
"Di kamar rawat inap Bu Maryam, Tuan," ucap Bella sopan.
"Ibrahim sudah sampai di sana?" tanya Hafiz.
"Belum, Tuan."
"Kalau dia sudah sampai, tolong bilang ke dia, aktifi nomor handphonenya."
"Baik, Tuan."
Sedetik kemudian sambungan telepon itu terputus. Bella menjauhkan sebuah smartphone dari telinga kirinya. Kemudian menaruhnya di atas meja. Mengalihkan pandangannya ke tubuhnya Maryam yang sedang tidur pulas. Maryam tersenyum sinis melihat sosoknya Maryam. Dia merasa cemburu terhadap Maryam karena sejak ada Maryam di Jakarta, perhatian Ibrahim ke dirinya berkurang.
"Kalau bukan karena permintaan Ibrahim, aku nggak sudi menjaga dirimu di sini," gumam Bella bermonolog.
"Assalamu'alaikum," sapa Ibrahim yang tiba-tiba datang sambil membuka pintu kamar rawat inap itu.
Bella menoleh ke Ibrahim, lalu tersenyum manis dan berucap, "Wa'alaikumsalam."
"Bagaimana keadaannya sekarang Bel?" tanya Ibrahim khawatir sambil menutup pintu.
"Alhamdulillah, dia sudah nggak ketakutan lagi," jawab Bella lembut.
"Alhamdulillah, bagus kalau begitu. Mungkin nanti siang dia sudah pulang dan besok aku jadi melamarnya," ucap Ibrahim senang sambil berjalan menghampiri Maryam dan Bella.
"Besok jam berapa acara khitbahnya?" tanya Bella datar.
"Jam sembilan pagi. Kamu datang ya," ucap Ibrahim sambil menghentikan langkah kakinya di samping kirinya ranjang.
"InsyaAllah aku datang," ucap Bella sambil menoleh ke Ibrahim.
"Bel, sebaiknya sekarang kamu pulang, kamu istirahat aja, biar aku yang menjaga Maryam di sini," ucap Ibrahim sopan sambil menoleh ke Bella.
"Ibra, manusia yang beda kelamin tidak boleh berduaan di tempat yang sepi biar tidak ada biar nggak ada fitnah, kamu kan selalu ngomong seperti itu kepadaku."
"Memangnya kamu tidak capek?"
"Tidak," ucap Bella sambil beranjak berdiri dari kursinya.
"Ya udah kalo gitu, kamu istirahat aja di sofa panjang itu," ucap Ibrahim.
"Baiklah," ucap Bella sambil melangkahkan kakinya menuju ke sofa panjang yang berada di dalam kamar.
Tiba-tiba tubuhnya Bella oleng karena semalaman dia begadang. Dengan sigap Ibrahim menangkap tubuhnya Bella sehingga Bella tidak terjatuh ke belakang. Tatapan mata mereka bertemu. Hatinya Bella berdebar dengan hebatnya. Ibrahim melihat matanya Bella yang sudah satu dan wajahnya Bella yang kelihatan lelah. Ibrahim menegakkan tubuhnya Bella, lalu memapah Bella berjalan ke sofa panjang.
"Sebaiknya kamu istirahat dulu," ucap Ibrahim sambil membaringkan tubuhnya Bella.
"Iya," ucap Bella lemah.
"Kenapa dengan Bella A?" tanya Maryam khawatir yang sudah terbangun sambil menoleh ke Ibrahim yang sedang membaringkan tubuhnya Bella.
"Dia hanya kelelahan," ucap Ibrahim lembut sambil beranjak berdiri.
"Bella kamu istirahat aja," ucap Maryam khawatir sambil melihat Bella yang sedang terbaring lemas di sofa panjang.
"Iya Bu," ucap Bella datar.
"Bel, kalau diluar perusahaan, panggil aku Maryam aja ya," ujar Maryam lembut.
"Iya," ucap Bella lemas, lalu dia memejamkan matanya karena rasa ngantuk yang melanda.
"Bagaimana kabar kamu Mar?" tanya Ibrahim lembut sambil berjalan menghampiri Maryam.
"Alhamdulillah sudah lebih baik dari kemarin," ucap Maryam lembut.
__ADS_1
"Kamu sudah sarapan dan minum obat?" tanya Ibrahim lembut sambil menghentikan langkah kakinya di samping kiri ranjang.
"Sudah," jawab Maryam lembut.
"Infusannya sudah diganti?"
"Sudah A, tadi subuh sudah diganti."
"Assalamu'alaikum," salam Zayn sambil membuka pintu kamar.
"Wa'alaikumsalam, masuk Om," ucap Ibrahim sambil menoleh ke Zayn.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Zayn ramah sambil masuk ke dalam kamar bersama istri-istrinya dan anak-anaknya.
"Kabar aku baik Om."
"Aku sudah lebih baik dari kemarin Kak," ucap Maryam lembut sambil menoleh ke Zayn.
"Kalian berduaan aja?" tanya Julia, istri ketiganya Zayn sambil menatap Maryam dan Ibrahim secara bergantian.
"Nggak Kak, ada Bella, tapi sekarang dia lagi tidur soalnya Bella habis begadang jagain aku semalaman," ucap Maryam lembut sambil menoleh ke Julia.
"Hallo Aunty Maryam," celoteh Haura yang riang.
"Hallo juga my nephew," ucap Maryam lembut.
"How are you today?"
"I'm fine beautiful girl, how about you?"
"I'm fine, thank you."
"Your welcome."
"Haura, please speak Indonesian," pinta Zayn dengan lembut sambil menatap matanya Haura yang baru berumur enam tahun.
"Kakak sebal baru tadi subuh dikasih tahu tentang peristiwa itu oleh Abangmu itu, udah yang jagain kamu bukan dia, kalau tahu seperti ini, dari semalam Abang yang jagain kamu," gerutu Zayn sambil berdiri di depan ranjangnya Maryam.
"Sudahlah sayang tidak usah seperti itu," ucap Jennifer lembut, istri keduanya Zayn sambil mengusap lengan kanannya Zayn.
"Dad, Kak Utsman ke mana sich, dari semalam aku nggak lihat Kak Utsman," celoteh Ali, anak Zayn dengan almarhum istri pertamanya yang bernama Aisyah.
"Kak Utsman lagi di London sayang," ucap Zayn lembut sambil menoleh ke Ali.
"Berarti dia nggak ke Indonesia?"
"Nggak sayang, nanti ke Indonesianya, bulan depan pas hari pernikahan Aunty Maryam dengan Om Ibrahim."
"Assalamu'alaikum, Wah ... klub club bola Zayn sudah sampai," salam Armstrong sambil berjalan masuk ke dalam kamar bersama istri-istrinya beserta anak-anaknya.
"Wa'alaikumsalam, club kamu kalah cepat datang ke sini," ucap Zayn.
"Kamu jangan heran ya Ibra, kita kalau lagi ngumpul seperti ini, kayak warga satu desa," ucap Sofia bercanda yang sedang melihat Ibrahim kebingungan.
"Kamu jangan bingung ya," ucap Zayn sambil menepuk pelan pundak kanannya Ibrahim.
"Assalamu'alaikum," salam Rafael sambil menggendong Ramadhan dan berjalan masuk ke dalam kamar dengan istrinya yang bernama Latifa yang sedang menggendong Aulia beserta anak-anaknya.
"Wa'alaikumsalam, selamat datang club bola El," ucap Armstrong riang.
Tak lama kemudian di antara mereka yang sesama jenis kelamin saling merangkul, yang berbeda jenis kelamin saling menangkupkan telapak tangan di depan dada, dan anak-anak menyalim tangan dengan takzim ke para orang yang lebih tua. Seketika suasana di dalam kamar ramai oleh pasukan keluarganya Maryam. Setiap kakaknya mempunyai dua belas anak. Makanya mereka sering memanggil setiap keluarga dengan sebutan club bola.
"Ibra, kamu sudah siap punya anak dua belas?" celetuk Armstrong sambil menoleh ke Ibrahim.
__ADS_1
"InsyaAllah sanggup Om," ucap Ibrahim mantap.
"Good," Rafael memuji Ibrahim sambil mengacungkan ibu jari tangan kanannya ke Ibrahim.
"Oh ya, kapan Maryam keluar dari rumah sakit?" tanya Zayn sambil menoleh ke Rafael.
"Kemungkinan besar siang ini," jawab Rafael sambil menoleh ke Zayn. "Ibra, gimana semalam Maryam?" lanjut Rafael sambil menoleh ke Ibrahim.
"Kata Bella dia sudah tidak ketakutan lagi."
"Permisi," ucap salah satu perawat sambil berjalan masuk ke dalam kamar melewati pintu yang terbuka dengan membawa sebuah nampan merah yang berisi obat - obatan dan berjalan menghampiri Maryam dan menaruh nampan itu di atas nakas sebelah kiri ranjang.
"Ini obatnya ya Nona Maryam, kalau bisa di dalam kamar tidak boleh berisik dan banyak orang ya, takut ganggu ketenangan pasien." kata perawat itu sambil melihat sekeliling kamar.
"Tenang aja perawat yang baik hati, kita tidak akan menggangu ketenangan pasien. Kita di dalam kamar ini hanya mengobrol biasa dan sebentar lagi kita pulang kok," ucap Rafael ramah, lalu tersenyum manis ke perawat itu.
"Baiklah kalau begitu. " ujar perawat itu, kemudian perawat itu pergi keluar ruangan.
"Ada - ada saja tuch perawat, sekarang kan jam jenguk pasien, masa para tamu yang jenguk di suruh pergi sich," ucap Jessica ketika perawat itu menutup pintu.
"Biarin aj Jes, lagi PMS kali jadinya dia pusing lihat orang banyak di dalam kamar pasien," celetuk Armstrong.
"Assalamu'alaikum," salam Zarkasih sambil membuka pintu kamar.
"Wa'alaikumsalam, masuk Zarkasih," ucap Zayn ramah.
"Widihhh ... pasukan club bola sudah pada ngumpul di mari," ucap Zarkasih riang sambil berjalan masuk ke dalam kamar bersama Edgar.
"Udah dong, kami kan selalu kompak," samber Rafael.
"Hey, ada Edgar," celetuk Sofia, lalu dia berjalan menghampiri Edgar.
"Lah, bini elu kenal sama Edgar Tong?" tanya Zarkasih bingung sambil menoleh ke Armstrong.
"Iya, mereka itu sepupuan."
"Bujug buneng, memang dunia tidak selebar daun kelor," ucap Zarkasih ketika berhenti di sebelah kirinya Edgar.
"Dia yang menolong Maryam ketika Maryam pulang dari kajian ya?" tanya Ibrahim sambil menoleh ke Zayn.
"Benar Ibra," jawab Zayn.
"Oh ya, kenalin, ini orang namanya Edgar, dia adalah kembaran si Abang Zarkasih, yang gantengnya kebangetan banget," ucap Zarkasih sedikit ngelawak sambil memegang pundak kanannya Edgar yang membuat orang tertawa.
Tak lama kemudian setelah mereka tertawa, Edgar berjabat tangan dengan semua laki-laki. Mengatupkan telapak tangannya di depan dada, lalu memberi salam ke semua wanita yang ada di sana sambil tersenyum sopan. Edgar menoleh ke Maryam yang sedang tersipu malu karena ditatap intens oleh Ibrahim. Ada gemuruh rasa cemburu di relung hatinya Edgar melihat itu. Edgar mengalihkan pandangannya ke sebuah bucket bunga mawar yang indah.
"Siapa wanita itu?" tanya Armstrong sambil menoleh ke Bella.
"Itu Bella Om, dia sahabat aku yang semalam jagain Maryam," jawab Ibrahim sambil menoleh ke Armstrong.
"Dia juga salah satu karyawan di 2R Hotel, Resort And Pariwisata," samber Rafael.
"Oh ya Zayn, si Edgar hari Senin dia ikut tes wawancara di perusahaan The IR Design And Contractor. Elu ikut wawancara para calon karyawan elu?"
"Ooo, ternyata Edgar ke sini karena dia ingin kerja di sini," samber Sofia sambil menoleh ke Edgar. "Kenapa kamu mau kerja di sini?" lanjut Sofia.
"Karena aku ingin mencari pengalaman bekerja dan ingin selalu dekat dengan saudara kembarku, Bang Njar," ucap Edgar sedikit bercanda.
"Wah Njar, ternyata kembaran kamu lebih ganteng darimu," ledek Rafael.
"Maklum dah, beda emak sama beda babe," ucap Zarkasih bercanda.
"Kamu mau ngapain?" tanya Zayn khawatir sambil melihat tubuhnya Maryam bergeser ke tepian tempat tidur.
__ADS_1
"Aku mau ke kamar mandi, Kak," ucap Maryam yang membuat Edgar menoleh ke dirinya.
Sedetik kemudian Maryam beranjak berdiri dari tempat tidur. Dengan sigap Ibrahim menggandeng tangan kanannya Maryam. Pemandangan seperti itu telah menyakiti hatinya Edgar. Rasa cemburunya Edgar bergemuruh dengan hebatnya, namun sebisa mungkin dia harus menahannya dengan cara beristighfar di dalam hati.