waktu yang lalu. Langit gelap bertaburan bintang - bintang menyelimuti kota London. Lobby salah satu tower 2R Corporation sedang sibuk - sibuknya menerima para tamu yang akan menghadiri acara ulah tahun The 2R Corporation yang ke lima puluh tahun. Sebuah induk perusahaan yang didirikan oleh Rogen Binsar Pandjaitan.
Suasana ballroom tower itu sudah sangat meriah, para tamu undangan yang hadir sudah duduk memenuhi kursi - kursi yang sudah disediakan oleh panitia. Para tamu yang hadir disuguhi kata sambutan dari beberapa petinggi di 2R Corporation, kata sambutan dari Maryam, doa bersama, games dan ramah tamah. Saat ini di penghujung acara, yaitu ramah tamah.
Di acara pesta ulang tahun ini, Maryam mengenakan pakaian muslim yang elegan. Maryam sangat cantik dipandang dengan baju gamisnya yang merupakan perpaduan gradasi warna cokelat pada baju gamisnya dan jilbab cokelat tua yang panjang. Sejak awal acara Ibrahim sangat memperhatikan gerak-geriknya Maryam hingga saat ini.
Saat ini Maryam sedang mengambil sebuah gelas yang berisi jus buah alpukat. Maryam berjalan satu meter dari meja stand jus ke sebuah kursi, lalu menduduki tubuhnya di atas kursi itu. Dari kejauhan Maryam melihat Ibrahim yang sedang ngobrol dengan seorang wanita berkerudung. Entah apa yang mereka bicarakan. Tak sengaja Ibrahim menoleh ke Maryam yang sedang menaruh gelas di bawah kursi. Ibrahim melengos pergi meninggalkan wanita itu.
Ibrahim melangkahkan kakinya menghampiri Maryam. Detak jantung tak beraturan ketika melihat Ibrahim sedang berjalan menghampiri dirinya. Maryam menundukkan kepalanya untuk menjaga pandangannya sambil merasakan debaran di hatinya. Maryam merasakan seseorang sedang menduduki kursi di samping kanannya. Maryam menoleh ke orang itu. Ternyata orang itu adalah Ibrahim.
Kedua matanya Maryam berbinar ketika menatap Ibrahim yang sedang tersenyum manis ke dirinya. Detak jantungnya Maryam bertambah kencang karena ditatap intens oleh Ibrahim. Maryam mengalihkan pandangannya, melihat kerumunan orang. Tak sengaja dia melihat seorang wanita yang tadi sempat mengobrol dengan Ibrahim sedang menghampiri dia dan juga Ibrahim sambil tersenyum sopan ke dirinya. Maryam membalas senyuman wanita itu.
Siapa wanita itu?
Batin Maryam.
Wanita itu menghentikan langkah kakinya di depan Maryam. Wanita masih tersenyum sopan. Maryam beranjak berdiri dari kursinya. Menatap seorang wanita cantik yang memiliki hidung mancung, bulu mata yang lentik, dua mata yang indah, senyuman yang manis, bibir yang mungil postur dan tubuh yang ideal. Wanita itu mengulurkan tangan kanannya ke Maryam.
"Assalamu'alaikum Ibu Maryam, perkenalkan saya Bella, manajer marketing di perusahaan yang akan anda pimpin sekaligus sahabatnya Ibrahim," ujar Bella.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," ucap Maryam sambil membalas uluran tangan kanannya Bella, lalu mereka berjabat tangan.
"Selamat datang di Jakarta Ibu," ucap Bella sopan sambil melepaskan telapak tangannya dari genggaman Maryam.
"Silakan duduk Nona Bella," ucap Maryam sambil menurunkan tangan kanannya.
__ADS_1
"Iya," ucap Bella sambil melangkah pelan ke kursi sebelah kirinya Maryam.
"Aa, kamu pernah satu sekolah sama Bella?" tanya Maryam sambil menduduki tubuhnya di tempat semula.
"Iya," ucap Ibrahim lembut sambil menoleh ke Maryam.
"Kami satu sekolah sejak kami TK," samber Bella sambil menduduki tubuhnya di kursi samping kirinya Maryam.
"Oh ya," ujar Maryam sambil menoleh ke Bella.
"Bahkan kami tinggal satu rumah," ujar Bella sambil menoleh ke Maryam."
"Benarkah A?" tanya Maryam bingung sambil menoleh ke Ibrahim.
"Ibunya dia kerja di rumah orang tuaku sejak kami balita hingga sekarang. Jadi mereka tinggal di rumah orang tuaku. Dia dan adiknya dibiayai oleh Papa sejak mereka TK sampai mereka kuliah," jawab Ibrahim dengan suara yang sangat lembut sambil menoleh ke Maryam.
"Berarti kalian sangat dekat dong?"
"Nggak juga," jawab Ibrahim yang membuat hatinya Bella sakit hati, lalu dia membersihkan sisa jus di sudut kanan bibirnya Maryam dengan menggunakan ibu jarinya. "Maaf, tadi ada sisa minuman."
"Aku suka rona merah di pipimu," ujar Ibrahim lembut sambil melihat rona merah yang menyeruak di pipinya Maryam.
Maryam beranjak berdiri dari kursinya untuk menjaga perasaannya terhadap Ibrahim agar tidak berlebihan. Maryam melengos pergi meninggalkan Ibrahim yang sedang menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum manis melihat kelakuan Maryam. Maryam melangkahkan kakinya menuju ke pinggiran kolam renang untuk meminimalisir perasaannya terhadap Ibrahim.
Berjalan melewati kerumunan orang yang sedang asyik mengobrol. Menyusuri tepian kolam renang. Tiba-tiba ada yang menabrak tubuhnya sehingga dia kecebur ke kolam renang. Byurrr ..., Ibrahim yang pertama kali menyadari Maryam kecebur ke dalam kolam renang, langsung beranjak berdiri dan berlari secepat mungkin. Menyeburkan tubuhnya masuk ke dalam kolam renang membantu Maryam yang sudah tenggelam ke dalam kolam renang.
Setelah Ibrahim menyebutkan dirinya, orang-orang mengerumuni tepian kolam renang sehingga pinggiran kolam renang penuh dengan para tamu undangan. Ibrahim sudah mendapatkan tubuhnya Maryam. Dia membawa tubuhnya Maryam ke tepi kolam renang. Orang-orang tak membuang waktu untuk segera membantu Ibrahim. Tubuh Maryam yang telah hilang kesadarannya itu dibaringkan di pinggiran kolam renang.
"Mar, Mar," ucap Ibrahim sambil menepuk - nepuk pipinya Maryam untuk menyadarkan Maryam.
Ibrahim memeriksa pernafasan Lily, lalu memeriksa denyut nadi dari pergelangan tangannya Maryam. Ibrahim segera melakukan CPR pada Maryam. Sudah tiga puluh kali tekanan, Maryam masih belum sadar. Sedetik kemudian Ibrahim memberikan nafas nafas buatan pada Maryam. Setelah tiga kali Ibrahim memberikan nafas buatan, terdengar sedakan air keluar dari mulutnya Maryam.
"Uhuk uhuk uhuk!!"
"Ly, kamu selamat," ujar Ibrahim sambil membantu Maryam duduk dan merasakan kedua tangannya Maryam bergetar.
__ADS_1
"Aku takut ...," ujar Maryam dengan tubuh yang bergetar.
Ibrahim langsung memeluk tubuhnya Maryam yang bergetar hebat, lalu berkata, "Tenanglah Mar, kamu sudah sela —."
Belum sempat Ibrahim menyelesaikan ucapannya, tubuhnya Maryam sudah terjatuh lemas. Maryam sudah kembali tak sadarkan diri. Sedetik kemudian Robin bergegas membawa Maryam pergi ke dari area kolam renang menuju pintu keluar tower itu tanpa melewati ballroom dan lobby tower itu. Ibrahim membawa tubuhnya Maryam ke sebuah klinik yang letaknya satu pekarangan dengan gedung itu.
"Apa yang telah terjadi pada Maryam?" tanya Rafael panik ketika melihat Maryam sedang dibopong oleh Ibrahim sambil berjalan mengikuti langkah kakinya Ibrahim
"Dia tenggelam Om," ucap Ibrahim.
"Sebaiknya bawa dia ke rumah sakit," ujar Rafael khawatir.
"Rumah sakit jauh Om, sebaiknya dibawa ke klinik aja Om."
"Di klinik itu peralatannya belum lengkap. Ayo ikut saya!" ucap Rafael yang tak bisa dibantah.
"Baik Om."
"Ayo cepat jalannya!" perintah Robin.
Rafael dan Ibrahim mempercepat langkah kaki mereka menuju mobilnya Rafael. Mereka menghentikan langkah kaki mereka ketika berada di depan pintu mobil. Supir mobil itu membuka pintu penumpang bagian belakang dan bagian depan. Rafael langsung masuk ke dalam mobil bagian belakang. Ibrahim mengoper tubuhnya Maryam ke Rafael. Tak lama kemudian Ibrahim masuk ke dalam mobil bagian depan, samping supir. Di dalam mobil, Ibrahim melihat Rafael sedang mengusap - ngusap lembut puncak kepalanya Maryam.
"Siapa yang mendorong Maryam?" tanya Rafael tegas.
"Aku tidak tahu Om."
"Apakah kamu sudah tahu bahwa Maryam punya trauma dengan kolam renang?"
"Aku belum tahu Om."
"Sebenarnya Maryam bisa berenang, tapi karena punya pengalaman buruk dengan kolam renang sewaktu dia berusia enam tahun. Karena niat buruk seseorang, dia sempat tenggelam di kolam renang yang berada di dalam rumahnya," ujar Rafael yang membuat Ibrahim diam terpaku memandang tubuhnya Maryam. "Kamu tidak usah khawatir, dia akan baik - baik saja, dokter akan menangani keadaannya. Ini nggak akan berlangsung lama."
"Kenapa dia tidak bilang kepadaku tentang itu?"
*Mungkin bagi dia belum saatnya, dia menceritakan itu ke kamu."
__ADS_1
"Kalau tahu begitu, seharusnya aku tidak akan membiarkan dia pergi ke area kolam renang."