Sejuta Rasa Di Hati

Sejuta Rasa Di Hati
Sangat Peduli Kepadaku


__ADS_3

Di like ya guys 😁


Di vote ya guys 😁


Di komen ya guys 😁


Happy reading πŸ€—


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Secara perlahan kedua kelopak matanya Maryam mulai terbuka karena kehilangan daya rekat yang sempat mengunci dengan kuat. Maryam mengerjapkan matanya agar bisa menyesuaikan bias sinar lampu yang menyeruak masuk menembus kornea matanya. Sedetik kemudian Maryam mengedarkan kepalanya ke sekeliling ruangan.


Maryam terkejut melihat kamar yang bernuansa putih ketika kedua kelopak matanya terbuka sempurna. Dia melihat sosok abangnya yang sangat menyayangi dirinya dan juga Ibrahim yang sedang tidur terlelap di atas sofa panjang. Tiba-tiba kepalanya Maryam pusing dan nafasnya kembali memburu ketika teringat kejadian yang menimpanya semalam. Maryam menekan keningnya agar rasa pusingnya berkurang.


"Kamu kenapa Dek?" tanya Rafael panik sambil beranjak berdiri dari kursi.


Maryam menoleh ke Rafael. Abangnya sudah ada di sana menatapnya penuh kekhawatiran. Rafael merasa bersalah karena dia telah lalai menjaga adik tersayangnya. Rafael memencet tombol darurat untuk memanggil tenaga medis sambil melihat tubuhnya Maryam yang sedang gemetar. Maryam merubah posisi tubuhnya. Dia menduduki tubuhnya, lalu bersandar di head board tempat tidur pasien.


"Abang ... aku takut ...," ucap Maryam ketakutan.


Rafael memeluk hangat tubuhnya Maryam yang sedang gemetar, lalu berbisik lembut, "Tenang ya, kamu sudah aman sekarang."


"Aku takut ada yang menenggelamkan aku lagi," ucap Maryam yang masih ketakutan.


"Kamu tidak perlu mengingat kejadian itu. Sebaiknya sekarang kamu tenangkan saja dirimu. Di sini kamu aman karena ada Abang," ucap Rafael dengan nada suara yang lembut sambil mengelus lembut punggung tangan Maryam.


Ceklek


Pintu kamar rawat inap Maryam terbuka. Rafael melepaskan pelukannya dengan perlahan. Tak lama kemudian suara derap langkah memasuki ruang rawat inap Maryam. Seorang dokter dan seorang perawat datang menghampiri tempat tidur Maryam. Rafael beranjak berdiri, lalu berjalan pelan ke sofa single. Perawat itu memasangkan tensimeter di tangan kanannya Maryam dan memeriksa tekanan darahnya Maryam dengan menggunakan tensimeter.


"Wahhh..., Nak Maryam sudah sadar. Bagaimana kabar kamu? Sudah merasa lebih baik?" tanya dokter itu sambil memasangkan stetoskop ke telinganya.


"Kabar aku baik Dok, cuma tangan saya gemetaran dan saya masih takut Dok, " jawab Maryam sambil membukakan beberapa kancing piyamanya.


"Hebat kamu! Bisa melampaui masa pingsan kamu," ucap dokter sambil memeriksa kesehatan Maryam. "Saya akan meresepkan obatnya," lanjutnya sambil melepaskan stetoskop dari kedua telinganya.


"Dokter bagaimana keadaan adik saya?"


"Dia sudah membaik Pak."


"Bagaimana hasil CT Scan adik saya Dok?"


"Hasil CT Scan Nona Maryam normal semua, Pak. Keadaan fisiknya tidak perlu dikhawatirkan, Pak. Kita pantau keadaannya selama delapan jam kedepan, ya Pak. Kalau tidak ada masalah besok pagi pasien sudah boleh pulang."


"Baik Bu dokter."


"Kami permisi dulu, jika perlu bantuan bisa panggil kami," pamit dokter itu.


Kemudian dokter dan perawat itu keluar dari kamar rawat inap. Ketika berada di depan kamar, perawat itu menutup pintu kamar. Rafael melangkahkan kakinya menuju ke Maryam yang sedang menundukkan kepalanya. Rafael melihat jelas raut kesedihan di wajahnya Maryam. Rafael menghentikan langkah kakinya di samping kirinya Maryam, lalu menduduki tubuhnya di kursi yang berada di samping kiri ranjang pasien.


"Siapa yang mencelakakan aku Bang?" tanya Maryam sendu sambil menoleh ke Rafael.


"Tina, waktu itu dia tidak sengaja menyenggol kamu karena saat itu dia sedang terpeleset, tadi Tina ke sini, dia minta maaf dan menjelaskan semuanya tentang kejadian itu," ucap Rafael lembut.


"Kapan aku keluar dari sini Bang?"

__ADS_1


"Besok Sayang."


"Berarti acara khitbah aku dengan Ibrahim ditunda?"


"Iya Sayang, tapi kamu jangan khawatir, hari Minggu acara itu akan dilaksanakan."


Maryam menoleh ke Ibrahim, lalu berujar, "Bagaimana respon keluarga Aa Ibrahim mengenai kejadian itu?"


"Awalnya mereka terkejut dan kesal sama orang yang mendorong kami, tapi setelah Abang memberikan penjelasan mengenai kejadian itu, akhirnya mereka menerimanya."


"Apakah dia yang tadi menolongku?" tanya Maryam sambil menoleh ke Rafael.


"Iya Sayang. Dia lelaki yang sangat baik hati."


"Karena itu aku suka sama dia Abang."


"Tapi sangat disayangkan, karena kebaikan dia, banyak teman wanitanya suka salah paham," ujar Rafel.


"Tadi orang tuanya Aa Ibrahim datang ke sini?"


"Iya, sekalian bawa baju ganti untuk Ibrahim. Mereka titip salam untukmu."


"Apakah Kak Zayn dan Kak Armstrong sudah sampai di sini?"


"Sudah sayang, mereka sekarang lagi istirahat."


"Mereka sudah mengetahui kejadian itu?"


"Belum, rencananya besok pagi, Abang akan menjelaskan semuanya kepada mereka."


"Rencana dokter besok pagi. Tergantung perkembangan fisik kamu."


"Kamu sudah sadar?" tanya Ibrahim lembut sambil mengubah posisinya dan melihat Maryam.


"Iya A, aku sudah sadar."


"Kalau begitu Abang pulang dulu," ucap Rafael lembut sambil beranjak berdiri.


"Kok Abang pulang?"


"Kan ada Ibrahim dan para bodyguard yang menjaga kamu di sini Dek," ucap Rafael lembut. "Om titip Maryam ya," lanjut Rafael sambil menoleh ke Ibrahim.


"Baik Om," ucap Ibrahim.


"Jangan pikirin lagi soal kejadian itu, sebaiknya kamu istirahat," ucap Rafael sambil mengusap puncak kepalanya Maryam yang ketutupan sama jilbabnya.


"Iya Abang," ucap Maryam lemah, lalu dia menyalim tangan kanannya Rafael.


"Assalamu'alaikum," ucap Rafael lembut, lalu dia membalikkan badannya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh."


Berjalan menuju pintu kamar rawat inap. Di tengah perjalanan, Rafael menghentikan langkah kakinya di hadapan Ibrahim. Ibrahim menyalim tangan kanannya Rafael. Rafael menepuk pelan bahu kanannya Ibrahim. Melanjutkan langkah kakinya menuju ke pintu rawat inap. Menghentikan langkah kakinya lagi, lalu menekan handle pintu kebawah. Menarik handle pintu ke dalam sehingga pintu terbuka. Keluar dari ruangan itu, tak lama kemudian pintu ruangan itu tertutup.


"Nanti ada sahabatku datang ke sini, dia yang akan nungguin kamu malam ini sampai besok siang," ucap Ibrahim lembut sambil berjalan menghampiri Maryam.

__ADS_1


"Apakah orang itu Bella?"


"Iya," ucap Ibrahim sambil menghentikan langkah kakinya di samping kiri ranjang pasien, lalu dia memeriksa infusan Maryam.


"Assalamu'alaikum," ucap Bella sopan sambil memegang handle pintu ruangan itu.


"Wa'alaikumsalam, masuk Bella," ucap Maryam ramah.


Sedetik kemudian Bella masuk ke dalam ruangan itu. Menutup pintu ruangan itu, lalu dia melanjutkan langkah kakinya menghampiri Maryam. Bella melihat Ibrahim sedang khusyuk memperhatikan infusan Maryam. Ibrahim membalikkan badannya ketika Bella sedang berjalan menghampiri mereka. Ibrahim melangkahkan kakinya menuju pintu kamar rawat inap ketika Bella menghentikan langkah kakinya di samping kanan ranjang pasien.


"Aa mau pulang?" tanya Maryam lemah.


Ibrahim menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh ke Maryam dan berujar, "Aku mau ke dokter jaga."


"Memangnya ada apa A?"


"Aku ingin memastikan obat- obatan kamu. Kamu tenang aja, nggak perlu khawatir," ucap Ibrahim yang masih lembut. "Kamu kenapa?" lanjut Ibrahim sambil melihat Maryam sedang memegang perutnya.


"Aku lapar," jawab Maryam lemah sambil menoleh ke Ibrahim.


"Baiklah, kamu mau makan apa?" ucap Ibrahim lembut.


"Ehmmm ... ketoprak, tapi nggak pedas.


"Bel, kamu mau ketoprak juga?" tawar Ibrahim sambil menoleh ke Bella.


"Boleh. Biasa ya," ucap Bella sambil menoleh ke Ibrahim.


"Ok, kalian tunggu di sini, aku mau beli ketoprak buat kalian," ucap Ibrahim lembut.


Sedetik kemudian, Ibrahim membalikkan badannya. Melangkahkan kakinya menuju ke pintu kamar rawat inap. Menekan handle pintu kamar itu ke bawah, lalu menariknya ke dalam sehingga pintu kamar itu terbuka. Keluar dari ruangan itu. Menutup pintu ruangan itu. Bella menduduki tubuhnya di kursi sebelah kiri ranjang pasien.


"Bagaimana keadaan Ibu?" tanya Bella basa-basi.


"Sudah lebih baik. Kalau kita lagi di luar perusahaan, jangan panggil saya Ibu, panggil nama saja."


"Baik."


"Hubungan kamu dengan Aa Ibrahim sudah sejauh mana?" tanya Maryam menyelidik.


"Memangnya Ibrahim nggak pernah cerita ke kamu tentang hubungan kami?"


"Yang baru aku tahu bahwa hubungan kalian hanya sahabatan."


Berarti aku tidak dianggap penting oleh Ibrahim.


Batin Bella.


"Iya, kami sahabatan, sahabat yang melebihi persaudaraan. Kami saling mengenal, menghormati, menyayangi, saling tahu karakter masing-masing."


"Seperti apa karakter dirinya?" tanya Maryam sambil menatap intens ke Bella.


"Dia orangnya sangat perhatian, peduli baik hati, selalu pengertian. Dia dulu ingin menjadi dokter, makanya itu, dia pernah kuliah di fakultas kedokteran, tapi sama Pak Hafiz tidak boleh dilanjutkan kuliahnya di Kedokteran, lalu dia masuk ke fakultas bisnis. Dia juga mengambil fakultas tehnik sipil. Ada beberapa orang menduga kita pacaran, maka itu dia tidak pernah didekati oleh para wanita. Aku sangat senang bisa selalu dekat dengan Ibrahim karena dia orangnya super baik. Bagaimana menurutmu mengenai Ibrahim?"


"Dia orang yang sangat baik, perhatian, dan sangat peduli kepadaku."

__ADS_1


__ADS_2