Selena Tsabina Series

Selena Tsabina Series
Chapter 22 - { I Just Believe You }


__ADS_3

Selena yang sedang duduk di kursi yang ada di dalam perpustakaan, merasa terganggu dengan suara bising dari luar.


Dengan sedikit keributan yang dibuat sahabatnya, Cristine masuk ke dalam perpustakaan sekolah untuk pertama kalinya selama dia bersekolah di SMP Cempaka.


Raut tidak puasnya dan mata yang sedikit menghina membuat Selena mengerang jengkel.


Jika Cristine dengan wajah seperti itu, adalah pertanda bahwa apa yang mengikutinya hanya hal-hal buruk.


"Halo embem." Cristine duduk di samping Selena dengan tangan merangkul bahunya.


"Hmm." Selena menjawab datar dan dia kembali fokus pada buku yang dibacanya.


Lagi-lagi buku itu selalu mencuri perhatian Selena. Cristine yang tidak suka diabaikan mulai berbuat ulah. Dia merampas buku di atas meja dan membuangnya di bawah kakinya.


"Cristine... " Suara Selena yang berteriak mendapat teguran dari penjaga perpustakaan dengan dingin.


Cristine tertawa sambil menahan suaranya.


"Jangan di buang. Bawa kembali buku itu. Cepat, kalau tidak aku akan marah." Ancam Selena dengan suara yang dikeras-keraskan supaya Cristine takut.


Cristine mengmbil buku itu, tapi tidak langsung menyerahkannya pada Selena.


Malah dia berdiri dari kursi, bergerak ke arah rak buku terdekat dan meletakkan buku itu disana.


Ditempatnya Selena terbengong-bengong karena kelakuan Cristine kali ini.


"Temani aku ke UKS."


Selena yang tadinya ingin kembali memarahi, tidak jadi. Wajahnya sedikit khawatir saat dia memutar badannya dan berdiri di depan Cristine.


"Apa kamu sakit. Cepat bilang padaku. Tidak... Tidak. Lebih baik kita bergegas ke UKS." Selena tanpa banyak tanya lagi menyeret dengan sedikit paksa Cristine.


Cristine yang tangannya diseret, wajahnya menyeringai, terlihat puas dengan kepanikan yang Selena tunjukkan.


Mereka sudah di depan pintu ruang UKS, dan tidak sengaja melihat Andre bersama teman-temannya yang duduk di tangga.


Cristine yang melihat Andre langsung berdiri di depan Selena.


"Ada apa." Selena bertanya dengan raut bingung.


Cristine berdiri tepat di depan Selena, mengahalau pandangannya.


"Ayo ke kelas, aku sudah tidak sakit lagi."


Selena mengernyitkan alisnya curiga.


"Kamu menipuku Ris."

__ADS_1


Cristine menggeleng kemudian mengangguk, bingung karena ketahuan berbohong.


"Sudah kubilang jangan menipuku seperti ini. Kalau kamu sungguhan sakit bagaimana." Kata Selena marah. Sudah berkali-kali Cristine menipunya, dia mungkin tidak akan marah seperti ini, jika saja sahabatnya itu tidak main-main akan kesehatannya, dia sangat cemas tahu.


Mengetahui bahwa Cristine bercanda dengan berpura-pura sakit, Selena sangat marah, ingin mengutuk sahabatnya ini.


"Aku hanya sedang bosan, mengganggumu sangat menyenangkan." bela Cristine supaya Selena berhenti memarahainya.


Cristine tersenyum dan berkata dengan sangat lembut, membujuk. "Jangan ke UKS, aku tidak sakit hm."


Selena masih jengkel.


"Ayolah..."


Selena melepas tangan Cristine, dia berbalik ingin pergi, namun suara Andre yang memanggil membuatnya berhenti.


Karena terhalang tubuh ramping Cristine, Selena tidak menyadari bahwa ada Andre sedang duduk di tangga, melihat ke arahnya.


Setelah melihat Selena tidak menggubris panggilannya, barulah Andre langsung berdiri, dia sedikit melangkah panjang untuk meraih tangan Selena, sedikit mendorong Cristine ke samping.


Cristine mendelik marah karenanya.


"Apa yang kamu lakukan." Selena berkata tidak suka. Dia mencoba melepaskan tangannya yang diraih Andre.


Andre menarik Selena dan masuk ke ruang OSIS yang baru saja dibuka, siswi yang baru saja keluar dari ruang OSIS dan ingin menguncinya hanya bisa mematung, barulah saat suara pintu ditutup dia kembali sadar.


"Buka! Andre... Apa yang kamu lakukan. Buka!.... Brengsek." suara Cristine yang mengumpat dan tendangan di pintu membuat siswa yang berjalan melewatinya melihat tingkah Cristine dengan heran.


Di dalam ruang OSIS hanya ada Andre dan Selena, ketika Andre melepas cekalan pada tangannya dia hampir saja jatuh.


"Apa yang... Kenapa dikunci segala." Selena melotot marah pada Andre yang membelakanginya.


Setelah memastikan bahwa pintu itu sudah di kunci, Andre melihat Selena dengan diam.


Selena sedikit takut karena tatapannya, dia mundur selangkah dan berkata dengan gugup. "Ka... Kalau ada yang perlu kamu bicarakan, tidak perlu menguncinya kan. Ja...jangan menatapku seperti itu."


Ekspresinya sangat dingin dan matanya tajam melihat Selena, Andre maju dan menghimpit Selena di depan meja. Dia tidak berbicara sama sekali, yang mana semakin membuat Selena tidak nyaman berdiri di tempatnya, Andre sangat dekat sampai dia harus mendorong dada Andre supaya memberi mereka jarak. Terlalu dekat !


Andre menekan kemarahannya yang membuncah, dia sudah menahannya sejak tadi malam.


Dia pergi ke kelas Selena untuk menemuinya, tapi Selena belum datang ke sekolah. Lalu pada jam istirahat dia juga pergi ke kelasnya, tapi Selena sudah pergi keluar.


Barulah tadi ketika dia bersama Indra duduk di tangga, dari ujung lorong melihat Selena dan Cristine.


Melihat orang yang pagi ini dia cari-cari, Andre mulai mengingat kemarahannya lagi.


Tadi malam dia mengantar Selena pulang, dia tidak langsung pulang ke rumah dan menunggu Selena untuk masuk ke dalam. Namun karena Selena juga menunggu dia pergi, Andre hanya bisa berjalan ke arah taman yang redup menunggu beberapa menit lalu kembali ke tempat Selena.

__ADS_1


Tidak disangka pada saat dia kembali ke rumah Selena, Andre melihat Lucas yang dari tempat dia berdiri, mereka seperti berpelukan.


Dia sangat marah sampai rasanya ingin menerjang ke depan dan memukul Lucas yang dekat dengan Selena.


Andre terus berdiri di ujung jalan dan melihat kearah Selena dan Lucas yang dia tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.


Melihat Lucas memeluk Selena untuk kedua kalinya dan Selena juga membalas pelukan itu, dia pergi dari sana dengan marah dan cemburu.


"Lucas menemuimu."


Selena terkejut, dia tidak berharap Andre akan tahu. Apa tadi malam dia tidak pulang, bukannya dia melihat Andre sudah menyebrang jalan dan pergi ke arah rumahnya. Bagaimana dia bisa tahu kalau Lucas datang. Kecuali...


"Kamu disana." gumamnya lirih, Selena tidak sekalipun melihat ke arah Andre, dia memalingkan wajahnya dan menatap lantai putih ruang OSIS. Dia terlalu gugup dan malu, karena Andre tidak bergeming di tempat meski dia mendorongnya.


Andre menjepit dagu Selena untuk menatapnya. Matanya yang berkilat marah dan tajam, membuat Selena sedikit gemetar. "Apa yang kalian berdua bicarakan?!"


"Kenapa kamu harus tahu. Andre, aku tidak memiliki kewajiban untuk memberitahumu, kita tidak sedekat itu."


"Berhenti ikut campur urusanku!" Selena menepis tangan Andre yang menjepit dagunya kasar.


Dia mendongak dan berkata tegas pada Andre. "Selama ini bukannya aku bodoh dan tidak tahu pada apa yang sudah kamu lakukan di belakangku, aku hanya berpura-pura menutup mata akan semua tindakanmu yang ikut campur urusanku."


Selena menarik nafas dan melanjutkan semua keluhannya. "Alvin, Dino, dan semua laki-laki lainnya, dari awal adalah ulahmu yang mendorong mereka menjauh. Meski sejujurnya aku memang tidak menyukai salah satu dari mereka, tapi kamu tidak berhak melakukan semua itu untukku."


Selena terus melihat mata Andre, tidak menghindar sama sekali, sekalipun wajah Andre berubah sangat buruk dan siap meledak saat itu juga. "Kali ini aku tidak akan diam. Kalau kamu masih terus seperti ini, jangan salahkan jika aku membencimu."


Selena mengernyit kesakitan saat tangannya dicengkram kuat.


"Aku berhak, Aku berhak Selena! Bagus kamu tahu apa saja yang sudah aku lakukan untukmu. Selena, kamu pikir aku akan diam saja melihat mereka mendekatimu. Tidak! Bahkan jika kamu mengancam akan membenciku, aku tidak akan membiarkan laki-laki lain dekat denganmu."


Andre menatap lekat pada wajah Selena yang meringis akibat cengkramannya, suaranya mengandung sebuah peringatan dan kebencian saat dia melanjutkan perkataannya, ".... Bahkan jika itu Lucas sekalipun."


Walaupun begitu Selena tidak goyah sama sekali, dia menatap kembali mata Andre yang marah dengan dagu terangkat keras kepala, seakan dirinya tidak akan ragu jika dihadapkan pada pilihan, siapa orang yang benar-benar dia sukai.


"Aku suka Lucas." kata Selena jujur.


Ketika Andre mendengar ini, wajahnya mengetat dan bibir tipisnya bergetar. Perasaan dadanya yang sesak menjadi samar karena amarah yang membuncah dan kepalanya berubah panas tidak mau berpikir.


"Selama ini yang aku suka.... Apa .... Kamu." belum selesai Selena mengatakannya, Andre menangkup kedua pipinya dan hampir saja dia dicium paksa. Kalau bukan karena Selena bertindak cepat dengan menendang Andre, mungkin Andre sudah berhasil melakukannya.


.


.


**Thank You For Reading 😘


Jangan lupa vote dan dukung terus penulis dan cerita ini ya guys 😍**

__ADS_1


__ADS_2