
~ Happy Reading ~
Matahari terbenam berwarna keemasan saat mulai tenggelam di ufuk barat. Siluet dua orang yang membentuk bayangan terkesan hangat di sore hari.
Wanita paruh baya yang sudah terlihat tua duduk di kursi roda dengan syal melilit lehernya. Sweater rajut berwarna biru pudar dan berlengan panjang membungkus sosok kurus wanita itu.
Dia adalah Lyana, yang sudah berusia hampir satu abad. Dengan rambut dipenuhi uban serta alis dicat putih, kulit yang tampak pucat memiliki keriput seperti kulit jeruk yang kering.
Meski begitu sosok anggun dari usia muda tetap menguar dari wajahnya. Kecantikan dingin yang dulu dimiliki sudah terkikis dan diganti raut lembut yang hangat.
Di sebelahnya seorang wanita dewasa duduk mendampingi. Wanita tersebut memiliki sedikit kemiripan di alisnya yang lebat dan melengkung cantik seperti dilukis seorang perias profesional.
Matanya tampak dingin dan tajam, saat wanita tersebut diam seperti itu, keangkuhan dan aura mulia terpampang telanjang yang sanggup membuat orang sekitar enggan untuk mendekat.
Namun kontras penampilannya saat wanita itu tersenyum, sungguh membuat orang ingin terus melihat kecantikan dinginnya.
Bukan cantik memikat yang membosankan, melainkan cantik yang membuat orang merasa tidak bisa berpaling untuk terus melihat senyum cemerlangnya.
Selena Tsabina, sosok anggun itu menatap ke kejauhan menembus laut biru keemasan di depannya. Tubuhnya disinari cahaya lembut dan angin laut menerbangkan hijab moka panjang yang dia pakai.
Selena duduk diam di kursinya selama hampir setengah jam tanpa sedikitpun berbicara. Seperti menunggu perintah untuk segera membuka mulut, namun dia tetap memilih berdiam diri teguh di kursinya.
Lyana menghela napas lembut. Raut tegangnya menghilang dan kekehan samar terdengar memecah hening di antara Ibu dan anak yang lama berpisah.
"Kamu belum juga berubah rupanya."
"Mama sudah setua ini, sampai kapan kamu tidak mau berbicara dengan Mama, Selena." Lyana berpaling untuk melihat kearah putri sulung yang berwajah batu disampingnya.
__ADS_1
Lyana menelusuri wajah dewasa Selena, dia mencoba mencari wajah putri kecil kesayangannya dulu, yang melekat pada sosok Selena di waktu muda dengan sosok ramping disampingnya kini.
Dia tidak menemukan kesamaan apapun selain mata dingin dan kosong yang terlihat sama seperti waktu itu, karenanya.
Selena menatap balik ke arah Lyana. Dengan susah payah dia mencoba untuk merubah wajah kakunya selembut mungkin namun seakan wajah dingin itu sudah mengeras bertahun-tahun tanpa bisa mencair, wajahnya yang dipaksakan terlihat aneh untuk dilihat.
Wajah cantik kaku, mata dingin dan bibir merah pucat bergaris ketat. Selena membuka mulutnya, dan suara serak yang dalam terdengar.
"Aku menunggu perintah Mama."
"Ini pertama kalinya setelah 40 tahun kamu berbicara pada Mama lagi. Kadang Mama bertanya-tanya, apa kamu tidak merindukan Mamamu ini, hingga kamu tahan untuk tidak berbicara padaku."
"Setiap malam Mama akan berbaring sendirian di kamar yang dingin itu dan merenungkan semua yang sudah Mama lakukan padamu. Namun meskipun Mama sudah memahami bahwa Mama salah, Mama tidak bisa mengakui kesalahan itu padamu."
Lyana meremat kedua tangannya yang keriput, tubuh tua dan lemah itu gemetar. Air mata mengalir turun satu persatu mengalir ke dagu dan menetes jatuh membasahi sweater rajut yang dia pakai.
Selena mengulurkan tangan dengan sapu tangan dan menghapus air mata sang Ibu tanpa emosi apapun. Wajah itu kaku namun kesedihan dan rasa sakit terlihat di matanya.
Selena memalingkan muka ke arah laut yang berombak dan tetap mendengar, dia tidak bersuara sama sekali. Dengan patuh duduk dengan sedikit linglung.
Lyana tertegun dengan tindakan Selena, hanya sesaat dan dia mulai melanjutkan ceritanya yang tertunda.
Dia menceritakan hal-hal apa saja yang sudah dia lalui, saat Marco putra kedua lulus sekolah.
Dia bercerita tentang pertengkaran pertamanya dengan Marco, yang sudah mulai beranjak dewasa, yang tidak mau lagi menurut dan selalu membantah perkataan Lyana.
Marco adalah adik kandung laki-laki Selena. Mereka terpaut usia 3 tahun. Meskipun sang Ibu bercerita bahwa Marco tidak menurut dan nakal. Tapi Selena sangat mengenal perangai adik laki-lakinya tersebut.
Meskipun Selena tinggal terpisah dengan keluarganya. Tidak membuat Selena memutuskan hubungan dengan kedua adik kandungnya. Saat Marco lulus Sekolah Menengah, orang pertama yang diberitahu adalah dia.
__ADS_1
Selena ingat waktu itu dia dalam masa sulit dan terpuruk dalam hidupnya. Tapi dia merahasiakan semua kesedihan dan dia mengucap selamat dengan tulus kepada Marco saat itu.
Selena mengirim kartu tabungan atas nama Marco sebagai hadiah kelulusan. Selena menyisihkan sedikit gajinya selama dua tahun untuk dimasukkan ke dalam rekening tersebut.
Saat Marco menerima tabungan itu dan melihat sejumlah uang yang ada di dalam rekening, dia menangis sangat keras dengan ingus mengalir di hidungnya.
Marco terus mengucapkan terima kasih berulang-ulang dan berjanji tidak akan pernah melupakan semua kebaikan kakak perempuannya.
Mengingat Marco yang sekarang dan sifat cengengnya yang dulu membuat Selena tiba-tiba terkekeh lucu.
Lyana menatap heran ke arah Selena dengan pandangan bertanya-tanya.
Seakan tahu diperhatikan, Selena menjawab dengan kikuk. " Bukan apa-apa. Hanya mengingat sedikit kenangan lucu masa lalu. Tolong lanjutkan."
Continued...................
Notes :
Cerita ini terinspirasi dari pengalaman hidup seorang teman. Ada beberapa kejadian nyata dan sebagian lagi hanya fiksi.
Kritik dan saran dipersilahkan.
Ini adalah tulisan pertama yang berani di publish untuk umum. Jika tulisan di dalam cerita ini buruk, mohon dimaklumi.
Rencananya, kisah ini terdiri dari banyak chapter dan mungkin alur cerita sedikit lambat.
Thank You for Reading ^^
Jangan lupa Vote, Komen, dan Follow cerita ini ya.
__ADS_1
Salam Hangat >.<
Angela Ann