
~ Happy Reading ~
•
•
•
Kertas ujian selesai dibagikan. Dan guru pengawas hilir mudik mengontrol para siswa dari berbuat curang.
Saat ini Selena sedang mengikuti ujian semester. Ini adalah hari pertamanya masuk sekolah setelah seminggu yang lalu dia terluka.
Perban di tangannya sudah di lepas. Warna merah keunguan melintang diatas kedua tangannya. Meskipun sakitnya sudah tidak parah, Selena tetap sulit untuk menggerakkan.
Tangan itu gemetar saat Selena menggenggam pulpen. Dia sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi dia tidak bisa menulis, akhirnya dia menyerah untuk menjawab soal terakhir.
Ada pilihan ganda 50 butir yang harus dia silang, itu tidak sulit bagi Selena untuk menggerakkan penanya. Namun dia mengalami kendala dengan soal tanya jawab di bawah.
Ada 20 soal tanya jawab. Itu adalah soal dimana dia harus menuliskan banyak teori serta rumus yang menghasilkan jawaban dari pertanyaan di kertas itu.
Dia bisa menjawab tapi tidak bisa menuliskannya. Selena menyerah, tangannya sudah mulai terasa sakit.
Selena tahu bahwa kali ini dia tidak akan masuk lima besar di kelasnya. Saat dia memikirkan nilainya yang akan turun, dia mendesah frustasi.
*****
Waktu berjalan sangat cepat. Libur sekolah setelah ujian semester sudah selesai.
Sekolah memberikan siswanya untuk beristirahat di rumah selama seminggu. Setelah itu sekolah dimulai seperti biasa, hanya saja sekarang lebih santai.
Setengah bulan lagi adalah hari kenaikan.
Cristine yang baru saja datang dari koperasi, membawa susu, roti dan camilan lainnya, dia melenggang masuk ke dalam kelas Selena.
Dia duduk di depan Selena yang sedang membaringkan kepalanya di atas meja.
Cristine mengetuk pelan kepala Selena.
"Cepat makan. Aku membawakanmu banyak camilan."
Selena bangun, dia meraih susu kotak rasa coklat dan meminumnya, dia menghabiskan roti dan susu itu.
"Apa kamu ikut kegiatan kelas." tanya Cristine.
"Hanya ikut paduan suara kelompok. Tadinya guru menunjukku untuk ikut pesta seni, tapi aku menolak."
Pesta kelulusan sebentar lagi. Setiap kelas harus mempersembahkan setidaknya satu tontonan untuk kemudian diseleksi.
Di kelasnya hanya beberapa orang saja yang terpilih. Dan dia salah satu siswa yang ikut berpartisipasi.
"Bagaimana denganmu?"
Cristine mendesah frustasi, dia terlihat tidak bahagia.
Selena mulai menebak. "Apa kamu disuruh menari."
Menari dan berolahraga adalah kegiatan yang sangat dibenci Cristine selain pelajaran matematika.
"Kamu mengenalku dengan sangat baik. Kemari, biarkan Ibu memberimu kecupan mesra." Cristine maju dengan memonyongkan bibirnya. Selena mendorong dahi Cristine dengan jijik.
"Berhenti... Kamu menjijikkan."
"Aku merasa bahwa kamu terdengar seperti seseorang." Cristine merengut.
"Jadi kenapa kamu tidak menolak."
__ADS_1
"Guru akan memotong nilaiku saat aku menolak untuk tidak ikut. Yah... lagipula untuk kali ini aku akan menerimanya."
"Selamat berlatih kalau begitu." Selena menepuk bahu sahabatnya itu kasihan.
"Apa tangan dan kakimu sudah sembuh." Tidak menunggu Selena menjawab, Cristine meraih tangan Selena dan melihat tangannya.
"Sudah tidak sakit lagi. Jangan khawatir."
"Apa nanti malam kamu sungguhan akan pulang. Tinggallah lebih lama."
Sejak kejadian itu, Selena sudah tinggal di rumah Cristine. Tadi pagi Ayahnya memberitahu dia bahwa sang Ibu menyuruh Selena untuk pulang.
Selama dia tinggal di rumah Cristine, Lyana tidak sekalipun menjenguk Selena. Meskipun dia merasa sedih dalam hati, perasaan lega bahwa Lyana tidak bersamanya saat dia sakit, membuat dia sedikit senang.
Selena hanya khawatir bahwa Ibunya akan merasa menyesal dan merasa sangat bersalah.
"Hmm. Kamu bisa datang kapan saja ke rumahku."
Cristine mendesah keras, dia mengangguk. "Kapan-kapan aku akan menginap di tempat mu."
"Baiklah."
*****
Selena berdiri di dekat Ayahnya. Rehan menenteng sebuah tas yang berisi baju-baju Selena selama dia tinggal di rumah Cristine.
"Aku menyusahkan neng lagi. Aku tidak bisa memberikan apapun padamu. Terima kasih banyak." Rehan membungkuk berkali-kali pada Warda.
"Jangan seperti ini Mas. Selena sudah aku anggap sebagai anakku juga, sebagai Ibu aku memiliki tanggung jawab untuk merawat Selena. Diantara kita jangan ada perasaan sungkan." Warda meraih bahu Rehan dengan tulus.
Selena yang dipeluk erat oleh Cristine. Hanya tertawa seperti anak kecil. Dia merasa bersyukur bisa mengenal keluarga Cristine dalam hidupnya.
"Aku harus pulang Ris." Selena sedikit membujuk. Cristine melepaskan pelukan itu dengan enggan.
"Aku pamit pulang neng." Rehan meraih tangan Selena dan mereka berjalan kaki kembali ke rumah.
"Ayo masuk. Mamamu sudah menunggu."
Lyana sedang sibuk menyiapkan makanan di dapur. Ketika dia mendengar suara pintu dibuka. Dia melangkah keluar.
Sudah hampir setengah bulan Lyana tidak melihat Selena. Dia merindukan sang puteri, tapi dia tidak bisa mengatakannya.
Tentang apa yang sudah dia lakukan waktu itu, dia tidak merasa menyesal sama sekali.
Melihat Selena menunjukkan tatapan takut kearahnya, itu adalah apa yang dia harapkan.
Lyana menyentuh kepala Selena, mengelus rambut itu dengan lembut dan dia mendudukkan Selena di meja makan.
*****
Ujian Semester Akhir sudah selesai. Selena sudah naik kelas dengan nilai yang cukup memuaskan, meskipun peringkatnya di kelas turun ke posisi 6.
Hari ini adalah hari kelulusan kelas 9. Sekolah dalam masa sibuk karena pesta kelulusan.
Di atas panggung, Kepala Sekolah sedang menyampaikan sebuah pidato.
Dan kemudian beberapa nama siswa di panggil ke atas panggung sebagai wakil dari kelas 9 untuk menyampaikan pidato kelulusan.
Yang paling dinantikan adalah kehadiran Lucas. Sebagai seorang siswa dengan nilai terbaik seangkatan dan se-Provinsi. Dia mendapatkan kesempatan berpidato untuk memotivasi para junior agar mengikuti jejaknya yang membuat harum nama Sekolah.
Selena berada di barisan penonton bersama Cristine. Matanya penuh bangga pada orang itu yang berdiri di atas panggung dengan tampan.
Lucas yang dingin, tersenyum kecil saat dia berkata bahwa piagam yang dia raih adalah milik seseorang yang sangat berarti untuknya.
Dia mempersembahkan semua kemuliaan itu pada orang tersebut dan saat dia mengatakan itu mata tajam yang hangat menatap lurus ke arah Selena.
__ADS_1
Semua orang yang mendengar ungkapan tulus yang tidak biasa dari Lucas akan tahu, bahwa Lucas sudah memiliki seseorang yang dia sayangi.
Acara kelulusan selesai dengan lancar dan sesi foto pun dimulai. Banyak siswa-siswi berkumpul bersama orang tua mereka ataupun teman-teman mereka untuk berfoto bersama.
Saat itu datang pada Lucas, dia menolak dengan dingin seperti biasa.
Daniel yang sudah selesai berfoto bersama orang tua dan teman-temannya juga menghampiri Lucas yang notabene adalah sahabat karib dan juga sepupunya.
Lucas hanya menyeret Daniel untuk ikut dengannya. Kedua laki-laki tampan dan tinggi itu berkeliling mencari seseorang yang Daniel ingin menolaknya karena dia tidak mau menyia-nyiakan waktu berharga hanya untuk melihat Selena.
Yang tentu saja Lucas abaikan setiap rengekan Daniel di sepanjang jalan.
Selena sudah beranjak dari kursi penonton dan saat ini dia sedang bersama Cristine di taman sekolah.
Mereka duduk berdekatan di dekat pohon yang rindang. Keduanya terlihat akur dan sesekali suara tawa samar terdengar.
"Aku mencarimu."
Selena dan Cristine berpaling pada suara yang tiba-tiba mengganggu mereka. Lucas dan Daniel berdiri disana dengan Daniel memegang sebuah kamera yang melingkar di leher.
Selena berdiri dengan senyum yang terlihat manis, dia mengulurkan tangan dan mengucapkan selamat. "Selamat atas kelulusannya Senior Lucas."
Lucas meraih tangan itu dan tidak melepaskan.
Cristine yang sudah selesai memberi selamat pada Daniel dan ingin menyalami Lucas, tertegun melihat tangan keduanya.
Selena merasa tidak enak, jadi dia cepat-cepat melepaskan tangan Lucas. Lucas kecewa.
"Selamat atas kelulusannya Senior Daniel."
Perawakan Daniel yang lebih tinggi dari Lucas membuat dia menjulang di antara kedua gadis tersebut.
Daniel sudah mendengar banyak tentang gadis didepannya ini dari Lucas.
Saat dia pada akhirnya melihat dengan sendiri gadis tersebut, Daniel tidak bisa tidak setuju tentang penggambaran Lucas pada sosok Selena yang sudah berhasil menjerat sahabatnya yang berhati dingin.
Ini adalah pertemuan pertama mereka. Saat Daniel berpikir dia akan melihat gadis lemah yang hanya mengandalkan kecantikan untuk menjerat Lucas. Dia sudah salah besar pada tebakannya.
Dibandingkan Cristine yang jauh lebih cantik, bisa dibilang Selena akan menjadi nomor sekian untuk dilirik, jika kedua sahabat itu berdampingan seperti sekarang.
Tapi saat Daniel mendekat kearah Selena dan mulai berbicara padanya.
Kamu akan terkejut, menemukan betapa istimewanya gadis itu. Pikiran Selena sangat terbuka dan dia informatif.
Selena merupakan gadis pintar rendah hati yang tidak mau menonjolkan kelebihan yang dia miliki, itu adalah kesan baik Daniel pada sosok Selena.
Dia tahu apa yang dia bicarakan dan dia sangat perhatian pada lawan bicaranya. Dan Daniel sangat menghargai seorang teman dengan sifat seperti itu.
Daniel sedikit berbincang dengan Selena. Saat mereka bertukar pikiran, keduanya menemukan kesamaan akan kecintaan mereka terhadap buku.
"Apa kalian sudah selesai mengobrol?!" Lucas terdengar cemburu. Daniel mundur dan segera menjauh dari Selena.
"Tolong foto kami berdua Niel." Lucas meraih bahu Selena mendekat ke arahnya.
"Senyum Selena. Ini adalah hari kelulusanku. Aku mau hadiah kelulusanku sekarang." Lucas sedikit memaksa saat Selena berjuang dan mendorong dia menjauh.
Dan tanpa mereka rencanakan, di bawah pohon bringin yang rindang. Lucas, Selena, Cristine dan Daniel berfoto bersama.
Keempat pemuda-pemudi itu tampak serasi satu sama lain. Dan mereka dipenuhi senyuman murni yang sangat cantik.
••••
Thank You For Reading >.<
Jangan Lupa Voment Guys
__ADS_1
Angela_AT_Gardenia