
Maryam memandang langit malam kota Surabaya yang dipenuhi oleh kerlap - kerlip bintang. Begitu syahdunya cahaya rembulan. Hembusan angin sepoi - sepoi menerpa kulit wajahnya. Sejak pagi, dirinya tidak tenang karena sejak pagi dia belum mendapatkan kabar dari Ibrahim. Berdiri di balkon sebuah hotel yang bersejarah di kota Surabaya.
Menikmati keindahan alam di malam hari dan keindahan bentuk bangunan hotel yang dibangun pada tahun seribu sembilan ratus sepuluh. Maryam sangat mengagumi arsitektur bangunan hotel yang bergaya art - deco. Menatap kagum bangunan hotel yang didominasi oleh warna putih, warna kesukaan Maryam.
"Selamat malam Bu Maryam," sapa Edgar yang membuat Maryam terkejut.
Sontak Maryam membalikkan badannya. Dia melihat sosok Edgar yang sedang berjalan menghampiri dirinya sambil menatap intens dan tersenyum manis ke dirinya. Maryam tersenyum sopan ke Edgar. Edgar berhenti di hadapan Maryam. Desiran lembut telah menelusuri di setiap aliran darahnya Edgar
"Sepertinya anda mengagumi hotel ini Bu," ujar Edgar.
"Iya. Selain hotelnya mewah, hotel ini merupakan salah satu tempat sejarah bagi bangsa Indonesia."
"Oh ya, kalau boleh tahu sejarah tentang apa ya Bu?"
"Peristiwa bersejarah itu adalah peristiwa penyobekan bendera Belanda yang terjadi pada tanggal 19 September 1945. Perobekan bendera itu terjadi di atap bangunan hotel ini. Selain itu di kamar nomor 33 Hotel ini juga menjadi saksi sejarah perjuangan arek-arek Suroboyo. Kamar itu jadi lokasi tokoh perjuangan Ruslan Abdul Gani berunding dengan pihak Belanda. Ruslan meminta Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia, namun perundingan itu berakhir buntu. Hasil perundingan membuat arek-arek Suroboyo nekat merangsek ke atap bangunan hotel untuk merobek bendera Belanda. Sementara itu, kamar 33 sendiri dulu merupakan kantor komando penjajah Belanda. Di sanalah, penjajah Belanda menyusun berbagai strategi untuk melemahkan bangsa Indonesia," penjelasan Maryam semangat.
"Wow, ikonik sekali hotel ini. Oh ya Bu, besok pagi kita berangkat jam berapa ke Banyuwangi?"
"Jam 8 pagi Pak."
"Bu, udah makan malam? Kalau belum, kita makan malam bareng yuk! Aku tahu restoran yang worth it dan memiliki arsitektur yang klasik di kota ini," ucap Edgar senang.
"Ehmmm ... aku sich belum makan malam, tapi boleh aku ajak Bella?"
"Boleh," ucap Edgar.
"Kita ke kamarnya Bella dulu," ucap Maryam.
"Baik Bu."
Tak lama kemudian menggeserkan posisi dirinya. Maryam melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya Bella. Edgar membalikkan tubuhnya, lalu mengikuti langkah kakinya Maryam. Menyusuri lorong demi lorong hotel yang dibangun oleh Lucas Martin Sarkies hingga mereka menghentikan langkah kakinya mereka di depan pintu kamarnya Bella.
Tok ... tok ... tok ...
"Assalamu'alaikum Bella! Bella! Bella!" ucap Maryam.
"Coba telepon aja," ujar Edgar.
"Handphoneku lagi di charger. Kamu nyimpan nomor handphonenya Bella?"
"Nyimpan, tapi handphoneku juga lagi dicharger."
Tok ... tok ... tok ...
"Assalamu'alaikum Bella! Bella! Bella!"
__ADS_1
"Mungkin dia lagi tidur kali karena besok pagi kita pergi lagi, lagipula tadi sore kita juga baru sampai di sini," ujar Edgar.
"Mungkin, tapi aku coba telepon dia dulu."
"Tapi kan kalau handphone kita lagi dicharger jangan dipakai dulu, harus dalam keadaan mati."
"Iya sich, tapi nggak apa-apa juga dipakai sekali, sekarang kan dalam keadaan genting," ujar Maryam sambil berjalan ke kamarnya yang berada di sebelah kanan kamarnya Bella.
Tak lama kemudian Maryam membuka kunci pintu, lalu menekan handle pintu ke bawah untuk membuka pintu. Mendorong pintu ke dalam sehingga pintu kebuka secara perlahan. Masuk ke dalam kamar hotel yang memiliki kamar sebanyak 143. Berjalan ke meja pantry kamar itu. Mengambil smartphone miliknya, lalu melihat daya smartphone miliknya. Maryam mengerutkan keningnya karena daya smartphone miliknya masih nol persen.
"Kok masih segini sich," gerutu Maryam.
Dia taruh smartphone miliknya di tempat semula. Melangkahkan kakinya menuju ke pintu yang masih terbuka. Keluar dari dalam kamar. Menutup pintu, lalu mengunci pintu kamarnya. Melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul tujuh malam. Dia berjalan ke Edgar yang sedang tersenyum manis ke dirinya.
"Ehm ... Pak Edgar, restorannya jauh nggak dari sini?"
"Kurang tahu juga, restoran itu terletak di jalan Sumatera nomor 75."
"Ya udah kita ke sana tapi jangan lama-lama ya."
"Ok."
"Ayo kita berangkat sekarang!"
"Baik Bu."
Bella membuka resleting tas jinjingnya. Mengambil smartphone miliknya. Tersenyum senang melihat tulisan my Beb di layar smartphone miliknya. Menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu, lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Assalamu'alaikum Ibra, ada apa?" ucap Bella lembut.
"Wa'alaikumsalam. Kamu tahu di mana Maryam?" tanya Ibrahim datar.
"Aku nggak tahu," ucap Bella datar.
"Kamu nggak nutupin sesuatu? Jangan mentang - mentang dia bos kamu, kamu merahasiakan kegiatannya."
"Ya ampun Ibra! Aku benaran nggak tahu. Kamu telepon aja ke handphonenya."
"Handphonenya nggak aktif. Coba kamu ke kamarnya."
"Mungkin dia lagi tidur. Sebaiknya kamu berpikir positif aja say."
"Gimana aku bisa berfikir positif. Sedangkan Edgar berada di dekatnya."
"Maksud kamu apa sich?"
__ADS_1
"Si Edgar itu suka sama Maryam, aku takut kalau Maryam lagi berduaan sama Edgar."
"Masa sich?! tanya Bella antara tidak percaya dan percaya.
"Iya, coba kamu ke kamarnya."
"Ok," ucap Bella, lalu melangkahkan kakinya ke depan pintu kamarnya Maryam.
Tok ... tok ... tok ...
Bella mengetuk pintu kamarnya Maryam setelah menghentikan langkah kakinya di depan pintu kamarnya Maryam. Tiba-tiba sambungan telepon itu terputus. Bella menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Menaruhnya di tempat semula. Menutup resleting tas jinjingnya. Menghela nafas dengan kasar karena tidak sahutan dari dalam kamar yang dibooking oleh Maryam.
Melanjutkan langkah kakinya menyusuri lorong hingga menemukan tangga. Menuruni beberapa anak tangga. Menghentikan langkah kakinya ketika melihat Maryam masuk ke dalam taxi, lalu disusul oleh Edgar. Tak lama kemudian taxi itu melaju. Bella menggeleng-gelengkan kepalanya setelah melihat Maryam pergi berdua dengan Edgar.
Luarnya alim, dalamnya bejat. Udah mau menikah, malah selingkuh sama salah satu karyawan calon suami. Ternyata omongan Ibrahim itu benar. Pak Edgar menyukai Ibu Maryam. Aku harus memberitahu soal ini ke Ibrahim.
Batin Bella.
Bella melanjutkan langkah kakinya menuruni beberapa anak tangga. Berjalan menuju lobby hotel yang berada di jalan Tunjungan. Menghentikan langkah kakinya di hadapan salah satu sofa single, lalu mendudukinya. Membuka resleting tas jinjingnya. Mengambil smartphone miliknya, lalu menyentuh beberapa ikon untuk menelpon Ibrahim. Menggeser ikon hijau untuk melakukan panggilan telepon ke Ibrahim. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Assalamu'alaikum, hallo Ibra," ucap Bella lembut
"Wa'alaikumsalam, gimana? Ada Maryamnya?" ucap Ibrahim datar.
"Maryamnya pergi sama Edgar," ucap Bella datar.
"What the hell!? Mereka pergi ke mana?"
"Mana aku tahu! Tadi aku lihat mereka berdua pergi berdua naik taksi."
"Kenapa kamu tidak mencegatnya?!
"Yasalam, Ibra, ngapain juga aku mencegatnya!?"
"Kamu kan asistennya Maryam, bilang ke mereka, kamu mau ikut, mau mendampingi Maryam."
"Sekarang kan diluar jam kantor Ibra, lagipula aku bukan asisten pribadinya Bu Maryam."
"Ah kamu, nggak bisa diandalkan lagi," gerutu Ibrahim.
"Bodo amat."
Tiba-tiba sambungan telepon itu terputus. Ibrahim melepaskan headset dari telinganya. Dia menenggelamkan wajahnya di antara tumpukan tangannya. Gundah gulana menyeruak di relung jiwanya yang terasa lelah. Dia mengangkat wajahnya. Mengambil gagang pesawat telepon. Memencet beberapa tombol untuk menelpon asistennya.
"Assalamu'alaikum, Mam tolong pesani tiket pesawat untuk penerbangan ke Surabaya malam ini."
__ADS_1
ππΉπ·πΊπΈππΉπ·πΊπΈππΉπ·πΊπΈπ
Terima kasih reader yang baik hati sudah membaca cerita novelku yang ini π. Kasih dukungannya ya dengan kasih like, vote, hadiah, bintang lima, hadiah, masuki ke daftar favorit dan komentar π.